Enough berkisah tentang kisah asmara seorang wanita bernama Dia Tarisma Jingga dengan seorang lelaki yang belum lama dikenalnya, Btara Langit Xabiru
Keduanya saling mencintai dan kemudian memutuskan membangun kehidupan keluarga kecil yang harmonis dan bahagia.
Namun sayangnya semua itu hanya menjadi angan saja, hal ini terjadi lantaran trauma masa lalu dan sikap Tara yang abusive, yang pada akhirnya menjadi prahara dalam rumah tangga mereka.
Akankah Tari dan Tara mampu mempertahankan rumah tangga mereka? Kisah selengkapanya hanya ada di novel Enough.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
"Tar, ayo dong cepat. Caira dan Gala sudah sampai di restoran," ucap Tara. Ia terus memandangi jam di pergelangan tangannya, sudah hampir satu jam ia menunggu Tari bersiap, namun Tari belum juga keluar dari kamar mandi.
"Iya, iya. Ini udah selesai kok." Tari menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya, kemudian ia keluar. Tari bukan bermaksud untuk berlama-lama di dalam kamar mandi, hanya saja ia enggan untuk datang ke restoran Jepang tersebut.
"Pacarku semakin hari semakin cantik," Tara beranjak dari tempat duduknya menghampiri Tari, ia melingkarkan tangannya di pinggang Tari, kemudian keduanya pergi menuju restoran.
Tiba di restoran Caira melambaikan tangannya ke arah Tara dan Tari, Tara tersenyum sembari merangkul pundak Tari, sementara Tari terlihat menunduk berusaha untuk tidak memandang sekeliling. Ia takut berpapasan dengan Ranu.
Sudah lebih dari dua kali Tari mencoba membujuk mereka bertiga untuk tidak datang ke restoran ini, namun tidak ada satu orang pun yang mau menurutinya, semuanya bersikukuh ingin makan di restoran ini, terlebih Caira, ia menggunakan alibi mengidam agar Tari tak menolak ajakannya.
"Ya Tuhan kalian manis sakali," sapa Caira, sembari mencium kedua pipi kakaknya, kemudian beralih ke arah Tari. Caira langsung terfokus pada memar di sudut mata Tari. "Matamu kenapa Tari?" tanyanya dengan panik.
"I-ini..." Tari terlihat bingung dan gugup menjawab pertanyaan Caira, ia belum menyiapkan kata-kata yang tepat.
"Ada insiden kecil tadi malam," jawab Tara.
"Insiden apa?" tanya Caira penasaran. "Ayo ceritakan padaku bagaimana kejadiannya?"
Tara tersenyum dan berkata, "Minyak zaitun yang di pakai Tari untuk luluran, jatuh berceceran. Kemudian secara tidak sengaja Tari menginjaknya dan terpeleset."
Tara berbohong.
'Tapi itu wajar. Aku juga akan melakukan hal sama, aku tidak akan menceritakan kejadian yang sebenarnya,' batin Tari
"Ya, aku kurang hati-hati," lanjut Tari sembari tersenyum.
Makan siang berjalan dengan lancar, Tari tak melihat adanya tanda-tanda kehadiran Ranu, ia menduga jika Ranu sedang libur. Setelah menyantap hidangan pembuka, seorang pelayan menghampiri meja mereka. "Apa ada yang mau memesan hidangan penutup?" tanya pelayan itu.
Tari menggeleng, namun Caira tersenyum sumringah. "Kalian punya menu apa saja?"
Gala pun sama tertariknya dengan Caira. "Bawakan hidangan penutup yang paling enak dengan prosi besar, karena istriku tengah mengandung." ucapnya.
Sang pelayan mengangguk, lalu ia pergi ke belakang. Seketika Caira langsung menoleh ke arah suaminya. "Aku bukan buto ijo," ucapnya dengan kesal.
Tara dan Tari tetawa mendengar ucapan Caira. Tak lama kemudian sang pelayan datang sembari mendorong kereta yang berisi berbagai macam hidangan penutup. "Chef kami memberi semua ibu hamil hidangan penutup gratis," ucapnya "Selamat."
"Benarkah?" tanya Caira, kegirangan.
Mereka semua mengamati kereta tersebut. "Oh my God," ucap Tari, ia melihat semua pilihan yang ada, mulai dari anmitsu, kakigori, mochi Ice cream, yokan, monaka, hingga dango.
"Restoran Jepang ini sekarang jadi favoritku," ucap Caira.
Mereka berempat memilih makanan penutup dan menikmatinya bersama sembari membicarakan nama calon bayi Caira.
"Jika perempuan, akan ku beri nama mochi seperti ice cream lembut ini," ucap Gala.
"Tidak Mas Gala, aku tidak mau anakku di beri nama makanan," protes Caira.
"Tapi aku sudah terlanjur jatuh hati pada ice cream lembut ini," rengek Gala.
Tara dan Tari hanya tertawa melihat perdebatan sepasang suami istri di hadapannya, hingga seorang chef menaruh hidangan penutup special khusus untuk Caira. "Selamat atas kehamilannya, semoga sehat selalu."
"Bagaimana makanannya?" tanya chef tersebut, memandang Caira dan Gala. Chef itu beralih pandangan ke Tari. Ranu dan Tari saling bertatapan, dan tanpa sadar Tari mengucapkan, "Kau chefnya?"
Sang pelayan melongok dari balik Ranu, dan berkata "Chef. Kakak sang pemilik restaurant, beliau tengah mengajari chef yang akan menggantikannya sebelum beliau kembali ke Eropa. Terkadang beliau mencuci piring, melayani pengunjung. Beliau turun langsung untuk mengajari kami semua di sini."
Mata Ranu masih terfokus pada luka memar di mata Tari, kemudian beralih ke perban di tangan Tara, lalu balik lagi ke mata Tari.
"Kami sangat suka dengan restorant adikmu," ucap Caira. "ini tempat yang sangat luar biasa. Aku akan menjadi pelanggan tetap di sini."
Ranu tak memandang dan menyimak ucapan Caira, ia masih terfokus pada luka di mata Tari, rahangnya mengeras dan tanpa berbicara sepatah kata pun ia pergi.
Sang pelayan langsung menutupi kepergian Ranu dengan senyum lebar dan berkata. "Silahkan menikmati hidangan penutupnya," kemudian sang pelayan pun pergi ke dapur menyusul Ranu.
"Payah," ucap Caira. "Kita menemukan restoran Jepang terenak tapi chefnya menyebalkan."
Tara tertawa. "Ya, tapi biasanya yang menyebalkan itu yang terbaik."
"Betul juga," ujar Gala.
Tari menyentuh lengan Tara. "Aku ke kamar mandi dulu ya."
Tara mengangguk dan melanjutkan obrolannya bersama Gala dan juga Caira.
Tari melangkah sembari menunduk, memasuki lorong yang mengarah ke kamar mandi. Ia mendorong pintu kamar mandi perempuan, kemudian membalik badan. Sebelum menutup dan mengunci pintu kamar mandi, Tari melihat Ranu tengah menatapnya dengan mata yang di penuhi oleh kemarahan.
Tari menarik nafas tegangnya, dan menghembuskannya perlahan. Ia berfikir setelah ini akan langsung mengajak Tara pulang dengan alasan tidak enak badan, sebelum Ranu membuat keributan dengan menghajar Tara.
Tari membuka kunci pintu, sebelum Tari menarinya, pintu itu terdorong dan Ranu masuk ke kamar mandi, lalu menguncinya. Punggungnya di sandarkan ke pintu, Ranu memusatkan perhatiannya pada luka di dekat mata Tari. "Apa yang terjadi?" tanyanya.
Tari menggeleng. "Tidak ada apa-apa."
Ranu menyipitkan matanya. "Kau berbohong, Tari."
Tari memaksakan diri untuk tersenyum, menutupi rasa gugupnya. "Ini hanya kecelakaan."
Ranu tertawa, namun seketika wajahnya berubah datar, "Tinggalkan dia!"
Tari maju selangkah dan menggeleng. "Kamu salah paham Ranu, luka ini tidak ada hubungannya dengan Tara. Tara orang yang baik dan menyayangiku."
Ranu memiringkan kepalanya. "Kau ini lucu sekali ya, sama seperti bundamu yang selalu membela ayahmu."
Kata-kata itu begitu menusuk ke hati Tari, ia berusaha meraih gagang pintu di balik tubuh Ranu, namun Ranu memegang pergelangan tangan Tari. "Tinggalkan dia, Tari!"
Tari menghentakan tangannya sampai terlepas dari tangan Ranu. "Sekali lagi aku katakan ini tidak ada hubungannya dengan Tara. Berhentilah menatapku seperti itu karena kau membuatku takut."
Ranu tertegun sejenak, ia menganggukan kepalanya dan perlahan mulai menyingkir dari pintu. "Aku tak bermaksud membuat kau takut, aku hanya berusaha membalas semua kebaikan yang pernah kau berikan padaku, aku tidak ingin ada yang menyakitimu."
Sejenak Tari memandang Ranu lekat-lekat, sembari mengulurkan tangannya dan membuka kunci pintu, lalu menariknya sampai terbuka.
Tari tersentak ketika ia menabrak Tara yang berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
👏👏👏👍
banyak pesan moral yg didapat dari cerita ini.. asli keren kak.. bisa buat baper akut n nangis Bombay.. untuk kak Irma sukses terus sehat dan selalu di tunggu karya selanjutnya..
banyak pesan dan ilmu yang terkandung
Semangat Kak author,
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini,
💪👍