Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 15
Ting.
Pintu lift terbuka. Mahesa melangkah keluar, menyusuri koridor yang gelap hingga matanya menangkap satu-satunya kubikel yang masih menyala. Dari jarak beberapa meter, dia melihat Inara. Tubuh wanita itu tampak semakin kecil dan ringkih di balik meja kerja yang besar. Kepala Inara tampak terkulai lemas, bertumpu pada salah satu tangannya yang gemetar menahan kantuk dan sakit.
Langkah kaki Mahesa yang sengaja dia pelankan terhenti. Dia melihat Inara tiba-tiba terbatuk kecil, lalu memegang dadanya dengan raut wajah yang meringis kesakitan. Bibir wanita itu kembali memucat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.
Jantung Mahesa berdegup kaku. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk berlari, merengkuh tubuh itu, dan memaki dirinya sendiri karena telah memberikan tugas seberat ini. Langkah kakinya sempat maju dua tindak, tangannya setengah terulur ke udara. Sebuah refleks kekhawatiran murni dari seorang pria yang perlahan mulai terusik oleh penderitaan istrinya.
Namun, egonya kembali menariknya mundur. Mengingat bagaimana ayahnya selalu menuntut profesionalisme, dan bagaimana dia harus menjaga jarak agar cintanya kepada Clarissa tidak goyah. Mahesa buru-buru mengeraskan kembali ekspresi wajahnya. Dia berdeham keras, sengaja menimbulkan suara ketukan sepatu di lantai keramik.
Tuuuukkk
Tuuuukkk
Tuuuukkk
Inara tersentak. Dia buru-buru menegakkan tubuhnya, mencoba menghapus keringat di dahinya dan menatap ke arah sumber suara. Matanya membelalak kecil saat melihat siluet tegap Mahesa berjalan mendekat dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Mas Mahesa? Kenapa kembali ke kantor?" tanya Inara, suaranya begitu lemah hingga nyaris tenggelam dalam kesunyian.
Mahesa berhenti tepat di samping kubikel Inara. Matanya menatap dokumen yang berserakan, lalu turun ke arah tangan Inara yang masih bergetar di atas meja. Ada sekelebat rasa bersalah yang menyengat dadanya, namun suaranya tetap keluar dengan nada yang angkuh.
"Ada barang saya yang tertinggal di ruangan," bohong Mahesa dingin. Dia melirik jam tangan Rolexnya.
"Sudah hampir jam sebelas malam, dan pekerjaanmu baru selesai setengah? Rupanya kemampuan analisismu memang sudah menurun, Bu Inara."
Inara menunduk, meremas rok kerjanya di bawah meja.
"Maaf, Pak. Laporannya sangat detail, saya harus memeriksa ulang setiap transaksi agar tidak ada selisih. Tapi saya berjanji akan menyelesaikannya malam ini."
Mahesa terdiam. Dia menatap ubun-ubun kepala Inara. Jarak mereka begitu dekat, hingga dia bisa mendengar napas Inara yang pendek-pendek dan berat. Rasa khawatir itu kembali mendesak dada Mahesa. Dia tahu betul, jika Inara ambruk lagi malam ini, Dokter Tirta tidak akan tinggal diam, dan sandiwaranya di depan sang ibu akan hancur total.
"Saya tidak mau laporan yang asal-asalan hanya karena kamu mengantuk," ujar Mahesa, nadanya melembut satu persen, meski dia mencoba menutupinya dengan ketegasan.
Pria itu berbalik memunggungi Inara, menyembunyikan binar matanya yang gelisah.
"Simpan dokumen itu di flashdisk. Selesaikan sisanya di rumah. Saya tidak mau membayar tagihan listrik lembur hanya untuk satu karyawan yang lambat seperti kamu."
Inara mendongak, tertegun menatap punggung lebar suaminya.
"Mas menyuruhku pulang?"
"Jangan percaya diri," sahut Mahesa cepat tanpa berbalik.
"Saya hanya tidak mau repot jika kamu tiba-tiba pingsan lagi di gedung ini dan membuat satpam gempar. Berkemaslah dalam lima menit. Saya tunggu di basemen. Kamu pulang bersama saya hanya karena arah rumah kita sama, tidak lebih."
Mahesa melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan Inara yang terpaku di kursinya. Di tengah rasa sakit yang mendera fisiknya, setitik rasa bingung mulai merayap di hati Inara. Sikap dingin Mahesa yang tiba-tiba melunak membuat benteng pertahanan batinnya kembali goyah. Dia tidak tahu apakah suaminya itu murni mengkhawatirkannya, ataukah itu hanya taktik lain untuk menjaga agar "barang pajangannya" tidak rusak sebelum waktunya.
Di dalam lift menuju basemen, keheningan di antara mereka terasa begitu berat. Inara berdiri agak di belakang, mendekap flashdisk dan laptopnya seolah benda-benda itu adalah pelindung terakhir dari tatapan menguliti milik Mahesa. Kepalanya semakin berdenyut hebat, berputar seiring dengan pergerakan lift yang turun.
Begitu sampai di basemen, Mahesa melangkah lebar tanpa memedulikan langkah Inara yang terseok di belakangnya. Namun, saat pria itu membuka pintu kemudi, dia melirik sekilas ke arah istrinya. Wajah Inara benar-benar pucat pasi, matanya sayu, dan napasnya terdengar pendek-pendek.
"Masuk," perintah Mahesa pendek, ketus seperti biasa.
Inara membuka pintu kursi penumpang di sebelah Mahesa. Begitu tubuhnya menyentuh jok kulit mobil yang empuk, kehangatan pendingin ruangan mobil langsung menyelimuti tubuhnya yang sedari tadi menggigil kedinginan di ruang kantor.
Mobil sedan mewah itu perlahan melaju, keluar dari gedung pencakar langit Dirgantara Group dan membelah jalanan yang mulai lengang menjelang tengah malam.
Lima menit pertama perjalanan, Inara masih mencoba mempertahankan kesadarannya. Dia mencengkeram sabuk pengaman kuat-kuat, memaksa matanya tetap terbuka karena takut Mahesa akan memarahinya jika dia bertingkah tidak sopan.
Namun, raga wanita itu sudah berada di titik nadir. Efek dehidrasi yang belum pulih total, ditambah stres psikologis seharian penuh dan lembur tanpa makan malam, membuat pertahanan Inara runtuh seutuhnya. Perlahan, cengkeramannya pada sabuk pengaman melonggar. Kelopak matanya yang terasa seberat timah akhirnya terpejam rapat.
Kepala Inara terkulai lemas ke samping, bersandar pada kaca jendela mobil. Napasnya berubah menjadi teratur namun sangat dalam, mencerminkan betapa lelahnya jiwa dan raga wanita itu setelah terus-menerus dihantam badai penderitaan.
Mahesa, yang sejak tadi fokus menatap jalanan, sesekali melirik ke arah sampingnya. Saat menyadari Inara sudah tertidur pulas, dia perlahan mengurangi kecepatan mobilnya. Pria itu menepikan mobilnya sebentar di lampu merah yang sepi, lalu memutar tubuhnya untuk menatap Inara dengan jelas.
Di bawah temaram lampu jalanan yang menembus kaca mobil, Mahesa bisa melihat betapa menyedihkannya kondisi istrinya. Ada lingkaran hitam yang pekat di bawah mata Inara. Gurat-gurat kelelahan tercetak jelas di wajah manisnya yang kini tampak begitu tirus.
Brak.
Saat mobil melewati sedikit gundukan jalan, kepala Inara terantuk kaca jendela dengan cukup keras. Wanita itu merintih lirih dalam tidurnya, dahinya berkerut menahan sakit, namun dia terlalu lelah untuk terbangun.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛