Dua Orang yang tidak mempercayai cinta, dipertemuan dalam sebuah pernikahan yang dilakukan hanya untuk pencitraan semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panas Dingin
"Wah ternyata gak enak jadi sosialita," keluhnya sambil memijat kakinya yang terasa pegal.
Raffael tersenyum melihat Lala duduk menggerutu di halte bus.
Ia segera menghentikan mobilnya tepat didepan gadis itu.
"Oii, Cepat naik sebelum aku berubah pikiran!" seru Raffa
Lala segera menenteng high heelsnya dan buru-buru masuk kedalam mobil, saat Raffa membukakan pintu untuknya.
"Semoga tidak ada paparazi," ucap Lala menengok ke kanan dan ke kiri.
"Gak mungkinlah, memangnya Lo artis apa sampai diikuti oleh paparazi," jawab Raffa
"Ya kali aja, soalnya kan sekarang aku udah jadi the Queen of Sosialita," jawab Lala menyombongkan diri
"Dih mulai deh sombongnya," goda Raffa
"Sekali-kali boleh lah," jawab gadis itu segera memakai save beltnya
Raffa terkekeh mendengar jawaban Lala, ia segera melesatkan mobilnya meninggalkan hotel.
Raffa terpaksa memilih pulang menggunakan jalur alternatif saat melihat kemacetan mengular di jalur utama.
"Apa tidak berbahaya kita lewat jalan ini?" Lala sedikit terkejut saat Raffael menerobos jalur alternatif yang sudah diberi tanda peringatan melintas.
"Hanya jalan ini yang disarankan oleh google," jawab Raffa enteng
"Jangan terlalu percaya sama mbah google, awas nanti kecewa," sahut Lala kemudian memejamkan matanya
Ditengah perjalanan tiba-tiba mobil Raffa mengalami ban bocor hingga ia harus turun untuk mengganti ban mobilnya.
"Pasti ada yang sengaja menyebar paku di sini hingga ban ku langsung bocor!" keluh Raffa
Ia segera mengambil ban serep dan bersiap untuk mengganti bannya.
"Coba ada Shopia, pasti dia yang akan mengerjakan semuanya," Raffa melirik kearah Lala yang tertidur pulas didalam mobil.
Saat ia sedang khusuk mengganti ban mobilnya tiba-tiba beberapa orang bersenjata tajam terlihat mengendap-endap menghampirinya.
Lala tiba-tiba terbangun saat mendapati mobilnya berhenti. Ia kemudian mencari keberadaan Raffa, betapa terkejutnya ia saat melihat segerombolan orang membawa senjata tajam berjalan kearah mobilnya.
Ia kemudian melihat kebelakang untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.
Dahinya mengernyit saat melihat sebuah papan peringatan dilarang melintas karena sering terjadi pembegalan.
"Sial, dimana dia??" Lala kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Raffa
"Ya, ada apa?" tanya Raffa
Lala melihat pemuda itu keluar dari bawah mobil untuk mengangkat ponselnya.
Ia buru-buru keluar dari mobil saat melihat para pemuda itu semakin mendekat kearah Raffa. Ia bermaksud memperingatkan pemuda itu untuk segera pergi dari tempat itu, Ia langsung berteriak saat melihat salah seorang dari mereka hendak mengayunkan baton kepada Raffa.
"Awas dibelakang mu bang!" seru Lala
Raffa reflek menghindar saat melihat seseorang menyerangnya.
Lelaki itu menghampiri Lala, "Bagaimana ini, aku tidak bisa beladiri," bisik Raffael
"Tenang saja aku akan melindungi mu," sahut Lala begitu percaya diri
"Weh, yang benar saja!" cibir Raffa
"Meskipun tubuhku kecil dan seksi tapi aku yakin bisa mengalahkan mereka," jawab Lala
"Yang benar saja!"
"Baiklah aku akan membuktikannya agar kau yakin denganku!" Lala segera melompat dan menyerang para pembegal tersebut.
Sementara itu Raffa hanya melihatnya sembari berdecak kagum melihat kemampuan beladiri gadis itu.
"Sepertinya Dhiv harus bersyukur karena memiliki calon istri seorang wonder woman seperti Lala," ucapnya lirih
Saat melihat Lala kewalahan pemuda itu segera mengambil kunci Inggris untuk menyerang para pembegal.
*Buugghh!!
Satu persatu penjahat itu berjatuhan dan segera berlari meninggalkan keduanya.
Raffa segera menghampiri Lala untuk memastikan kondisinya.
"Apa kau baik-baik saja??" tanyanya sambil merapikan rambut gadis itu yang terlihat acak-acakan
"Aky baik-baik saja," jawab Lala kemudian menepis lengan Raffa yang masih merapikan rambutnya.
Jujur Lala sedikit merasa canggung dan belum terbiasa mendapatkan perhatian romantis dari seorang laki-laki.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini sebelum para begal itu kembali lagi," ucap Lala
"Ok," jawab Raffa kemudian merapikan semua perkakasnya.
Ia kemudian segera masuk kedalam mobil menyusul Lala.
"Tanganmu terluka!" seru Raffa langsung menarik lengan Lala
"Ah, hanya luka kecil tidak masalah," jawab gadis itu melepas tangannya
"Jangan sekali-kali meremehkan luka kecil, karena ia bisa membesar dan membuatmu semakin merasakan sakit yang begitu dalam. Jadi sebaiknya obati sakit itu sebelum melebar dan menyiksamu," jawab Raffa
Pria itu segera mengambil kotak obat dan mengobati luka di lengan Lala.
"Kalau besok lukanya belum membaik, sebaiknya kau segera berobat ke dokter,"
Raffa kemudian melesatkan mobilnya kembali ke Wastu Kencana Ungu.
"Sekali lagi terimakasih atas bantuan mu malam ini," ucap Lala sebelum turun dari mobilnya
"Kembali kasih," jawab Raffa
Lala segera masuk kedalam rumah, namun Shelomita langsung menghadangnya di depan pintu.
"Malam ini aku benar-benar bangga padamu, setidaknya setelah aku tahu jika kau adalah anak angkat dari Bramantyo Sudarsono. Tapi meskipun begitu aku masih belum yakin jika kau adalah benar-benar kekasih Dhiv, aku masih meragukan hubungan kalian apalagi melihat mu semakin dekat dengan Raffael, jadi seperti yang kau ucapkan tempo hari malam ini aku ingin kau menepati ucapan mu untuk tidur sekamar dengan Dhiv, dan buktikan padaku jika kalian benar-benar sepasang kekasih yang dimabuk cinta bukan hanya settingan," ucap Shelomita menyeringai
"Ok, dengan senang hati aku akan melakukannya," jawab Lala tersenyum lebar
Gadis itu kemudian melenggang masuk meninggalkan Shelomita.
"Sebenarnya apa yang direncanakan gadis itu hingga begitu percaya diri!"
Setibanya di kamarnya Lala segera merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Malam ini kalian akan menjadi saksi bagaimana tersiksanya aku yang akan tidur seranjang dengan calon suami pura-pura ku,"
"Kau benar La," jawab Dhiv membuat Lala langsung melompat dari ranjangnya karena kaget.
"Astoge!!" serunya saat melihat Dhiv berbaring di ranjangnya
"Sejak kapan kau masuk ke kamar ku!!" seru Lala
"Sejak tadi, aku sengaja menunggumu disini karena ibu sudah mengunci kamarku, tapi aku malah ketiduran, " jawab Dhiv kemudian duduk di bibir Ranjang
"Apa ibumu menyuruh mu tidur disini malam ini?" selidik Lala
"Benar sekali,"
"Ah, wanita itu benar-benar membuatku pusing, sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Lala
"Yaudah kita tidur saja, apa susahnya sih," jawab Dhiv begitu enteng
"What, tidur saja, kau pikir aku bisa tidur saat berdua dengan lelaki yang bukan muhrim!" sahut Lala
"Kalau begitu kau tidak usah tidur, cukup berbaring saja disamping ku, tenang saja aku. tidak akan melakukan apapun padamu," jawab Dhiv
Lala terdiam sejenak sambil mengamati sekelilingnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kamera kecil yang terpasang di sudut kamarnya.
Dasar mak lampir, sepertinya dia sengaja memasang kamera pengintai untuk memastikan apa benar hubungan kami settingan atau tidak.
Gadis itu kemudian beranjak dari duduknya dan berdiri didepan Dhiv.
"Sayang, sepertinya aku tidak bisa tidur jika belum mandi. So kamu mau kan menungguku sebentar lagi," ucap gadis itu menggodanya
"Mandi???" tanya Dhiv mengernyit
"Benar, supaya malam panjang kita semakin hot dan bergairah, tapi kalau kau tidak sabar kita bisa mandi berdua dan melakukan pemanasan di kamar mandi," ucap Lala membuat Dhiv semakin panas dingin.
Bagaimana bisa gadis itu berubah dalam sekejap, tentu saja Dhiv semakin bingung dengan sikap Lala.
Melihat kebingungan dimata Dhiv membuat Lala langsung duduk di pangkuannya dan memeluk erat lelaki itu.
"Sebaiknya kau ikuti saja permainan ku, jika tidak mau hubungan kita terungkap oleh ibu tiri mu itu," bisik Lala
"Ok," jawab Dhiv sedikit gagap
"Terimakasih sayang," ucap Lala kemudian mencium pipi lelaki itu dengan begitu dalam.
Sebagai lelaki normal tentu saja Dhiv tak bisa memungkiri jika alam bawah sadarnya sudah mulai berkelana. Bahkan adik kecilnya seketika beraksi saat merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh dadanya.
Hasratnya semakin meningkat saat gadis itu menciumnya dengan begitu lembut. Meskipun ia sudah berusaha mengendalikan dirinya, tetap saja naluri kelelakiannya tidak bisa diam saja melihat sesuatu yang menggodanya.
"Sebaiknya kau cepat mandi, karena tak baik jika kau mandi terlalu malam," ucap Dhiv
"Baiklah sayang, aku tahu kamu sudah tak sabar untuk menikmati malam pertama kita," Lala segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Arrgghhh!!" pekik Dhiv langsung merebahkan tubuhnya ke kasur dan memeluk guling di sampingnya.
Lelaki itu benar-benar bingung saat mendapati adik kecilnya terus menegang.
"Sekarang aku harus mencari cara untuk menidurkannya," ucap Dhiv meringis
Tak jauh berbeda dengan Dhiv, lala langsung bergidik saat ia sudah berada di kamar mandi.
"Ya Allah, untuk saja macan Dhiv tidak keluar dari sarangnya, bisa kacau kalau itu sampai terjadi. Sepertinya aku harus membuat perlindungan yang kuat untuk melindungi diriku saat tiba-tiba macam buas itu kembali terbangun dan tidak bisa mengontrol dirinya," Lala segera berendam di dalam bathub untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang mulai meningkat setelah mencium Dhiv
Setengah jam kemudian saat ia selesai mandi, ia tersenyum saat melihat Dhiv terlelap di ranjangnya.
"Syukurlah dia tertidur, setidaknya aku bisa bernafas lega malam ini," ia kemudian segera mengambil baju ganti dan membuka handuknya.
Dhiv yang mulai membuka matanya kembali memejamkannya saat melihat Lala sedang berganti pakaian di depannya.
Sial, bagaimana bisa ia berganti pakaian didepan ku,
Selesai berganti pakaian, Lala segera duduk di bibir ranjangnya dan bersiap tidur.
"Sepertinya malam pertama kita harus di tunda dulu karena Dhiv begitu kelelahan hingga mengabaikan calon istrinya," keluh Lala
Ia kemudian mengambil selimut dan menyelimuti tubuh lelaki itu, namun saat ia sedang merapikan selimutnya tiba-tiba Dhiv menariknya hingga gadis itu langsung berbaring di sampingnya.
"Kata siapa malam pertama kita tertunda, kau sudah menggodaku malam ini, so kamu juga harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan padaku," bisik Dhiv kemudian mendekatkan wajahnya
Ia sengaja melemparkan selimut yang di pakainya dan menarik Lala kedalam pelukannya.
Tentu saja gadis itu dibuat panas dingin olehnya, bagaimana tidak?, ia merasa jika Dhiv benar-benar akan melakukan sesuatu padanya.
ada