Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."
Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."
Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."
Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."
Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan Seorang Sahabat
Listi Anggraeni
Maaf ya, aku tuh orangnya memang kepo. Tapi aku tidak kepo ke semua orang. Aku hanya kepo pada kehidupan orang-orang terdekatku. Tujuanku kepo ya agar bisa tahu permasalahannya dan bisa menolong sebisaku saat mereka ada kesulitan.
Akhir-akhir ini, aku merasa aneh dengan perubahan sikap Daini. Biasanya dia periang, tapi sekarang jadi pendiam. Hingga suatu hari karena sangat penasaran, aku membuntuti Daini setelah pulang kantor.
Serius, aku terkejut saat melihat dia berhenti di apartemen megah yang letaknya tepat di seberang kantor ini. Saat itu, aku langsung meneleponnya, tapi Daini tidak mengangkat teleponku. Malah menatap layar ponselnya dan menangis. Saat itu, aku ingin menyusulnya. Tapi merasa tak enak hati.
Seperti penampilannya, Daini memang sedikit tertutup. Bagi yang belum mengenalnya, mungkin akan mengira kalau Daini memiliki kepribadian introvert yang cenderung menyukai kondisi yang tenang, senang menyendiri, serta reflektif terhadap apa yang mereka lakukan.
Padahal, Daini tidak seperti itu. Setelah aku mengenalnya lebih dekat, dia adalah tipe orang yang asyik diajak bicara dan dijadikan teman. Dia sangat lembut, pendengar yang baik, bisa memberi saran yang menenangkan dan juga pandai memasak.
Kalaupun dia pindah ke apartemen, kenapa tidak bilang? Aku juga merasa janggal sebab setahuku Daini orangnya hemat. Dia tidak mungkin menghabiskan seluruh gajinya demi tinggal di apartemen.
Setelah kejadian itu, seperti kata Daini, aku harus berbaik sangka. Jadi, akupun berbaik sangka jika Daini mungkin tinggal di apartemen itu bersama saudaranya dan dia tidak seceria dulu karena sedang menyembunyikan masalah pribadi yang tidak bisa diceritakan kepadaku.
Aku menatap kepergian Daini menuju kantin sambil melamun. Seperti dugaanku, bu Dewi ternyata tidak seramah bu Caca.
Lagipula kok bisa sih bu Dewi tiba-tiba menunjuk Daini jadi asistennya?
Selain disuruh ke kantin, Daini juga disuruh mencari makanan kesukaan bu Dewi sampai ketemu. Bahkan kalau tidak ada di kantin, bu Dewi sampai menyuruh Daini mencarinya keluar.
Aneh bukan?
Aku benar-benar tak habis pikir. Jadi mau makan seblak pedas buatan Daini kalau lagi pusing seperti ini.
"Kamu temannya Daini, kan?" Bu Dewi membalikan badan tepat sebelum masuk ke ruangannya.
"Wi, ada apa lagi sih?" sela pak Direktur.
"I-iya Bu," aku berdiri sambil menganggukkan kepala.
Sebentar, dari mana dia tahu kalau aku temannya Daini?
"Aku hanya bertanya. Tidak ada maksud apa-apa. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu," katanya. Lalu masuk ke ruangannya.
"Baik, Bu."
Aku kebingungan. Maksudnya apa coba dia mengatakan itu? Ini benar-benar aneh dan sulit dicerna oleh akal sehatku. Ingin rasanya aku beteriak dan mengatakan, "Tuhan, aku binguuung!"
Lalu tiba-tiba, seorang security datang tergesa dan masuk ke ruangan kami. Dia mengenalku. Aku juga mengenal dia.
"Bu Listi, bu Daini pingsan!"
"Apa?!"
Kita semua kaget, dan aku spontan berdiri.
"Pingsan?! Kok bisa?!" teriakku.
"Ya, Bu. Tadi ditemukan sama pak Kamil di lorong kantin, terus dibawa ke klinik. Saya ke sini untuk mengabari Bu Listi. Cepat Bu! Saya lihat tadi bu Daininya sangat pucat," jelas pak scurity.
"Ya ampun, Dai."
Aku panik. Langsung gemetaran. Khawatir terjadi apa-apa pada Daini.
"Ada apa ini? Kok ribut-ribut sih?" tanya bu Dewi.
Dia keluar dari ruangan. Masih bergandengan tangan dengan pak Direktur. Bu Dewi sepertinya tidak mau melepaskan suami perfeksionisnya itu. Padahal, siapa sih yang berani mendekati pak Direktur?
Level wanita yang sebanding dengan pak Direktur kan hanya bu Dewi. Sama seperti pak Direktur, bu Dewi juga putri konglomerat. Mereka sudah sultan sejak dilahirkan ke muka bumi. Uang mereka tidak akan habis untuk delapan turunan. Keluarga mereka termasuk ke jajaran crazy richnya Indonesia.
Jujur, aku sedikit iri dengan kehidupan sempurna mereka. Tapi seperti kata Daini, di mata Allah, miskin kaya tiada beda. Yang membedakan hanya keimanan dan ketakwaannya.
"Bu Daini pingsan," jawab pak scurity sambil membungkuk ke arah pak Direktur.
"Apa?!"
Pak Direktur terlihat kaget. Seketika itu juga ia melepaskan gandengannya dari tangan bu Dewi.
"Mas!" panggil bu Dewi saat pak Direktur mendekat cepat ke pak scurity.
"Di mana dia sekarang?" tanya pak Direktur pada scurity.
Sontak aku merasa heran. Yang lain juga mungkin keheranan. Sejak kapan Direktur serespek ini pada staf biasa?
"Dibawa ke klinik kantor, Pak."
"Wi, kata Mas juga apa?! Jangan memberikan tugas aneh-aneh pada asisten manajer! Ini semua gara-gara kamu!" bentak pak Direktur.
Serius, kami semua saling berpandangan setelah mendengar kalimat pak Direktur. Apalagi saat beliau berlari. Apa mau menyusul Daini? Tidak, ini tidak mungkin!
"Mas tunggu! Kenapa kamu nyalahin aku?! Kalau dia pingsan, itu artinya dia lemah! Atau bisa jadi dia pingsan karena penyakitan!" teriak bu Dewi sambil mengejar pak Direktur.
Ya ampun, ini seperti adegan di sinetron. Aku tak bisa diam saja. Aku tak mungkin membiarkan Daini sendirian di klinik. Akupun lari terbirit-birit menuju klinik kantor.
"Aku harus melihat dan Daini," kataku pada staf lain yang masih melongo kebingungan.
...🍒🍒🍒...
Kulihat pak Direktur dan bu Dewi masuk ke dalam klinik. Ya ampun, perasaanku kok jadi tidak enak begini ya?
Jantungku jadi beledag beledug. Aku dapat kosa kata beledag beledug dari Daini. Aku berlari mendekat hingga posisiku tepat berada di belakang bu Dewi.
Staf klinik langsung membungkukkan badan saat pak Direktur masuk. Wajah mereka tampak keheranan.
"Di mana staf yang pingsan tadi?" tanya pak Direktur.
"Kamu berlebihan, Mas! Kita 'kan sudah komitmen!" teriak bu Dewi.
Aku tak peduli maksud bu Dewi. Karena tujuanku ke sini untuk bertemu Daini.
"Suster, saya teman dekat staf yang tadi pingsan dan dibawa ke sini sama pak Kamil. Namanya Daini dari divisi mutu. Di mana dia sekarang, Sus?" selaku. Pak Direktur dan bu Dewi memberi jalan padaku yang tergesa.
"Oh, ada di kamar nomor dua, Bu. Sekarang sudah sadar, tapi kondisinya masih lemah. Tekanan darahnya rendah, tadi sempat muntah juga. Kayanya asam lambungnya kambuh," terang suster sambil menguntitku. Bukan hanya suster, pak Direktur dan bu Dewipun membuntutiku.
"Daini? Dai," sapaku.
Dia terbaring lemah, bibir pinknya memucat. Dia terlentang sambil menangkup kedua tangan di perutnya.
"K-Kak Listi ...."
Dia mengulurkan tangan. Aku segera meraih tangannya. Terasa dingin. Aku memeluknya.
"Huuu ...."
Dia tiba-tiba menangis. Daini sepertinya belum sadar kalau di belakangku ada bu Dewi dan pak Direktur.
"Lu kenapa sih, Dai? Pucat banget."
Aku merapikan kerudungnya yang berantakan. Mata Daini memerah dan sembab. Artinya, dia sudah menangis sedari tadi.
"Ti-tidak apa-apa Kak. Cuma asam lambung saja," terangnya.
"Iya kemungkinan asam lambung. Tapi karena tensinya rendah, dokter menganjurkan untuk diinfus dulu," terang suster.
"Kalau mau jadi asistenku harus kuat!" timpal bu Dewi. Daini terkejut saat menyadari keberadaan bu Dewi dan pak Direktur.
"Bu Dewi ...?" lirihnya.
Dan genggaman tangan Daini di lenganku teras semakin kuat. Aku bahkan merasa jika tangan Daini gemetar. Daini seperti ketakutan saat melihat bu Dewi dan pak Direktur.
"Kalau sakit harusnya kamu tidak perlu bekerja! Kenapa keras kepala sekali?!" tegas pak Direktur.
Dia menatap tajam pada Daini. Mataku melotot sempurna. Semua yang terjadi kali ini benar-benar membuatku pusing.
"Huuu huks, Kak ...."
Daini tak mengatakan apapun. Malah menangis lagi dan memelukku kian erat.
"Cengeng! Lemah! Nyalimu ternyata hanya seujung kuku! Tapi nafsumu seluas samudera," kata bu Dewi.
"Maaf Pak, Bu. Maaf kalau saya lancang. Saya hanya heran, kenapa Bapak dan Ibu seolah menyalahkan temanku? Apa Bapak dan Ibu tidak lihat dia sepucat ini?" Aku memberanikan diri berbicara karena terlalu mengkhawatirkan Daini.
"Lebih baik kamu keluar dulu!" usir bu Dewi padaku.
"Tetap di sini Kak Listi, tetap di sini ya ...," ratap Daini.
"Iya, Dai. Iya."
Aku memeluk Daini. Tak menghiraukan perintah bu Dewi. Bu Dewi duduk di sisi bed, melipat tangan, lalu menatap Daini dengan sinisnya. Pak Direktur menghela napas.
"Kamu ke rumah sakit saja, aku akan menghubungi ambulance perusahaan," ucap pak Direktur.
Aku menggulirkan pandangan pada Daini dan pak Direktur. Demi apa? Aku sangat bingung guys.
"Ti-tidak perlu Pak. Aku baik-baik saja. Maafkan aku Bu Dewi, aku belum sempat membawakan makanan untuk Ibu," kata Daini saat aku membantunya untuk rebahan kembali.
"Aku akan ingat kejadian ini! Kamu berhutang satu sajian makanan untukku!" kata bu Dewi.
"Wi, cukup! Suster, Anda silahkan di luar dulu. Aku perlu bicara sama istriku dan karyawanku," ujar pak Direktur.
"Baik Pak. Saya permisi." Suster berlalu.
"Apa yang mau kamu jelaskan Mas?" tanya bu Dewi.
"Wi, Mas tidak mau kita ribut di sini, Mas hanya ingin pengertian dari kamu supaya bisa menghormati bawahan kamu. Dia sakit, karena dia adalah bawahan kamu. Sebaiknya kamu menyuruh dia pulang."
"Ck ck ck. Hahaha, oke! Oke! Fine! Aku akan menyuruh dia pulang. Tapi aku akan menyebarkan belangnya dia saat ini juga!" tegas bu Dewi.
Rasanya aku ingin koprol saat ini juga saking tidak mengertinya. Daini terisak, menelusupkan wajahnya ke sisi bantal.
"Wi, Mas mohon sama kamu. Tolong pegang janji kamu. Jangan menyakiti perasaannya. Sudah Mas katakan, dia tidak bersalah. Silahkan kamu melakukan apapun di perusahaan ini, jikapun kamu ingin mengambil posisi Mas sebagai Direktur, ya silahkan. Tapi tolong jangan menyakiti dia."
"Huuu huu."
Eh, bu Dewi malah turut menangis. Aku melongo. Kepalaku rasanya sudah mengepul mengeluarkan asap dan api.
"Mas, coba sedetik saja kamu memposisikan diri sebagai aku! Wanita mana sih yang tega diduakan dan dibohongi sama suaminya?! Aku dibohongi kamu oleh alasan yang tidak masuk di akal. Aku hanya ingin membuka mata kamu lebar-lebar! Aku ingin kamu sadar jika wanita ini tak ada apa-apanya jika dibanding dengan aku, Mas!"
"Maaf ya, kalau Ibu dan Bapak mau betengkar, tolong jangan di sini." Aku memberanikan diri bicara lagi.
"Asal kamu tahu saja ya Listi. Temanmu yang akhwat itu sebenarnya tidak sesuci yang kamu kira."
"Wi, cukup! Jangan seperti ini. Mas mohon sama kamu." Sambil memeluk bu Dewi.
"Huuu, teman kamu itu pelakor! Kamu jangan berteman sama dia lagi! Dia wanita menjijikkan!" teriak bu Dewi.
"A-apa?!" Aku melongo.
"Dewi! Kamu keterlaluan! Kamu tidak menghormati Mas lagi?!"
"Bagaimana aku bisa menghormati kamu jika kamu juga tidak menghormatiku, Mas!"
"Cukup Bu, di sini ... akulah yang salah. Tolong Bapak dan Ibu jangan bertengkar lagi. Aku akan mengikuti apapun keinginan Bu Dewi," lirih Daini. Ia duduk perlahan sambil mengusap airmatanya.
"Dai, sungguh. Gua gak faham maksud dari semua ini. Tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, Dai?" Aku memegang bahu Daini sambil menatap matanya.
"Huuks, seperti yang Bu Dewi katakan, Kak. Aku memang pelakor," jelas Daini sambil tersenyum getir.
"Apa?!"
Aku berdiri menjauh dari Daini. Aku tak percaya, dan aku berharap jika yang terjadi saat ini bukan kenyataan.
"Listi, Hanin bukan wanita seperti itu. Tolong kamu percaya pada Hanin dan tetap di sampingnya, oke? Aku titip Hanin padamu. Wi, ayo ikut sama Mas!" tegas pak Direktur sambil menarik paksa tangan bu Dewi dan membawanya keluar.
"Mas! Lepaskan, Mas!" tolak bu Dewi.
"Kita bicara di ruanganku!"
Pak Direktur tetap memaksa. Daini menatap kepergian mereka sambil bederai air mata dan memukuli dadanya.
"Dai."
Aku kembali menghampirinya. Daini malah menjauh.
"Le-lebih baik Kakak tak usah berteman denganku lagi. Keberadaan aku di sisi Kak Listi bisa jadi pengaruh buruk untuk Kakak," katanya.
"Dai, coba lu jelasin dulu masalahnya. Apa gunanya teman kalau di saat seperti ini gua malah ninggalin lu. Dai, sejak gua mengenal lu. Hidup gua berubah jadi lebih baik sedikit demi sedikit." Aku mendekatinya lagi. Aku memegang tangannya.
"Kak Listi ... apa Kakak mau mendengarkan penjelasanku?"
"Tentu saja, Dai." Aku menariknya ke dalam dekapanku. Tatapan ketakutannya membuat hatiku berdesir dan sedih.
"Huuu, Kak .... Huuu ...." Dia kembali nenangis. Kali ini sampai meraung-raung.
"Menangislah Daini. Jika dengan tangisan kesedihan lu bisa berkurang, gua izinkan lu nangis sampai puas."
Aku mengusap jilbabnya. Tangisan Daini terasa lebih memilukan jika dibandingkan dengan tangisannya beberapa bulan yang lalu.
Ya, dulu Daini juga pernah menangis seperti ini saat ada seorang karyawan yang iseng mengejeknya sebagai cikal bakal ******* karena penampilan akhwatnya, jarang berbicara dan sering menyendiri sambil membaca. Padahal yang dia baca adalah Al-Qur'an.
"Kak ... huu, a-aku bingung haru mulai bicara dari mana. A-aku juga takut Kak Listi tidak percaya padaku dan tidak mau berteman denganku lagi. Huuu ...."
"Dai, hei, lu tenang dong. Bicara pelan-pelan ya." Aku mengusap air mata di pipinya yang memerah.
Baru juga Daini mau bicara, suster masuk.
"Bu Daini, ini surat sakitnya. Bu Daini direkomendasikan tidak masuk kerja selama tiga hari oleh pak Direktur," jelas suster. Aku mengambil surat tersebut.
"Oiya, Anda Bu Listi, kan?" tanya suster.
"Ya benar," jawabku.
"Ibu disuruh pak Direktur mengantar Bu Daini pulang. Bu Daini boleh pulang setelah cairan infusnya habis," terang suster. Lalu pergi sebelum aku mengatakan apapun.
"Kak ...."
"Ssshh, lu tenang ya, nanti gua antar pulang, hebat lu ya sampai surat sakit lu direkomendasi langsung sama Direktur," candaku sembari mencubit hidung mancungnya.
Bersama Daini seperti ini, aku sering merasa jika Trisni masih ada bersamaku. Trisni adalah adikku yang meninggal karena kecelakaan. Usia Daini juga sama dengan Trisni. Dua setengah tahun lebih muda dariku.
"Kak ... kalaupun nanti Kakak jadi kecewa, tolong jangan meninggalkanku, ya. Kak Listi harus tetap jadi temanku."
"Iya, iya, kita lihat saja nanti. Sekarang lu jangan banyak bicara. Bentar lagi infusannya habis. Kita harus siap-siap. Aku ambil tas lu dulu ya." Walaupun aku tidak tahu akan membawa Daini pulang kemana, tapi ya sudahlah.
"Saya mau antar Daini pulang. Dia sakit. Ini surat sakitnya. Dapat rekom langsung dari Direktur."
Dengan bangganya aku mengatakan itu saat akan meletakan surat ini di meja bu Caca. Emm, maksudnya meja bu Dewi.
Bu Dewi belum kembali ke ruangannya. Staf lain melongo ketika melihatku pergi melenggang meninggalkan ruangan di jam kantor yang padahal sedang sibuk-sibuknya. Terserah mereka mau seheran apa. Toh, aku sudah diberi mandat sama pak Direktur.
...🍒🍒🍒...
"Pucat muka lu Dai," kataku sambil memasang sabuk pengaman milik Daini.
"Mana kulitmu seputih susu, jadi kaya putri salju lu Dai."
Dia hanya senyum menanggapi ocehanku.
"Mau kemana kita?" tanyaku. Ala-ala Dora The Explorer.
"Ke apartemen itu, Kak," ucapnya malas.
Sambil menunjuk ke seberang sana. Walaupun dari kantor terlihat dekat, tapi untuk ke apartemen itu aku harus memutar arah lumayan jauh.
"Oh, jadi lu pindah ke apartemen mewah makanya gak bilang-bilang gua? Tega lu ya," candaku.
"Aku pindah karena terpaksa, Kak."
"Ya sudah, nanti saja ngobrolnya kalau kita sudah sampai di apartemen kamu. Hehehe, hebat lu ya Neng bisa sewa apartemen mewah."
Saat kulirik, Daini malah melamun. Ia menatap jalanan dengan mata berkaca-kaca. Akupun akhirnya memilih diam dan mengatupkan bibirku sampai tak terasa kita sudah sampai di tempat tujuan.
...🍒🍒🍒...
"Gila! Lu tinggal di unit tertinggi?! Sultan lu, Neng. Abah lu punya tuyul ya? Hahaha," candaku sambil memegang tangan Daini yang membelakangi kaca lift sambil memejamkan mata. Daini memang phobia ketinggian.
Akhirnya sampai juga. Aku melongo terkesima saat tiba di dalam unit.
"OMG Dai!"
Aku membelalakan mata. Mengedarkan pandangan ke setiap sudut.
"Lu mampu sewa unit sebesar ini?! Terus ngapain lu kerja, Neng?"
Aku tahu biaya sewa di unit seperti ini perbulannya bisa mencapai 100 juta atau bisa jadi lebih dari itu.
"Kak, ini bukan milikku, ini hanya titipan, ayo ke dalam," ajaknya.
"Dai, seperangakt sofa ini seharga mobil gua, lu gak tahu?!" Aku jadi ragu untuk duduk.
"Kak, tunggu. Aku ambil minum dulu." Daini seolah malas meladeni keterpukauanku.
"Dai, tak perlu repot-repot." Aku menyusulnya ke dapur.
"MasyaaAllah, Dai. Ini dapurnya mungkin seharga mobilnya pacar gua."
Di dapur, aku kembali berdecak kagum. Memegang dan mengusap sebagian perabotan mewah ini sambil membeliakan bola mata.
"Siapa sebenarnya abah lu, Dai? Kalau kaya gini caranya, gua mau dah jadi bini muda abah lu, hahaha. Jadi madunya ummi, terus lu jadi anak tiri gua. Nanti lu gua rebus, hahaha." Syukurlah, candaanku yang ini berhasil membuat Daini tersenyum.
"Ih, amit-amit jabang bayi," katanya sambil memukulku.
Lalu kami kembali ke sofa. Anehnya, Daini tidak membawaku ke kamarnya. Padahal, saat aku ke rumah Daini, dia langsung membawaku ke kamarnya. Di apartemen ini, Daini seolah sedang menjaga privasinya.
"Dai, tunggu. Aku mau ke kamar kecil dulu. Ke kamar mandi mana aku boleh pergi?" tanyaku. Karena terlalu terkesima melihat kemegahan apartemen ini, aku jadi mau buang air kecil.
"Di samping dapur ada kamar mandi, Kak," jawabnya. Akupun kembali ke dapur.
.
.
Dua menit kemudian aku kembali ke ruang tamu. Namun belum juga sampai di ruang tamu, langkahku langsung terhenti.
Aku bersembunyi di balik guci besar yang berada di sisi ruang tamu. Aku membekap mulutku sambil menunduk. Tubuhku bahkan gemetar karena kaget dengan apa yang kulihat saat ini.
Aku melihat Daini dipeluk oleh seseorang. Seseorang yang sepertinya aku kenali.
Ti-tidak! A-aku pasti salah lihat.
"Kamu tidak apa-apa 'kan sayang? Aku sangat mengkhawatirkan kamu Hanin," ucap pria itu. Dia menangkup pipi Daini lalu mengusap air mata Daini.
Daini? Apa kamu ...?
Badanku lemas seketika. Aku ingin menangis saat ini juga. Tapi kutahan.
"Asal kamu tahu saja ya Listi. Temanmu yang akhwat itu sebenarnya tidak sesuci yang kamu kira."
"Teman kamu itu pelakor! Kamu jangan berteman lagi sama dia! Dia wanita menjijikkan!"
Aku teringat lagi pada ucapan bu Dewi, dan semua kejadian yang terjadi di klinik kantor. Seketika, akal sehatku hilang.
"Daini!" teriakku.
"K-Kak?"
Dia menoleh dan melepaskan diri dari dekapan pak Direktur yang menatapku tanpa ekspresi.
"K-Kak, a-aku bisa jelaskan. Kak Listi sudah janji mau mendengar penjelasanku 'kan?" Dia memegang tanganku. Aku menepisnya kuat-kuat.
"Gua belum siap dengar penjelasan lu, Dai! Gua pergi ya! Satu hal yang bisa gua katakan! Lu sudah mengecewakan gua Dai!" Aku meraih tas dan pergi.
"Kak Listi, kumohon tunggu aku dulu, Kak!" Dia mengejarku. Aku tak peduli. Apa yang baru saja kulihat terlalu sulit untuk diterima.
"Kak Listiiii!" teriaknya.
"Hanin, biarkan dia pergi," sela pak Direktur saat aku keluar dari unit.
"Kak Listi, huuu ... apa yang Kakak lihat tidak seperti yang Kakak kira."
Aku masih bisa mendengar kalimatnya. Tapi aku enggan menoleh, tetap pergi sambil menangis. Entah apa yang kutangisi. Aku sendiri bingung mengungkapnya.
...~Tbc~...
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..