Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Rania
Gak lama pesanan mereka pun datang. Mereka bertiga memilih menyantap makanan terlebih dulu baru setelah itu akan mengobrol santai. Saat sedang makan hp Hardin bunyi tapi diabaikannya. Entah kenapa dia jadi malas pegang hp siang ini.
"Woi man..hp lu bunyi terus tu dari tadi. Angkat dulu kek mana tau telpon penting" Harry mulai terganggu dengan suara hp Hardin.
Hardin mengambil hp dan melihat siapa yang menelepon. Dia kembali teringat kejadian tadi pagi antara Rania dan Andra dan akhirnya memilih mengabaikan telpon Rania. Dia pun memasang silent mode di hpnya.
"Siapa man yang bulak balek nelpon?" tanya Harry.
"Kepo!" ucapnya dan melanjutkan memakan makanannya dengan cuek.
Harry melongo mendengar jawaban judes bin ngeselin dari sahabatnya itu. "Dih songong banget sih lu ya, palingan juga dari pacar lu kan?" ucapnya dan mengakibatkan Hardin refleks menendang kaki Harry di bawah meja.
"Aaw...lu kenapa sih sensi amat sama gue" Hatry meringis sambil menggosok kakinya yang ditendang Hardin. Hardin hanya membalas dengan memelototkan matanya ke arah Harry seakan memberi kode. Harry yang mengerti tatapan itu pun langsung ngeh.
"Weiiss.. jadi bang Hardin kita yang dikenal dingin dan cuek sama wanita udah punya pacar nih. Kenalin dong ke kita siapa cewek hebat yang udah berhasil menaklukan hati bang Hardin." ucap Andra sambil tersenyum ke arah dua temannya.
"Entar ada waktunya lu gue kenalin ke dia" jawab Hardin cuek.
Mereka pun berbicara mengenai kehidupan masing masing. Dan sesekali diselingi dengan candaan Harry yang garing menurut Hardin. Setelah puas berbincang mereka pun memilih bubar karena masih ada pekerjaan yang harus mereka siapkan.
"See you next time ya guys. Dan lain kali lu harus bawa pacar lu dan kenalin ke gue. Oke bro" Andra berbicara pada Hardin dan menepuk punggungnya pelan.
"Oke bro, see you." balasnya
"Lu gak minta kenalan sama pacar gue Ndra?" tanya Harry pada Andra.
"Lah...emangnya lu punya pacar man? Yauda sekalian aja entar kalau kita ngumpul lagi kenalin ke gue juga" ucapnya.
"Dia JOMBLO" malah Hardin yang menjawab sambil menekankan kata jomblo dan menunjuk ke arah Harry.
"Sialan lu. Senang banget lu ya ngatain gue jomblo. Tunggu aja tanggal mainnya, gue pasti bakalan dapat cewek yang tulus sama gue" sebenarnya Harry juga gak yakin kapan bakal dapat cewek yang tulus sama dia. Tapi dia harus menyemangati dirinya sendiri. Haha poor Harry.
Mereka pun berpisah di pelataran parkir. Saat di mobil Hardin mencoba mengecek hpnya, dan dia langsung terkejut melihat isi chat dari Rania. Pasalnya dia lupa kalau punya janji sama Rania.
Mam*** gue. Gimana gue bisa lupa sih kalau punya janji sama dia. Aaakkhh...pasti Rania marah ni sama gue. Siaaall.
Hardin mencoba menghubungi Rania tapi tidak di angkat. "Sorry man, kayaknya lu gak bisa bareng gue. Lu naik taxi aja ya" ucapnya pada Harry.
"Lah kenapa? kan tujuan kita sama, sama sama ke hotel. Masa gue naik taxi, tega amat lu" Harry menolak untuk balik ke hotel dengan taxi.
"Gue mau ke sekolah Rania maan. Gue lupa punya janji sama dia mau jumpa siang inii. Jadi pliis lu naik taxi aja oke" ucap Hardin.
"Mam*** lu. Siapa suruh tadi gak lu angkat telpon dari dia. Pasti marah tu anak, mana masi abg lagi pasti cepat ngambek dia dan marahnya pasti lama tu" bukannya menenangkan Harry malah membuat Hardin semakin kesal.
"Turun lo sekarang!!!" titahnya ditambah dengan tatapan tajamnya.
"Oke man" Harry pun langsung turun dan menatap kepergian Hardin. "Sial banget nasib gue, udah jomblo trus disuruh turun dari mobil udah kayak cowok bayaran aja gue" dia meratapi nasibnya yang menyedihkan.
Hardin memacu mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa segera sampai di sekolah Rania. Begitu sampai dilihatnya sekolah sudah sepi hanya ada satu dua orang guru yang lalu lalang. Gerbang sekolah juga sudah ditutup sebagian.
"Aaah..sial banget sih ah. Kenapa juga gue bisa lupa punya janji sama Rania. Pasti dia marah banget sama gue sekarang.Hah...apa gue samperin kerumahnya aja kali ya, pasti udah dirumah dia sekarang."
Dia pun kembali melajukan mobilnya kerumah Rania berharap gadisnya itu mau memaafkannya. Begitu sampai dirumah Rania, yang di dapatnya hanya rumah kosong. Gak ada satu pun tanda tanda kehidupan dirumah itu. Tapi dia tetap mencoba untuk memanggil Rania, mungkin dia ada dikamar makanya rumah itu keliatan sepi.
"Assalamualaikum..Raniaaa."
"Raan...Raniaa buka pintunya. Mas mau minta maaf sama kamu. Raaaan...buka Ran"
dug dug dug
Dia terus mengetuk pintu berharap Rania segera membukanya. Tapi ternyata tak ada satu orang pun yang membuka. Dia pun memilih kembali ke hotel dan akan balik kesini nanti malam.
"Eh ada si abang ganteng. Rania nya gak ada di dalam atuh bang" ternyata ada ceu Minah di dekat pagar. Hardin pun refleks terkejut saat mendengar suara ceu Minah.
"Eh..ii..iya bu. Rania nya kemana ya bu" tanya Hardin.
"Aduh jangan panggil ibu atuh den tampan, panggilnya ceu Minah aja" dia bergelayut di lengan Hardin sampai membuat Hardin merinding. "Tadi teh saya lihat si Rania buru buru bawa bundanya kerumah sakit, kayaknya tadi bu Maya pingsan deh" jelas ceu Minah yang masih menempel pada Hardin.
"Pingsan? Pingsan kenapa bu? eh ceu..."
"Ya mana eceu tauu.. Tapi kalo den ganteng mau buat eceu pingsan, eceu udah siap atuh..hihihi" ceu Minah tersenyum genit sambil mengedip ngedipkan matanya.
"Minaaaah..dimane lu?" terdengar suara jeritan yang mungkin suaminya yang memanggil ceu Minah. "Aaaduh..maaf ya den eceu gak bisa pingsan sekarang. Suami eceu manggil" dia pun lari pontang panting meninggalkan Hardin yang kebingungan.
"Rania bawa bunda ke rumah sakit mana ya? Apa gue telpon aja kali dia ya" Hardin pun kembali mencoba menghubungi Rania tapi tetap tidak diangkat.
Dia teringat dengan saran Harry dulu yang menyuruhnya untuk mencari lokasi Rania melalui gps. Beruntung hp Rania masih aktif, akhirnya dia pun tahu dimana lokasi Rania sekarang.
Tanpa membuang waktu dia langsung tancap gas kerumah sakit tempat Rania membawa sang bunda. Dalam perjalanan dia terus merasa bersalah karena tadi sempat mengabaikan telpon Rania. Dia berjanji akan menebus kesalahannya dan meminta maaf pada gadis kesayangannya itu.
Begitu sampai dirumah sakit, dia langsung menuju ke meja receptionis untuk menanyakan pasien atas nama bu Maya. Begitu sudah mendapat jawaban dia pun segera menuju ke UGD tempat bu Maya diperiksa.
Terima kasih sudah mampir di novel aku. Semoga kalian suka ya sama jalan ceritanya. Mohon dukungan like, komen dan favorite kan ya.