Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 – Retakan di Langit Aetherion
Keheningan yang sempat memenuhi Arena Celestia lenyap dalam sekejap. Semua mata kini tertuju ke langit. Dia atas kubah pelindung Akademi Aetherion, riak hitam yang semula hanya sebesar telapak tangan perlahan membesar seperti tinta yang menetes ke permukaan air.
Garis-garis gelap menjalar ke segala arah, membentuk retakan yang memancarkan cahaya keunguan dari baliknya. Beberapa murid disana mulai saling berpandangan melihat kejadian tersebut.
“Apa.. itu bagian dari ujian?” Pertanyaan itu lagi-lagi muncul.
“Tidak mungkin.”
“Jika benar, lalu kenapa para professor terlihat panik?”
Aurelia mengangkat wajahnya. Entah kenapa, sejak retakan itu muncul, kristal Astralis di ujung tongkatnya ikut berdenyut pelan. Awalnya hanya satu, dua kali, namun semakin lama akan semakin cepat.
“Relia?” Lyra menoleh dengan bingung. “Kau juga merasakannya?” Aurelia mengangguk pelan menanggapi pertanyaan sahabatnya.
“Seperti ada sesuatu yang memanggil.” Kalimat itu membuat Aeron langsung menatap langit. Tatapan yang tenang sejak awal kini berubah menjadi lebih serius.
“Itu bukan panggilan,” gumam Aeron pelan. “Tapi, itu gangguan mana.” Selene yang masih memeluk buku mantranya ikut mendongak.
“Aku pernah membaca tentang ini…” katanya lirih. “… kalau penghalang sihir retak, berarti ada seseorang yang menyerangnya dari luar.” Keempatnya langsung saling bertukar pandang. Kalimat itu membuat suasana menjadi jauh lebih mencekam.
Di tribun kehormatan, Aldric melangkah ke tepi arena. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin, tatapannya tidak pernah lepas dari retakan dilangit. Kemudian ia meminta Profesdor Cedric untuk meminta mengevakuasi seluruh peserta.
“Profesor Elowen, lindungi murid tahun pertama. Profesor Lyren, perkuat lapisan kedua penghalang. Segera.” Para professor kemudian bergerak hampir bersamaan. Pada murid yang melihat ekspresi mereka akhirnya menyadari satu hal bahwa apa yang terjadi bukanlah bagian dari ujian.
“Seluruh peserta.” Suara Cedric menggema memenuhi arena. “Segera tinggalkan lapangan dan tetap bersama kelompok kalian masing-masing. Jangan ada yang bergerak sendiri.” Suasana langsung berubah kacau.
Puluhan murid mulai bergerak menuju pintu keluar arena. Namun, karena jumlah mereka begitu banyak, beberapa mulai saling bertabrakan. Ada yang terlihat panik, bingung, dan ada pula yang terus menoleh ke arah langit. Sedangkan Lyra, ia menggenggam lengan Aurelia.
“Ayo. Kita ikut keluar.” Namun, Aurelia justru masih menatap retakan itu. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia tidak tahu kenapa, tetapi ada perasaan aneh yang memenuhi dadanya, seolah sesuatu dibalik retakan itu juga sedang melihatnya.
Di luar kubah pelindung, burung gagak hitam mengepakkan sayapnya perlahan. Tubuhnya berubah menjadi kepulan asap, asap itu berkumpul menjadi sebuah lingkaran sihir kecil yang terus berputar. Di balik lingkaran tersebut, sepasang mata merah perlahan terbuka, pria bertopeng putih itu tersenyum tipis.
“Jadi, dia benar-benar berada disana.” Tangannya terangkat perlahan. “Belum. Belum saatnya mengambilnya. Tapi, aku ingin melihat seberapa jauh Pewaris Astralis telah berkembang.” Ia menjentikkan jarinya, lingkaran sihir hitam berputar semakin cepat. Lalu, puluhan bayangan kecil mulai keluar dari dalamnya.
Bayangan tersebut tidak sebesar Golem atau pun menyerupai manusia. Tubuh mereka hanya berupa kabut hitam dengan mata merah yang menyala. Makhluk-makhluk itu langsung melesat menuju retakan pada kubah.
“Profesor.” Teriak salah seorang penjaga akademi. “Mereka masuk.” Aldric mendongak dan wajahnya langsung berubah serius.
“Shadow Wraith…” Gumamnya yang langsung membuat Profesor Lyren membelalakkan kedua matanya.
“Mustahil. Makhluk itu seharusnya sudah punah.”
“Berarti ada seseorang yang sengaja membangkitkannya.” Cedric langsung mengepalkan kedua tangannya.
Puluhan makhluk bayangan berhasil melewati retakan, dan mereka langsung menyebar ke seluruh penjuru akademi. Suasana berubah menjadi kacau, jeritan mulai terdengar dari arah taman, beberapa murid refleks mengeluarkan tongkat sihir. Namun makhluk itu bergerak terlalu cepat, salah satunya bahkan menerjang seorang murid tingkat dua.
“Aaaarrgghh~” sebelum makhluk itu menyentuhnya—,
DUAARRRR~
Sebuah panah angin melesat dari kejauhan, makhluk bayangan itu langsung buyar menjadi asap. Semua murid disana menoleh, Aeron sudah menurunkan busurnya.
“Semuanya…” ucapnya tenang. “… jangan biarkan mereka mendekat.” Tambahnya lagi, dan Lyra pun langsung mengangkat tangannya. Puluhan cahaya kecil muncul mengelilingi mereka.
“Kalau begitu, aku akan membuat mereka bingung.” Kemudian, Selene membuka halaman lain bukunya. Tangannya masih gemetar, namun kali ini sorot matanya jauh lebih mantap.
“Aku bisa membuat penghalang kecil,” gumamnya.
Aurelia memandangi ketiga temannya. Baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu, bahkan belum saling mengenal satu sama lain. Kini, mereka sudah berdiri berdampingan menghadapi ancaman yang nyata.
Di sisi Barat Arena Celestia, kelompok-kelompok peserta masih berjuang menghadapi Golem Penjaga mereka masing-masing ketika retakan hitam itu muncul di langit. Kael yang sedang menahan hantaman Golem dengan perisai sihirnya langsung mendongak dan tatapannya menajam.
Retakan itu kembali melebar, Kael yang masih bersama dengan Golem Penjaga itu pun langsung membatalkan sihirnya. “Rowan, Lucien.” Kedua saudaranya menoleh bersamaan. “Kita bantu professor mengamankan murid.” Ucapnya lagi. Dan tanpa menunggu perintah kedua, ketiganya segera bergerak menuju bagian arena yang mulai di serbu makhluk bayangan.
Rowan menggunakan ilusi untuk mengarahkan murid-murid menuju jalur evakuasi yang aman. Lucien menciptakan dinding air untuk menghalangi Shadow Wraith yang mencoba mendekati asrama. Sedangkan Kael, ia langsung menghadang tiga makhluk bayangan sendirian.
Pedang sihir milik Kael tampak berkilat. Dalam satu ayunan, tiga shadow wraith lenyap menjadi serpihan cahaya hitam. Murid-murid yang melihatnya langsung terdiam kagum.
“Itu.. senior Kael.” Seru salah seorang murid yang menyaksikan Kael mengayunkan pedangnya.
“Senior Kael hebat sekali.” Puji murid lainnya. Namun Kael sama sekali tidak memedulikan tatapan mereka, karena matanya terus mencari satu orang—Aurelia.
Di tengah kekacauan, Aurelia mengangkat tongkat Astralisnya, kristal tongkatnya kembali memancarkan cahaya putih. Namun kali ini cahayanya terasa berbeda, cahaya tersebut terasa lebih hangat, kuat dan terasa lebih hidup. Profesor Aldric yang menyadari hal itu pun langsung membelalakkan kedua matanya.
“Tidak,” gumamnya. “Jangan sekarang.” Seolah menjawab kecemasannya, cahaya Astralis tiba-tiba memancar ke langit.
Sinar putih yang berasal dari cahaya Astralis mengenai retakan pada kubah pelindung. Untuk sesaat, retakan tersebut bergetar cukup hebat, hingga seluruh Shadow Wraith berhenti bergerak. Namun, mereka berhenti bukan karena terkena serangan, melainkan mereka serempak menoleh ke arah Aurelia.
Puluhan mata merah menyala menatap satu sasaran yang sama—Aurelia Evandria. Suasana mendadak menjadi sunyi, lalu seluruh Shadow Wraith mengeluarkan jeritan mengerikan secara bersamaan.
Shadow Wraith seakan mengabaikan para murid akademi yang lain, mereka juga mengabaikan professor maupun siapa pun yang ada disekitarnya. Kini semua makhluk itu langsung melesat menuju Aurelia secara bersamaan.
“RELIA!” Kael yang menemukan adiknya itu langsung berteriak kala melihat para Shadow Wraith tengah mengincarnya.
“AURELIA.” Lyra spontan berdiri didepan sahabatnya untuk menghadang makhluk yang tengah mendekat ke arahnya.
Aeron yang berada tidak jauh dari mereka segera memasang tiga anak panah sekaligus, Selene juga tidak tinggal diam, ia langsung membuat penghalang sihir miliknya, namun jumlah makhluk itu terlalu banyak, dan tepat sebelum mereka mencapai Aurelia tiba-tiba saja angin menerpa mereka.
Whooosshhh~
Sesosok bayangan melesat turun dari langit, begitu cepat hingga hampir tidak terlihat maupun disadari saat kedatangannya. Dalam satu gerakan, enam Shadow Wraith langsung lenyap begitu saja.
Orion berdiri didepan Aurelia, jubah hitamnya berkibar diterpa angin. Tatapan abu-abunya dingin menatap kawanan makhluk bayangan yang kini memenuhi Arena Celestia. “Relia, sekarang bukan waktunya kau bertarung.” Sahut Orion tanpa menoleh ke belakang.
Kalimat itu membuat Aurelia membeku, sementara dibalik hutan yang mengelilingi akademi, pria bertopeng putih tersenyum puas. “Jadi, Penjaga Astralis akhirnya turun tangan.” Permainan yang selama ini hanya berlangsung di balik bayangan akhirnya mulai memperlihatkan wajah aslinya.