NovelToon NovelToon
The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

The Doctor’S Little Bride: Bukan Sekadar Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yaya haswa

Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.

Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.

Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.

Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.

Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.

Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.

Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian

Elvan membuka pintu ruangannya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih mencengkeram pergelangan tangan Keana, menuntun gadis itu masuk ke dalam ruangan bernuansa putih yang rapi dan beraroma khas antiseptik. Elvan melepas cengkeramannya, lalu berbalik dan menutup pintu rapat-rapat, mengunci Keana di dalam dunianya.

Keana langsung melangkah kaku menuju sofa panjang di sudut ruangan. Ia duduk di sana dengan kedua lutut merapat, menunduk dalam-dalam sambil meremas ujung kemejanya. Hidungnya yang mampet terasa semakin gatal, membuatnya terpaksa menarik ingus berulang kali dengan suara srat-srut yang terdengar sangat jelas di tengah keheningan ruangan.

"Duduk yang benar. Jangan terus menarik ingus seperti itu, bersihkan pakai tisu," ujar Elvan datar. Ia berjalan menuju meja kerjanya, mengambil sekotak tisu, lalu melemparkannya pelan ke pangkuan Keana.

"Makasih," cicit Keana. Ia mengambil selembar tisu, membersihkan hidungnya yang memerah, lalu membuang tisu itu ke tempat sampah kecil di dekat sofa.

Elvan melangkah mendekati sofa, membuat nyali Keana yang baru saja mau mengumpul kembali menciut. Elvan berdiri tepat di hadapannya, menjulang tinggi dengan jas dokter putihnya. Detik berikutnya, Elvan perlahan berlutut dengan satu kaki di depan Keana, menyamakan tinggi badannya dengan sang adik yang sedang duduk.

Jantung Keana mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Jarak mereka begitu dekat hingga Keana bisa mencium aroma parfum maskulin Elvan yang bercampur wangi mint yang menenangkan.

Tanpa sepatah kata pun, Elvan mengulurkan tangan kanan yang terasa hangat, menempelkan telapak tangannya di dahi Keana, lalu turun ke leher dan pipinya. Sentuhan lembut itu terasa begitu kontras dengan wajah Elvan yang masih tertekuk dingin.

"Suhu badanmu masih stabil. Untung es krim itu belum sempat menurunkan suhu tubuhmu lagi," ucap Elvan, suaranya melembut satu oktav namun tetap terdengar tegas. Tangan Elvan beralih ke dagu Keana, sedikit mengangkatnya agar mata bulat adiknya itu menatap langsung ke netra hitamnya.

Keana menahan napas. Sorot mata Elvan yang biasanya tajam dan mengintimidasi, entah kenapa saat ini terlihat begitu dalam.

"Kenapa nakal sekali, hmm? Kamu tahu tidak, melihat kamu tidak sadarkan diri semalam itu... membuat isi kepala saya berantakan," bisik Elvan lirih. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap sisa noda cokelat es krim yang masih tertinggal di sudut bibir Keana dengan gerakan yang teramat lembut.

Sentuhan itu membuat sekujur tubuh Keana meremang. Rasanya aneh. Tapi ia menepisnya. Keana yang mendadak salah tingkah langsung memalingkan wajahnya dengan gugup, memutus kontak mata mereka.

"Ya... lagian Kak Elvan galak banget. Kea kan cuma mau es krim," gumam Keana.

Elvan menghela nafas berat mendengar perkataan Keana. Ia berniat berdiri kembali, namun matanya tertuju pada kedua lutut Keana yang memperlihatkan bekas luka yang sudah mengering dan meninggalkan warna kehitaman yang kontras di kulit mulusnya.

"Lutut mu, kenapa?" Elvan baru melihatnya.

"Pernah jatuh" jawab Keana pelan.

Tanpa mengatakan apapun Elvan berjalan mendekati lemari obat, mengambil sebuah salep khusus dan sekotak tisu medis. Lalu kembali mendekati Keana.

Tanpa permisi, tangan Elvan memegang pergelangan kaki Keana, mengangkatnya sedikit agar bertumpu di atas paha Elvan.

"K-Kak Elvan... mau ngapain?" cicit Keana panik, mencoba menarik kakinya kembali.

"Diam," titah Elvan dingin. Ia mencengkram pergelangan kaki Keana dan mengunci pergerakan gadis itu.

"Bekas lukanya masih tebal. Kalau tidak rutin diolesi salep, nanti membekas hitam di lututmu. Anak perempuan tidak boleh ceroboh merawat tubuh" ucap Elvan sembari mengoleskan salep dengan gerakan memutar yang sangat lembut di atas bekas luka Keana.

Sentuhan kulit Elvan yang hangat di lututnya membuat Keana meremang. Meskipun suasananya mendadak terasa intim dan manis, sifat bandel Keana tetap tidak bisa hilang begitu saja.

"Kak Elvan... salepnya dingin banget. Gak boleh makan es krim, tapi dikasih yang dingin-dingin di lutut," gumam Keana pelan, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan bibir yang mengerucut sebal, mencoba mencairkan kegugupan hatinya sendiri.

Elvan menghentikan gerakan jarinya selama satu detik. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Keana dengan jarak yang hanya berkisar beberapa puluh sentimeter. Tatapan dinginnya seolah mengunci seluruh pasokan oksigen di dada Keana.

"Mau saya olesi salep ini di bibir kamu juga agar berhenti mengoceh tentang es krim?" ancam Elvan rendah, suaranya terdengar sangat tenang namun penuh penekanan.

Keana langsung membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, matanya membelalak ketakutan.

Melihat reaksi spontan itu, sudut bibir Elvan berkedut kecil, hampir membentuk sebuah senyuman tipis, sebelum ia kembali memasang wajah datarnya. Ia menyelesaikan olesan salepnya, menurunkan kaki Keana dengan hati-hati, lalu berdiri.

"Gunakan masker kamu kembali. Duduk diam di sini, jangan menyentuh apa pun, dan jangan berani menapakkan kaki keluar dari pintu itu sebelum tugas saya selesai," ujar Elvan seraya berjalan ke meja kerjanya, meninggalkan Keana yang masih syok di sofa dengan jantung yang berdebar tidak karuan.

Keana diam duduk di sofa sambil menatap sekelilingnya, lalu memilih bermain handphone untuk mengusir rasa bosannya.

Beberapa jam berlalu. Elvan terpaksa meninggalkan Keana sebentar di ruangannya karena harus memimpin visit pasien darurat di bangsal atas. Sementara itu, Keana yang ditinggal sendirian dengan pintu yang dikunci membuatnya tidak bisa kemana-mana.

lama-kelamaan dirinya mengantuk dan tidak sadar tertidur dengan handphone yang masih menyala. Ia tertidur pulas dengan posisi miring ke kanan berbantalkan lengannya.

Ketika Elvan kembali ke ruangannya hampir dua jam, suasana ruangan sudah temaram karena matahari sore. Langkah kakinya mendadak terhenti saat melihat pemandangan di sofa. Keana tertidur begitu nyenyak, namun tubuhnya tampak sedikit menggigil karena embusan AC ruangan yang tepat mengarah ke sofa tersebut.

Elvan melangkah mendekat. Ia melepas jas putih dokternya, lalu dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Keana, ia menyelimuti jas hangat itu ke tubuh Keana.

Namun, saat akan berdiri tegak, tangan Keana meraih ujung kemeja Elvan, menariknya perlahan, lalu memeluk lengan kokoh itu seperti sedang memeluk guling. Gerakan spontan itu membuat tubuh Elvan tertarik maju, memaksa wajahnya mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja.

Elvan tersentak. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia bisa merasakan kehangatan napas Keana yang teratur menerpa kulit lehernya. Ia mematung selama beberapa saat, menatap lekat-lekat bibir ranum Keana dan bulu mata lentiknya yang terpejam, menahan diri dengan sekuat tenaga agar tidak lepas kendali.

Bzzz... Bzzz...

Getaran keras dari ponsel Elvan di atas meja seketika memecah keheningan. Elvan tersadar, dengan cepat namun lembut ia melepaskan tangan Keana dari lengannya, lalu menyambar ponselnya. Nama Mama tertera di layar.

"Ya, Mama?" bisik Elvan, suaranya sedikit serak, matanya masih menatap Keana yang sedikit terusik tapi tidak bangun.

📱"Elvan, kamu di mana? Keana sama kamu, kan? Ini Mama sudah di ruangan dan mau pulang" ucap Mama Soraya

"Iya, Ma. Kea bersama Elvan di ruangan. Tadi El melihatnya di taman belakang dan sedang makan es krim, jadi Elvan ajak ke sini dan sekarang dia sedang tidur."

📱"Astaga, anak itu benar-benar... Ya sudah, bawa dia ke lobi ya! Mama sama Papa mau pulang biar Keana bisa istirahat di rumah. ."

"Baik, Ma."

Setelah panggilan terputus, Elvan menyimpan ponselnya di saku. Ia menatap Keana yang masih terbungkus jas dokternya. Alih-alih membangunkannya, ia memilih menyelipkan kedua tangannya di bawah tubuh Keana, lalu mengangkat tubuh mungil Keana ke dalam gendongannya ala bridal style dengan sangat hati-hati. Keana yang setengah sadar hanya merapatkan wajahnya ke dada bidang Elvan, mencari kenyamanan.

Sepanjang perjalanan dari ruangan menuju mobil, Papa Arland dan Mama Soraya yang sudah menunggu di lobi hanya tersenyum mengira Elvan sudah menerima dengan baik kehadiran Keana. Ia meletakkan Kea di dalam mobil. Setelah itu Papa dan Mama kembali ke rumah, sementara dirinya kembali ke ruangan menyelesaikan tugasnya yang sedikit lagi selesai.

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!