Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Curiga
Belum lama Adnan masuk ke kamar mandi, tiba-tiba suara dering ponsel yang nyaring terdengar memecah keheningan pagi itu. Bunyinya datang dari arah meja ruang tamu, tempat Adnan biasanya meletakkan perangkatnya saat sedang beristirahat.
Gladys yang masih sibuk mengaduk sayur di wajan sejenak berhenti bergerak, melirik ke arah suara itu dengan sedikit keraguan. Mengingat Adnan sedang mandi dan tak mungkin menjawabnya saat ini, dia memutuskan untuk segera menghampiri agar panggilan penting itu tidak terputus begitu saja.
Langkahnya pelan mendekati meja, lalu dia meraih ponsel itu dengan hati-hati. Di layar yang menyala terang, tertulis nama penelepon, Liza. Nama yang asing sama sekali bagi Gladys, tak pernah sekalipun ia mendengarnya disebut oleh Adnan selama ini. Rasa penasaran menyelinap di hatinya, namun ia tetap mengangkat panggilan itu dengan sopan dan suara yang dijaga tetap rendah, sesuai dengan samaran yang sudah disepakati.
"Halo... Selamat pagi," ucap Gladys lembut, berusaha terdengar seperti pemuda yang tenang.
Namun suara wanita yang terdengar dari seberang sana terdengar tegas, waspada, dan penuh rasa ingin tahu yang tajam. "Maaf, siapa ini? Kenapa ponsel Adnan ada di tanganmu? Di mana Adnan sekarang?"
Jantung Gladys seketika berdegup kencang karena terkejut oleh serangkaian pertanyaan itu. Ia bisa merasakan kecurigaan yang kuat menyelimuti nada bicara wanita bernama Liza itu. Panik mulai merayap cepat di dadanya, dia tak boleh membiarkan identitas aslinya terbongkar, apalagi sampai memicu kesalahpahaman yang bisa membahayakan keduanya.
"Ah... jangan khawatir dulu," jawab Gladys cepat, berusaha menenangkan suaranya agar tetap stabil. "Adnan sedang mandi sekarang, jadi tidak bisa mengangkat teleponnya sendiri. Aku... Aku sepupunya. Aku lagi tinggal sementara di rumahnya."
Saat kata "sepupu" meluncur dari bibirnya, Gladys berdoa dalam hati agar penjelasan itu cukup masuk akal dan meyakinkan. Ia menahan napas sejenak menunggu reaksi dari seberang sana.
"Sepupunya?" ulang Liza pelan, nada suaranya perlahan melunak meski masih tersisa sedikit keraguan. "Baiklah... kalau begitu tolong sampaikan pesanku. Bilang padanya agar segera meneleponku kembali begitu dia sudah selesai mandi. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya."
"Tentu saja, akan kusampaikan nanti," jawab Gladys lega saat menyadari Liza sudah tidak lagi curiga. Tak lama kemudian, suara sambungan terputus dan layar ponsel kembali gelap. Gladys mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat, meletakkan ponsel itu kembali ke meja dengan perasaan lega karena berhasil melewati momen canggung itu dengan selamat.
Tak lama berselang, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar jelas. Adnan melangkah keluar dengan pakaian yang rapi dan bersih, rambutnya masih sedikit basah namun sudah tersisir rapi. Wajahnya terlihat lebih segar, meski bayangan rasa malu yang mendalam masih jelas terlihat dari cara ia menunduk dan menghindari tatapan mata Gladys. Ia berjalan pelan mendekati ruang tengah, tak berani mengangkat wajahnya lebih dulu.
Gladys segera menyambutnya dengan senyum tenang, menunjuk ke arah ponsel yang masih tergeletak di meja. "Tadi ada telepon masuk saat kau sedang di kamar mandi," katanya pelan namun jelas. "Namanya Liza. Dia memintamu meneleponnya kembali segera setelah kau selesai. Dan... aku sudah memberitahunya kalau aku adalah sepupumu, Genta. Aku takut dia salah paham atau bertanya-tanya melihat orang lain yang mengangkat teleponmu."
Adnan mengangguk pelan mendengar penjelasan itu, tangannya terulur perlahan meraih ponsel itu. "Terima kasih... keputusanmu sudah tepat sekali," ucapnya pelan, namun matanya masih enggan menatap lurus ke arah Gladys. Ia membalikkan badan sedikit, seolah sibuk menatap layar ponselnya, padahal sebenarnya ia sedang berjuang keras menahan rasa malu yang masih membara di dadanya.
Setiap kali bayangan mimpi tadi pagi terlintas kembali di benaknya, sentuhan lembut, kedekatan yang begitu mesra, dan segala hal yang tak seharusnya ia bayangkan, wajahnya kembali terasa panas membara. Ia merasa sangat bersalah, seolah-olah ia telah mengkhianati kepercayaan Gladys yang tulus menaruh harapan padanya hanya demi hasrat sesaat dalam mimpi yang konyol itu. Ia takut jika ia menatap mata wanita itu sedikit saja, Gladys akan bisa membaca segala isi pikiran kotornya yang tersembunyi itu.
Gladys menyadari sikap Adnan yang aneh dan canggung itu, namun ia memilih diam dan tidak bertanya lebih lanjut. Ia hanya tersenyum tipis lalu kembali melangkah menuju dapur untuk menyajikan makanan yang sudah matang, membiarkan Adnan menenangkan dirinya sendiri sejenak.
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru