NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gelisah

Rindu.”

Lita terkejut mendapati sahabatnya sudah ada di dalam kamar. Ia langsung menghampiri dan duduk di samping Rindu.

“Rin, kamu kemana aja? Aku nyariin kamu. Dari semalam, aku ga bisa tidur mikirin kamu. Kamu kemana sih?” tanyanya bertubi‑tubi.

Rindu hanya melirik. Ia tak kuasa menceritakan semua yang telah terjadi semalam. Pergumulan bersama Rayen, masih lekat dalam ingatan.

“Aku telepon ponsel kamu, eh aku lupa kalau ponsel itu aku sarankan untuk dinonaktifkan. Jadi bingung kan aku mau nyari kamu di mana?” sambung Lita yang masih penasaran dengan hilangnya Rindu malam itu.

“Seandainya Elang bersikap sepertimu, Lit. Mungkin, aku ga akan seperti ini.”

Mendengar Rindu berkata, seketika Lita terdiam. Ia tahu, sahabatnya semakin tidak baik‑baik saja. Lita pun memeluk tubuh itu tanpa bertanya lagi.

Tangis Rindu pecah.

“Aku udah ga bisa sama Elang lagi, Lit. Ngga bisa.”

Rindu menggelengkan kepala. Tangisnya terdengar pilu. Kini, Rindu ingin terlepas dari Elang bukan hanya karena suaminya yang selalu dusta dan ingkar janji, tapi karena saat ini Rindu seperti yang tidak ada beda. Jika pernikahan ini tetap diteruskan, akan dibawa kemana? Rindu pun tidak tahu.

Sementara Lita hanya bisa menepuk punggung itu untuk menenangkan. Tidak ada yang bisa ia katakan, karena sebagai wanita yang pernah mengalami dua kali gagal dalam pernikahan, ia sangat tahu apa yang dirasakan Rindu.

“Ya. kalau sudah lelah, kamu memang harus menyerah, Rin. Seperti aku dan Mas Dandy dulu.” Lita mengingat suami kedua yang baru bercerai beberapa bulan lalu, suaminya yang seorang dokter, juga selingkuh dengan sesama dokter di rumah sakit.

“Ketika kamu bilang akan bertahan. Aku appreciate banget. Menurutku, wow banget sih buat perempuan yang bisa memaafkan suaminya yang selingkuh. Mereka perempuan yang memiliki hati seluas samudera, tapi aku ngga.”

Rindu terus menatap Lita, hingga perlahan tangisnya pun reda.

“Sayangnya, suami aku bukan Samudera.” Lita mengingatkan Rindu pada pria yang sejak dulu hingga saat ini kerap menggodanya di kantor. “jadi aku ga unya hati seluas itu.”

Bibir Rindu pun sedikit menyungging.

“Bye the way, foto itu kamu dapetin dari Sam kan?”

Rindu mengangguk.

“Valid ga tuh anak? Apa jangan‑jangan dia cuma mau bikin kamu dan Elang cerai?”

Kepala Rindu menggeleng, ia cukup tahu bahwa Sam terlihat tulus membantu. Lagi pula, meski yang diberikan foto Elang dan Miska dari belakang, tapi ia tahu persis perangai suaminya. Rindu juga tahu persis postur tubuh Miska.

“Si Sam kan masih ngarepin kamu. Katanya, kutunggu jandamu,” sambung Lita meledek Rindu dengan Samudera.

Rindu kembali menggeleng tanpa jawaban. Ia bangkit dan memilih mengambil koper dan memasukkan kembali pakaian yang tertata rapi di lemari itu ke dalam kopernya.

“Eh, kok udah mau ngepak barang aja.” Lita menghampiri sahabatnya lagi. “Aku aja belum packing‑packing. Lagian, acara kita belum selesai. Puncaknya, abis makan malam. Doorprize‑nya banyak, Rin. Ada I‑watch, I‑Phone, sepeda listrik, motor.”

Lita berseru membayangkan dirinya mendapat salah satu doorprize utama itu.

“Kalau ga dapat yang gede, voucher‑vouchernya juga ngga apa‑apa deh. lumayan. Asal , jangan tupp*rware aja. Kalo ada hadiah itu dan aku dapet, dijamin itu hadiah langsung disabotase emak gue.” Lita tertawa membayangkan ia berebut dengan sang ibu.

Namun, saat menoleh ke arah Rindu. Tawa wanita itu pun berhenti.

“Kalau dipikir‑pikir, Pak Rayen royal banget ya. itu hadiahnya ga kaleng‑kaleng loh.” sambungnya.

“Rin.” Lita memanggil Rindu yang pikirannya tampak tak di sini. Ia seperti sedang berbicara sendiri.

“Rin, kamu mikirin apa sih?” tanya Lita penasaran, karena Rindu yang ada di depannya hari ini, berbeda dengan Rindu yang ada saat baru tiba di kamar ini.

Rindu memikirkan bagaimana saat nanti bertemu Elang. Dengan keadaannya yang seperti sekarang, sepertinya Rindu akan semakin tidak ingin tidur satu ranjang dengan suaminya lagi. Alasannya bukan hanya karena foto itu saja, melainkan kegiatan semalam yang ia lakukan dengan Rayen.

Sepanjang waktu hingga memasuki acara makan malam dan puncaknya, Rindu memilih berdiam diri di kamar.

Sedangkan Rayen tampak gelisah. Pria itu bukan gelisah karena mengkhawatirkan istrinya yang lama tidak pulang, tetapi gelisah karena tidak bisa menghubungi Rindu. Rayen ingin tahu bagaimana keadaan wanita itu.

Rayen kembali menekan nomor Rindu.

“The number you are calling is switch off, please try again later.”

Hanya suara itu yang sedari tadi terdengar di telinganya.

“Ah, sh*t!”

Rayen kesal dan membanting ponsel itu ke atas ranjang.

Tok

Tok

Tok

Ibra membuka pintu kamar bosnya. “Ada apa, Pak?”

“Cari tahu bagaimana keadaan Rindu.”

Ibra mengangguk patuh. Ia mengerti. Bahkan Ibra lebih mengerti dari itu. Ibra adalah orang yang dipercayakan Rayen untuk mencari tahu perselingkuhan istrinya. Ibra adalah orang yang memegang semua bukti tentang Vera dan Doni. Ibra juga tahu bahwa bosnya sangat menyukai Rindu.

Di tempat berbeda, Elang juga terus menekan nomor Rindu. Sejak keluar dari kamar rahasia milik sang istri, Elang terus menghubungi. Tapi sayang, ponsel Rindu di sana belum diaktifkan.

“Rindu, kamu di mana? Kenapa ponselmu tidak aktif‑aktif, huh!” Elang kesal sendiri, ia juga melakukan hal yang seperti Rayen tadi.

Di dalam kamarnya, Elang juga membanting ponselnya di atas tempat tidur. Lalu, ia berjalan mondar‑mandir di depan jendela sambil melipat kedua tangannya di dada.

Elang melirik ke jam dinding. ia masih ingat, sebelum pergi, Rindu memintanya untuk menjemput jam delapan malam. Dan, sekarang masih ada dua jam untuk sampai ke jam itu, tapi Elang juga ingin tahu keberadaan sang istri saat ini.

Dret … Dret … Dret …

Elang bergegas menghampiri ponselnya yang dibanting tadi saat benda itu berdering. Kemudian, tanpa melihat nama yang tertera, Elang langsung menjawabnya.

“Rin,” sapa Elang saat menerima telepon yang ia pikir adalah Rindu, wanita yang sedari tadi ia tunggu‑tunggu.

“Ini, Mama.”

Suara itu, sontak membuat Elang menegang.

“Kamu berharap Rindu yang menelepon? Memang Rindu ke mana? Kalian ga kenapa‑napa lagi kan? Awas kalau kamu berulah lagi dan bikin menantu kesayangan Mama pergi. awas saja!”

Elang memutar bola matanya malas. Alih‑alih senang karena mendapat kabar dari sang istri, justru ia dimarahi.

“Rindu kan memang lagi ikut gathering di kantornya, Ma. Dia belum pulang dan ponselnya ga aktif. Jadi Elang khawatir.”

Tiba‑tiba terdengar suara tawa Bella. “Bagus kalau kamu khawatir. Itu artinya kamu perhatian. Dan, itu artinya kamu cinta. Iya kan? Kamu mencintai Rindu kan?”

“Iya, Mama,” jawab Elang. “Elang memang mencintai Rindu.”

“Kalau begitu, jadikan dia ratu.”

Elang kembali menarik napasnya kasar. “Iya, Mama. ya udah ya, Elang mau telepon Rindu lagi.”

“Ya, Ya. kalau Rindu sudah pulang, kabari Mama.”

“Iya,” jawab Elang lemas. Pasalnya, itu berarti sampai jam segini, ia belum mendapatkan kabar dari sang istri.

Baru saja, ponsel itu dilempar lagi oleh Elang ke atas tempat tidur. Tiba‑tiba, berdering lagi. sama seperti sebelumnya, karena terlalu antusias, Elang kembali tidak membaca nama yang tertawa dalam panggilan itu.

“Rindu, kamu di mana?” tanya Elang dengan suara yang terdengar khawatir saat menerima panggilan itu.

“Mas, aku bukan Rindu,” ucap wanita di seberang itu dengan nada ketus, pasalnya Elang tampak tengah menunggu telepon dari istrinya.

“Eh, Mis. Sorry.”

“Mbak Rindu belum pulang?” tanya Miska seolah sok perhatian, padahal tidak.

“Belum. Hapenya juga ga aktif. Aku sudah telepon berkali‑kali tapi hasilnya nihil. Kira‑kira, Rindu di mana ya, Mis? Dia lagi ngapain? Dia baik‑baik aja kan?”

Dahi Miska mengenyit, bibirnya cemberut, bahkan ia menjauhkan sedikit ponselnya itu dari telinga, karena kekhawatiran yang ditunjukkan Elang untuk istrinya sangat kentara. Dari suara itu, Miska meyakini bahwa selingkuhannya memang masih mencintai sang istri. Ia menyadari bahwa posisinya hanya sekedar pemuas saja.

Tut … Tut … Tut …

Tiba‑tiba, Miska mematikan sambungan telepon itu dan berharap Elang meneleponnya kembali. Tapi nyata, hal itu tidak terjadi.

Di sana, Elang kembali melempar ponselnya ke atas tempat tidur dan terduduk lesu di tepi tempat tidur itu.

“Yeay … akhirnya, acara puncak!”

“Yeay!”

“Gue dapet motor.”

“Gue sepeda listrik.”

“Ah, gue mah ga muluk‑muluk, I‑watch aja lah.”

Seru semua rekan‑rekan Rindu sesama tim divisinya saat MC hadir dan melanjutkan acara selanjutnya yaitu doorpirce.

Di kursinya, Rayen mencuri pandang ke arah Rindu yang tampak duduk tenang dengan tatapan kosong ke arah MC.

Sungguh, Rayen ingin sekali menghampiri wanita itu dan duduk di sampingnya. Ia ingin menemani Rindu seperti saat menemani wanita itu di rumah sakit ketika kali pertama mereka jumpa dan lebih dekat.

“hadiah sekarang, I‑Phone 15 pro max. siapa ya kira‑kira guys!” ujar MC itu.

Lalu, MC yang tak lain adalah karyawan Rayen sendiri dan bekerja di didivisi ini, melirik ke arah bosnya dan menyebut sebuah nomor.

“Enam belas.”

Sontak, semua peserta melihat ke nomor yang mereka pegang.

“Rin, itu nomormu. Rin.”

“Ayo, siapa yang pegang nomor enam belas?” tanya MC.

Lita pun langsung berdiri. “Rindu. Nomor itu punyanya Rindu.”

Wanita itu sangat antusias, tapi tidak dengan Rindu. Meski ia mendapat hadiah doorprize, tapi rasanya biasa saja. Dosa yang terasa indah itu masih teringat dan tetap membuatnya merasa sangat bersalah.

Rindu lebih banyak diam. Dikepalanya seolah tersimpan banyak pikiran. Sepanjang jalan menuju pulang pun, wanita itu tak bersuara, membuat Lita bingung dibuatnya. Bahkan ketika sudah sampai di kantor dan Lita mengajaknya untuk pulang bersama, Rindu menggeleng.

Lita sudah tak tahu lagi bagaimana membujuk dan berbicara dengan sahabatnya itu, hingga Rayen berinisiatif untuk menghampiri. Namun, kakinya tiba‑tiba terhenti.

“Rindu.” Teriakan Elang dan kakinya yang berlari ke arah sang istri, membuat Rayen tidak jadi untuk mendekat.

Rayen memilih pulang dengan perasaan yang tak karuan. Di dalam perjalanan, ia masih memikirkan Rindu, masih memikirkan bagaimana keadaan wanita itu. Sungguh, semakin lama, perasaannya pada Rindu semakin begitu dalam. Terlebih kejadian semalam. Rayen semakin tidak bisa melupaan sekretarisnya itu.

Sesampainya di rumah besar miliknya sendiri, Rayen melempar semua benda yang ia bawa ke sembarang. Pria itu memilih menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Guyuran air hangat sepertinya mampu melepaskan penatnya hari ini.

Setelah membuka seluruh pakaian dan menampilkan tubuh atletis serta wajah yang tidak seperti om‑om, Rayen berdiri di bawah shower. Perlahan benda itu membasahi seluruh tubuhnya.

Rayen memejamkan mata. Dan saat mata itu terpejam, ia mengingat tubuh indah Rindu. Gerakan tubuh yang bergoyang di atas tubuhnya masih terekam jelas. Ekspresi Rindu yang seksi dan menggairahkan itu pun nyatanya membuat bagian bawah tubuh Rayen menegang.

Rayen memegang miliknya dan menuntaskan sambil membayangkan percintaan malam itu.

“Rin. Ah. aku menginginkanmu lagi.”

“Riiiiin.” Teriakan Rayen dari dalam kamar mandi yang tak tertutup sempurna, ternyata didengar oleh sang istri yang baru saja tiba.

“Rin? Siapa, Rin?” tanya wanita itu pada dirinya sendiri. “Rayen, apa kamu juga selingkuh?”

Entah mengapa, Vera gelisah.

Dan yang gelisah, bukan hanya Vera, tapi semua pelaku perselingkuhan itu, termasuk Miska yang tidak berada di negara yang sama. Wanita remaja itu gelisah karena ternyata Elang tidak secinta itu padanya, seperti yang ia bayangkan.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!