Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Senyum di Wajah Misty
"Kamu pulang sampai larut gini, dari mana?" tanya Maya pada Misty saat memasuki unit apartemen Misty.
"Jalan-jalan, Kak," jawab Misty. Wajahnya terlihat sedikit sumringah. Maya mengangkat satu alisnya.
"Jalan-jalan? Sama?" tanya Maya, penasaran. Misty terlihat tersipu lalu duduk di sofa ruang tamu.
"Temen," jawab Misty sambil tersenyum. Maya menatap wajah Misty sesaat sebelum akhirnya duduk di samping Misty.
"Temen yang mana? Kamu nggak pernah cerita ke aku," tanya Maya, semakin penasaran dengan wajah Misty yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Mmm... Belum lama kenal sih. Belum sempet cerita ke Kak Maya juga," jawab Misty.
"Belum lama kenal? Kenal darimana? Bukan dari sosmed kan?" Maya menghujani Misty dengan banyak pertanyaan membuat Misty mengerjapkan kedua matanya. Sedetik kemudian Misty tertawa. Kini, giliran Maya yang mengerjapkan kedua matanya.
"Kak Maya sama Rachel ternyata sama aja. Sama-sama gampang khawatir," komentar Misty. Mendengar nama Rachel, membuat Maya menarik napas dalam-dalam.
"Memangnya Rachel tahu kamu punya temen baru?" tanya Maya. Misty mengangguk.
"Dia sama kek Kak Maya. Khawatiran," kata Misty.
"Dia bilang apa?"
"Yaaa... Aku yakin nggak temenku itu bener-bener baik. Terus, dia juga bilang, jangan terlalu percaya," kata Misty. Maya menghela napas.
"Tapi ada benernya kan? Kalau belum lama kenal, jangan terlalu gampang percaya," kata Maya. Misty tersenyum.
"Iya, Kak. Aku tahu kok," kata Misty menenangkan Maya. Maya tersenyum sambil menepuk tangan Misty pelan.
"Ting... Tong..."
Misty dan Maya saling tatap.
"Kamu pesen makanan?" tanya Maya. Misty menggelengkan kepala.
"Siapa dateng malem-malem gini?" tanya Misty sambil beranjak dari sofa. Maya mengikuti Misty berjalan ke arah pintu.
"Ting... Tong..."
Misty mengintip dari peep hole. Matanya seketika membulat. Dia menoleh ke arah Maya.
"Siapa?" tanya Maya dengan nada berbisik.
Misty menatap Maya ragu-ragu. Dia menggenggam gagang pintu beberapa saat sebelum akhirnya membuka pintu unitnya.
"Maaf..." kata Anjas.
"Sebelum aku pulang, aku mau mastiin, kamu baik-baik aja," lanjutnya.
Maya mengernyit mendengar suara pria dari balik pintu.
"Aku nggak apa-apa," kata Misty sambil tersenyum.
Mata Maya menangkap senyuman Misty yang sudah lama tak dia lihat.
"Siapa, Mis?" tanya Maya, semakin penasaran dengan sosok di balik pintu.
"Eh, ini Kak. Temen yang tadi aku ceritain," kata Misty sambil membuka pintu sedikit lebih lebar.
Anjas dan Maya sama-sama memiringkan kepala untuk dapat melihat satu sama lain. Mata Maya sedikit membulat saat melihat Anjas yang berdiri diluar pintu unit Misty. Dadanya mendadak terasa sesak mengetahui siapa yang berhasil membuat wajah Misty sedikit lebih cerah.
'Bagaimana bisa Misty dan dia...?'
***
"Kalau ada satu bukti saja yang menunjukkan dokter Maya keluar dari ballroom sebelum pesta berakhir," gumam Gerry sambil menatap buku catatannya. Arga mengetuk-ngetukkan jari ke kemudinya.
"Belum tentu, Ger," kata Arga. Gerry menoleh ke arah Arga.
"Kalau kita dapat bukti dia keluar dari ballroom, kita masih harus menyusuri kemana dia pergi dan untuk apa," kata Arga. Gerry kembali menatap ke dalam buku catatannya.
"Dugaan kita untuk saat ini adalah, wanita yang masuk ke ruang kontrol bisa jadi Dokter Maya," kata Arga.
"Kalau benar begitu, itu artinya, dia meninggalkan pesta sebelum selesai," lanjutnya.
Arga dan Gerry diam sesaat. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Tapi... kalau ada satu saksi atau bukti yang menunjukkan Dokter Maya terus berada di ballroom hingga pesta usai," kata Arga.
"Maka, kita butuh kembali mencari siapa wanita yang ke ruang kontrol saat itu," lanjutnya.
Gerry mengernyitkan kedua alisnya.
"Tapi, Pak, berdasarkan keterangan petugas dan data tamu yang menginap di hari itu, cuma Dokter Maya yang mungkin masuk ke ruang kontrol," kata Gerry, mengingatkan Arga.
"Kalau memang wanita yang masuk ruang kontrol menginap di lantai dua, Ger," kata Arga.
"Ingat. Kita cuma menyaring tamu dari yang menginap di lantai dua," lanjut Arga.
Gerry menghela napas panjang. Dia merasa ada sesuatu yang dia dan Arga lewatkan. Gerry kembali melihat ke dalam buku catatannya.
20 Juni 2026 → pesta pernikahan → 19.00 - 22.00
Mempelai: Dr. Ardian Kusuma Atmaja, Sp.Kj dan Puspita Kumalasari
Gerry yang semula putus asa, kembali menegakkan tubuhnya. Matanya terkunci pada nama Dr. Ardian Kusuma Atmja.
"Pak,"
Arga menoleh ke arah Gerry.
"Mengapa kita tak menanyakannya pada kedua mempelai?" tanya Gerry sambil menunjuk nama mempelai di buku catatannya.
Arga menatap Gerry seolah melihat ada harapan baru. Arga mengangguk tipis lalu menyalakan mesin mobilnya.
'Selalu ada jalan lain menuju kebenaran,'
***
"Dokter Maya?" tanya Anjas. Maya mengernyit sesaat lalu kedua matanya membulat.
"Mas... jurnalis yang waktu itu?" tanya Maya. Misty melihat Anjas dan Maya bergantian.
"Kalian saling kenal?" tanya Misty.
Anjas dan Maya menoleh ke arah Misty.
"Aku pernah ke klinik dan menanyakan satu dua hal tentang kasus unit sebelah dari sudut pandang psikologi," kata Anjas. Misty menaikkan kedua alisnya lalu menatap Maya.
"Kamu tahu kan, beberapa klienku adalah petugas penyidik. Mereka juga sering tanya-tanya tentang kasus mereka kalau dilihat dari sudut pandang psikologi," kata Maya. Misty manggut-manggut.
"Nggak nyangka Kak Maya kenal Anjas," komentar Misty sambil tersenyum.
Maya menatap senyum Misty lalu ikut tersenyum. Anjas menatap Maya yang menatap Misty. Meski dia penasaran dengan hubungan Misty dan Maya, Anjas memutuskan untuk membiarkan Misty istirahat.
"Kalau begitu, aku pulang dulu," kata Anjas. Misty menoleh ke arah Anjas.
"Aku lebih tenang, melihat ada Dokter Maya yang nemenin kamu," lanjutnya. Misty tersenyum.
"Makasih," ucap Misty.
"Mari, Dok," pamit Anjas pada Maya. Maya mengangguk ramah.
Anjas segera berjalan menuju lift sambil merogoh ponsel di saku celananya. Dia butuh menghubungi seseorang untuk memastikan siapa sebenarnya Dokter Maya.
Sementara itu, di dalam unit apartemennya, Maya kembali menatap wajah Misty.
"Jadi... kamu tadi jalan sama dia?" tanya Maya. Misty mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu kenal dia sejak ada pembunuhan di unit sebelah?" tanya Maya lagi.
Misty mengangguk lagi. Maya menarik napas dalam-dalam. Bola matanya bergerak perlahan. Dia mencoba mengingat apa yang Anjas tanyakan padanya saat di klinik. Mata Maya lalu menatap naskah di meja ruang tamu Misty yang sejak beberapa hari yang lalu ada disana.
"Bagaimana progress novel baru kamu?" tanya Maya sambil menatap naskah di atas meja ruang tamu Misty. Misty menaikkan kedua alisnya.
"Gawat! Aku lupa! Duuuh... Bang Alex pasti marah besar," kata Misty sambil berjalan menuju meja kerjanya dan menyalakan laptopnya.
"Aku tinggal lanjutin nulis ya, Kak," kata Misty sambil mulai fokus pada laptopnya.
"Pelan-pelan. Jangan terlalu maksa. Istirahat kalau capek," kata Maya sambil tersenyum.
"Iya, Kak. Tenang aja," jawab Misty sambil tetap fokus pada layar laptopnya.
Maya menatap Misty yang fokus pada pekerjaannya sambil berjalan mendekat ke meja ruang tamu. Maya kembali menatap naskah di atas meja itu. Tangannya bergerak perlahan hendak meraih naskah itu.
'Jurnalis itu... apa dia udah baca ini sampe akhir?'
***