novel ini sedang direvisi.
Menceritakan kisah Nana yang tumbuh di tengah keluarga yang berantakan.
Membuatnya hidup tanpa aturan, menjadi gadis yang liar mencari kebahagian.
Namun, suatu hari Nana harus menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki Ibu tiri. Siapa sangka Nana yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu, kini mendapatkannya dari wanita simpanan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRAGEDI KELAM AMARA
"Bajingan, apa yang lo mau hah. Habis lo sama gue."
"Tenang, lo cukup dateng seorang diri ke alamat yang gue kirim. Ingat jangan coba-coba lo lapor polisi atau dia mati. Satu lagi, ponsel lo selalu dalam pengawasan gue" ucap Aksen seraya menarik rambut Amara.
"Aaakhh," pekik Amara.
Setelah itu Aksen mematikan ponselnya, sedangkan Lian sedang berfikir dan sekarang Lian sudah mendapatkan ide.
Lian mengambil pulpen dan kertas lalu menulis surat untuk gengnya.
Lian memberikan surat itu pada asistennya untuk diantarkan kealamat Randy, tentunya Lian tidak lupa untuk memberikan alamat Randy.
Setelah itu Lian bergegas pergi untuk menyelamatkan Amara, Lian berjalan dengan begitu cepat tanpa memperdulikan karyawannya yang menyapa.
Ratna yang sedang berjalan beriingan dengan jajaran direksi dapat melihat Lian yang sepertinya sedang sangat marah.
Lalu Ratna mengambil ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.
_____________
Selvi sudah tiba di kediaman Melinda, lalu Selvi segera masuk ke dalam rumah Melinda.
Selvi menaiki tangga menuju kekamar Melinda.
Dan benar saja seperti dugaan Selvi kalau saat ini Melinda sedang berada di dalam kamarnya.
Selvi memeluk sahabatnya itu dan mengusap punggungnya, "Tenanglah dan jangan menyerah untuk mendapatkan cintanya kembali."
Melinda melepaskan pelukannya dan berkata, "Entahlah Sel, aku rasa ini udah tamat, udah berakhir aku dan dia."
"Tenang dulu, jangan berfikiran yang tidak-tidak. Itu hanya akan menambah beban pikiran saja," ucap Selvi.
Selvi meletakan berkas-berkas yang tadi dibawanya dan meletakkan diatas nakas. Melinda melihat itu dan bertanya, "Apa itu Sel?"
"Oh, ini berkas penting yang harus kamu tandatangani. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat karena kamu terlihat tidak baik-baik saja," jawab Selvi.
"Tidak apa, berikan! Biar aku tanda tangani sekarang saja. Terimakasih Sel sudah membantu pekerjaanku disaat aku sedang rapuh seperti ini," ucap Melinda seraya memberi tanda tangannya tanpa membaca lebih dulu isi berkas itu.
Selvi memasukan berkasnya kembali kedalam tasnya. Setelah itu Selvi pamit untuk pergi kembali bekerja.
_______________
"Braaaakkkk," Lian menobrak pintu rumah tua itu.
"Akseeen," teriak Lian dengan wajah yang merah padam.
Anak buah aksen maju untuk menghajar Lian, dan Lian berhasil mengalahkannya.
Saat anak buah aksen maju satu persatu dengan mudah Lian melumpuhkan lawannya.
"Bugh...bugh," suara tinju Lian yang membabi buta.
Saat Lian selesai menghajar lawannya yang sudah tak berdaya itu, Lian melepaskannya dan mulai berjalan kearah pintu yang Lian duga untuk menyembunyikan Amara.
Lian berjalan dan Lian dapat dengan mudah membuka pintu yang tak terkunci itu, Lian merasakan darahnya mendidih kala dirinya melihat perbuatan tak senonoh yang dilakukan oleh Aksen dan beberapa temannya didalam kamar.
"Bang*at," teriak Lian.
Lian tidak dapat menerima perlakuan kasar dan tidak sopan dari siapapun untuk Amara.
Dan saat Lian membuka pintu tersebut, Lian melihat dua orang yang sedang memaksa Amara untuk mengulum kejantanan Aksen.
Lian berlari dan langsung meninju Aksen dengan begitu kencang.
Kedua temannya itu yang sedang memegangi Amara beralih untuk membantu Aksen yang sedang dihajar oleh Lian.
"SETAN, BANG*AT, MAMPUS LO...," ucap Lian yang sedang meninju Aksen.
Kedua teman Aksen tak diam saja, salah satu dari mereka mengambil kursi dan dipukulkannya ke punggung Lian.
Amara mengalami trauma, dirinya duduk dengan memeluk lututnya, penampilan sudah berantakan.
Dirinya polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi dirinya.
wajahnya lebam karena sempat menolak apa yang diperintahkan oleh Aksen.
Amara melihat Lian yang sedang dihajar habis-habisan oleh kedua anak buah Aksen semakin membuat Amara mengalami tekanan batin.
Tatapan matanya kosong, jiwanya terguncang.
Aksen melihat Lian sudah tak berdaya karena dikeroyok oleh kedua temannya, lalu Aksen mengambil balok kayu yang tergeletak.
Aksen siap mengayunkan balok itu ke kepala Lian, beruntung belum sempat Aksen memukulkannya sudah datang polisi dan beberapa orang-orang Ratna.
Aksen dan teman-temannya sudah dibekuk dan Lian segera melepaskan jasnya untuk menutupi tubuh polos Amara.
Lian mememeluk dan menangisi keadaan Amara. Amara yang dengan tatapan kosong dan tak merespon Lian.
Lian melihat darah mengalir dari **** ***** Amara. Ya, Amara mengalami keguguran.
Perasaan Lian sangat hancur melihat gadis yang disayanginya mengalami hal seperti itu.
Orang-orang Ratna segera membawa Amara dan Lian kerumah sakit.
___________
"Tok...tok...tok,"
"Masuk...,"
Kemudian seseorang membuka pintu ruangan Brian. Ia adalah Egi, Egi mengantarkan ponsel baru untuk Brian.
Brian mengatakan pada Egi untuk menyiapkan perceraiannya dengan Melinda.
Egi mengangguk setelah itu Egi kembali kepekerjaannya dan Brian pergi menyusul Amara kekampusnya.
Sesampainya di kampus Brian melihat Tara yang sedang berjalan seorang diri.
"Loh. Gue kira Mara dah balik," kata Tara yang melihat Brian berada didepannya.
"Tadi saya ke kost juga dia nggak ada, duh kemana anak ini. Bikin khawatir saja," ujar Brian.
______________
Hari-hari sudah Brian lalui tanpa mengetahui keberadaan Amara, dirinya juga sudah mendapatkan bukti kalau anak yang berada didalam kandungan Melinda bukanlah anaknya.
Brian menceraikan Melinda setelah hasil tes DNA keluar.
Sekarang Melinda menginginkan Bima untuk bertanggung jawab sebagai ayah biologis anak yang berada didalam kandungannya.
Brian kembali ke apartemennya, tetapi dirinya merasa hampa dan sunyi.
"Kamu dimana sayang?" gumam Brian yang sedang menatap foto Amara.
"Apakah begini caramu, kamu izinkan aku menemukanmu lalu kamu menghilang begitu saja?"
_____________
Melinda memarkirkan mobilnya di parkiran Apartemen Bima, langkahnya cepat ingin segera sampai.
Melinda menekan bel dan Bima membukakannya, setelah melihat siapa yang datang Bima hendak menutup kembali pintu itu.
Melinda mendorong pintu hingga dirinya berhasil masuk.
Melinda melihat Selvi sedang menuangkan minuman beralkohol untuk Bima.
Ya, Bima dan Selvi sedang merayakan keberhasilannya.
"Apa-apaan ini, apa hubunganmu dengan laki-laki ini?" tanya Melinda pada Selvi.
"Aku...dan dia?" tanya Selvi dengan telunjuk yang menunjuk dirinya dan Bima.
Setelah itu Selvi berjalan dan masuk kedalam pelukan Bima.
"Aku adalah kekasihnya," ucap Selvi, kemudian Selvi dan Bima manautkan bibirnya didepan Melinda.
"Kalian menipuku?" tanya melinda dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kamu harus bertanggung jawab," ucap Melinda dengan mendorong tubuh Bima dan memukuli dada bidang Bima.
Bima mengambil tangan Melinda agar berhenti memukulinya, "Tanggung jawab? Apa yang perlu harus aku tanggung jawabi?"
"Aku hamil anakmu bodoh,"
"Apa kau yakin itu adalah anak Bima?" ucap Selvi yang sedang menggenggam beberpa lembar foto Melinda dengan pria lain selain Bima.
"Apa ini, konspirasi apalagi ini, kalian sungguh luar biasa."
"Aku beri tahu. Malam itu dibali setelah kau mabuk sesungguhnya bukan aku yang menidurimu, jadi itu bukan anakku. Silahkan cari pria itu yang berada didalam foto untuk kau mintai pertanggung jawabannya."
Melinda merasa kalau hatinya tertusuk oleh seribu jarum. Mengetahui siapa Sahabatnya dan apa yang telah dilakukannya dengan kekasihnya.
Melinda berlari keluar dari apartemen Bima, sedangkan Selvi dan Bima terdengar menertawakan Melinda.
Bersambung.
Terimakasih kak sudah membaca.
soalnya ini kenapa tiba2 si nana meninggal? trus melinda sakit? sama amara berhubungan sma brian? dan brian tiba2 udah cerai sma melinda?
ini apa gue yang ngelengkah2 bacanya apa gimna sii😭
tapi perasaan gue liat ulang kagak salah bacanya🥲