Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, menyiramkan warna jingga keemasan yang biasanya membawa kedamaian di kediaman Kiai Ahmad Bashir. Namun, pagi ini, fajar itu terasa seperti api yang membakar. Keheningan desa pecah oleh teriakan Zahra yang melengking, membelah udara pagi yang dingin.
Fatih, yang baru saja melipat sajadahnya, tersentak. Ia berlari keluar bersama Kiai Ahmad Bashir dan Umi Fatimah. Di garasi, pemandangan itu terpampang nyata—sebuah kontras yang menghina kesucian tempat itu. Seorang wanita dengan riasan luntur dan pakaian yang terlalu minim untuk berada di lingkungan pesantren, merangkak keluar dari balik pintu belakang SUV hitam milik Fatih.
"Heii... siapa kamu?! Kenapa ada di sini?!"
Suara Fatih menggelegar, penuh dengan amarah yang meledak. Ia bukan lagi ustadz yang tenang di atas mimbar. Darah mudanya bergejolak, merasa harga diri dan martabatnya sebagai pemuka agama baru saja dicabik-cabik oleh kehadiran wanita ini.
"Fatih, tenang, Nak..." Kiai Ahmad Bashir mencoba menahan pundak putranya dengan bijak, meski wajahnya sendiri menyiratkan kekagetan yang luar biasa.
Umi Fatimah hanya mampu menutup mulut dengan tangan, air matanya mulai menggenang. Sementara Zahra terus menggelengkan kepala, tak percaya kakaknya "membawa" hal semacam ini ke rumah mereka.
Bella, yang baru saja tersadar sepenuhnya, gemetar hebat. Kepalanya berdenyut, dan ia merasa ribuan mata tak terlihat sedang menghakiminya. "Ma... maaf... maafkan saya..." bisiknya parau.
Dengan kaki gemetar, Bella mencoba berjalan terhuyung meninggalkan garasi. Ia ingin lari, tak peduli ke mana, asalkan jauh dari tatapan penuh kebencian itu.
"Hei! Kamu wanita... kamu dengar tidak?! Jangan lari!" teriak Fatih lagi, langkahnya maju hendak mencegat. Ia merasa wanita ini harus bertanggung jawab atas kekacauan yang ditimbulkannya.
Kiai Ahmad Bashir kembali menahan Fatih. Beliau memperhatikan Bella dengan tatapan iba. Wanita itu tampak seperti rusa yang terluka, bukan seperti ancaman. Bella menoleh pelan ke arah Fatih. Saat matanya yang sembap bertemu dengan mata Fatih yang berapi-api, air matanya luruh tanpa suara.
Lalu, tiba-tiba dunia terasa berputar bagi Bella. Brugh! Tubuhnya ambruk. Beruntung, Umi Fatimah yang berada paling dekat segera menahan tubuh lemas itu agar tidak menghantam semen.
"Astaghfirullah! Cepat bawa ke dalam! Dia pingsan!" perintah Umi Fatimah, naluri keibuannya mengalahkan segala prasangka.
Di luar pagar, suasana sudah menjadi neraka yang berbeda. Kabar burung terbang lebih cepat dari cahaya. Mpok Wati, dengan daster dan keranjang pasarnya, sudah berdiri di barisan paling depan bersama warga lainnya.
"Cepat laporkan ke Pak Lurah! Jangan sampai kampung kita ini ternoda oleh 'perempuan malam' itu!" teriak Wati memprovokasi. "Mana ada ustadz bawa perempuan pulang subuh-subuh kalau bukan karena ada 'apa-apanya'!"
Iya..yah.. !" Ibu-ibu lain sepakat.
Tak jauh dari sana, seorang pria muda dengan wajah tenang namun mata yang tajam memperhatikan kerumunan itu. Dia adalah Ustadz Lukman, adik sepupu Fatih. Mereka tumbuh besar bersama, mulai dari SD hingga pesantren di Tasikmalaya selalu satu kamar. Lukman segera merangsek masuk ke halaman rumah uaknya.
"Ada apa, Abi?" panggil Lukman kepada Kiai Ahmad Bashir. Panggilan 'Abi' sudah melekat sejak kecil karena Lukman sudah dianggap anak sendiri.
Kiai Bashir hanya menepuk pundak Lukman, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Ada ujian sedikit, Lukman. Doakan."
Tak lama kemudian, sebuah mobil dinas berhenti. Pak Subrata, sang Lurah, turun dengan wajah tegang didampingi beberapa aparatur kelurahan seperti Pak RT Sukardi. Namun, yang paling mencolok adalah sosok di belakang Pak Lurah. Nadia.
Bunga desa itu datang dengan mata yang mulai memerah. Nadia, yang selama ini memendam rasa hanya pada Fatih, merasa jantungnya baru saja berhenti berdetak mendengar selentingan warga. Ia ingin percaya itu bohong, tapi melihat kerumunan massa di rumah Fatih, harapannya pupus.
"Pak Kiai, tolong jelaskan semua ini? Warga sudah mulai tidak terkendali," ucap Pak Lurah saat mereka masuk ke ruang tamu.
Perbincangan serius terjadi antara Pak Lurah dan Kiai Bashir. Sementara itu, Nadia berdiri di ambang pintu, menatap Fatih yang duduk menunduk di sudut ruangan.
"Apa ini, Ustadz...?" tanya Nadia dengan suara yang pecah.
Fatih mengangkat wajahnya yang bingung. Ia menggeleng lemah. "Saya tidak tahu, Nadia. Saya benar-benar tidak tahu..."
"Saya kecewa padamu, Ustadz!" Nadia memutar tubuhnya, tak sanggup lagi menahan tangis yang tumpah.
Di dalam kamar tamu, Bella mulai siuman. Tubuhnya kini sudah tertutup mukena putih bersih milik Umi Fatimah. Saat ia membuka mata, ia melihat Pak Lurah, Kiai Ahmad Bashir, dan Fatih sudah berdiri mengelilinginya.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Pak Lurah dengan nada menyelidiki.
"Saya... Bella. Tolong... to-tolong saya..." Bella terisak, tangannya mencengkeram kain mukena itu erat-erat.
"Maksud Nak Bella, tolong kenapa?" tanya Pak Lurah lagi.
"Saya kabur dari orang yang ingin melecehkan saya... lalu saya dikejar-kejar anak buahnya..." cerita Bella terbata-bata.
Umi Fatimah yang duduk di sampingnya segera merangkul pundak Bella, memberinya kekuatan. Naluri seorang ibu bangkit melihat kerapuhan wanita di depannya. Umi ikut terharu, air matanya menitik.
Namun, Fatih tetap pada posisinya. Ia merasa harga dirinya yang dibangun bertahun-tahun kini hancur karena cerita yang baginya terdengar seperti alasan klasik.
"Bagaimana tidak dilecehkan?!" bentak Fatih kasar. "Kamu berpakaian layaknya orang penghuni neraka begini! Kamu mengundang syaitan!"
Bella merasakan sebuah ngilu yang luar biasa di hatinya mendengar kata-kata itu. Fatih benar, Dia tidak membantah, dia justru menunduk dan mencengkeram mukenanya sampai buku jarinya memutih, seolah dia mengiyakan bahwa dirinya memang pantas masuk neraka. Tapi, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya dijual... dijual oleh ayah tiri saya sendiri karena utang judi!" teriak Bella sambil menangis histeris. "Saya berontak! Saya lari karena saya tidak mau dijual kepada mereka! Hiks... hiksss..."
Ruangan itu mendadak hening. Umi Fatimah menatap Fatih dengan pandangan tajam, menegur. "Nak, jangan berprasangka dulu. Jangan kamu menghukumi orang kalau belum jelas duduk perkaranya."
"Belum jelas apanya, Umi?!" Fatih menyahut tak mau kalah. "Fahakum bidhowahir! Secara lahiriah dia sudah menunjukkan siapa dia! Dia membawa fitnah besar ke rumah ini!"
"Fatih, diam!" Umi Fatimah membentak, membuat Fatih terhenyak. Jarang sekali Umi berbicara sekeras itu.
Fatih tersadar ia baru saja mendebat ibunya. Ia beristighfar pelan, "Astagfirullohal adzim..!!"namun dadanya masih sesak oleh amarah.
"Lalu, bagaimana ini, Pak Lurah?" tanya Kiai Ahmad Bashir bimbang.
Ustadz Lukman, yang sejak tadi diam di pojok ruangan, mendekati Pak Lurah. Ia setengah berbisik, "Nikahkan saja, Pak. Biar aman, warga sudah mulai beringas."
Pak Lurah mengangguk-angguk. Ia berdiri dan menatap Kiai Ahmad Bashir. "Ya, menurut saya juga begitu. Lebih baik nikahkan saja mereka. Warga tidak tahu apa-apa dan mereka terus menyebarkan berita sesat. Demi martabat Pak Kiai, dan demi keselamatan Nak Bella juga."
Lukman tersenyum menang dalam diam. Ia melirik Nadia yang sedang berjalan menjauh di luar sana.
'Maafkan aku, Fatih. Nadia biarlah jadi milikku. Jangan lagi kamu jadi penghalangkah,' batin Lukman licik.
"APA?! Menikah?!" Fatih tersentak berdiri. "Nggak, Abi... Umi... nggak mau!"
Umi Fatimah mendekati Fatih, mengusap lengannya. "Nak, nikahilah dia. Lindungi dia. Mungkin ini cara Allah memberimu ladang pahala."
Kiai Ahmad Bashir juga mengangguk setuju. Zahra pun ikut mendekat, "Bang... kasihan kak Bella, Bang. Kalau dia keluar sekarang, dia pasti tertangkap preman itu lagi."
Lukman menghampiri Fatih, lalu berbisik sangat lirih di telinganya. "Fatih, ini cuma untuk meredam warga. Nikahi saja dulu. Nanti kalau suasana sudah tenang, kamu tinggal ceritakan yang sebenarnya atau kamu ceraikan dia baik-baik. Kan kamu suaminya, tinggal bilang talaq, beres semua urusan."
Fatih menatap Lukman, tidak percaya saudara sekaligus sahabatnya menyarankan hal itu. Namun, di tengah kepungan tekanan dari semua sisi, hasutan Lukman terasa seperti satu-satunya jalan keluar yang logis baginya.
Fatih memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang. "Baiklah... saya akan nikahi dia," katanya dingin sambil melirik Bella dengan tatapan benci.
Bella terdiam. Ia merasa terjepit. Di satu sisi, ia aman dari Barja dan Dahlan, ayah tirinya yang kejam. Namun di sisi lain, ia menatap Fatih dan merasa bahwa ini adalah penjara baru dalam bentuk yang lain. Penjara kebencian.
Di kejauhan, Nadia sudah masuk ke dalam mobil ayahnya. Ia menangis tersedu-sedu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Mpok Wati yang memperhatikannya dari balik kerumunan tersenyum puas. "Neng Nadia... tenang saja. Biar si Jalal saja yang pantas buat Eneng. Ustadzmu itu sudah cacat!" batin Wati. Jalal, anaknya yang pengangguran dan tukang main burung itu, memang sudah lama mengincar Nadia.
"Cepat panggil penghulu! Demi keamanan Kita nikahkan mereka berdua sekarang juga!" perintah Pak Lurah dengan tegas.
Pagi itu, di bawah bayang-bayang fitnah dan pengkhianatan yang rapi, sebuah pernikahan darurat disiapkan. Sebuah ikatan yang seharusnya suci, kini dimulai dengan kebencian dan intrik yang gelap.