Kehidupan Zenaya berubah menyenangkan saat Reagen, teman satu kelas yang disukainya sejak dulu, tiba-tiba meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya.
Ia pikir, Reagen adalah pria terbaik yang datang mengisi hidupnya. Namun, ternyata tidak demikian.
Bagi Reagen, perasaan Zenaya tak lebih dari seonggok sampah tak berarti. Dia dengan tega mempermainkan hati Zenaya dan menginjak-injak harga dirinya dalam sebuah pertaruhan konyol.
Luka yang diberikan Reagen membuat Zenaya berbalik membencinya. Rasa trauma yang diberikan pria itu membuat Zenaya bersumpah untuk tak pernah lagi membuka hatinya pada seorang pria mana pun.
Lalu, apa jadinya bila Zenaya tiba-tiba dipertemukan kembali dengan Reagen setelah 10 tahun berpisah? Terlebih, sebuah peristiwa pahit membuat dirinya terpaksa harus menerima pinangan pria itu, demi menjaga nama baik keluarga.
(REVISI BERTAHAP)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Kenyataan.
Sebagai angkatan terakhir di sekolah ini, Zenaya dan para siswa-siswi kelas tiga kini mulai disibukkan dengan berbagai macam tugas akhir. Zenaya bahkan sudah tidak terlalu memikirkan sikap Reagen yang kini semakin samar terasa.
Bagaimana tidak, lelaki itu sekarang sama sekali tidak pernah menemuinya. Kendati berada di kelas yang sama, Reagen tidak pernah sekali pun mengajak Zenaya berbincang, meski ia berusaha menyapanya seperti biasa.
Di rumah pun, Reagen jarang mengangkat telepon atau membalas pesan singkat Zenaya.
Zenaya tidak mengerti lagi tentang hubungan mereka. Lelaki itu tampak semakin asing dibandingkan sebelum mereka berpacaran.
Tak ingin membuat segalanya semakin tidak jelas, Zenaya memutuskan untuk menemui Reagen di rooftop sepulang sekolah, tempat lelaki itu biasa berkumpul dengan teman-temannya.
...***...
"Kerja bagus, Rey!"
Suara asing seseorang tiba-tiba tertangkap indera pendengaran Zenaya yang baru saja menginjakkan kakinya di rooftop. Gadis itu bergegas menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruangan, di mana Reagen dan teman-temannya sering berkumpul.
Suasana di dalam ruangan tampak hening sesaat, sebelum kemudian Zenaya bisa mendengar suara Reagen berujar.
"Cepat kembalikan kunci mobilku!"
Zenaya mengerutkan keningnya. Tanpa takut ketahuan ia nekat mengintip di sela-sela pintu ruangan yang sedikit terbuka.
Di dalam ruangan itu Zenaya mendapati seorang laki-laki yang merupakan teman satu tim basket Reagen bernama Leon. Lelaki itu terlihat sedang memainkan sebuah kunci mobil di tangannya.
"Santai, Bro!" Leon tertawa dan melempar kunci mobil di tangannya kepada Reagen.
"Hanya ini saja?" tanya lelaki itu kemudian. "Kau tak ingin meminta apa pun dariku sebagai reward karena telah berhasil memenangkan challenge?" Kepulan asap dari rokok yang dihisap Leon membuat Reagen sedikit terganggu.
"Tidak perlu!" Jawab Reagen singkat.
"Cih, kau benar-benar bukan orang yang asik, Rey, padahal aku sudah siap memberikan apa pun karena telah berhasil mencuri satu ciuman dari gadis itu!" Tawa mengejek terdengar kembali dari mulut lelaki kurang ajar itu.
Zenaya kontan membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan Leon.
"Mencuri ciuman? Apa maksudnya?" batin Zenaya.
"Tidak perlu, aku hanya butuh mobilku dan jangan lagi membuatku masuk ke dalam permainan sialanmu ini!" Reagen membuka suaranya lagi sembari menatap tajam Leon.
"Wow, wow, santai Brother! Aku pikir kau tidak keberatan, mengingat sikap lembutmu pada Zenaya selama kalian bersama. Kau nyaris membuat kami percaya, kalau kau benar-benar jatuh cinta pada gadis polos itu!"
Refleks Zenaya menutup mulutnya sendiri.
"Jangan sembarangan mengambil kesimpulan!" Reagen terlihat menahan amarahnya.
Leon mengangkat kedua bahunya. "Sayang sekali permainan harus berakhir, Rey. Andai kau sudi mengikuti Dave dan kawan-kawannya, bisa dipastikan kau akan berhasil meniduri gadis itu. Bayangkan Rey, bibirnya saja sukarela ia berikan padamu, apa lagi tubuhnya!" Leon dengan kurang ajar memperagakan gerakan tidak senonoh saat mengatakannya, yang langsung membuat Reagen menghardik lelaki itu.
Mengetahui kenyataan tersebut Zenaya nyaris limbung. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pernyataan cinta dan hubungan hangat mereka tidak lebih dari sebuah ajang pertaruhan. Semua perasaan dan sikap Reagen kemarin rupanya hanya kepalsuan belaka. Pantas saja lelaki itu bisa berubah drastis dalam waktu singkat.
"Tapi, biar kutanya satu hal Rey. Setelah kedekatan kalian selama satu bulan kemarin, apa kau tidak merasakan sesuatu terhadap Zenaya?" tanya Leon penasaran.
"Jangan menanyakan hal menjijikan seperti itu, dia sama seperti gadis-gadis norak lainnya!"
Darah seolah tersedot habis dari seluruh tubuh Zenaya. Lelaki yang telah disukainya selama hampir tiga tahun itu, ternyata tega menghina dan menginjak-injak harga dirinya. Pandangan mata Zenaya mendadak kabur, dan tanpa sengaja gadis itu menyentuh pintu ruangan tersebut hingga terbuka lebar.
Leon dan Reagen yang berada di dalam ruangan seketika menoleh ke arah pintu dan mendapati Zenaya tengah berdiri di sana. Bukannya terkejut, Leon justru menyeringai senang saat mengetahui keberadaannya. Sementara Reagen sama sekali tidak menampakkan ekspresi apa pun. Ia tidak terlihat terkejut, sorot matanya datar seperti biasa.
Ekspresi yang Zenaya tunjukkan membuat hati Leon bersorak-sorai, karena inilah yang sebenarnya ia inginkan. Andai saja Zack dan Xander ada di sana dan ikut menyaksikannya secara langsung, pasti suasana akan semakin mengasyikkan.
Sementara itu, Zenaya tidak perlu lagi bersusah payah menyembunyikan luka. Ia menatap Reagen lama, seolah tengah memberitahu lelaki itu, bahwa perasaan yang sudah ia susun sedemikian rupa kini telah hancur berkeping-keping.
Zenaya dengan raut penuh luka akhirnya berlari meninggalkan tempat tanpa menoleh ke belakang. Gadis itu menangis terisak-isak sembari mencengkeram kuat dadanya yang terasa sesak.
Zenaya berhasil keluar dari gedung sekolah. Tanpa memerdulikan kakinya yang mulai melemah, ia terus berlari tanpa arah dan tujuan hingga berhenti pada sebuah taman kecil yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah.
Di taman itu Zenaya menangis meraung-raung seorang diri sambil memukul-mukul dadanya sekuat tenaga demi meminimalisir rasa sakit yang tengah melanda.
Ia masih mengingat betul bagaimana tatapan mata Reagen saat bertemu pandang dengannya tadi. Tidak ada sedikit pun perasaan bersalah, lelaki itu bahkan tidak berusaha mengejarnya saat ia berlari pergi.
Zenaya tertawa sumbang. Seharusnya ia tidak menghilangkan kecurigaannya pada Reagen, ketika lelaki itu secara tiba-tiba menyatakan perasaannya.
Reagan sama sekali tidak pernah menganggap dirinya ada. Perasaannya selama ini bahkan tidak lebih dari seonggok sampah bagi lelaki itu.
Bak orang kesetanan, Zenaya berteriak sekeras mungkin hingga suaranya nyaris hilang. Ia menghardik Reagen dalam sebuah sumpah serapah dan berjanji akan terus membawa kesakitan ini sampai mati.
Zenaya tak akan pernah memaafkan Reagen apa pun yang terjadi.