Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 33
Sudah satu bulan pengajian di perumahan sebelah berjalan lancar, tepatnya sudah empat kali pertemuan, dan minggu ini adalah pertemuan kelima.
Kila memang tidak pernah pergi ke pengajian itu, sebab Rico tak memberinya izin, Kila berulang kali meminta Izin, berulang kali pula Rico menolaknya.
"Jangan membantah sayang, apa pun ceritanya aku melarang mu pergi ketempat itu" begitulah perkataan Rico menolak pinta Kila.
"Mas, aku yang mengadakan pengajian itu, masak aku gak pernah pergi sama sekali mas" ujar Kila satu kali saat tiba waktu pengajian.
"Sayang bisa menghentikan pengajiannya, agar tak menjadi beban saat sayang tak bisa datang," jawab Rico menatapnya dengan penuh penegasan, bahwa titahnya tak bisa di bantah.
Dan sudah di pastikan Kila yang mengalah, hanya ikut andil di belakang layar, menyiapkan materi pengajian, mengundang penceramah, menyiapkan sembako berupa beras, minyak, gula, mie, telor dan lainnya.
Alhamdulillah jemaahnya di setiap pertemuan selalu bertambah, entah karena sembakonya atau keinginan menimba ilmu, bagi Kila keduanya sama-sama bermanfaat untuknya.
Dengan perut yang sudah terlihat membesar, Kila terlihat sibuk membantu mengepak sembako kedalam kardus berwarna putih.
"Maaf nyonya, biarkan kami saja yang melakukannya" ujar Nana saat melihat nyonyanya mulai berkeringat.
"Tidak apa mbak, ini tidak terlalu sulit untuk di kerjakan" ujar Kila.
"Tapi nyonya sudah bermandi keringat" ujar Nana yang khawatir Kila kelelahan.
"Ini hanya keringat mbak, malah baguskan, ngeluarin keringat" ujar Kila tak mengindahkan larangan Nana.
"Mbak, tuan ada menghubungi mbak Nana gak " tanya Kila di sela kesibukannya.
"Tidak ada, ada apa nyonya" Nana balik bertanya.
"Gak ada, perasaanku gak enak seharian ini gak tau kenapa" ujar Kila.
"Kalau begitu sebaiknya hari ini nyonya di rumah saja tidak usah kemana-mana" usul mbak Nana yang di sambut dengan senyum.
"Apa pun yang terjadi itu udah qadar Allah gak bisa di elak mbak" ujar Kila.
"Tapi pirasat biasanya sebagai perlambang nyonya" tutur Nana, yang di rasa Kila ada benarnya juga.
"Hari ini memang kita gak ada kegiatan di luar rumah kan mbak, hari ini sekolah libur" ujar Kila.
"Iya nyonya" sahut Nana, hari ini memang sekolah libur, di setiap jum'at Kila meliburkan muridnya.
Selesai juga mengepak barang yang akan di bagikan saat pengajian besok, dan sudah di pastikan dia tak akan bisa mengikuti pengajian.
**
Kila melihat jam di ponselnya dengan perasaan gelisah, bukan karena Rico yang belum pulang selarut ini, tapi karena ponsel Rico yang tak bisa di hubungi sedari siang, di tambah lagi perasaan was-was yang di rasanya seharian ini.
Dia berusaha memejamkan kedua matanya, tapi tetap tak mau terpejam, padahal sudah pukul dua dini hari. Kila bahkan sudah menamatkan tiga zus bacaan Alqur'annya, demi mengisi waktu menunggu suaminya pulang.
Kila baru saja berbaring ketika terdengar deru suara mobil, tapi sepertinya bukan hanya suara mobil milik suaminya, sebab deru itu terlalu ramai, Kila membuka pintu kaca pembatas kamarnya dengan Balkon, kemudian beranjak menuju Balkon, memeriksa keadaan di bawah melalui Balkon kamarnya.
Ada beberapa mobil terparkir di halaman, ada kegaduhan di bawah sana, beberapa orang berjas hitam tampak keluar dari mobil dengan mengotong seseorang yang tampah terkulai lemas. jantung Kila seketika berhenti berdetak, apa yang terjadi di bawah sana.
Dengan langkah tergesa Kila memasuki lift menuju kelantai bawah, ketika lift terbuka pemandangan mengerikan telihat di sana, bercak darah tampak berceceran di lantai, sementara di satu sisi ruangan Kila melihat dinding yang semula rata kini terlihat memiliki cela berupa pintu.
Pria berjas hitam dengan postur tinggi tegap tampak keluar masuk dari ruangan itu, kila tak mengenal satupun mereka, tak satupun dari mereka, menyadari kehadiran Kila yang sedang berdiri dengan kaki lemas tak berdaya.
Tak berapa lama seorang pria dengan kemeja putih penuh bercak darah keluar dari ruangan itu, yang di kenali Kila sebagai sekertaris suaminya Bramantio.
Dengan langkah terseret Kila mendekati Bram ingin bertanya padanya ada apa ini, baru beberapa langkah dia berjalan, matanya menangkap sosok Rico keluar dari ruangan itu.
Rico hanya mengenakan kemeja putih, yang tak utuh lagi bercak darah tampak menempel pada kemeja putihnya, wajahnya pias menatap Kila yang mematung berdiri beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Nana!!," teriaknya panik, mencari sosok Nana yang entah dimana.
Menyadari Nana tak berada di sana, Rico beranjak mendekati Kila, yang juga terlihat pias dengan linangan air mata di pipi mulusnya.
Manik matanya liar menatap tubuh Rico dari ujung rambut hingga kaki, tatapannya berhenti pada luka di bahu kiri yang sudah di perban, tapi darah segar masih terlihat merembes membasahi perban yang membalut lukanya.
"Ada apa.." tanya Kila dengan bibir bergetar menahan tangis yang nyaris meledak.
"Sayang, tutup matamu jangan lihat apapun" rengkuh Rico, lalu menyembunyikan wajah pias itu di balik dada bidangnya, getaran tubuh ketakutan kila membuat Rico panik.
"Ada apa mas" lirih terdengar suara Kila.
"Tidak ada sayang, hanya kecelakaan kecil" ujar Rico berusaha menenangkan Kila.
Kegaduhan kembali terjadi di ruangan itu saat beberapa dokter turun dari mobil berjalan tergopoh-gopoh menuju ruangan tempat Rico tadi keluar.
Sebagian lagi sibuk membersihkan darah yang tergenang di lantai dengan cairan pembersih.
"Mas" rintih Kila semakin takut, membuat Rico semakin bertambah panik.
"Nana!!" teriak Rico penuh emosi.
Nana berjalan tergesa menghampiri Rico yang menatapnya penuh kemarahan atas kelalaiannya membiarkan Kila melihat semua ini dengan matanya.
"Maaf tuan saya tidak tau kalau nyonya turun kebawah" ucapnya gugup.
"Nyonya mari ikut dengan saya ke atas" ujar Nana.
Kila diam tak bergeming hanya isak tangis yang terdengar dari bibirnya.
"Sayang pergilah keatas dengan Nana, nanti kalau di sini sudah beres aku akan menemuimu" bujuk Rico dengan lembut.
Kila tetap tak bergeming, jemarinya bahkan mencengkram kemeja Rico dengan erat, gelengan lembut kepala kila, menunjukkan penolakannya.
Rico memberi isarat pada Nana untuk mengikutinya keatas bersama Kila.
"Ayo sayang" ujar Rico membimbing tubuh lunglai Kila menuju lift, kemudian membawanya kekamar mereka.
"Tunggulah di sini sayang, Nana akan menemanimu" ujar Rico menempatkan tubuh kila di atas ranjang, dia pun menyempatkan mengganti kemejanya dengan kaus omblong.
"Nana masuklah," seru Rico pada Nana yang berdiri di luar kamar.
"Kau tunggu nyonya, jangan membiarkannya sendiri Na, aku urus dulu masalah di bawah" ujarnya pada Nana yang memgangguk tanda mengerti.
"Sayang aku kebawah dulu ya, tunggalah di sini bersama Nana" ujarnya seraya memeluk tubuh Kila yang membeku sedingin es. Kila hanya menganguk tanpa ekpresi, membuat Rico menarik nafas dalam.
"Aku pergi sayang" ujarnya mengecup ubun-ubun istrinya yang terlihat begitu shock.
Sepeninggal Rico, Nana beranjak mendekati Kila, perlahan duduk di sebelah nyonyanya yang terlihat begitu pucat.
"Nyonya istighfarlah, agar hati nyonya tenang" ujar Nana hati-hati, seraya menggengam jemarinya yang sedingin balok es.
"Astaqfirullahaladzim"
"Astaqfirullahaladzim"
"Astaqfirullahaladzim" ucap Kila berulang kali hingga hatinya sedikit tenang.
Perlahan kesadarannya yang sempat melayang kini berangsur kembali.
"Mbak Nana temani aku mengerjakan sholat dua rakaat, Kita mengalami musibah sebaiknya kita melakukan sholat dua rakaat" ujar Kila pada Nana, yang telah mampu mengingatkannya pada istiqfar di saat dia kehilangan pegangan.
"Baik nyonya"
Kila membasuh mukanya dengan air wudhu, guna melaksanakan sholat dua rakaat, di sampingnya Nana melakukan hal yang sama.
Dengan petunjuk dari Kila Nana ikut melaksanakan Sholat dua rakaat, memohon pertolongan atas musibah yang tengah menimpanya saat ini, berserah diri pada segala ketentuan yang khalik, tak ada satu peristiwapun yang luput dari penglihatannya, semua terjadi atas izinnya.
Kila menyadari betapa lemah imannya saat ini, allah hanya memberinya ujian kecil tapi kila seperti kehilangan sandaran,.
Dengan khusuk Kila memohon keselamatan untuk lelaki yang begitu dia cintai, dia bahkan rela menukar keselamatan suaminya dengan nyawanya.
**
Menjelang subuh Rico baru keluar ruangan rahasia miliknya, dengan langkah tergesa dia menemui Nana yang tengah menemani istrinya yang baru saja terlelap.
"Terimakasih" ujar pada Nana.
"Kau istrahatlah" ujarnya lagi.
"Bagaimana Alan, tuan" tanya Nana dengan berbisik.
"Sudah di tangani, tapi masih belum sadar, kau bisa menemuinya kalau kau mau"
"Trimakasih tuan" ujar Nana berlalu keluar dari kamar.
Perlahan Rico merebahkan tubuhnya di samping Kila, memeluknya perlahan berusaha memberinya kenyamanan.
"Sayang maaf" bisik Rico seraya membelai lembut puncak kepala Kila, kini ikut memejamkan matanya di samping Kila, terlelap untuk sejenak melupakan peristiwa berdarah yang nyaris merenggut nyawanya.
.
.
Happy reading .
.
.
Mohon dukungannya agar untuk karya ini, dengan like dan vote ya sayang🙏🙏🥰
apa kurang gelap ya malam hari 🤣🤣🤣