Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Mimpi itu datang lagi ketika hujan belum berhenti.
Keira berdiri di lorong rumah sakit yang terlalu putih. Bau antiseptik menempel di tenggorokannya, dingin dan pahit. Di ujung lorong, pintu besi bertuliskan ruang rawat jiwa tertutup rapat. Dari balik kaca kecil, ia melihat wajahnya sendiri, pucat, kurus, rambut berantakan, mata kosong seperti orang yang sudah terlalu lama memanggil nama seseorang dan tidak pernah dijawab.
"Dia bukan anak Tan."
Suara itu datang dari mana-mana.
"Dia pembohong."
"Tidak ada yang akan memilih dia."
Keira ingin berlari, tetapi lantai berubah basah. Air hitam merambat ke pergelangan kakinya. Di permukaan air, ia melihat Vanya tersenyum sambil memegang hasil tes DNA. Kevin berdiri di samping Vanya, menunjuknya seolah ia barang cacat yang akhirnya ketahuan palsu.
Lalu pintu besi terbuka sedikit.
Di dalam, ada tali putih menggantung.
Keira tersentak bangun dengan napas terputus.
Kamar Villa Awan gelap lembut, hanya lampu tidur kecil di sudut yang menyala kuning. Hujan masih mengetuk kaca. Tubuhnya basah oleh keringat, baju tidur menempel di kulit, dan tangan kirinya mencengkeram selimut sampai buku jarinya memutih.
Butuh beberapa detik untuk mengingat bahwa ia tidak berada di rumah sakit. Tidak ada lorong putih. Tidak ada pintu besi. Tidak ada suara orang menertawakan namanya.
Ia berada di Villa Awan.
Di rumah Richard.
Tidak. Richard bilang ini rumahnya juga.
Keira menekan dada sendiri, berusaha menenangkan jantung yang berlari terlalu cepat. Hidungnya masih tersumbat sedikit setelah demam, tetapi keringat dingin di punggung membuatnya tidak tahan. Ia butuh mandi. Air hangat. Sesuatu yang bisa menghapus sisa mimpi dari kulitnya.
Ia turun dari ranjang, mengambil handuk besar dari lemari, lalu berjalan ke kamar mandi. Saat air hangat menyentuh tubuhnya, ia menutup mata lama-lama. Uap memenuhi kaca. Rambutnya basah di ujung, aroma sabun lily of the valley naik pelan dari kulitnya.
Ketika selesai, ia baru sadar baju tidur bersih masih tertinggal di ranjang.
Keira memandangi pintu kamar mandi. Di luar seharusnya tidak ada siapa-siapa. Villa Awan sangat sunyi pada jam seperti ini. Jason tidak tinggal di sini. Staf malam tidak masuk ke area kamar tanpa panggilan.
Ia membungkus tubuhnya dengan handuk setinggi dada, memastikan simpulnya kuat, lalu membuka pintu kamar mandi sedikit.
Aman.
Ia melangkah keluar.
Pintu kamar terbuka pada saat yang sama.
Richard berdiri di ambang pintu, memegang nampan kecil berisi gelas air dan obat.
Untuk satu detik, tidak ada suara selain hujan.
Mata Richard turun karena refleks, berhenti di bahu Keira yang masih basah, lalu naik kembali ke wajahnya dengan kecepatan yang terlalu terkendali. Rahangnya mengeras. Jemarinya yang memegang nampan menegang sampai urat di punggung tangannya terlihat.
Keira menahan napas.
Kalau ia benar-benar polos, ia mungkin akan menjerit dan menutup pintu. Kalau ia benar-benar licik, ia akan tersenyum. Ia memilih sesuatu di tengah, sesuatu yang tampak seperti panik alami.
"Om..."
Suaranya pecah.
Richard langsung memalingkan wajah. "Pakai baju dulu."
"Baju saya di ranjang."
Kalimat itu keluar pelan, seperti pengakuan kecil yang memalukan.
Richard menutup mata sebentar. "Aku taruh obat di meja."
Ia masuk satu langkah, sangat hati-hati, seolah kamar itu mendadak berubah menjadi tempat berbahaya. Keira bergerak mundur, tetapi lantai dekat kamar mandi masih licin. Tumitnya tergelincir.
"Ah!"
Nampan Richard jatuh ke meja dengan suara keras. Dalam satu gerakan, ia menangkap pinggang Keira sebelum tubuhnya menghantam lantai.
Handuk itu tetap pada tempatnya.
Sayangnya, jarak mereka tidak.
Keira terpegang di lengan Richard, satu tangannya otomatis mencengkeram jas rumah pria itu. Dada mereka tidak benar-benar menempel, tetapi cukup dekat untuk membuat napas Richard menyentuh pelipisnya. Rambut basah Keira jatuh ke depan, beberapa helainya tersangkut pada tie clip perak yang masih terpasang di kemeja Richard.
Keira mengangkat wajah.
Wajah Richard hanya sejengkal dari wajahnya.
Ia bisa melihat bayangan lampu tidur di lensa kacamata tipis pria itu. Bisa melihat bagaimana pupil Richard mengecil, lalu melebar lagi, seperti pria itu sedang menahan sesuatu yang lebih sulit daripada kemarahan.
"Jangan bergerak," kata Richard.
Suaranya rendah sekali.
Keira benar-benar tidak bergerak.
Richard menahan pinggangnya dengan satu tangan. Tangan lainnya naik ke dada sendiri, mencoba melepaskan rambut Keira dari tie clip. Gerakannya rapi, sabar, hampir terlalu lembut untuk pria yang biasa memberi perintah seperti vonis.
Satu helai.
Dua helai.
Ujung jarinya tidak menyentuh kulit Keira, tetapi panasnya terasa seperti sudah menyentuh.
Aroma lily of the valley mengapung di antara mereka. Bukan parfum mahal yang disengaja, hanya sabun dan rambut basah, tetapi entah kenapa lebih berbahaya. Richard menelan ludah. Keira melihat gerakan kecil di tenggorokannya dan menyimpannya baik-baik di dalam hati.
"Sakit?" tanya Richard.
"Tidak."
"Kakimu?"
"Tidak apa-apa."
"Jangan jawab cepat kalau belum dicek."
Nada itu seperti teguran, tetapi tangannya tetap menyangga pinggang Keira, kuat dan stabil. Keira merasa kulit di bawah handuk ikut mengingat bentuk telapak tangan itu.
Rambut terakhir akhirnya lepas.
Richard tetap diam beberapa detik lebih lama.
Keira menunduk, pura-pura malu. "Om, saya bisa berdiri."
Baru saat itu Richard seperti tersadar. Ia membantu Keira berdiri, menarik selimut dari ranjang dengan satu tangan, lalu menyampirkannya ke bahu Keira tanpa menyentuh kulit telanjangnya lagi.
"Duduk."
Keira menurut.
Richard mengambil baju tidur dari ranjang, meletakkannya di sisi lain tanpa melihat. Lalu ia mengambil gelas air yang sempat bergetar di atas nampan.
"Minum obat setelah ganti baju. Kalau pusing, panggil staf."
"Saya boleh panggil Om?"
Pertanyaan itu terlalu pelan.
Richard berhenti di pintu.
Punggungnya tampak kaku.
"Kalau darurat."
"Kalau mimpi buruk?"
Hujan menahan jawabannya beberapa detik.
"Itu juga darurat," kata Richard akhirnya.
Keira memeluk selimut lebih rapat. Ada bagian dari dirinya yang ingin tersenyum karena rencana berjalan. Ada bagian lain yang tiba-tiba tidak tahu harus berbuat apa dengan kalimat sesederhana itu.
Richard keluar dan menutup pintu.
Di balik pintu, langkahnya berhenti lebih lama dari seharusnya.
Keira bisa mendengar suara napas yang ditahan, lalu bunyi sangat pelan ketika gelas obat di nampan disentuh lagi, seolah Richard memastikan benda sekecil itu masih berada di tempat yang benar. Ia tidak masuk kembali. Ia juga tidak pergi segera. Jeda itu membuat dada Keira menghangat dengan cara yang tidak ia rencanakan.
"Om?" panggilnya dari dalam selimut.
Tidak ada jawaban.
Hanya setelah beberapa detik, suara Richard terdengar dari luar, rendah dan kering. "Kunci pintu setelah ganti baju."
"Baik."
Keira menatap daun pintu yang tertutup. Ia tahu pria itu sedang melawan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah ia senang karena menang atau takut karena kemenangan itu terlalu dekat dengan kulitnya sendiri.
Di kamarnya sendiri, ia melepas kacamata, meletakkannya di wastafel, lalu berdiri di bawah shower air dingin tanpa membuka lampu utama. Air menghantam bahu dan punggungnya selama tiga puluh menit.
Namun aroma lily of the valley tetap tidak mau hilang.