TAHAP REVISI.
Pria idaman seluruh wanita adalah, kaya dan tampan. Seluruh kehebatan itu ada dalam diri seorang Davin sang Trillioner tampan dengan sejuta karisma. Pengusaha muda terkaya di Dunia. Tidak ada apapun yang tak bisa ia dapatkan dalam genggamannya. Tak hanya di luar, di dalampun pria ini sangat-sangat menakutkan.
Namun apa yang terjadi jika seorang Davin, dibuat resah dan kebingungan oleh seorang gadis sekolah menengah yang pertama kali ia temui dan langsung menarik perhatiannya. Seorang gadis dengan surai rambutnya yang panjang, terurai dengan indah di tengah kerumunan siswa yang sedang tawuran.
Peringatan : percayalah kalian tidak akan bisa berhenti memikirkan cerita ini setelah kalian membacanya. 😏
SEGALA BENTUK PLAGIAT DILARANG MENDEKAT💣💥
Ayok mampir 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32 - That's my girl.
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania POV
"Dave jangan marah please." Ucapku dengan wajah memelas. Sekarang aku berada di kamar Dave untuk membujuknya yang sedang merajuk ini.
Dave masih terdiam duduk di kursi kerjanya sambil menatap macbooknya lekat. Aku mendengus melihat Dave yang masih mendiamiku. Dia masih marah dengan kejadian pemukulanku tadi.
"Huh.. Abel akan tidur bersamaku, di kamarku." Ucapku langsung. Bunyi ketikkan jari Dave di atas keypadnya langsung terhenti dan matanya langsung terangkat menatapku.
"Apa lagi sekarang?" Tanya Dave marah
sambil memukul mejanya kuat dan bangkit berdiri. Aku sempat tersentak karna terkejut mendengar gebrakan tiba-tiba tersebut.
"Jangan marah." Lirihku takut.
"Dirumah ini begitu banyak kamar kosong, kenapa dia harus tidur berdua denganmu?" Tanya Dave kesal sambil menatapku tajam.
"Dia takut tidur di tempat asing sendirian Dave." Jawabku pelan.
"Semenjak mereka datang, mereka selalu menggangu waktuku denganmu. " Ucap Dave kesal sambil menyugar rambutnya frustasi.
"Hanya sampai ujian selesai, setelah itu aku akan menebusnya. Bagaimana?" Bujukku sambil menyentuh lengannya yang masih menegang marah.
"Aku tidak bisa tidur tanpamu. Aku nggak mau." Ucap Dave kekeh. Aku menghela nafas frustasi.
Aku berjalan mendekati Dave yang memasang wajah marahnya. Kuelus kedua lengan bawah Dave, mengisyaratkan dirinya untuk tenang lebih dulu. Lalu ku genggam kedua tangan Dave yang terkepal.
"Tidak bisakah kau melakukannya untukku?" Tanyaku pelan dan menatap matanya yang juga menatapku.
"Seminggu seakan setahun sayang. Aku mana bisa." Jawab Dave dengan pandangan melembut.
"Sesekali aku akan mencari cara untuk tidur dikamarmu, okay?" Ucapku membujuknya lagi dan mencium bibirnya mencoba segala cara agar pria ini luluh padanya.
"We have a deal, baby?" Tanyaku lagi. Dave menatapku lekat, lalu memeluk tubuhku erat dan menenggelamkan wajahnya di leherku.
"Aku pasti menjalani hari yang berat selama seminggu." Ucap Dave dengan nada sedih.
"Aku akan cari caranya okay. Sekarang ayo makan malam bersama." Ajakku sambil mengelus kepalanya.
"Aku tidak mau bertemu mereka sekarang, bisa-bisa emosiku meledak di meja makan." Jawab Dave kesal, sambil memelukku semakin erat.
"Eughh.. Aku tidak bisa nafas." Dave melepas pelukannya setelah mendengarku meringis, lalu menatapku lembut.
"Makanlah, jangan sampai sakit." Suruh Dave lembut.
"Aku juga tidak mau kau sakit. Aku antar makan malammu ke sini dan harus dimakan. Okay?" Ucapku dengan nada memerintah. Dave terkekeh sebentar, lalu mengangguk pelan.
Aku melangkah keluar ruangan Dave setelah mencium bibirnya lagi untuk kedua kalinya.
"I love you." Ucapku, lalu mengecup keningnya lembut.
"Love you too baby." Jawabnya lembut.
***
Setelah mengantar makan malam Dave ke kamarnya, aku kembali ke meja makan, berkumpul bersama sahabatku.
"Kau sudah merapikan barangmu di kamarku Bel?" Tanyaku sambil duduk.
"Sudah." Jawab Abel semangat dengan senyum lebarnya.
Kamipun mulai menikmati makan malam yang tersedia sambil berbincang kecil.
"Kenapa kekasihmu tidak mau bergabung bersama Van?" Tanya Vico.
"Owh... Dia tidak enak badan." Jawabku dengan nada semeyakinkan mungkin agar mereka tidak curiga.
"Bagaimana bisa kau berakhir dengan pria dingin menakutkan sepertinya Vania? Sekali lihat aja, aku langsung merinding, hihhh." Tambah Abel sambil bergidik mengusap lengannya. Aku tertawa menatap Abel, sedangkan kepalaku mengingat kejadian manis antara aku dan Dave yang membuatku tersenyum malu.
"Haih.. Dia berkhayal lagi." Dengus Liam, lalu menyadarkanku dengan menyentil keningku.
"Aws.." Ringisku sambil mengusap keningku yang berdenyut.
"Jangan memukulnya!" Kurasakan tangan Sammy mengusap keningku, sedangkan matanya menatap Liam tajam.
"Iya, iya aku tidak akan memukul Tuan Putri lagi." Gerutu Liam dengan nada melongos.
"Makanya jangan berani memukul pujaan hati Sam." Tambah Vico mengejek Liam sambil tertawa kencang.
"Jangan ketawain Liam!" Aku terlonjak kaget saat mendengar Abel berteriak marah ke arah Vico. Berhasil membuat kami semua terdiam sambil menatap Abel lekat.
Kulirik Liam sebentar dan dia sedang tersenyum senang mendapat pembelaan dari Abel.
"Wahh.. Aku beberapa minggu tidak masuk ternyata kalian—"
"Iya, kami sudah pacaran 3 minggu." Ucap Abel langsung.
"Wah, kalian diam-diam?" Tanya Vico dengan wajah terkejut dan mata melotot.
"Iya." Jawab Liam.
"Woah selamat. Apa kita rayakan malam ini dengan sedikit alkohol?" Tanyaku semangat sambil menatap ke arah sahabatku bergantian.
"Yes.."
"Tidak ada alkohol malam ini Zee." Aku melongos lemas mendengar ucapan Sammy yang begitu tegas. Berhasil membuat ketiga sahabatku yang lain ikut melongos lemas.
"Satu gelas saja." Bujukku dengan tangan telunjuk yang terangkat dan wajah imut andalanku.
"No, aku tidak akan terjebak rayuanmu kali ini." Jawab Sammy, membuatku langsung putus asa.
"Lusa kita ujian, besok hari tenang, kita akan belajar dengan giat. Jadi, tidak ada alkohol malam ini." Ucap Sammy dengan nada tak terbantahkan, berhasil membuat kami hanya menghela nafas pasrah.
"Hari ini istirahat saja setelah makan malam, besok kita baru mulai belajar." Tambah Sammy lagi. Aku hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah cemberut. Kami pun kembali melanjutkan makan kami dengan wajah cemberut.
***
Kulihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 12 malam. Aku menatap ke arah Abel yang sejak tadi sudah tertidur pulas.
Setelah yakin Abel tidak akan bangun, aku pun menyingkap selimutku dengan pelan dan turun dari ranjang dengan perlahan. Kutatap ke arah Abel sebentar, memastikan apa dia bangun atau tidak. Setelah yakin keadaan aman, aku melangkah keluar dari kamarku dan berjalan ke kamar Dave melalui lorong remang-remang ini.
Setelah menemukan pintu kamar Dave, aku tersenyum senang dan membukanya dengan semangat. Kuedarkan pandanganku mencari sosok pemilik kamar yang ternyata masih berada di ruang kerjanya. Dave terlihat sibuk dengan macbook dan kertas-kertas di depannya, bahkan dia terlihat tak sadar dengan kedatanganku.
"Dave." Panggilku. Dave langsung sadar dan menatap ke arahku dengan pandangan senang.
"Baby." Ucapnya.
Aku melangkah mendekatinya dan memeluknya yang masih duduk di kursinya, sedangkan aku berdiri.
"Ini sudah larut malam, kau harus istirahat." Ucapku sambil mengelus rambutnya. Dave menenggelamkan wajahnya di perutku dan tangannya memeluk pinggangku.
"Aku menunggumu dengan menyibukkan diri di sini." Jawabnya. Bagaimana bisa kekasihku yang biasanya menyeramkan itu menjadi sepolos ini, seakan-akan dirinya memiliki kepribadian ganda.
"Yasudah sekarang istirahatlah." Ucapku lembut dan hanya dibalas anggukan oleh Dave.
Kami berdua berjalan ke arah ranjang Dave yang besar dan membaringkan diri di sana. Kubaringkan kepalaku di lengan Dave dan kami saling berhadapan.
"Sebentar sayang." Seakan mengerti dengan kemauanku, Dave duduk sebentar dan membuka kausnya sehingga ia bertelanjang dada. Dave masuk kembali ke dalam selimut dan aku langsung bergerak cepat memeluknya.
"Hmm.. Jadi mulai sekarang kau tidur harus begini!" Ucapku sambil menutup mata menikmati kehangatan tubuh Dave.
"Kalau kau nakal aku tak akan mau." Jawab Dave sambil mengelus kepalaku. Aku langsung mendorong pelan dada Dave dan menatapnya yang juga ikut menatapku.
"Kenapa?" Tanya Dave ikut menantang melihat tatapan mataku padanya.
"Tenang saja, aku yang akan merobeknya untukmu." Jawabku dengan senyum miring. Dave langsung terkekeh dan mengeratkan pelukannya lagi.
"Kenapa kau sangat pintar membuatku tertawa?" Tanya Dave.
"Mudah saja, tidak ada yang bisa menahan pesonaku lebih dari 15 detik."
"Kalau begitu, aku tak akan membiarkan orang lain melihatmu lebih dari 5 detik." Ucap Dave.
"Ya atau kau akan mencongkel mata mereka." Tambahku lagi mengerti dengan sifatnya.
"That's my girl." Aku tersenyum senang mendengar ucapan Dave.
Kami menikmati malam ini hanya dengan berpelukan, membagi kehangatan melewati pekatnya langit sampai berganti cerah.
bersambung.....
hay.... hay.... hay
ketemu lagi sama pasangan paling bucin didunia. Gimana nih kurang romantisnya?
yaudah kalau belum tunggu part selanjutnya ya..
bye... 😘💕
26082019