Sinta percaya pernikahan 10 tahun cukup buat bikin dia kenal Mas Arga luar-dalam. Sampai hari itu dia nemu kunci kuning polos di laci meja. Gantungan kulitnya lecet. Bukan kunci rumah mereka.
"Sayang, ini kunci apa?"
"Oh itu... kunci kantor lama. Lupa kebuang."
Sinta ngangguk. Tapi malamnya dia nggak bisa tidur. Wangi parfum asing di jaket suaminya, chat yang dihapus, dan "lembur" yang makin sering. Rasa curiga itu tumbuh kayak jamur.
Dia mulai nguntit. Dia ngitung lampu apartemen Lantai 7 Unit 704 nyala jam berapa. Dia ketemu "R" - cewek berdress hitam dengan senyum yang bikin darah Sinta dingin.
Semakin Sinta gali, semakin hancur dunianya. Ada kebohongan, ada anak yang mulai bertanya "Ibu kenapa nangis?", ada mertua yang bela anaknya, dan ada pilihan paling berat: memaafkan yang nyakitin, atau balas dengan cara yang lebih sakit?
karena kadang, yang paling dekat..... paling pandai menyimpan kunci cadangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 Tahun Kemudian
Naya kelas 8 SMP. 14 tahun. Gigi ompongnya udah ganti semua. Tingginya nyampe bahu Mas Arga.
Rumah masih sama. Sertifikat atas nama Sinta + Naya. Mas Arga tidur di kamar tamu. Status: "Ayahnya Naya. Bukan suami Sinta."
5 tahun. 1.825 hari. Mas Arga lulus "ujian konsisten". Sholat 5 waktu di masjid. Anter-jemput Naya. Gaji dipotong 30% tahun pertama, abis itu normal. Nggak pernah bohong lagi. HP-nya Sinta yang pegang tiap malem.
Sinta belum balik jadi "istri". Tapi udah balik jadi "temen serumah yang saling jaga". Salaman pas lebaran. Ngobrol pas Naya ulang tahun. Nggak ada pegang tangan. Nggak ada peluk.
Nama "Argaya" udah dikubur dalem. Nggak pernah disebut. Kayak Voldemort.
Sampai hari itu.
Jam 4 sore, Naya pulang sekolah mukanya aneh. Diem. HP-nya disembunyiin di belakang punggung.
"Sayang kenapa? Ada PR susah?" Mas Arga nyodorin es teh.
Naya geleng. Naik ke kamar. "Krek" kunci pintu.
Jam 9 malem, Sinta denger suara Naya nangis dari kamar. Pelan. Ketahan.
Sinta ngetok. "Naya? Buka Nak."
Nggak dibuka. "Mama... Naya mau sendiri dulu..."
Mas Arga panik. "Naya buka Ayah! Ayah janji nggak marah!"
5 menit hening. Terus "klik" pintu kebuka.
Naya duduk di kasur. Mata bengkak. HP di tangannya. Layar nyala. Isinya: Instagram.
Foto: Cewek SMP, rambut dikuncir dua, senyum ompong. Caption: "Ultah ke-14 bareng Ayah 😊 Makasih ya Yah udah dateng jauh-jauh dari Jakarta. Love you Ayah Arga ❤️ #Argaya14th"
Di foto itu ada Mas Arga. Lebih tua, uban di pelipis. Gendong cewek itu. Background: Tugu Pahlawan Surabaya.
Tangan Mas Arga langsung lemes. HP-nya jatuh. "Duk".
Sinta ngambil HP Naya. Bacain komennya:
@temennyaArgaya: "Wih mirip bapaknya ya Gay?"
@Argaya: "Iya dong. Aku anak Ayah banget katanya 😆"
@mamanyaArgaya: "Makasih ya Mas Arga udah sempetin waktu. Maaf ganggu."
Mas Arga nggak bisa ngomong. Keringat dingin. Dia nengok ke Sinta. Matanya "tolong".
Sinta natap Mas Arga 3 detik. Nggak marah. Nggak bentak. Capek.
"Naya, sini Nak," Sinta duduk di sebelah Naya. "Itu siapa sayang?"
Naya nyodorin HP lagi. Buka DM. Ada chat dari @Argaya14:
"Kak Naya ya? Aku Argaya. Adeknya Kakak. Ayah cerita Kakak pinter banget. Pinter gambar. Boleh kenalan nggak Kak? Aku kangen punya kakak..."
Naya nangis kejer. "Mama... Ayah... ini siapa? Kok dia bilang Ayah? Kok dia mirip Ayah? Kok dia tau nama Naya?"
Mas Arga ambruk duduk di lantai. Kepala dijedotin ke tembok. "Bugh". "Bugh".
"Maafin Ayah Nak... maafin Ayah..."
Sinta nahan bahu Mas Arga biar nggak jedotin kepala lagi. Terus dia peluk Naya kenceng.
"Naya dengerin Mama ya sayang. Iya, itu adek kamu. Namanya Argaya. Adik tiri kamu. Anak Ayah sama... sama bibi lain."
Naya nyentak dari pelukan Sinta. "BIBI LAIN?! Mama bohong selama ini?! Mama bilang Ayah cuma punya Naya!"
Sinta diem. Nggak bisa bantah.
Mas Arga merangkak ke kaki Naya. Nyium lutut Naya. "Nak, Ayah salah Nak. 9 tahun lalu Ayah bodoh. Ayah selingkuh. Ayah bikin Argaya. Tapi Ayah milih kamu Nak. Ayah milih anter kamu sekolah tiap hari. Ayah milih dengerin cerita kamu tiap malem. Ayah..."
"DIEM AYAH!" Naya nendang pelan kaki Mas Arga. Nggak kenceng. Tapi nusuk. "Naya benci Ayah! Naya benci Mama juga! Kenapa ditutupin?!"
Naya lari ke kamar mandi. Ngunci dari dalem. "Gegeer" air dinyalain kenceng. Suara nangisnya pecah.
Sinta + Mas Arga duduk di depan pintu kamar mandi. Kayak 5 tahun lalu pas Mas Arga sujud.
"Mas," bisik Sinta. Suaranya serak. "5 tahun kita bohong ke Naya. Kita kira ngelindungin dia. Ternyata kita ngubur bom waktu."
Mas Arga manggut. Air matanya netes ke ubin. "Aku yang salah Sinta. Aku yang harus jelasin ke Naya."
2 jam kemudian, jam 11 malem, pintu kamar mandi kebuka. Naya keluar. Mata bengkak. Bawa koper kecil.
"Mama, Ayah... Naya mau nginep di rumah Tante Dina seminggu," suaranya datar. Mati. "Naya nggak mau liat kalian dulu."
Sinta mau megang tangan Naya. Ditangkis. "Jangan Mama. Naya jijik."
Naya jalan keluar. Nggak nengok. Pintu ditutup. "Gret".
Hening. Tinggal Sinta + Mas Arga di ruang tamu. Meja makan masih ada sisa kue ultah Naya yang nggak jadi dipotong.
Mas Arga ketawa. Ketawa histeris. "Hahaha... 5 tahun Sinta... 5 tahun aku jaga biar Naya nggak tau... ujungnya dia tau dari Instagram adeknya sendiri..."
Dia mukul meja. "Bugh!" Gelas pecah.
Sinta nggak ngelarang. Dia biarin Mas Arga ngelampiasin.
Pas Mas Arga capek, dia duduk di lantai. Ngepeluk lutut.
"Sinta... aku gagal lagi ya? Gagal jadi bapak... gagal nutupin dosa..."
Sinta duduk di sebrangnya. Jarak 1 meter. Sama kayak 5 tahun lalu pas tanda tangan cerai.
"Mas nggak gagal jadi bapak 5 tahun ini Mas," kata Sinta pelan. "Mas sukses anter Naya sekolah, dengerin dia, jagain dia. Yang gagal... kita gagal jujur ke dia."
Dia ngeluarin kunci kuning Unit 704 dari lehernya. Taruh di meja. Di tengah-tengah mereka.
"Dulu kunci ini kunci surga kita Mas. Terus surga itu kebakar. Terus kita tinggal di reruntuhannya. Sekarang... reruntuhannya longsor Mas. Ketimpa Naya."
Mas Arga ngambil kunci itu. Dicium. Terus dia sujud di lantai lagi. Nggak di kaki Sinta. Di lantai.
"Ya Allah... aku siap dihukum Ya Allah. Ambil kerjaan aku. Ambil rumah ini. Ambil nyawa aku. Tapi jangan ambil Naya dari aku Ya Allah..."
Sinta merem. Air matanya jatuh juga. 5 tahun dia nahan. Sekarang jebol.
"Mas, besok kita ke Surabaya," katanya. "Kita ketemu Argaya. Kita ketemu Rayya. Kita jelasin ke Naya. Jujur. Sakit. Tapi jujur."
Mas Arga ngangkat muka. "Kamu... kamu mau ikut Sinta? Setelah semua yang aku lakuin?"
Sinta ngusap air matanya. "Aku ikut Mas. Bukan buat Mas. Buat Naya. Biar Naya tau... Ayah + Mamanya kompak ngadepin salah. Bukan kompak ngubur salah."
Dia berdiri. Jalan ke kamar. Ngambil Al-Quran kecil tempat perjanjian 5 tahun lalu disimpen.
Dibuka. Kertas perjanjiannya udah kuning. Tulisan "Ayah nggak akan sebut nama Argaya" dicoret pake spidol merah sama Sinta. Ditulis di bawahnya: "GAGAL. KITA HARUS JUJUR."
Sinta foto kertas itu. Kirim ke Tante Dina: "Tante, jagain Naya ya. Kita besok ke Surabaya. Mau beresin bom waktu."
Balasan Tante Dina: "Iya Sin. Naya nangis di pelukan gue. Dia bilang 'Tante, Ayah Mama jahat'. Sabar ya Sin."
Sinta matiin HP. Nengok ke Mas Arga yang masih sujud.
"Mas, bangun. Kita nggak ada waktu buat sujud minta ampun doang. Besok kita sujud + minta maaf ke Naya. Langsung. Muka ke muka."
Mas Arga berdiri. Wajahnya hancur. Tapi matanya... ada tekad.
"Siap Sinta. Kali ini aku nggak akan lari dari pintu lagi."