Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
konsultasi hukum
"Maara...?" gumam Kenan.
Baru saja ingin memastikan penglihatannya, dia sudah dipanggil oleh sekretarisnya.
"Pak Kenan... Klien dari Visitama Group sudah sampai" seru Keyla, sektretarisnya.
"Kok cepat? Bukannya jam 4 sore baru sampai?" desah Kenan pelan sambil melirik waktu di layar ponselnya.
Keyla mengernyit.
"Ya... Bapak bilang apa barusan?"
"Okey,.. Saya ke ruang meeting sekarang... Kamu siapkan saja berkas yang diperlukan" ujar Kenan.
"Udah.. Nih..." ujar Keyla menunjukkan beberapa map yang sedang didekapnya.
Kenan menghela nafas pendek dan berusaha menarik sudut bibir sedikit.
"Kamu memang cekatan Key..." puji Kenan pada gadis muda yang telah menjadi sekretarisnya selama 4 tahun ini.
Keduanya memasuki lift untuk menuju ruang meeting.
Kenan jadi tidak bisa bertemu dengan Maara namun dia bertekad, nanti setelah meeting, dia akan bertanya pada Teguh karena Kenan yakin, gadis itu pasti mencari rekannya itu karena terlihat berjalan kearah kanan dimana ruangan Teguh berada.
Didalam ruangan Teguh...
"Selamat sore nona Maara...Saya Teguh..." sapa pria berusia sekitar 40 tahunan namun tampak gagah dan segar dipandang layaknya anak muda yang stylish masa kini.
"Assalamualaikum, selamat sore juga pak Teguh... Saya Maara, salam kenal" ujar Maara mengatupkan tangan depan dada.
"Silahkan duduk...." Teguh mempersilahkan Maara duduk di sofa saling berhadapan dengan batas meja kecil didepannya.
"Saya sudah dengar sedikit dari Rio perihal permasalahannya... Jadi anda berniat ingin pisah dengan suami anda?"
Maara mengangguk pelan.
"Benar pak... Tapi masalahnya, pernikahan kami masih berstatus siri karena mas Revan ternyata tidak mendaftarkan pernikahan kami ke kantor urusan agama..." jelas Maara.
Teguh mengangguk-anggukan kepala.
"Apa anda sudah benar-benar yakin? Maaf, apakah selama anda menikah, sudah pernah 'bercampur' dengan suami anda, karena takutnya jika sudah, dan anda dinyatakan hamil maka akan sangat merugikan anda tentunya"
"Tidak pernah... Kami bahkan tidur di kamar terpisah" ujar Maara pelan sembari tertunduk.
Sebagai seorang professional, Teguh memang harus menanyakan hal itu agar bisa tetap mengupayakan hak kliennya.
Teguh menyimpan rasa kasihan pada gadis berhijab didepannya ini.
Wajah Maara nampak begitu lelah dan tertekan.
"Baiklah... Saya akan bantu untuk konsultasi hukumnya... Tapi sebelumnya, anda harus tahu untuk prosedur cerai ini, ada 2 jalur prosesnya. Satu jalur agama dan satu lagi jalur hukum....
Untuk jalur agama dimana sah dimata agama namun tidak diakui negara hanya diperlukan kalimat talak dari suami, kedua Khulu' atau gugat cerai oleh istri yaitu anda nona Maara, dan terakhir Hakam yakni dalam pernikahan jika terjadi sebuah pertengkaran hebat atau besar maka anda bisa menunjuk satu perwalian keluarga begitupun pihak suami satu perwalian untuk memutuskan perpisahan ataupun rujuk....
Minus dari talak secara agama ini adalah tidak adanya perlindungan hukum soal nafkah anak jika anda dan suami memiliki anak, dan beruntung kalian belum memilikinya serta untuk harta bersama dan hak waris yang tidak bisa anda peroleh nantinya..."
Teguh diam sejenak memperhatikan lawan bicaranya.
Maara mendengarkan secara khusuk penjelasan Teguh.
"Jika saya menempuh jalur hukum, apakah syaratnya berat?" tanya Maara pelan.
"Untuk jalur hukum negara maka pasangan harus terlebih dahulu melakukan Isbath nikah atau pengesahan nikah. Dimana kalian berdua harus mengajukan permohonan kepengadilan agama dimana kalian tinggal.... Tapi mendengar dari cerita Rio, suami anda bahkan tidak bisa dihubungi, benar begitu?"
"Benar..." Maara diam sejenak.
"Kalau saya tetap ambil langkah pertama, yaitu kata talak dari mas Revan bagaimana? Karena jika untuk meresmikan dulu pernikahan sepertinya tidak akan mungkin karena selama ini dia melarang saya untuk memberitahu siapapun selain keluarga tentang status pernikahan kami..."
Teguh menyandarkan punggungnya pada sofa. "Apa karena suami anda bekerja sebagai aparatur negara makanya anda lebih memilih hilang secara tersembunyi?" jujur, ucapan Teguh barusan cukup menohok bagi Maara namun dia tak punya pilihan. Dia hanya ingin segera lepas dari keluarga Adiyasa tanpa memperpanjang drama.
"Salah satu alasannya..." sahut Maara pelan.
"Baiklah, kita akan tetap melayangkan surat pada suami anda... Kita lihat bagaimana reaksinya.. Tapi sekali lagi saya tanya, apakah anda yakin dengan jalan yang akan anda pilih?" tanya Teguh memastikan mental kliennya.
"Saya sudah yakin pak... Lagipula kami menikah karena sebuah perjodohan bukan saling suka... Saya tidak ingin jadi istri yang tak dianggap oleh orang yang saya doakan setiap hari walaupun jaminannya adalah surga. Kesabaran juga ada batasnya dan saya tidak ingin menyiksa batin lebih lama lagi..." tegas Maara dingin namun tetal pada norma kesopanan.
"Baik.... Nanti saya akan minta asisten saya untuk mengirim pesan ataupun surat pada suami anda dan semoga dia bisa kooperatif agar prosesnya lancar..." tutur Teguh.
Secercah senyum dan harapan terbit di bibir Maara.
"Semoga mas Revan tidak mempersulitnya..." lirih Maara.
Usai berkonsultasi, Maara pamit dikarenakan hari sudah terlalu sore.
Teguh mengantar hingga depan pintu ruangannya.
"Gadis yang malang... Rugi sekali laki-laki yang menyia-nyiakan kamu anda nona Maara...." gumam Teguh menatap punggung Maara yang menghilang kedalam lift.
...********^********...
Diruang meeting, Kenan tak bisa berkonsentrasi penuh.
Isi kepalanya melayang pada pertemuan dirinya dan Maara.
Tidak bisa disebut pertemuan juga sih karena hanya Kenan yang melihat gadis itu dan sebaliknya Maara tak melihatnya.
"Baiklah pak Kenan, kabari saja jika semuanya sudah beres...." ujar perwakilan Visitama Group.
Kenan masih dalam lamunannya hingga Keyla menyenggolnya dengan ujung penanya.
"Oh ya....???" pria itu tersentak.
Keyla tersenyum canggung pada kedua klien mereka yang kebingungan akan sikap Kenan hari ini.
"Sepertinya pak Kenan sedang banyak pikiran... " tutur pria seusia dirinya.
Kenan tersenyum canggung. "Maafkan saya pak Juno... Kebetulan, saya sedang menangani sebuah kasus berat dan itu cukup menyita waktu dan pikiran saya... Tapi saya akan tetap memberikan yang terbaik untuk perusahaan Visitama karena sudah jadi klien kami sejak lama... Tolong sampaikan pada Mr. Kendo agar tidak perlu khawatir...." ujarnya lagi.
"Saya percaya anda pak Kenan makanya Mr. Kendo hanya ingin merekrut firma hukum anda... Semua pengacara di firma hukum ini sudah sangat berpengalaman dengan jam terbang yang sudah tak diragukan lagi..." puji pak Juno, selaku perwakilan Visitama Group.
Mereka mengakhiri meeting yang cukup panjang bagi Kenan.
"Pak Kenan, anda mau kemana?" tanya Keyla penasaran karena atasannya itu buru-buru sekali.
"Saya harus ketemu Teguh... Kamu kalau mau pulang, pulang saja... Kan sudah nggak ada kerjaan lagi" ujar Kenan bergegas melangkah menuju lift.
Tentu saja Kayla tersenyum bahagia karena dia bisa pulang tepat waktu.
Jarang-jarang dia bisa merasakan pulang di jam normal layaknya karyawan.
Dia harus selalu pulang di jam 7 atau 8 malam karena mengikuti jam kerja Kenan, bosnya yang ribet namun tetap royal pada karyawannya.
Kenan memencet tombol lift tak sabaran, berharap si kotak besi itu segera berhenti di tempatnya.
"Ck... lama banget sih... Ini ngapain coba di basemen lama banget...!" gerutunya kesal.
Kenan menoleh kearah tangga lebar yang memang didesain ditengah ruangan.
Dengan langkah cepat, Kenan menaiki setiap anak tangga untuk menuju ruangan Teguh.
Para karyawannya yang tak pernah melihat bos besar mereka menaiki tangga, cukup tercengang dibuatnya.
Mereka bertanya-tanya dalam hati ada apa gerangan? Apa ada hal yang begitu mendesak sehingga Kenan rela berpeluh keringat demi menuju lantai atas dibanding menunggu lift seperti biasanya.
"Huh.. huhh...." Nafasnya tersengal-sengal ketika Kenan tiba didepan pintu ruangan Teguh.
Dengan tak sabaran tanpa mengetuk terlebih dahulu, Kenan langsung membuka pintu kayu berwarna coklat tersebut.
"Guh... Siapa klien~~mu...." kalimat Kenan menggantung karena si empunya ruangan tak berada disana.
Kepala Kenan tertunduk lesu dengan helaan nafas kecewa.
"Jesi.....! Pak Teguh sudah pulang?" teriaknya diambang pintu pada asisten Teguh bernama Jesi.
"Sudah pak... Sejak setengah jam lalu... Katanya mau beli kado untuk ulangtahun istrinya... Pak Kenan nggak tahu?" Jesi balik bertanya.
Bola mata Kenan bergerak kesana-kemari, mencoba menggali ingatannya.
"Iya, saya lupa..." ringis Kenan setelahnya.
"Kalau begitu, saya juga pamit pulang pak... Selamat sore...." ujar Jesi.
"Eh... tunggu...!" suara Kenan menghentikan langkah Jesi.
"Kenapa pak?"
Kenan berjalan mendekat pada Jesi. Sedikit ragu untuk bertanya namun rasa penasarannya jauh lebih kuat.
"Kamu tahu tadi pak Teguh kedatangan klien perempuan, berhijab panjang...?" tanya Kenan.
"Tahu pak.. Namanya bu Maara Hayuning... Kenapa memangnya? Bapak kenal?" tanya Jesi balik.
"Ohh... Kenal... Ya sudah.. Kamu pulang sana... Nanti saya tanya langsung pada Teguh... " Kenan segera pergi dari hadapan Jesi dengan isi pikiran yang penuh.
Menebak-nebak kenapa Maara menemui Teguh yang notabene adalah pakar hukum perceraian.
Kantor advokat milik Kenan menangani bayak kasus. Dari yang perdata hingga pidana.
Dari yang kasus hukum berat hingga kecil. Termasuk bantuan hukum bagi pasangan yang ingin bercerai dan bidang itu dipegang langsung oleh Teguh si pakar perceraian sebagai julukan yang Kenan sematkan.
Tapi bukan itu inti dari isi pikiran Kenan saat ini. Kenapa Maara menemui Teguh si pakar perceraian? Setahu Kenan, Maara belum menikah setidaknya itu yang dikatakan Lisa tempo hari saat mereka makan siang bersama setelah sidang.
"Tanya Rio kayaknya lebih akurat..." Kenan mengeluarkan ponsel mahalnya, mencari kontak rekannya.
"Eh.... Tapi dia lagi persiapan pernikahan dan pesannya nggak mau diganggu... Ishhh.... karyawan tapi suka ngancam...." Kenan kesal sendiri karena teringat akan titah Rio sebelum cuti.
Rio telah bertitah bahwasanya tidak akan mengangkat telpon dari Kenan selama cuti nikah karena pasti isinya hanya pekerjaan.
Kenan berjalan lesu menuju ruangannya.
Dia harus menunggu hari senin agar rasa penasarannya bisa terbayarkan.
bersambung....
Note : Tata cara cerai jika pernikahan siri author baca dari beberapa sumber, dan jika ada kesalahan mohon dikoreksi...
Terima kasih...