follow ig author: @bungadaisy206
Ana tidak jelek. Dia adalah gadis yang sangat cantik. Tapi kenapa Ana tak kunjung menikah? Kata orang, Ana digantung waris oleh mantan pacarnya. Sebagai penangkal mitos itu, Ana harus rela dijodohkan dengan anak dari sahabat ayahnya. Ana yang tidak punya pilihan, dia pun menerima pernikahan itu. Pernikahan yang diatur oleh keluarganya dan keluarga calon suaminya.
Yuks ikuti kisah cinta dan kehidupan rumah tangga 2A (Ana dan Arnold) dalam novel Istri Baru Tuan Arnold karya Syehalea.
IG : @bungadaisy206
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syehalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata
Selepas bekerja Ana dan Wina janjian bertemu di basement, mereka sudah sepakat ke BSC Resort sore ini. Ana mengenakan blezer set berwarna abu muda, flatshoes, mencepol rambutnya simple. Ana berjalan pelan mengamati sekitaran parkiran mencari-cari Wina, matanya jatuh ke arah dinding bagian kanan. Wina mengenakan kemeja biru muda dengan celana katun hitam bersendar sendirian.
"Win,aku di sini?" teriak Ana melambaikan tangan ke arah Wina.
Wina menoleh dan membalas lambaian tangan Ana "Hei, Ana! cepet apa jalannya," Wina mendengus.
"Y-y, bawel banget, sih." ucap Ana berjalan ke hadapan Wina lalu mencubit pipi gadis itu dengan jari jemarinnya.
"Awww... sakit tau, Ana." teriak Wina sedikit sebal.
"Biarin," Ana tertawa jahat.
"By the way, kamu mau 'kan antar aku?" lanjut Ana bertanya pada sahabatnya itu.
"Kemana?" Wina dengan sedikit merengut.
"Ke BSC Resort. Ada hal penting yang harus aku urus," jawab Ana sembari menggaet pundak Wina dan menuntunnya pergi.
Wina mengendari mobilnya menuju BSC Resort, tidak lebih dari satu jam mereka pun sampai. Wina masih bingung dengan perilaku aneh temannya ini tetapi demi kesetiakawanan, Wina tetap mengikutinya.
Ana mulai mencari informasi siap orang yang memesan kamar saat dirinya di nodai. Dengan susah payah akhirnya Ana mendapatkan informasinya. Orang itu bernama Andi, orang yang memesan kamar 1109 dengan ciri-ciri berbadan besar dan sedikit pendek.
Ana berpikir sejenak, mengingat ulang tubuh itu. "Pria yang menodaiku setidaknya memiliki tinggi 180cm, tidak pendek. Badanya atletis tidak seperti seorang kuli panggul," kata Ana dalam hatinya. Ana bingung, sepertinya apa yang dikatakan repsesionis itu sangat berbeda.
"Ana, kenapa, sih? kaya bingung gitu, ngomong dong! siapa tau aku bisa bantu," tanya Wina terheran-heran.
"Gak apa-apa Win, aku lagi nyari orang aja kok. Kamu jangan khawatir!" jawab Ana lesu.
"Nyari tau apaan, sih? nyari tau orang yang bawa kamu sama pak bos?" ucap Wina menebak-nebak karena saat malam itu, wanita yang berteriak adalah Wina.
Ana dengan cepat menaikan pandangannya, wajahnya berkerut heran.
"Apa? orang yang membawaku dengan pak bos gimana maksudmu, Win?" tanya Ana dengan raut tidak mengerti.
"Sebulan yang lalu aku liat kamu sama pak bos di pepet tiga orang pria berbadan besar, sepertinya kamu pingsan. Tapi tidak tau kalau pak bos pingsan juga atau tidak. Waktu itu aku takut saat mau nyamperin kamu, hanya melihat dan meneriaki dari jauh tiga orang itu." kata Wina dengan serius.
"Terus gimana lagi?" Ana mendesak.
" Tiga pria itu membawa kamu dan pak bos masuk kedalam kamar yang sama, kamar nomor 1109. Kemudian mereka pergi, aku hendak membukanya namun pintu terkunci. Jadi aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya," jawab Wina menjelaskan.
Ana terkejut membelalakkan matanya, dengan lekat menatap Wina tanpa terlepas dari pandangannya. Wina merasa aneh dengan sikap Ana.
"Ana, aku minta maaf waktu itu aku takut. Memang apa yang sebenarnya terjadi? Bos mengambil keuntungan apa dari kamu? apa bos melakukan pelecehan, ya?" tanya Wina mencecar Ana dengan beberapa pertanyaan.
Ana diam terpaku. "Ternyata Arnold pelakunya, pria yang menodainya adalah suaminya sendiri," batin Ana bergetar.
"Tidak apa, Win. Aku merasa lelah mending kita pulang!" ajak Ana seraya melangkahkan kaki.
"Ana, tunggu dulu! bilang dulu malam itu kamu diapain sama si bos?" Wina berlari mengejar Ana, menarik tangan Ana segera.
"Ana, kamu pacaran sama si bos?jangan-jangan malam itu kalian berdua mabuk berat, ya?" desak Wina.
"Kepo," Ana menjawabnya singkat.
"Ana! achh...gitu banget, sih." rengek Wina kesal.
"Biarin," sahut Ana.
"Ana, kalau bos melakukan pelecehan bukankah bisa lapor polisi, atau kamu minta si bos untuk ngawinin kamu, gimana?" Saran wina yang memang tidak tau jika Ana adalah istrinya Arnold.
"Nikah, bukan kawin." Ana mengoreksi ucapan Wina.
"Hahaha. Iya-iya, nikah sama kawin borong, deh." jawab Wina sambil tertawa.
Di dalam hati Ana sebenarnya sudah tenang, karena yang menodainya pasti Arnold bukan orang lain. Tapi, kenapa perasaannya masih ganjel seperti ada sesuatu yang janggal, bahkan malam itu Arnold bilang bersama Natasha.
Ana sangat pusing, pelipisnya berdenyut memikirkan semuanya. Ana juga bingung, bagaimana menjelaskannya pada suaminya Arnold. Apa Arnold akan percaya padanya.
"Apa jangan-jangan Arnold menyangka aku adalah Natasha." gumamnya dalam hati.
***
Di Mobil
Wina menyetir kurang fokus mengamati Ana yang terlihat linglung, Wina khawatir dengan sesekali menoleh ke arah sahabatnya itu. Tiba-tiba suara mobil mendecit, Wina dengan gerakan cepat membanting stir-nya.
"Bruuukk!"
Seketika mobil menabrak pembatas jalan, benturan keras menghantam kedua kepala di dalam mobil, keduanya seolah melayang dan jatuh pingsan.
©©©©©©©
Ana dan Wina shock dengan luka ringan akibat benturan itu. Mereka berada di kamar rawat yang berbeda. Ana mengerjapkan matanya menahan sakit, ada perban membungkus kepalanya. Ana sedikit mengernyit dengan tubuh masih lemas. ia memandangi pria di sampingnya sedikit bingung.
"Kamu disini 'gus? apa kamu yang membawaku? Bagaimana dengan wina, apa dia baik-baik saja." tanya Ana dengan suara rendah.
"Kamu diamlah! jangan banyak bicara dulu. Wina baik-baik saja, aku sangat khawatir sama kamu, Ana. Takut terjadi hal yang buruk," ucap Agus dengan cemas.
"Aku baik-baik saja! tadi hanya kaget," jawab Ana meyakinkan.
Agus menggenggam tangan Ana dengan erat, menjaganya sangat hati-hati.
"Sepertinya, kedatanganku mengganggu kemesraan kalian berdua," ucap Arnold di ambang pintu, mengamati lengan Agus yang membungkus telapak tangan Ana. Raut marah terlihat jelas di matanya.
Ana dan Agus menoleh bersamaan ke arah suara itu. Ana meredupkan pandangannya, seperti memohon dan meminta Arnold tidak salah faham, dengan lemah Ana berkata:
"Jangan salah faham! Agus hanya menolongku dan juga Wina." Ana mencoba menjelaskan.
"Oh," Arnold menanggapinya singkat dan berlalu pergi tanpa menengok lagi.
"Arnold!" Ana memanggil namun Arnold tetap pergi mengabaikannya.
Di luar rumah sakit, Arnold sangat marah. Menjatuhkan kepalan tangannya di dinding. hingga tangannya membiru.
"Dasar perempuan murahan!!! masih saja berani bersama pria lain," teriak Arnold dengan marah.
Arnold menaiki mobilnya dengan kecepatan tinggi kembali ke Villa Peony.
***
Di Villa Peony
Pintu dibanting hingga seisi rumah menjadi ketakutan. Baik bik Ninik, Mimi, Rita dan semua pelayan di sana tak ada yang berani menatap tuannya, hanya dengan kaku berbisik satu sama lain.
"Tu-tuan kenapa sangat marah?" bik Ninik memberanikan diri bertanya dengan terbata.
"Wanita sialan itu beraninya dia bersama pria lain. Jika dia pulang usir saja dia, jangan biarkan dia masuk, mengerti kalian?" perintah Arnold dengan sangat marah.
"Wanita yang mana tuan?" tanya bik Ninik bernada ketakutan.
"Memangnya, istriku siapa lagi selain wanita murahan itu." bentak Arnold dengan kasar.
"Nyo-nyonya muda maksud tuan?" bik Ninik bergetar.
Arnold tidak menjawab hanya dengan cepat berjalan menaiki tangga menuju kamar utama. Di dalam kamar, Arnold melampiaskan kekesalannya dengan melemparkan semua barang di tempat itu.
Hati Arnold sakit melihat pria lain menggenggam tangan istrinya, bahkan lebih sakit saat melihat Ana yang juga menanggapi sentuhan itu. Arnold benar-benar sangat marah terhadap Ana. Hampir semua barang-barang di kamar itu di lemparkan Arnold. Ia benci dengan Ana yang mengkhianati cintanya.
***
Hai readers sayQ bantu aq like comen vote dan favoritkan karyaku juga.
@Syehalea.
Thanks Readers.🌹😘
Kira-kira Ana di usir nggak, yaa???😭