"Saya mohon menikah lah dengan putri saya! Putri saya sangat mencintai nak Tomi. Waktu saya tidak lama lagi, dan saya akan pergi dengan tenang jika sonia telah menikah." Tangis Sonia semakin pecah mendengar permintaan Daddy-nya sedang kritis di rumah sakit, kepada pria yang sudah setahun terakhir dicintainya secara diam-diam. Ya, diam-diam, sebab Sonia tidak pernah mengutarakan perasaannya terhadap pria itu kepada siapapun, termasuk pada Daddy-nya.
Sonia memang sangat mencintai pria yang merupakan bosnya tersebut, akan tetapi Sonia juga tidak ingin menikah dengan cara seperti itu. Ia ingin berusaha menaklukkan hati Pria bernama Tomi tersebut tanpa permintaan atau paksaan dari pihak manapun. Namun kondisi Daddy-nya yang sedang sekarat membuat Sonia tak tega untuk banyak berkata-kata, apalagi untuk menolak.
Akankah pernikahan Sonia berjalan layaknya pernikahan bahagia pada umumnya, atau justru kandas ditengah jalan, mengingat Tomi tidak memiliki perasaan apapun terhadap Sonia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
Permintaan Sonia tadi terabaikan begitu saja. Sonia memilih gegas turun dari mobil Abil sebelum kakak sepupunya itu menanyakan lebih banyak hal lagi yang berhubungan dengan kedatangan suaminya semalam.
Tanpa diketahui oleh Sonia, rupanya Abil memang tak ingin membahas tentang kedatangan Tomi semalam, karena faktanya ia belum berniat mengembalikan Sonia pada Suaminya. Demi meyakinkan hatinya jika Tomi benar-benar mencintai dan menginginkan adiknya, biarlah saat ini ia terlihat buruk di mata Sonia, begitu pikir Abil.
Setiba di kamarnya, Sonia mencari keberadaan ponsel baru yang semalam diberikan oleh Tomi untuknya. Ya, semalam sebelum pergi Tomi memberikan ponsel baru pada sang istri. Ia yakin saat ini ponsel Sonia berada ditangan Abil, makanya selama ini panggilannya tidak pernah tersambung.
Sonia mengeluarkan ponsel pemberian sang suami dari dalam lemari. Sebelum melakukan panggilan telepon Sonia memastikan pintu kamar telah terkunci. Ia tidak ingin sampai ketahuan oleh ART sedang teleponan dengan Tomi. Bisa dipastikan art akan mengadukannya pada Abil.
Baru dua kali berdering, panggilan Sonia langsung tersambung.
"Halo, sayang." Sebutan sayang yang terucap dari mulut Tomi dari seberang sana mampu membuat bibir Sonia keluh untuk waktu yang cukup lama.
"Kamu baik-baik saja kan, sayang?." Tanya Tomi saat tak mendengar suara Sonia.
"Aku baik-baik saja, mas. Tadi mas Abil dan mbak Yuli mengantarku ke dokter kandungan."
"Lalu bagaimana hasilnya, sayang? Apa kamu benar-benar hamil?." Potong Tomi yang tidak sabaran.
"Aku beneran hamil, mas." Sonia mengangguk, walaupun ia tahu ekspresinya saat ini tak dapat dilihat oleh Tomi.
Tanpa diketahui oleh Sonia, kini sudut mata Tomi telah basah oleh air mata haru. Ia mengusap sudut matanya dan berkata.
"Bersabarlah sebentar lagi, Sonia, Mas pasti akan segera membawamu kembali! Kita akan hidup bahagia bersama calon anak kita, istriku." Tomi berusaha meyakinkan Sonia bahwa ia akan segera menjemput dan membawanya pulang ke tempatnya seharusnya berada, yakni di sisi suaminya.
"Aku pasti akan menunggumu, mas." Jawab Sonia dengan penuh kesungguhan. Ya, jangankan menunggu sebentar lagi, sampai kapanpun Sonia tetap akan menunggu kedatangan suaminya untuk menjemputnya.
"Non...Nona Sonia....Buka pintunya Nona! Bibi ingin mengantarkan segelas susu khusus ibu hamil untuk Nona Sonia." Ujar art dari balik pintu.
Sonia langsung pamit menyudahi panggilannya saat mendengar suara art dari balik pintu kamarnya.
"Iya bi." Sonia beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Sonia sengaja membuka pintu kamar lebar-lebar agar tak memancing kecurigaan art.
"Ini susunya, Non." Bibi masuk ke kamar dan meletakkan gelas susu tersebut di atas nakas.
"Terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Non."
Baru beberapa saat art pamit hendak kembali ke dapur, Sonia kembali mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia kembali membuka pintu.
"Apa ada yang ketinggalan, bi?." Sonia berpikir bibi tidak sengaja meninggalkan sesuatu di kamarnya sehingga bibi kembali lagi.
"Tidak ada yang ketinggalan, non." Art menggelengkan kepala.
"Lantas, untuk apa bibi kembali?."Sonia jadi bingung.
"Diluar ada Tuan Tomi, Nona, beliau ingin bertemu dengan Non Sonia tapi security tidak mengizinkannya masuk. Semua itu sesuai dengan pesan dari tuan Abil, Nona."
Mendengar penyampaian bibi, Sonia segera memastikannya, dengan mengintip dari balik jendela kamarnya. Dan benar saja, Sonia melihat keberadaan mobil suaminya di halaman depan.
"Maafkan kami, tuan, kami hanya melaksanakan perintah dari tuan Abil. Beliau tidak memperbolehkan anda masuk dan bertemu dengan Nona Sonia." Dua orang security menghalangi Tomi, tidak mengizinkan pria itu masuk ke dalam untuk menemui istrinya.
Tomi tidak memaksa masuk, pria itu mengerti security hanya menjalankan tugas dari majikannya.
"Baiklah, saya akan tetap di sini sampai Abil kembali." Tutur Tomi.
"Terima kasih atas pengertian anda, tuan."
Suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa mengalihkan atensi Tomi ke sumber suara.
"Sonia...."
"Mas..." Sonia terus berjalan dengan tergesa-gesa ke arah suaminya.
"Sayang, kamu sedang hamil, berhati-hati lah kalau berjalan, jangan terburu-buru seperti itu!." Tomi sangat mencemaskan cara berjalan Sonia.
Sonia langsung membawa diri ke pelukan suaminya. Ia tidak menyangka suaminya akan datang berkunjung, padahal baru saja mereka mengobrol melalui sambungan telepon beberapa saat lalu.
"Aku kangen, mas." Ungkap Sonia.
"Mas juga kangen sama kamu, sayang."
Padahal semalam mereka baru saja berjumpa, tapi pasangan itu sudah seperti tak berjumpa bertahun-tahun sehingga siapapun yang melihatnya pasti akan melihat betapa saling mencintainya pasangan suami-isteri tersebut, tidak terkecuali Abil yang tiba-tiba muncul. Rupanya Abil sengaja memarkirkan mobilnya di depan gerbang saat menyadari keberadaan mobil Tomi di halaman depan. Ya, pintu gerbang yang masih terbuka setengahnya memudahkan Abil melihat keberadaan mobil Tomi dihalaman rumah.
"Ehem...." Deheman Abil sontak membuat Sonia melerai pelukannya, dan menatap ke sumber suara.
"Mas Abil..."
"Masuk Sonia!."
"Tapi, mas_."
"Apa perlu mas mengulanginya lagi, Sonia?." Potong Abil dengan tatapan garang.
"Masuklah, sayang!." Tomi ikut bersuara, meminta Sonia menurut pada ucapan Abil.
Dengan berat hati Sonia pun masuk ke dalam rumah.
"Aku akan tetap di sini sampai kau mengizinkan aku membawa istriku kembali." Tutur Tomi tepat dihadapan Abil.
"Lakukan apapun yang kau inginkan! Kalaupun kau ingin berkemah di depan rumah ini, aku tidak akan peduli." Balas Abil sebelum memutar badan hendak masuk ke dalam rumah.
Tomi tersenyum mendengarnya.
"Sepertinya berkemah bukan ide yang buruk. Azam, keluarkan tenda dari bagasi mobil!."
"Baik, tuan." Patuh asisten Azam.
Abil yang tadinya hanya asal bicara sontak melebarkan pupil matanya. Ia tidak menyangka Tomi akan benar-benar melakukan tindakan gila itu, berkemah di depan kediaman mereka. Abil sampai kembali berbalik badan, memandang pada asisten Azam yang benar-benar mengeluarkan tenda dari bagasi mobil Tomi.
"Sepertinya kau memang sudah tidak waras." Tentunya kalimat tersebut ditujukan Abil pada Tomi.
"Kau sendiri yang sudah membuatku kehilangan kewarasanku, kawan." Balas Tomi dengan santainya.
Abil tak lagi menanggapi, pria itu kembali berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam.
"Sepertinya kali ini tindakan Tomi jauh lebih gila ketimbang dahulu saat ditinggal Cili dihari pernikahan mereka." Gumam Abil di sela langkahnya. Untungnya saat ini kedua orang tuanya sedang keluar negeri untuk urusan pekerjaan, kalau tidak, bisa dipastikan Abil akan mendapat Omelan dari ayah serta ibunya karena menyebabkan sahabatnya itu bertindak sampai sejauh ini demi sang istri.
Dari balik kaca jendela Sonia menyaksikan suaminya berkegiatan di halaman depan, mendirikan tenda bersama asisten Azam.
Waktu terus berjalan, sinar matahari pun telah tergantikan dengan sinar rembulan serta bintang-bintang yang menghiasi indahnya malam, Namun tak ada tanda-tanda Tomi akan menyudahi kegiatan berkemah nya.
Sesekali Abil mengintip Tomi dari jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Ia melihat Tomi duduk di depan tenda dengan menggunakan kursi lipat. Kedua security pun nampak mengobrol hangat bersama pria itu.