Bella sudah berusia dua puluh delapan. Ia masih belum memikirkan soal pernikahan dengan siapapun. Namun, ketika adiknya dilamar orang lain ia dijodohkan dengan seorang yang bahkan tak ia kenal dan sama sekali bukan tipenya.
Bella si perfeksionis harus menikah dengan Aska si urakan. Lantas kehidupan Bella berubah drastis setelah pernikahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Etika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Pacar
Jika ditanya hari apa yang paling melelahkan, jawabannya adalah hari ini. Bella mengantri cukup lama di bank dan membawa seamplop cokelat uang Ringgit kepada Danang. Danang menyuruhnya untuk membagikan seamolop besar uang Ringgit menjadi seratus amplop yang diisi berapa ringgit terserah Bella.
Bella membuang napas dan bergegas menuju kamar hotel Danang untuk melakukan tugasnya. Karena itu instruksi atasannya. Bella melirik pintu di sebelah kamar Danang sebelum masuk. Sepertinya Aska ada di dalam. Mengangkat bahu, Bella langsung masuk dan mengerjakan tugasnya.
Tiba-tiba pintu hotel terketuk. Bella segera bergegas membukanya. Matanya melebar ketika melihat Aska di depan pintu.
" Ngapain kamu di sini?" tanyanya jutek.
Bella memperlihatkan uang-uang di atas meja kepada Aska.
" Apa itu?"
" Ini buat confrence ntar malem."
" Buat?"
" Wartawan."
Aska menerobos masuk, " Danang di mana?"
" Di luar. Tadi kita lagi meeting, inget amplop buat media ketinggalan. Mau nggak mau harus bikin lagi."
Aska duduk di sofa tamu, " kamu nggak ngapa-ngapain kan sama dia?"
Bella terkekeh, " kamu cemburu?"
" Enggak terlalu."
" Terus apa dong?"
Aska tak menjawab. Ia malah membantu Bella untuk menyelesaikan pekerjaan yang menyebalkan ini.
" Habis ini kamu mau kemana?"
" Aku masih ada kerjaan lagi. Mungkin sampai malem. Selesai confrence baru balik ke hotel."
" Jam?"
" Confrence mulai jam tujuh. Kemungkinan jam sembilan selesai."
Aska menarik Bella dalam pelukan, " kamu hati-hati."
Bella menarik diri dari pelukan Aska. Ia kemudian berdiri, membawa seratus amplop kecil yang dimasukkan ke dalam amplop cokelet besar tadi, kemudian memberi tangannya untuk membantu Aska berdiri. Aska meraihnya dan ikut berdiri.
" Ka, kalau kamu mau jalan-jalan, boleh banget. Sekalian liat-liat mode di Malaysia kan?"
Aska tersenyum kemudian mencium puncak kepala Bella. Mereka berjalan berdampingan sampai depan pintu keluar, kemudian berpisah.
Sesampainya di kafe, Danang masih melalukan panggilan video. Namun bedanya kali ini bukan dengan distributor, melainkan dengan istri dan anak-anaknya.
" Eh, udah selesai, Bel?" Danang bertanya, mengabaikan pertanyaan anak pertamanya, " Kayla, udah dulu ya. Papa kerja dulu. Janji, nanti Papa beliin oleh-oleh buat kamu, Mama sama Dedek."
Sambungan terputus. Danang mengecek amplop cokelat besar yang diletakkan di atas meja oleh Bella, membuka salah satu amplop kecil, menghitung isinya dan tersenyum puas.
" Bel, kayaknya jadwal confrence perlu dirubah."
" Maksudnya?"
" Karena saya sudah pesan tiket ke Indonesia besok pagi jam delapan, jadi saya berniat buat kasih kamu dan suami waktu buat berduaan nanti malam."
Bella masih tak mengerti arah pembicaraan Danang.
" Confrence dimajukan dari jam tiga sampai jam lima, ya. Setelah itu, kamu boleh jalan-jalan sama suami."
Bella terkejut. Ia melotot tak percaya kemudian tersenyum. Meskipun itu bukan senyum yang memunjukkan kebahagiaan, tapi justru kekesalan, karena artinya ia harus mengirim revisi email undangan itu sekali lagi.
" Kamu tahu kan apa yang harus dilakuin sekarang?"
Bella paham. Ia kembali berkutat dengan laptop dan mengirim ulang semua email. Membalas satu-per satu email balasan dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua.
" Ayo kita ke lokasi. Dini sudah stand by di sana."
" Dini?"
" Semalam saya minta bantuan Dini untuk handle aula hotel. Dia berangkat jam tujuh, sampai hotel jam setengah sepuluhan dan langsung saya arahkan untuk istirahat sampai jam dua belas, kemudian handle ruangan."
Bella mengangguk paham. Mengapa Danang baru bilang jika Dini ada di sini?
***
Aska mencari angin. Dia keluar hotel dan naik taksi untuk pergi kemana saja. Pikirannya ngebul jika terlalu lama di kamar hotel yang membosankan.
Taksi berhenti di salah satu pusat perbelajnaan terbesar di tengah kota Kuala Lumpur. Gedung yang entah berapa lantai itu berdiri kokoh di depan Aska. Lelaki itu masuk setelah memberi beberapa Ringgit kepada Sopir taksi yang sudah cukup tua.
" Ambil aja, Pak kembaliannya."
Aska tersenyum ketika melihat si sopir juga tersenyum dan mengucapkan banyak terimakasih.
" Habis ini mau kemana? Kalau nggak ada tumpangan mending tungguin saya di sini."
Si Sopir tampak berpikir, barangkali mencerna ucapan Aska yang menggunakan Bahasa Indonesia.
" Baiklah. Nanti saya tunggu."
Aska berjalan menjauh, meninggalkan taksi. Barangkali berjalan-jalan di sini dapat membuat pikirannya kembali jernih. Masuk, ia melewati banyak toko pakaian mulai dari merk terkenal yang juga ada di Indonesia hingga merk lokal. Seperti di Indonesia, di Malaysia rupanya tak sedikit toko yang menjual pakaian muslim.
Aska masuk ke salah satu toko pakaian merk lokal dan mengamati polanya. Ia menyentuh bahan-bahan yang digunakan serta melirik harganya. Setelah mendapat sesuatu yang ia inginkan, Aska tertarik dengan setelan blus beserta celana bahan warna krem. Ia teringat Bella yang sering sekali memakai blus dan celana bahan. Ia mendekati setelan itu kemudian menyentuhnya. Ia bayangkan jika Bella memakainya, pasti cantik.
Aska mengambil itu dan langsung membayarnya. Kemudian tak sengaja mampir ke toko perhiasan. Aska belum pernah membelikan Bella apapun selama ini, akhirnya ia membeli kalung emas putih, satu-satunya benda yang bisa ia perkirakan akan cukup di leher istrinya.
" Aska!"
Aska menoleh ketika pundaknya disentuh seseorang. Beberapa saat, ia mengernyit mengingat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.
" Mutia?"
Perempuan itu tersenyum dan ingin memeluk Aska, namun Aska segera menghindar. Mutia adalah mantan pacarnya sebelum Aska bertemu dengan Diana. Putusnya mereka karena Mutia ketahuan selingkuh dengan pria lain. Parahnya, bukan hanya selingkuh, rupanya Mutia punya kerja sampingan sebagai orang yang sering disewa om-om.
Meski Aska brengsek, ia tak sebodoh itu dalam memilih perempuan.
" Ka, apa kabar?" Mutia bertanya, membuka percakapan.
" Baik. Kalau kamu?"
" As you see. I'm okay. Tapi, ya beginilah kondisiku sekarang."
Aska meneliti penampilan Mutia dari atas hingga bawah. Rambutnya yang dulu ikal sepinggang kini lurus dan hanya sepunggung. Wajahnya tampak lebih tirus, hidungnya jauh lebih bangir, bibirnya penuh, kulit putihnya berubah kecokelatan. Pakaiannya tak tampak seperti perepuan dua puluh sembilan tahun. Ia terlihat seperti anak awal dua puluh tahunan. Apalagi tas branded bawaannya. Aska tahu kisaran berapa harganya, karena ia pernah mengantar Ibunya beli tas dengan merk yang sama dengan Mutia.
" Keliatannya kamu sukses sekarang," Aska hanya menebak.
" Kamu bisa aja. Aku kemarin baru launching restoran di Penang."
Aska mengangguk, " wah, selamat ya!"
" Kamu mau beli perhiasan buat siapa?"
" Oh, aku mau beli buat istri."
" Kamu udah nikah?"
" Maaf nggak ngundang. Karena pernikahannya dadakan dan aku nggak punya kontak kamu," Aska jujur.
Mutia tertawa, " iya ya. Waktu itu kan kamu blok nomor aku."
Aska jadi kesal Mutia membahas soal itu. Mengingat pernah memergoki Mutia ciuman dengan om-om membuatnya jijik. Lelaki mana mau perempuan murahan seperti itu? Saat itu, Aska langsung memblok nomor Mutia dan tak ingin perempuan itu menghubunginya lagi.
" Gimana kalau kita ngobrolnya di tempat makan. Nggak enak kan ngobrol sambil berdiri begini. Biar aku yang traktir. Anggap aja sebagai permintaan maaf buat waktu itu."
***
sukses
.....semangat