Story of Mizyan Abdillah. Sekuel dari EMPAT SEKAWAN LOVE STORY.
Keputusannya menjadi seorang mualaf tidak serta merta hidupnya dalam ketenangan. Godaan dari teman masa lalu, cinta yang mulai tumbuh di hati, namun ternyata tidak mudah untuk menaklukan wanita yang selalu hadir menguasai pikiran. Makin bertambah masalah yang menimpanya kala menyadari jika aset vitalnya tak lagi berfungsi.
Mampukah ia istiqomah menjadi muslim yang taat dengan segala masalah yang menghampirinya?
Bisakah ia mendapatkan hati dari wanita yang didambakannya?
Rahma. Dia belum siap menikah lagi. Namun bujukan sang ibu berpuluh kali membuat keteguhannya mulai goyah.
"Mizyan lelaki yang baik. Seorang mualaf yang bersungguh-sungguh belajar agama. Dia bisa menjadi imam untukmu dan Dika."
Benarkah sudah waktunya ia menerima cinta yang lain, disaat cinta dan kenangan bersama almarhum suaminya masih ia rawat dan pupuk di hatinya.
MELUKIS SENJA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Merasa Familiar
Semarang
Mizyan memilih berdiam di kamar hotelnya, berkutat dengan ponsel, laptop, kertas dan perlengkapan menggambar lainnya, sambil menunggu waktu sore. Memilih mengisi waktu dengan mengerjakan pesanan gambar yang on going, usai lari pagi di jalan raya seputaran hotel. Di tengah fokusnya pada layar laptop, ponsel di sisi lengan kirinya berdering. Melihat ada video call dari Ricky, ia save file sementara demi menerima panggilan dari kawannya itu.
"Ah lo, kenapa gak datang sih. Seru tau...." Wajah Ricky yang muncul di layar. Tampak ada William, Rendi, juga Satya duduk dalam satu meja yang sama kala Ricky menggerakkan layar ponsel. Ricky langsung mencecar Mizyan sebab tak datang pada acara syukuran wedding anniversary nya yang diadakan di rumah singgah.
"Eh sob, gue aja yang baru sehari di Jogja, balik dulu nih." Satya ikut nongol di layar ponsel Ricky.
"Sorry-sorry....gue lagi di Semarang. Lagi nyari jejak bokap nyokap." ujar Mizyan tampak semringah menatap wajah kawan-kawannya yang muncul di layar. Jadi rindu Bandung.
"Asyiikk, kayaknya kode nih....mau ngelamar anak orang ya?!" Giliran Rendi yang nyeletuk, membalas ucapan Mizyan.
Mizyan tertawa terbahak menanggapi keisengan kawannya itu sambil beranjak berpindah posisi membelakangi jendela kamar tanpa membalas godaan Rendi.
"Serius nih?" Willi menatapnya dengan wajah ingin tahu.
"Soal itu si Satya yang tahu....tapi dia udah gue ancam jangan dulu bocorin. Hahaha...."
Semua mata beralih menatap Satya yang berakting menggembok mulutnya.
Melihat momen kumpul lengkap seperti, membuat Mizyan ingin pulang ke Bandung saat ini juga. Tampak pula dari arahan layar ponsel Ricky, ada Arya dan Nico tengah duduk satu meja tengah mengobrol. Sekumpulan para istri kawan-kawannya itu pun terlihat penub canda tawa.
Ia mendecak. "Asli gue iri pengen ikutan ngumpul. Lo ngonfirmasinya pas gue baru tiba di Semarang," protesnya terhadap Ricky.
"Lo nya aja yang jalan-jalan mulu," elak Ricky nggak mau disalahkan. "Anyway, moga yang dicari segera ketemu, ortu and jodohmu."
Mizyan tertawa lagi, namun tak urung mengaminkannya. Juga tak lupa mendoakan keberkahan rumah tangga Ricky yang saat ini tengah merayakan 3 tahun pernikahan.
Suasana sepi sendiri mulai menyergap kala sambungan video sudah terputus. Aneh, pikirnya. Padahal ia terbiasa mandiri, sendiri kemanapun pergi. Enjoy it. Tapi akhir-akhir ini ia terkadang merasakan tidak nyaman, hampa.
Teringat semalam usai berimajinasi menggambarkan sosok Rahma dalam pikirannya dengan rambut dicepol, menampakkan leher yang putih bersih dalam balutan daster ungu motif bunga. Dan setelahnya, ia merasakan kedutan halus pada inti tubuhnya. Yang membuatnya bangun terduduk dan spontan memegang pusakanya. Ternyata tidak bangun. Tapi yakin tadi merasakan adanya kedutan halus.
Apakah reaksi obat atau reaksi imajinasi.
Ia menerka-nerka. Sebelum menghubungi Dika, ia memang baru meminum obatnya. Bisa jadi itu reaksi obat yang diberikan dokter. Namun anehnya, kala bangun tidur pagi, pusakanya sama sekali tak menggeliat. Tetap meringkuk.
"Anda didiagnosis mengalami impotensi koinde."
"Apa itu, dok?"
"Impotensi koinde adalah ketidakmampuan untuk melakukan hubungan seksual."
"Coba dulu terapi dengan obat ini. Jika tidak ada perubahan, nanti lanjut terapi berikutnya."
"Berhenti merokok, hindari stres dan depresi, bangun optimisme bakal sembuh karena anda masih muda."
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Bagaimana tidak stres mendengar vonis dokter seperti itu. Sungguh tidak menyangka bakalan mengalami masalah fatal seperti ini. Tentu saja ini fatal sebab menyangkut masa depannya.
Ujiankah? Ataukah hukuman masa lalu?
"Astagfirullah---" Mizyan menjatuhkan kepala ke sandaran sofa. Ia berkali-kali berucap istigfar dalam hati dengan mata terpejam.
****
Tujuannya sekarang adalah mencari makan siang di luar hotel, mencoba suasana baru agar pikirannya tidak terus menerus terbebani penyakit yang dialaminya kini.
Dengan menaiki becak, ia meminta diantarkan ke rumah makan Padang sebab sudah lama tidak menikmati masakan berkuah gurih santan itu. Apalagi menu masakan padang berupa gulai kepala kakap, favoritnya sejak remaja.
"Matur nuwun sanget, mas. (terima kasih banyak)." Tukang becak yang berkulit hitam legam sebab sengatan matahari setiap harinya itu, membungkuk penuh syukur mendapat ongkos selembar uang 100ribu dari Mizyan begitu tiba di depan rumah makan Padang.
Mizyan mengangguk sambil tersenyum sebelum berlalu masuk ke dalam rumah makan yang cukup ramai di jam makan siang. Ia memilih duduk di meja paling depan memunggungi kesibukan para karyawan yang melayani pembelian take away.
"Bang, bungkusin rendang 5, sama seporsi asam padeh."
Mizyan mendadak menghentikan suapan gulai kepala kakap terakhirnya, menurunkan sendok kembali ke piring, begitu mendengar suara pembeli yang tengah memesan untuk dibungkus.
"Seperti suara---" Ia menggelengkan kepala. Suara itu begitu familiar meski belasan tahun tak lagi didengarnya.
"Tambah kepala kakap 1 ya bang."
"Kepala kakap habis, Bu."
"Yaahh, itu kesukaan anak saya, Bang. Saya lagi kangen sama anak sulungku makanya pengen makan menu kesukaannya."
Tetiba tubuh Mizyan menegang dalam posisinya membelakangi pembeli yang tengah mengeluh kecewa itu. Ia terkesiap mendengar curhatan suara wanita yang sepertinya....
"Coba di cek di dapurnya, Bang. Siapa tahu masih ada di panci."
"Betul Bu, sudah habis. Maaf sekali ya, Bu."
Ia gamang antara acuh atau membalikkan badan melihat interaksi penjual yang dengan sopan meminta maaf sebab gulai kepala ikan kakap benar-benar sudah habis dan pembeli yang keukeuh ingin mendapatkan menu itu.
"Ah, sayang sekali, ya. Ya sudah, berapa totalnya?"
Ia masih saja memasang telinga untuk memastikan suara yang benar-benar familiar itu yang sedang melakukan pembayaran di kasir.
Ya Allah, benarkah itu Mami?!
Mizyan meneguk teh hangat dengan cepat, memilih menyudahi kegiatan makannya. Begitu membalikkan badan, tak ada sesiapa di depan meja kasir itu. Ia segera membayar bill nya dan setengah berlari menuju pintu keluar yang terbuka.
Pandangannya mengedar menyapu area parkiran. Mencoba mencari sosok wanita dengan suara familiar yang didengarnya tadi.
Mungkinkah itu?
Pandangannya terkunci pada sosok wanita berambut pendek warna coklat, memakai kaos hitam berpadu celana kulot 7/8, yang tengah berjalan menuju pintu samping kiri mobil SUV.
"Mami----" Spontan Mizyan berteriak. Antara yakin dan tak yakin, matanya menatap lurus wanita yang urung membuka pintu mobil dan mematung masih membelakanginya.
"Mami----" Kali ini ia berjalan lebih mendekat dan berbicara lebih pelan. Dadanya mendadak berdebar keras dan tubuh yang diselimuti ketegangan sebab wanita yang dipanggilnya tak jua membalikkan badan.
Hampir 15 detik lamanya ia berdiri dalam suasana tidak nyaman, salah tingkah, takut praduganya salah. Sampai akhirnya wanita yang ia kenali gestur tubuhnya itu membalikkan badan, saling berhadapan.