Berawal dari tidak sengaja! hingga timbullah rasa cinta!
Takdir siapa yang tahu, setelah 3 tahun pernikahan ia baru mengetahui bahwa bukan dirinyalah istri dari Rico Bagaskara, lelaki yang berusia 6 tahun lebih tua darinya ternyata telah mengkhianatinya dengan menikah secara diam-diam dengan wanita idaman lainnya.
hati Arini begitu rapuh, namun Tuhan selalu merencanakan yang terbaik untuk dirinya, di tengah kehancuran hatinya hadir sosok Seto Pramana, pria muda tampan dan di gilai para wanita itu diam- diam menaruh perhatian padanya.
berawal dari tidak sengaja, hingga timbullah rasa cinta.
"istrimu Adalah Pilihanku." gumam Seto dengan keinginan yang kuat !
akankah rumah tangga Arini berakhir?
akankah, penyesalan itu menghampiri Rico?
ikuti kisah selengkapnya.
warning.!!! 📢📢📢
cerita ini hanyalah fiktif, tidak bermaksud menyinggung pihak manapun di dalamnya mungkin ada beberapa cerita 21+ jadi bijaklah dalam membaca.
berikan aku saran kritik yang membangun, bukan menyudutkan !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadira indeer ꧁️βӀօօժʂ꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAP. 34.
Pagi ini cuaca begitu mendung, suara rintikan air hujan samar-samar terdengar di telinga Rico yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terbalut selimut dengan pakainya semalam, ia mengucek kedua Indra penglihatannya itu matanya tampak memerah karena ia kurang tidur semalam.
Ia menguap, rasanya dirinya enggan untuk bangun, hawa dingin yang menyelimuti pagi ini membuatnya ingin bermalas-malasan. Ia kemudian beranjak dengan menguap lagi mencoba mengabaikan rasa Kantuknya.
Saat hendak keluar kamar untuk menuju dapur sayup-sayup terdengar suara Arini dan Clara yang sedang adu mulut, hal itu akhirnya membuat rasa kantuknya seketika menghilang.
Telinganya ia pertajam untuk lebih jelas mendengarkan dari mana sumber suara itu berasal. Ya..suara itu berasal dari lantai bawah tepatnya berada di ruang tamu.
"Kau sengaja kan membuat mas Rico tak pulang ke rumahku tadi malam dan mengabaikan panggilanku!" teriak Clara dengan amarah yang menggebu.
Arini hanya terlihat bersedekap dada, rasanya dalam hati ia mentertawakan Clara, bagaimana tidak wanita itu yang merebut Rico darinya tapi sekarang dia berlagak seolah dirinya adalah korban, sedangkan Arini adalah pelakornya.
"Bercermin dahulu kalau mau berteriak padaku. tanyakan sendiri pada suamimu kenapa semalam tidak pulang, kenapa kau takut? Jika mas Rico lebih memilih bermalam di sini di bandingkan bermalam di rumahmu?! kata Arini dengan santai.
"Clara...!!" suara Rico yang berteriak memanggil Clara dari lantai atas membuat rubah licik itu segera mendongak, melihat suaminya berada di atas sana ia segera ingin menyusul namun Clara menghentikan langkahnya saat melihat Rico yang sedang berjalan menuju kebawah.
Melihat keberadaan Rico yang sedang menuju ke lantai bawah, Arini hanya diam saja dirinya sudah bisa menebak akan ada drama dari kedua pasangan suami istri itu.
"Clara.. untuk apa kamu menyusulku kemari? Kau ini buat Malu saja berteriak di rumah Arini, bagaimana kalau teriakanmu membuat tetanggaku mendengarnya, dan membangunkan Alana?!" kesal Rico.
"Kenapa kau malah memarahiku mas.. seharusnya aku yang marah karena semalam kamu tidak pulang ke rumah, bahkan kau mengabaikan panggilanku."
"Tidak seharusnya kau berteriak disini, Arini juga istriku jadi wajar kalau aku menginap.disini!" hardik Rico.
Arini bersedap dada, "lanjutkan saja drama kalian, sungguh ocehan kalian sangat tidak berfaedah!" ketus Arini seraya pergi meninggalkan keduanya menuju lantai atas. tujuan wanita itu tak lain adalah kamar, pagi yang dingin juga membuatnya ingin membalut tubuhnya kembali dalam selimut.
Rico terkesiap mendengar ucapan Arini " Rin..," ia mencoba memanggil istri tuanya itu namun Arini tak menghiraukan.
"Jika kalian ingin bertengkar sebaiknya jangan di rumahku. Di sini bukan tempat untuk menampung drama rumah tangga kalian." hardik Arini kemudian ia benar-benar meninggalkan mereka berdua.
Setelah sampai di kamar Arini segera merebahkan tubuhnya di samping Alana, gadis kecil itu masih lelap dalam tidurnya, ia menarik selimut kemudian ikut memejamkan matanya, sudah lelah baginya menanggapi Rico suaminya, saatnya kini ia acuh padanya karena rasa sakit yang ditorehkan lelaki itu amatlah besar.
Arini hanya manusia biasa yang juga bisa merasakan sakit, patah hati, kecewa, terluka dan dirinya juga menyadari membalas perselingkuhan Rico bukanlah solusi namun mengobati hatinya dengan cara demikian juga tidak ada salahnya, tiada api tanpa ada asap itulah pepatah yang menggambarkan isi hati Arini.
panggilan untuk Rico yang selalu pah kini dirinya ganti dengan mas, seolah jarak dan kerenggangan terlihat begitu jelas.
Setelah Arini meninggalkannya tadi, rico menyuruh Clara untuk pulang, tentunya dengan seribu drama yang menguras tenaga. Kini Rico duduk di kursi sofa. Dia melihat ke atas kamar Arini, Rico menaiki anak tangga menuju kamar. Dia membuka pintu kamar Arini.
Terlihat Arini yang kembali tidur dengan mendekap sang buah hati. Rico ikut berbaring di samping Arini memeluk istrinya itu dari belakang.
Rico hendak memejamkan matanya, namun ponsel Arini berdering. Rico begitu penasaran siapa yang menghubungi istrinya itu. Rico hendak beranjak dari kasur, ingin memeriksa ponsel Arini yang berada di atas meja rias, Arini segera terbangun dari tidurnya mencegah Rico yang hendak mengambil ponsel miliknya.
"Mas.. biar aku yang mengangkat panggilan di ponselku, kau kembalilah tidur!" Sesungguhnya jantung Arini ingin keluar dari tempatnya, dirinya khawatir jika yang menghubunginya adalah Seto, akan menjadi masalah pastinya.
"Ya sudah..aku pamit ke rumah Clara ya? sepatu kerjaku masih tertinggal di sana."
Setelah mengatakan itu Rico keluar dari kamar Arini, wanita itu terpaku saat tubuh suaminya sudah lenyap di balik pintu. Dirinya sedikit riang tadi saat Rico memeluknya, Arini mengira Rico akan membujuknya agar tak marah lagi, namun Arini merasa itu adalah khayalannya, tetap saja Rico lebih memikirkan Clara. Alasan saja sepatunya disana padahal sepatu kerja yang lain juga masih ada.
Di lain tempat Seto mengerutkan kening, saat Arini tidak menjawab panggilannya, sebenarnya hari ini Seto ingin mengajak Arini dan Alana berlibur. Sebelum esok hari lelaki itu melakukan perjalanan bisnis dua hari ke luar kota.
Ia membuka pintu mobilnya, Seto masuk dan duduk di samping Bimo yang siap mengemudi.
"Kita kemana dulu bos Se..?" tanya Bimo.
"Ke kantor Dio, aku mau survei langsung disana." Jawab Seto.
Bimo langsung melajukan mobilnya menuju kantor Dio, dia ingin langsung melihat bagaimana kondisi dari kantor sahabatnya itu.
Mobil telah sampai di kantor bertuliskan DKF, Seto dan Bimo turun dari dalam mobil, satpam menunduk melihat kedatangan dua pengusaha muda itu.
Karyawan wanita yang melihat kedatangan mereka berdua sudah pasti bergosip akan ketampanan dan kemewahan yang melekat pada diri Seto maupun Bimo.
Seto dan Bimo telah di sambut oleh sahabatnya. Dio mempersilahkan Seto dan Bimo masuk kedalam ruangannya.
"Bro..apa benar kata Bimo kau sedang menjalin hubungan dengan wanita?" tanya Dio yang mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Betul, pacar bos Se.. masih istri orang malah." sahut Bimo
"apa? Istri orang.." kaget Dio.
Namun Seto hanya melirik keduanya, ia seolah acuh dengan pertanyaan Dio dan mulut embernya Bimo.
"Seto.. titel Casanovamu kau pertaruhkan dengan menjadi seorang pebinor?" tanya Dio.
"Dio... Jangan harap kamu bisa menggantikan posisi Casanova bos Se..ilmumu masih cetek dan akan sulit mengimbanginya." ujar Bimo.
Seto melempar bantal sofa ke wajah Bimo. sahabatnya itu senang sekali menggoda dirinya. "Bedebah kau Bim.." Kata Seto di ikuti gelak tawanya.
Tentu saja Dio tahu mengenai asmara Seto saat ini, siapa lagi kalau bukan Bimo yang memberi tahu, Seto, Bimo, dan Dio berteman lama sejak dulu. Namun. Bedanya Bimo berteman dengan Dio sejak mereka di bangku SMA. sedangkan Seto dan Dio berteman sejak masa kanak-kanak.
"Urungkan niatmu untuk membuka usaha di bidang kuliner, aku punya penawaran yang lebih menarik untukmu!" kata Seto serius.
"Apa itu?" tanya Dio penasaran.
Seto melirik Bimo untuk menjelaskan, sebelum itu Dio meminta sekretarisnya menyiapkan minuman untuk kedua tamunya..
Bersambung....
halo hai.. sebagai uang parkir aku minta dukungan like komen rate dan vote biar aku makin giat update 🥳
semakin kalian baper akan ceritaku ini semakin aku semangat melanjutkannya 😉