Alur cerita maju mundur cantik, jadi perhatikan beberapa keterangan yang menyertai setiap bab.
***
Aku wanita biasa, yang tidak pernah puas dengan apa yang Aku miliki.
"Di rumah, Aku adalah seorang istri yang baik dan patuh. Tapi jika di luar rumah, Aku adalah Aku. Apa Aku tidak normal?" tanya Melinda dalam hati.
Melinda sadar, ada sesuatu yang tidak biasa yang dia rasakan sejak kecil.
Dan itu ada hubungannya, dengan kejadian yang dialami Linda, sewaktu masih kecil dulu.
***
Yuk lanjut baca.
Jangan lupa, fav and like ya gaess👍👍🙏🙏
Kasih giff and vote juga, biar TK tambah semangat ✍️✍️✍️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam Kebimbangan
Seminggu lebih, Linda berdiam diri di dalam kamar saja. Meskipun dia sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa.
Tapi sepertinya, Linda masih belum mau untuk keluar dari rumah. Dia hanya ada kamarnya sendiri, atau di ruang tamu.
Jika ada kemauan, Linda juga membantu ibunya di dapur. Membantu untuk memasak, atau sekedar menemani ibunya yang sedang memasak.
Tetangga, juga tidak tahu, bagaimana keadaan Linda yang sebenarnya. Justru mereka berpikir bahwa, Linda sudah kembali ke rumahnya, bersama dengan suaminya. Polisi Ferry.
"Gak bosan di dalam rumah saja?" tanya ibunya, saat melihat Linda berdiam diri di depan tv, menemani anaknya menonton acara cartoon di televisi.
Linda tidak menjawab. Dia hanya menoleh sekilas, ke arah ibunya yang bertanya.
Bapaknya Linda, yang baru saja masuk ke dalam rumah, mengeleng, menatap ke arah istrinya, sebagai isyarat, agar istrinya itu tidak lagi bertanya apa yang diinginkan Linda, atau meminta Linda untuk melakukan sesuatu yang tidak dia sukai.
Ibunya Linda hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian membuangnya dengan cepat.
Dia tidak mau, ada perdebatan dan pertengkaran antara dirinya dan juga suaminya itu, terkait masalahnya Linda.
Padahal, ibunya Linda hanya ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh Linda selanjutnya, untuk kehidupannya sendiri, bersama dengan Erli, cucunya.
Ibunya Linda ingin tahu, apakah Linda masih ingin mempertahankan hubungan antara dirinya dengan suaminya itu, atau ingin berpisah. Agar tidak mengantung dan ada kejadian yang sama seperti ini di waktu ke depan nanti.
Kadang, ibunya Linda memang tidak sabar dalam menghadapi segala sesuatu.
Berbeda dengan suaminya. Bapaknya Linda, lebih kalem dan tidak tergesa-gesa, dalam menghadapi permasalahan.
Apalagi saat ini, anaknya itu, Linda, masih ada pada masa penyembuhan. Baik secara fisik maupun psikologisnya yang mungkin saja, ada rasa takut untuk menjalani kehidupan ini.
Bapaknya Linda tidak mau jika, anaknya itu akan melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri.
Sekarang, ibunya Linda masuk ke dalam kamarnya, kemudian diikuti oleh suaminya dari arah belakang.
"Bu. Biarkan Linda menenangkan hati dan pikirannya terlebih dahulu. Tidak usah ditanyai tentang apa yang akan dia lakukan kedepannya."
Bapaknya Linda, menasehati isterinya, supaya lebih sabar, untuk menghadapi kondisi Linda sekarang ini.
"Tapi ibu judeg Pak, liat dia tiap hari cuma bisa diam saja tanpa mau bicara dengan ibu."
Mending sama Bapak, dia masih mau berbicara, meskipun cuma hal-hal penting, dan mau menjawab jika di tanya juga," tutur ibunya Linda, yang merasa kesal, tapi juga kecewa dengan sikap anaknya itu.
Terdengar helaan nafas panjang dari bapaknya Linda.
Memang benar. Selama berada di rumah, Linda masih mau berbicara dengannya, meskipun tidak bisa dibilang sebagai berbincang-bincang.
Sedangkan dengan ibunya, Linda justru hanya diam dan menjawab jika sedang ditanya, hanya mengangguk atau mengelengkan kepalanya saja.
"Sudah-sudah Bu. Mungkin, Linda sedang menenangkan hatinya sendiri. Kita hanya bisa memberikan dia tempat tinggal. Jika bisa, berikan dia kenyamanan, selama ada di sini. Karena di rumah suaminya, mungkin dia tidak pernah merasakan kenyamanan sebagai penghuni rumah."
Ibunya Linda memejamkan mata, sambil menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan untuk melegakan dadanya yang terasa sesak.
*****
Di luar kamar, Linda sedang duduk-duduk di kursi tamu. Sedang Erli, anaknya, bermain dengan boneka yang sedari tadi dia pegang.
"Mammaaa... Papaaa. Papaa..."
Erli datang dengan merajuk. Dia menanyakan keberadaan papanya, yang belum datang hari ini.
"Eh, iya Sayang. Bentar ya, nanti juga papa datang kok," tutur Linda, dengan mengelus rambut anaknya, yang sekarang ini sudah berada di depannya.
"Maaa... umah. Umah Lang Maa..."
Ternyata, Erli ingin bertemu dengan papanya, dan minta untuk pulang ke rumah.
Mungkin dia merasa rindu dengan suasana rumah yang biasa dia tempati dan gunakan untuk bermain-main.
"Ya Sayang, sabar ya. Besok kita pulang," kata Linda, dengan mata berkaca-kaca, menahan diri agar tidak menangis di depan anaknya itu.
Tok tok tok!
Klek!
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumsalam..."
Sahut Linda dari dalam rumah, menjawab salam dari seseorang yang tadi mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
Pintu rumah terbuka. Danang masuk dengan sendirinya, meskipun tadi dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam juga.
Sudah menjadi kebiasaan Danang, jika pulang ke rumah.
Entah sepulangnya dia dari bekerja, ataupun dari kuliahnya.
"Erli... sini!"
Danang memangil nama keponakannya, yang masih berada di depannya Linda.
Erli menoleh, dan segera berlari mendekat ke tempat Danang, yang sudah ada di samping meja, tak jauh dari tempatnya Erli berdiri tadi.
"Ommmm, Li mamaaa," kata Erli, yang tentu saja, tidak begitu jelas perkataannya.
Tapi ternyata, Danang paham, dengan apa yang dikatakan oleh Erli padanya tadi.
"Kamu mau pulang? Gak betah di sini sama Om dan juga Mbah Kung, Mbah Putri?" tanya Danang, dengan berjongkok di depan Erli.
Erli masih saja mengoceh tidak jelas, di depannya Danang.
"Mbak. Sepertinya, Erli membutuhkan papanya. Tolong pertimbangan dengan matang."
"Bukan sekedar mementingkan diri sendiri, dan Danang pun menyerahkan semua keputusan, di tangan Mbak sendiri. Karena, Mbak yang menjalaninya."
Danang mengatakan, apa yang ingin dia katakan pada saudara perempuannya itu.
Meskipun sebenarnya, Danang juga tidak tega, melihat keadaan Linda. Tapi, dia juga tidak tega, membiarkan Erli yang akan kehilangan papanya, jika mamanya itu memutuskan untuk berpisah.
Membayangkan bagaimana keadaan spikologisnya Erli, Danang hanya bisa menghela nafas panjang.
"Perceraian memang diijinkan, jika tidak bisa dipertahankan. Tapi, Allah juga sangat membenci perceraian," kata Danang, mengingatkan pada Linda. Kakak perempuannya itu.
Di luar rumah, terdengar suara motor yang baru saja datang dan berhenti.
"Itu sepertinya mas Ferry. Bicaralah Mbak, biar tidak berlarut-larut," ujar Danang, kemudian berbalik dan berjalan menuju ke arah dalam.
Danang tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kakaknya itu. Dia hanya bisa mengingatkan saja.
Sekarang, Danang masuk ke dalam kamarnya sendiri, kemudian tampak keluar lagi untuk membersihkan dirinya, di kamar mandi, yang memang berada di dapur.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum..."
Polisi Ferry mengetuk pintu rumah dan mengucapkan salam.
"Waallaikumsalam..." jawab Linda pelan, dari tempatnya duduk.
Tak lama kemudian, pintu di buka dari luar.
Klek!
Tampak polisi Ferry, yang masuk ke dalam rumah, karena yakin jika, tadi sudah ada yang menjawab salamnya, meskipun hanya terdengar samar-samar dari balik pintu.
"Papaa... paa..."
Erli langsung berlari ke arah papanya, polisi Ferry, saat melihat pintu yang terbuka, dan itu adalah papanya.
"Sayangnya Papa. Erli, sini Nak!"
Meskipun Erli tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan oleh papanya, tapi dia memang sudah bersiap-siap untuk mendekat dan memeluk papanya itu.
Sekarang, Erli ada di dalam pelukannya polisi Ferry. Papanya, yang tadi dia tanyakan pada mamanya.
Semoga novelnya semakin banyak readersnya..😄
Semangat ya Kakak, siap meluncur ke novel lainnya Kak..🤩