Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. 'Sesuatu' yang Tak Pernah Dilakukan
Sedan mewah milik Teddy membelah jalanan kota yang mulai lengang sore itu. Di dalam kabin yang kedap suara, atmosfer terasa begitu kontras.
Teddy fokus mengemudi dengan tenang, sementara orang yang ada di kursi sampingnya, Aira sedang sibuk memeluk ponsel barunya dengan kaki yang tidak bisa tenang. Senyuman selebar lumba-lumba tak luput terukir dari bibirnya. Berkali-kali menatap hasil rekaman akting mereka, entah kenapa membuat hatinya berbunga-bunga.
Jari-jari Aira dengan lincah menari di atas layar, mengetik sesuatu di kolom caption di sosial medianya.
"Om Tamvan, boleh kan aku kirim sekarang juga? Caption-nya apa yang bagus ya biar makin mantap?" Jemari Aira tampak diketuk beberapa kali di dagu.
Beberapa detik kemudian, mata dan mulutnya terbuka dengan lebar. Ia baru mendapat sebuah inspirasi untuk memanas-manasi si 'anu.'
"Bagaimana kalau ... 'Makasih kado jepitan kristal mahalnya, Mas Om-ku sayang ❤️' ... gitu aja kali ya? Harus pakai emotikon hati biar si Beni langsung mengalami stroke ringan di pulau yang jauh di sana!" ucap Aira tanpa menunggu komentar orang sebelah. Matanya sudah kembali fokus menatap layar ponsel.
Teddy yang sedang memutar kemudi hampir keseleo tangannya memutar setir. Lalu dengan cepat memperbaiki arah kendaraannya. Ia melirik melalui sudut matanya.
"Astaga, aku bekerja sama dengan orang seperti apa, ini? Dan, kenapa aku mau-maunya mengikuti gadis aneh ini?"
Aira menoleh ke samping dengan wajah mencibir. "Udah lah, Om ... Ikut aja ... Ini kan masalah Abang Adek yang di sana. Sekarang, tugas Om cuma temui tante jahat itu. Ih, enaknya diapain ya?"
Dengan tenang jemari Aira langsung menerbangkan video tersebut dan tanpa ragu dikirim ke nomor WhatsApp Mas Beni yang berada jauh di timur sana. Setelah memastikan centang dua abu-abu berubah menjadi biru, dengan senyum penuh makna, Aira memasukkan ponselnya ke dalam tas kuliahnya.
Melihat gelagat gadis itu, Teddy menyadari pesan itu telah dikirim. "Terus, kalau sukses memanasinya, apa yang aku dapat?"
Aira menoleh, lalu menepuk dadanya dengan bangga seolah baru saja menawarkan aset investasi paling berharga di muka bumi ini kepada Teddy.
"Tenang, Om! Om kan sudah kaya raya, kalau ditawari uang pasti gak ada artinya."
Lalu, Aira menaikkan telunjuknya karena mendapat satu ide yang paling segar. Ia menatap pria yang masih fokus menatap jalan itu.
"Om, aku akan membalas dengan sesuatu yang tak terlupakan seumur hidupmu. Sesuatu yang tak pernah kamu lakukan ..." ucap Aira dengan suara sedikit menggoda.
Teddy melirik lewat sudut mata sejenak. Keningnya mengerut dengan teka-teki yang diberikan Aira. Di dalam kepalanya, sesuatu yang tak pernah ia lakukan hanyalah 'menikah.'
"Anak kecil, kamu jangan macam-macam!" decaknya.
"Aku serius, Om ..."
Teddy mulai mengkhayalkan sesuatu yang hanya ada dalam angannya. Lalu melirik Aira sejenak dan kembali menatap lurus ke depan. 'Masa sih?'
"Om ... Aku rela kok ... aku akan membayar jasa Om ...."
Jakun Teddy timbul tenggelam fokus menunggu kelanjutan ucapan gadis itu.
"... pakai berondolan sawit punya Bapak di kampung? Tahu kan, Om? Itu buah sawit yang lepas-lepas dari janjangannya. Di kebun Bapak itu jumlahnya gak kehitung, melimpah ruah! Nanti aku suruh Bapak paketkan dua karung goni buat Om Teddy, mayan kan bisa Om jual ke pabrik kelapa sawit!" ceplos Aira dengan wajah super serius tanpa dosa.
Ckiiiiiittt!
Teddy refleks menginjak rem sedikit lebih dalam hingga tubuh mereka berdua agak terdorong ke depan. Pria tiga puluh empat tahun itu menoleh lambat-lambat, menatap Aira dengan dahi berkerut yang sangat dalam tanpa berkedip. Ini sungguh di luar ekspektasi Teddy yang mengira hal lain. Dan, itu benar-benar tak pernah ia lakukan.
Sepanjang kariernya menegosiasikan proyek bernilai miliaran rupiah, ini benar-benar pertama kalinya ia ditawari alat pembayaran berupa hasil bumi yang rontok.
"Anak Kecil ..." Teddy menghela napas berat, sepasang matanya menatap tajam gadis di sampingnya sementara urat di pelipisnya mendadak berdenyut samar.
"Saya ini manajer utama perusahaan properti, bukan toke sawit keliling."
Aira malah mengerucutkan bibirnya, mencibir tidak terima dengan reaksi kaku pria itu.
"Dih, sombong amat Pak Manajer! Padahal minyak goreng yang Om pakai buat numis tiap hari, atau sabun yang bikin Om wangi begini, itu asalnya dari berondolan sawit Bapak saya tahu! Nilai ekonomisnya tinggi, Om!"
Teddy memejamkan mata sejenak, merapikan kembali setelan jasnya yang sedikit bergeser akibat rem mendadak tadi.
"Simpan saja sawit dua karung goni itu untuk mas kawinmu nanti," desis Teddy dingin, kembali memindahkan gigi mobil dan menginjak pedal gas untuk mengakhiri perdebatan absurd yang hampir membuatnya jantungan.
"Ih, ogah! Mas kawin kok pakai berondolan," gerutu Aira pelan, beralih menatap ke luar jendela dengan sisa cengiran puasnya.
Sementara itu, di dalam kepalanya, Teddy diam-diam merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang eksekutif seperti dirinya sempat berpikiran jauh sampai ke ranah 'pernikahan' hanya karena pancingan kalimat menggoda dari mahasiswi gesrek yang baru dikenalnya ini?
'Benar-benar merusak fokus,' batinnya.
Pria tiga puluh empat tahun itu tiba-tiba membelokkan setir usai pertengkaran kecil itu. Tanpa memedulikan wajah heran gadis di sebelahnya, ia turun dan berjalan sendiri ke toko kue premium Perancis yang sangat terkenal.
Ketika Teddy kembali ke mobil sambil membawa kotak kue beludru merah maroon yang sangat elegan, Aira langsung mencondongkan badannya, mengintip dengan mata bulatnya yang berbinar-binar kepo.
"Busret, Om ... kenapa beli kue yang kotak beludru begitu? Untuk aku yaaaa?" sorak Aira gembira.
"Sssttt! Ini buat penutup mulut tante jahat katamu itu!" desisnya lagi menaruh di bangku belakang.
"Dih? Kok beliin yang mahal amat buat mereka? Kan sayang uangnya, mending buat aku aja. Aku bagiin buat temen-temen yang lain," protes Aira blak-blakan.
Teddy pun kembali ke bangkunya, menutup pintu mobil, lalu menoleh lambat-lambat menatap mata bulat Aira. Tatapan itu berubah lembut dan dalam. Di dalamnya tampak pancaran sesuatu yang tak dapat Aira mengerti.
"Saya tidak ingin wanita yang sedang bersama saya dianggap tidak tahu tata krama saat pulang ke rumah. Saya ingin mereka semua tahu, kamu saat ini berada di tangan pria yang sangat menghargaimu, Aira. Kamu berhak mendapatkan ini," ucap Teddy, suaranya mengalun bariton yang teramat teduh.
Deg.
Jantung Aira serasa mau melompat keluar dari tempatnya.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣