NovelToon NovelToon
Back To Us, Zehar & Alesha

Back To Us, Zehar & Alesha

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Mengubah Takdir / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rani Ramadhani

Tujuh tahun lalu, kerasnya hidup memaksa sepasang kekasih berpisah jalan. Kini, mereka kembali dipertemukan di puncak kesuksesan. Alesha seorang Direktur wanita yang tangguh, dan Zehar telah menjadi perwira polisi yang mapan.
Kesempatan kedua pun diambil. Namun tepat saat hubungan mereka kembali bertaut, sebuah utang budi dari masa lalu datang menagih.
Alesha dihadapkan pada dua pilihan, antara harus berbakti pada perjodohan orang tua, atau mempertahankan cinta sejatinya.
Saat pangkat dan jabatan sudah di tangan, mampukah mereka memenangkan takdir yang dulu sempat gagal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keberangkatan Zehar

☘️ FLASHBACK

Seminggu setelah Zehar menyampaikan kabar diterimanya di Akademi Kepolisian, suasana hatinya masih terselimuti rasa semangat dan harapan yang kian menguat.

Ia sudah mulai menyiapkan perlengkapan dasar, membaca buku panduan pendidikan, dan mengatur jadwal agar tetap bisa bertemu dengan Alesha sesering mungkin sebelum hari masuk tiba.

Ia membayangkan, setidaknya dalam dua tahun ke depan ia masih bisa pulang ke rumah sesekali, berbagi kabar, dan menjaga hubungan seperti yang telah mereka rencanakan bersama.

Namun, takdir kembali bergerak di luar rencana yang telah disusun, membawa perubahan mendadak yang membuat segala rencana berubah arah dalam waktu yang sangat singkat.

Hari itu, tepat sepuluh hari setelah kabar keberhasilan itu diterima, telepon rumah di kediaman Zehar berdering keras saat matahari baru saja terbit.

Suara lantang petugas administrasi dari Akademi Kepolisian terdengar di ujung sana, menyampaikan perintah yang tak terduga.

Karena adanya kebutuhan mendesak dan penyesuaian formasi pendidikan nasional, jadwal masuk serta tempat penempatan bagi calon taruna baru diubah secara tiba‑tiba.

Zehar tidak lagi menjalani masa pendidikan dasar di ibu kota seperti yang tertulis dalam surat pengumuman awal.

Ia harus segera berangkat dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan, menuju lembaga pelatihan khusus yang berlokasi di luar pulau, jauh di wilayah timur nusantara, dengan jarak ribuan kilometer dari tempat tinggalnya sekarang.

Berita itu membuat Zehar tertegun di tempat, seolah aliran darahnya berhenti mengalir sesaat.

Ia mengira akan ada waktu panjang untuk berpamitan dengan keluarga, berkumpul dengan teman‑teman, dan yang paling penting, menghabiskan waktu terakhir bersama Alesha sebelum terpisah jarak.

Namun perintah kedinasan tidak bisa ditawar, ditunda, atau diminta pengecualian.

Bagi seorang calon aparat negara, keputusan dan aturan yang ditetapkan adalah mutlak.

Dengan perasaan yang campur aduk antara kewajiban dan kekhawatiran, Zehar segera mencoba menghubungi Alesha lewat telepon genggamnya.

Ia berharap masih ada kesempatan untuk bertemu sebentar saja, meski hanya sejam, untuk menyampaikan kabar ini secara langsung dan berpamitan dengan tatap muka.

Namun, nasib seolah belum berpihak pada mereka. Saat itu sedang jam kuliah, dan kebetulan Alesha sedang mengikuti ujian tengah semester yang berlangsung tertutup, sehingga tidak boleh menerima atau menjawab panggilan apa pun selama berlangsungnya ujian.

Pesan singkat yang dikirim Zehar juga belum bisa dibaca dan dibalas karena ponsel gadis itu dimatikan dan disimpan di loker khusus mahasiswa.

Waktu berjalan terasa sangat cepat. Hari pertama berlalu tanpa jawaban, hari kedua tiba dan Zehar sudah harus menyelesaikan segala urusan administrasi serta mengemas barang bawaannya.

Hingga menjelang malam, saat ia sudah harus bersiap menuju pelabuhan keesokan paginya, Alesha baru membaca pesan‑pesan yang menumpuk.

Matanya terbelalak membaca kalimat yang membuat jantungnya berdebar kencang.

Dari: Zehar

“Alesha, ada perubahan mendadak. Aku harus berangkat dan ditempatkan di luar pulau. Waktunya sangat mendadak, aku belum sempat menemuimu. Maafkan aku.”

Dengan napas terengah dan perasaan cemas yang meluap, Alesha segera menelepon balik nomor Zehar. Nada dering terdengar beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.

Begitu mendengar suara kekasihnya, Alesha langsung berbicara dengan nada yang tergesa dan bingung.

“Zehar? Apa maksud pesanmu tadi? Kamu bilang harus berangkat ke mana? Kenapa tiba‑tiba sekali?” tanya Alesha, suaranya sedikit bergetar menahan rasa kaget.

Di ujung sana, suara Zehar terdengar berat dan penuh sesal. Ia duduk di kamarnya yang sudah kosong, hanya tersisa tas ransel besar dan sebuah koper yang siap dibawa.

“Aku juga baru tahu kemarin pagi, Alesha. Perintah resmi datang tiba‑tiba. Awalnya tempat pendidikanku masih di sini, tapi sekarang dipindahkan ke luar pulau, jauh sekali. Aku harus berangkat besok pagi buta, tidak ada perpanjangan waktu sedikit pun. Aku sudah mencoba menghubungimu seharian ini, tapi ponselmu tidak bisa dihubungi. Aku khawatir tidak sempat berpamitan denganmu secara langsung,” jawab Zehar dengan nada penuh penyesalan.

“Luar pulau? Seberapa jauh tempatnya? Dan berapa lama kamu akan tinggal di sana?” tanya Alesha lagi, matanya mulai terasa berembun meski ia berusaha tetap tenang.

Ia baru saja menghadapi masalah berat dengan kebangkrutan usaha ayahnya, dan kini kabar ini datang menambah beban hati yang bahkan belum sempat dimulai.

“Tempatnya berada di wilayah timur, butuh waktu perjalanan hampir tiga hari lewat kapal laut. Sampai kapannya aku belum tahu pasti, tapi di sana aturannya jauh lebih ketat dibandingkan di pusat. Nanti kami tinggal di asrama tertutup, akses keluar dibatasi, dan penggunaan alat komunikasi sangat diawasi,” jelas Zehar panjang lebar, mencoba menyampaikan semuanya sejelas mungkin lewat percakapan telepon ini.

Keheningan melintas sejenak sebelum Alesha kembali berbicara, suaranya kini lebih lembut namun terasa berat.

“Jadi… kita tidak sempat bertemu sekali pun sebelum kamu pergi? Tidak ada kesempatan untuk berjumpa sebentar saja?”

Suara Zehar terdengar menghela napas panjang di ujung sana.

“Aku sudah mencoba meminta izin ke petugas untuk menunda keberangkatan setengah hari saja, tapi jawabannya tegas, tidak bisa. Semua jadwal sudah terkoordinasi dengan transportasi dan penerimaan di tempat tujuan. Jika terlambat sedikit saja, bisa dianggap mengundurkan diri. Maafkan aku, Sayang. Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi secepat ini.”

Alesha menggeleng pelan meski tidak terlihat oleh Zehar. Ia mencoba menahan air matanya agar suaranya tidak terdengar terlalu sedih.

“Aku mengerti, Zehar. Ini bukan keinginanmu. Tugas dan aturan kedinasan memang harus didahulukan. Hanya saja… rasanya tiba‑tiba sekali. Belum sempat mengucapkan apa‑apa, belum sempat berpesan banyak hal.”

“Aku juga merasa hal yang sama. Rasanya ada yang mengganjal di hati karena tidak sempat menatap matamu dan berpamitan dengan cara yang layak,” jawab Zehar dengan nada yang melembut.

“Tapi dengar aku baik‑baik, Alesha. Meskipun jarak akan memisahkan kita, meski komunikasi nanti tidak akan semudah sekarang, perasaanku tidak akan berubah sedikit pun. Ingat janji kita? Apa pun yang terjadi, kita tetap berpegang pada satu sama lain.”

Alesha menyeka sudut matanya yang mulai basah, lalu menjawab dengan suara tegas meski terasa bergetar.

“Aku juga ingat janji itu, Zehar. Aku akan menunggumu. Jangan pikirkan aku di sini, fokuslah pada pendidikanmu. Jadilah Polisi yang terbaik, seperti yang selalu kamu impikan.”

Namun, di balik dukungan yang diucapkannya itu, hati Alesha terasa semakin terjepit.

Ia tidak sempat menceritakan kondisi keluarganya yang baru jatuh miskin, tidak sempat meminta kekuatan tambahan dari kekasihnya, dan kini justru harus menghadapi kesulitan itu sendirian tanpa kehadiran Zehar di dekatnya.

Ia menelan segala keraguan itu dalam‑dalam, memutuskan untuk tetap menyembunyikan kenyataan pahit itu agar tidak membebani pikiran Zehar yang akan memulai masa pendidikan yang berat.

“Terima kasih sudah mengerti, Alesha,” kata Zehar lagi.

“Nanti saat sudah tiba di sana dan mendapatkan kesempatan, aku akan mencoba menghubungimu secepat mungkin. Tapi kamu harus siap, kemungkinan besar pesan atau telepon itu tidak akan sering datang. Di sana sinyalnya terbatas, dan ponsel hanya boleh digunakan pada waktu‑waktu tertentu yang sangat singkat. Kadang seminggu sekali, bahkan bisa lebih lama jika ada jadwal latihan yang padat.”

Alesha tersenyum tipis dalam kesendiriannya.

“Aku mengerti. Jangan khawatir jika lama tidak ada kabar. Aku akan tetap menunggu dengan sabar. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu di sana. Makanlah dengan teratur, jangan sampai sakit karena kelelahan latihan.”

“Pasti akan kuingat setiap pesanmu. Kamu juga di sana harus menjaga dirimu sendiri, belajar dengan giat, dan jangan lupa beristirahat yang cukup, Sayang.” pesan Zehar panjang lebar, seolah ingin menampung semua kata perpisahan yang seharusnya diucapkan saat bertemu langsung lewat percakapan telepon ini.

Percakapan itu berlangsung selama hampir satu jam, membahas hal‑hal kecil hingga harapan masa depan, sampai baterai ponsel Zehar hampir habis dan ia harus segera beristirahat agar bisa bangun pagi‑pagi sekali. Saat akan mengakhiri panggilan, nada suaranya terdengar lebih dalam dan meluapkan lagi rasaa hatinya.

“Selamat tinggal untuk sementara, ya, Sayang. Sampai kita bisa bertemu lagi nanti. Tetap jaga hatimu untukku, seperti aku akan menjaga hatiku hanya untukmu.”

“Selamat jalan, Zehar. Semoga perjalananmu lancar dan pendidikannya berjalan baik. Aku akan selalu mendoakanmu. Sampai bertemu lagi nanti,” jawab Alesha dengan suara lirih, sebelum akhirnya sambungan telepon terputus.

Keesokan paginya, saat langit masih gelap gulita dan embun masih menutupi dedaunan di pinggir jalan, Zehar sudah melangkah menuju kendaraan dinas yang akan membawanya ke pelabuhan.

Ia menoleh ke arah jalan yang menuju ke rumah Alesha, memandang jauh seolah berharap bisa melihat bayangan gadis itu, lalu melambaikan tangan kosong sebagai tanda pamitan terakhir.

Tanpa sempat saling berpelukan, tanpa sempat saling menatap dalam waktu lama, Zehar pun pergi meninggalkan kota itu menuju tempat yang jauh.

Sesampainya di lokasi pendidikan, kenyataan yang dihadapi Zehar ternyata lebih berat dan terbatas dari yang dibayangkannya.

Wilayah pelatihan berada di tengah hutan dan perbukitan, jauh dari pemukiman penduduk.

Sinyal komunikasi sangat lemah dan hanya bisa ditangkap di satu titik tertentu yang jaraknya cukup jauh dari asrama.

Penggunaan ponsel pun diawasi ketat oleh petugas pengajar, hanya pada hari libur tertentu yang jarang, para taruna diperbolehkan menggunakannya sebentar.

Kadang butuh waktu dua hingga tiga minggu baru Zehar bisa mengirim satu pesan singkat yang isinya pun terbatas karena takut terpotong sinyal atau ketahuan melanggar aturan.

Di sisi lain, Alesha yang menunggu di kota asalnya merasakan perubahan drastis dalam cara mereka berkomunikasi.

Dulu mereka bisa bertemu hampir setiap hari atau bertukar pesan setiap saat, namun sekarang pesan yang diterimanya hanya datang selang waktu yang lama, isinya pun sangat singkat dan tidak bisa menjelaskan banyak hal.

Dari: Zehar

“Tiba dengan selamat. Keadaan baik. Latihan mulai berat. Jaga dirimu, Sayang.”

Begitulah biasanya isi pesan yang diterimanya. Begitu pula jawaban yang dikirim Alesha, tidak bisa bercerita panjang lebar karena khawatir Zehar tidak punya cukup waktu untuk membacanya.

Di tengah keterbatasan itu, Alesha tetap menyimpan rapat‑rapat kondisi keluarganya.

Ia tidak pernah menyebutkan tentang rumah kontrakan sempit, tentang kesulitan mencari biaya kuliah, atau tentang beban berat yang dipikulnya setiap hari.

Setiap kali membalas pesan, ia hanya menulis kabar baik saja, mengatakan bahwa semuanya berjalan lancar, kuliah berjalan baik, dan keadaan keluarga sehat‑sehat saja.

Komunikasi yang terbatas itu perlahan mulai membangun jarak yang tidak terlihat.

Tidak ada lagi percakapan panjang yang bisa saling memahami keadaan satu sama lain, tidak ada lagi kesempatan untuk berbagi keluh kesah secara mendalam.

Hanya kalimat‑kalimat singkat yang menjadi jembatan satu‑satunya di antara dua hati yang terpisah jarak dan waktu.

Namun meski begitu, keduanya tetap berusaha memegang teguh janji yang telah diucapkan, menahan rindu dalam kesunyian masing‑masing, sambil menjalani kehidupan yang masing‑masing memiliki tantangan berat yang belum sempat dibagikan.

 

1
Siti Sarfiah
lancar kan urusannya kalau mengalah dari egois lanjutkan lagi cinta yg terputus dan perbaiki kembali
Siti Sarfiah
maju pakpol , buang jauh" egomu bisa nyesal kalau d ambil orang
Siti Sarfiah
itulah sama" egois🤭💪
Siti Sarfiah
pakpol yg buang" waktu , bilang saja ingin mengenang masa lalu😄👍
Siti Sarfiah
cinta lama bersemi kembali😍👍💪
Siti Sarfiah
dengan bertugasnya AKP zehar d daerah yg d tuju akan aman selalu👍💪
Siti Sarfiah
mantap ibu Dirut yg jenius👍
Elisabeth Ratna Susanti
semoga pak Zehar beneran tulus ya
Rosella
udh, 🙏
kalah saing kmu erhan
Rosella
baguss
Rosella
Zaskia sadar krna di bayarin tuh utang, coba kalau ga d bayarin, apa masih Nerima Zehar 😏
Rosella
sepakat din🙏
Rosella
keren juga Dinda 😍.
real sahabat ini mah😍
Elisabeth Ratna Susanti
harus tetap tegak berdiri 👍🥰
Rosella
aku paling suka karakter Zehar. apa yang dia ucapkan pasti positif. keren thor.
kalau bisa up banyak y. plis 🙏
Rani: tengkyu.

siapp,😍
demi readers rela up banyak kok😍
total 1 replies
Rosella
sudah pasti terpecah belah lah. gila aja anak sendiri di jadikan bahan untuk balas Budi.😏
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
ibu aja yg nikah sama erhan noh. kehormatan apaan, ngorbanin anak
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
egois bnget si ibu
Rani: sabar😭
total 1 replies
Rosella
idih
Rosella
emosian lngsung pas baca bab ini
Rani: sabar😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!