DALAM TAHAP REVISI
"kenapa kamu ngikutin saya terus? Kamu gak punya malu hah!! " bentak Devan .
"Aku cuma lindungi bapak dari buaya-buaya betina" ujar Dinda sambil mengedipkan matanya genit pada Devan.
"Kamu itu cuma sekretaris saya, jadi tidak usah ikut campur dengan urusan pribadi saya" ketus Devan dan pergi meninggalkan Dinda yang menatap sendu pada pria tersebut.
Dinda Rosalin gadis berumur 23 tahun , berusaha untuk mengejar cinta bosnya yang merupakan CEO di perusahaan Alvian's grub. Devan Ardiansyah pria dingin , cuek dan galak itu tidak memperdulikan Dinda yang berjuang untuk mendapatkan cintanya.
Devan tidak bisa membuka hatinya, karna mencintai seorang wanita yang bernama Asyilla istri dari sepupunya membuat dia susah untuk menerima wanita lain dalam hatinya.
Hingga suatu hari Devan terpaksa menikah dengan Dinda , karna suatu peristiwa.Dan peristiwa itu membuat rasa cinta dihati Dinda berubah menjadi rasa benci yang mendalam pada Devan.
Peristiwa apa yang membuat Dinda membenci Devan?. Dan juga membuat mereka terikat dengan pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon windanor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Dinda membuka matanya perlahan, tidak ada siapa -siapa di ruangan ini. Apa Devan meninggalkannya lagi? Apa pria itu bersama selingkuhnya itu?
Dinda menatap pintu yang terbuka, Devan, pria itu keluar membeli bubur untuk dinda.Pria tersebut tersenyum melihat Dinda sudah sadar.
"Akhirnya kamu sadar sayang, makan dulu ya " ujar Devan, membuka bungkusan bubur dan menumpahnya di mangkok.
"Kenapa masih disini? Kenapa tidak bersama selingkuhan kamu " ujar Dinda. Devan menghentikan aktivitas dan menatap Dinda.
"Dia itu adik tiri aku, bukan selingkuhan aku dan aku juga tidak menyangka dia akan mengatakan itu sama kamu, tidak ada terbesit dalam hati aku untuk selingkuh. Aku benar-benar mencintai kamu Dinda.Kamu percayakan " ujar Devan.
Dinda hanya diam, memalingkan wajahnya.
"Kalau kamu gak percaya, lihat foto ini.Ini foto pernikahan mommy aku sama papinya Lea dan di foto ini ada Lea, aku dan juga Farah, dia cuma adik tiri aku gak lebih " ujar Devan berusaha menjelaskan. Dinda menatap foto tersebut denga intens.
"Kamu percayakan? " tanya Devan, meraih tangan Dinda dan mengenggamnya. Wanita itu mengangguk pelan.
Devan tersenyum senang dan mencium kening Dinda lembut. Keningnya dia tempelkan dengan kening Dinda. Mata mereka saling bertemu dengan jarak yang begitu dekat. Hembusan napas mereka saling beradu.
"Aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi, tidak akan ada lagi air mata yang turun di mata kamu " ujar Devan. Pria itu mendekatkan bibirnya sedikit lagi bibir mereka akan menyatu tapi seseorang menganggu kegiatan mereka berdua.
"Maaf menggangu " ujar Adrian yang terlihat salah tingkah dia sempat melihat Devan hendak mencium Dinda.
"Ada apa kesini? " tanya Devan kesal.
"Saya kesini mau mengatakan, bahwa Dinda boleh pulang , dan silakan tebus resep obat di apotek rumah sakit "ujar Adrian.
" Kalau begitu saya permisi "ujar Adrian.
" Hmmmm"hanya di balas deheman oleh Devan. Devan tidak suka dengan Adrian yang menatap istrinya.
"Makan dulu ya" ujar Devan lembut. Pria itu menyuapi Dinda dengan telaten.Dia sangat mencintai Dinda lebih dari mencintai dirinya sendiri.
Dia sadar sosok Dinda sangat berpengaruh di kehidupannya, sehari tidak bersama wanita ini dia merasa hampa.
********
Lea memukul-mukul pintu, dia ingin keluar dari sini .
"Papi buka pintu nya, Lea gak mau dikunciin di kamar terus! " teriak Lea tapi tidak ada yang menyaut atau membuka pintunya. Sudah dua hari Alex mengurung Lea. Pintu akan dibuka ketika memberikan makan dan dikunci kembali.
"Sial, aku harus keluar dari sini, aku gak mau dikirim lagi ke London" ujar Lea.Tiba-tiba sebuah ide muncul di otaknya.
Dia akan kabur lewat balkon dan dengan begitu dia bisa bebas dan kembali menyusun rencana agar bisa mendapatkan Devan. Tak peduli pria itu membenci. Apapun yang dia mau harus dia dapatkan, termasuk mendapatkan kakak tirinya.
Lea melepaskan sprei dan selimut di kasur dan mengikatnya dengan kuat. Gadis itu mengobrak -abrik mencari sprei di lemari dan akhirnya dapat, dia kembali mengikatnya. Dia rasa sudah panjang Lea mengikatnya di pagar balkon.
Dia juga mengambil tasnya dan sebuah botol kecil berisi cairan yang sudah dia siapkan.Gadis itu turun dari balkon dengan sprei yang sudah dia ikat agar bisa turun dari balkon. Hap!Dia turun dengan mulus.
"Akhirnya aku bisa bebas kalau tau begini, sudah dari kemarin aku bisa kabur" ujar Lea dan lekas pergi dari tempat ini, sebelum seseorang melihatnya.
********
Mobil memasuki halaman rumah yang minimalis dan memarkirkannya disana.Devan turun dari mobil dan berlari kecil, membuka pintu mobil untuk Dinda.Dinda turun dari mobil, Devan merangkul pinggang Dinda. Dinda merasa gugup di perlakuan seperti ini , bahkan Devan terus tersenyum kearahnya.
"Ayo masuk sayang " ujar Devan membukakan pintu. Makanan sudah tersusun di meja, bi Ina yang menyiapkannya atas perintah Devan dan juga lilin dan bunga mawar yang terletak di meja.
Lantai di penuhi kelopak bunga mawar yang sengaja di bentuk Love .
"Ini apa? " tanya Dinda.
"Ini aku persiapkan untuk kamu , aku juga bisa romantis sama kamu dan aku ingin menunjukkan bahwa aku mencintai kamu " Devan mendekatkan wajah dan mencium bibir Dinda . Devan melepaskan ciuman dan menatap Dinda yang pipinya sudah memerah seperti kepiting rebus .
"Kenapa kamu gak balas ciuman aku? " tanya Devan, dia merasa mencium patung karna Dinda tak membalasnya.
"Aku gak tau cara ciuman " cicit Dinda , menahan malu.
"Sini aku ajarin " ujar Devan, kalau melajarkan Dinda tentang ini dengan senang hati dia melakukannya, tentu dia yang untung.
Devan mulai mencium Dinda, dan mengigit bibir bawah Dinda agar terbuka. Dinda mulai bisa membalas ciuman Devan walau sedikit kaku.Wanita itu sedikit kewalahan membalas ciuman Devan. Tangan pria itu meraba tubuhnya dan hendak membuka kancing baju Dinda. Tapi wanita itu menahannya.
"Aku masih belum siap " ujar Dinda.
"Iya, tidak papa aku akan menunggu, sampai kamu siap " ujar Devan.
"Kamu duduk dulu di kursi, aku mau ke toilet " ujar Devan, dengan wajah yang memerah menahan sesuatu.
**********
Lea duduk di kursi dekat pantry ,dia berada di sebuah club malam , sambil meneguk alkohol dan mengisap rokoknya. Wajahnya tak sepolos sifatnya. Lea memakai baju yang ketat dan juga kekurangan bahan.
Seorang wanita mendekat kearah Lea dan menepuk bahu gadis itu.
"Tumben kesini ada apa ? " tanya Lina, yang kerap di panggil mommy, dia seorang mucikari penjual para gadis ke lelaki hidung belang.
"Aku butuh uang, tolong carikan om-om dong mommy, tapi dengan tarif 60 juta sekali main" ujar Lea. Jangan kaget Lea sudah tidak perawan semenjak SMA karna pacarnya yang dulu sudah memperawaninya.
"Ada, namanya om Yudha , dia lagi cari gadis yang masih muda " ujar Lina.
"Ok, aku mau mommy" ujar Lea, setidaknya dia mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhannya.
Bersambung...