Jona: Jika ada seribu lagi kesempatan untuk jatuh cinta, aku akan tetap memilih Jordy. Aku tidak jatuh cinta pada seorang yang salah, meski mungkin pada waktu yang salah. Andai aku sepuluh tahun lebih tua.
Livi: Dari begitu banyak wanita cerdas, cantik dan dewasa mengapa Ayah memilih Jona? Sahabatku, yang tak mungkin menggantikan Ibu?
Jordy:
Pada kekurangan dan kelemahannya aku benar-benar jatuh hati. Ah, Jona!
Terdiri dari bab 1-42 (End).
Bab selanjutnya extended season.
Cerita ini mengandung konten dewasa pastikan cukup umur sebelum membacanya. 21+
Terima kasih untuk semua bentuk dukungan Sobat Gorgeous. Salam supportive penuh berkah. 😘😘
27 Juni, I'm done! Sebagai creator cerita saya menyatakan selesai. Selanjutnya, cerita ini saya serahkan kepada Dear Readers Tersayang anak2 tiriku. Jadi, jika kalian punya usul, ide, atau koreksi meliputi typo atau miss-information, jangan sungkan untuk kasih saran masukan. Karena mulai sekarang, cerita ini milik: KITA BERSAMA!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arwen CTB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Design
Waktu bergulir dengan keras kepala. Waktu adalah sahabat terbaik sekaligus terburuk bagi manusia. Ia akan berlari dengan laju, menemani sesiapa yang terus menyalakan cita-cita, mengantarkan satu per satu manusia pada tujuan yang ingin digapainya. Waktu pula yang akan terus bergulir, meninggalkan sesiapa yang diam, yang patah, yang ingin rehat, yang terlena oleh rasa sakit.
Iya! Si Waktu itu yang tidak akan pernah menunggu. Jordy menyadari penuh hal itu, dia menjadikan waktu sebagai karib. Dia melakukan apa yang harus dilakukan oleh semua laki-laki dewasa. Menjadi seseorang yang berguna, bukan hanya untuk dirinya, melainkan juga untuk orang lain. Lingkaran terkecil, keluarga dan meluas lagi.
Jordy telah berhasil membangun perusahaan miliknya sendiri. Masih kecil memang, tapi itu berarti bahwa dia tidak dipekerjakan oleh orang lain lagi. Bukan juga melalui jalur freelance yang selama ini dia jalani.
Dia membuat Copywriting untuk perusahaannya sendiri. Dia membuat rancangan untuk website perusahaannya sendiri, dia membuat rencana keuangan, rencana lain-lain, dan semuanya, meskipun tak selalu mudah bisa dia lewati.
Jordy mengajak Iwan, untuk turut serta ambil bagian di perusahaan barunya. Pemuda terganteng se-Jakarta raya versi Jordy itu, punya potensi yang sayang jika disia-siakan. Terlebih lagi, Iwan adalah orang yang tak begitu terarah. Bersama Jordy yang lebih matang, potensi pemuda itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Iwan bahkan berencana untuk membeli rumah di kawasan Grand Wisata, Bekasi Timur. Dekat dengan kantor mereka, juga dekat dengan rumah Jordy. Mereka bisa sekaligus menjadi tetangga.
Perusahaan Jordy sendiri bergerak di bidang jasa perencana keuangan. Bidang yang tidak bisa ditinggalkan oleh Jordy. Selain itu, bersama dua karyawan baru, Inka dan Imelda, mereka juga berencana akan membuat aplikasi mobile yang akan membantu para pengguna dalam merencanakan keuangan dan investasi.
Pada awalnya, Jordy menyasar para pemilik toko di sekitar tempat tinggalnya untuk memiliki perencanaan keuangan yang lebih baik. Belakangan, para pasangan muda, dan para customers developer yang membangun kawasan Grand Wisata pun ikut menjadi bagian sebagai klien perusahaan Jordy.
Pelan tapi pasti perusahaan kecil itu merangkak naik hingga suatu hari, seseorang datang ke kantor dan mengagetkan kedua lelaki yang ada di sana.
"Permisi."
Imelda yang berperan sebagai frontliner pun menyambut tamu mereka, namun Jordy dan Iwan yang berada di balik partisi, mereka mendengar suara itu dan segera menyadari bahwa yang datang bukanlah calon klien, melainkan, Silvy.
"Pacarmu datang," kata Jordy kepada Iwan yang sudah mulai tersenyum-senyum. Dia merasa sangat bangga sekaligus bahagia mengetahui bahwa Silvy mau jauh-jauh datang ke Bekasi. Tetapi, pikiran indah itu kemudian berubah menjadi keraguan saat dirinya ingat betapa sebelumnya Silvy sangat menggandrungi sahabatnya, Jordy.
Iwan terdiam, dia berpikir dan mempertanyakan kepada diri sendiri, dirinya kah, atau justru Jordy yang dituju oleh Silvy?
"Ayok."
Tiba-tiba saja, Jordy sudah bangkit, mengajak Iwan untuk bergegas.
"Hai, Silvy. Apa kabar?"
"Halo, Kak. Wah, keren banget deh kantor baru Kakak," puji wanita itu tulus, sehingga membuat Iwan mulai merasa tak nyaman.
"Ah, masih banyak kurangnya, kok."
Jordy merendah, mengetahui bahwa memang masih banyak yang perlu dia tingkatkan. Mereka duduk di sofa, sementara Inka membuatkan minum untuk ketiganya. Imelda kembali sibuk dengan urusannya.
"Gimana kabar, Silvy?"
"Baik, Kak."
"Oiya, kenalkan ini staf kami, Inka, dan itu Imelda yang tadi menyambutmu. Yang disamping ini, cowok paling ganteng seantero Jakarta, kamu pasti kenal, kan?"
Silvy tersipu malu, dia hanya tertawa menanggapi lelucon ayah Livi. Sementara Iwan, mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba menjadi sangat pendiam.
"Kenal banget, dong, Kak Jordy. Dia kan, alasan Silvy datang ke sini."
"Sudah kuduga."
"Jadi, kalau nggak keberatan jam istirahat nanti, aku mau ajak Iwan keluar untuk makan, sekaligus melihat show unit di sekitar sini."
"Oh, iya boleh banget. Semoga kalian Nemu yang cocok."
"Terima kasih, Kak."
*
Silvy dan Iwan pergi berdua. Mereka menghabiskan waktu istirahat untuk makan siang, tetapi tidak cukup waktu untuk melihat unit rumah di marketing galery.
Hubungan antara keduanya semakin dekat. Tetapi, menjelang pulang ke kantor, Iwan marah kepada Silvy. Mereka mengentikan laju mobil, dan menepi di dekat taman.
"Sudah terbaca, kamu ke sini memang demi Jordy!"
"Nggak gitu, Wan. Aku hanya mau bantu."
"Buat apa? Biar dia memujimu, gitu? Kamu emang nggak bisa lupain dia, kan?"
Silvy mulai terisak. Hatinya terasa sakit oleh kata-kata Iwan. Bagaimana mungkin pria yang mulai merajai hatinya itu, sebegitu ragu atas dirinya?
"Please, ngertiin Silvy. Di sini, aku nggak ada maksud apapun lagi dengan Kak Jordy. Kamu sendiri selalu ragu dengan dirimu, Wan. Lalu, kamu melimpahkan keraguan itu padaku."
Iwan gamang, dia tidak ingin semakin menyakiti wanita yang paling dia kasihi, di sisi lain rasa cemburunya sebegitu besar merajai diri.
"Indrawan Saputera, kapan kamu menyadari kalau aku ... aku mencintaimu! Hanya kamu yang ada di hatiku sekarang."
"Silvy ...."
Silvy menangis dalam dekapan Iwan, mereka membagi rasa yang sama. Mereka saling memaafkan, saling menerima, melalui bahasa tubuh. Sekarang Iwan sadar bahwa Silvy benar-benar telah menjadi miliknya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku cemburu."
"Jangan ... pernah lagi ragukan cintaku," pinta Silvy di sela Isak tangis yang membuat Iwan semakin merasa bersalah sekaligus bersyukur.
*
"Jadi seperti itu?"
"Iya, Kak. Coba lihat ini."
Silvy memberikan contoh-contoh web desain buatannya, dan itu terlihat simpel dan cantik. Menurut gadis itu, desain yang digunakan oleh perusahaan Jordy sekarang sangatlah kaku dan kurang menjual.
Silvy juga telah merencanakan desain untuk mobile apps yang akan diberi nama 'Finoplan' oleh Jordy.
"Kenapa namanya Finoplan?" tanya Silvy penasaran.
"Finoplan itu, financial planning."
"Rasanya itu kurang eyecathing, Kak Jordy. Kita perlu membuat sesuatu yang mudah diucapkan, mudah diingat, dan gampang viral."
"Seperti apa?"
"Coba lihat perusahaan sejenis fintech yang sudah ada, OVO, Go-pay, Link-Aja, Binomo, coba buat yang seperti itu, Kak."
"Umh, apa ya?"
"Gimana kalau e-PI? e-planning and Investment?"
"Sangat bagus! Menurut Iwan gimana?"
"Gue ngikut lo aja, Bro."
"Inka? Imelda? Ada saran?"
Mereka berlima terlanjur jatuh cinta pada nama yang diusulkan oleh Silvy sehingga akhirnya nama itulah yang dipilih untuk menjadi nama produk dari perusahaan baru Jordy.
Selain membantu membuatkan web-desain, Silvy juga mengurus beberapa keperluan lain di kantor. Dia menata letak isi kantor, membuat beberapa artwork untuk hiasan, sehingga kantor mungil yang tadinya terkesan kaku menjadi lebih hidup dan indah.
Jordy sangat berterima kasih atas bantuan Silvy, dia berjanji akan membantu apapun yang dibutuhkan oleh Silvy dan Iwan, termasuk mungkin pernikahan mereka. Jordy sangat berharap kawannya itu segera melamar Silvy agar mereka bisa bersatu dalam ikatan yang suci.
*
'miss me already?' ketik Jordy pada aplikasi WhatsApp yang dikirimkan kepada Jona. Tetapi, gadis di seberang sana tidak juga membalas, bahkan pesan itu hanya centang satu. Jordy menjadi gusar, tetapi dia ingat pesan Allan saat itu.
Pria itu segera menghubungi Allan untuk memastikan keadaan Jona. Sekarang, pria kelahiran UK tersebut memang telah menjadi temannya.
"She's really fine,' jawab Allan di telepon, membuat Jordy merasa sangat tak sabar untuk segera berjumpa dengan Jona-nya. Pria itu tersenyum dan menggigit bibirnya sendiri, karena rasa gemas.
"Ayah telepon siapa?"
Tiba-tiba saja Livi sudah ada di hadapannya. Atau memang dia sudah ada sejak tadi di sana?
"Oh, ini teman Ayah."
"Kelihatannya Ayah sangat senang?"
"Ayah senang karena usaha Ayah berjalan cukup lancar, Livi, berkat bantuan teman-teman Ayah."
"Bagus."
"Sekaligus bersedih bahwa sebentar lagi putri Ayah akan pergi jauh."
"Jangan sedih, Yah, kita akan sering ketemu. Ayah kan, bisa mengunjungiku nanti."
"Itu benar, Livi. Meskipun jauh, tetapi kita selalu terhubung."
Jordy mengulang kalimat itu di dalam hati, berharap dia dan Jona juga masih selalu terhubung. Mengingat sang kekasih, rasanya Jordy ingin sekali memesan tiket di aplikasi mobile untuk pergi menyusulnya ke pulau Bali. Bisakah, waktu berdetak lebih cepat untukku, bisik Jordy pada dirinya sendiri.
Hai, Sobat Gorgeous. Semoga terhibur, terima kasih atas dukungannya. Saran masukan masih selalu aku tunggu yaww..komen aja. Sukses selalu untuk kita semua dan jaga kesehatan! Salam sayang, ArwenCTB&
Jordy sudah dewasa. mandiri. tidak bergantung secara materi dg org tuanya. biarkan ia bahagia sesuai keinginannya😄
klw bisa cinta yg tak menentu atau takdir cinta