Sejak lahir, Emira Prawira hanyalah boneka hidup—dirancang untuk patuh, dibentuk untuk menyenangkan pria yang telah dijodohkan dengannya. Ia menelan setiap penghinaan, tersenyum di depan kamera, dan berpura-pura bahagia sebagai tunangan Marko Gunawan, sang pewaris dingin yang tak pernah sedetik pun memandangnya dengan lembut.
Tapi semua berubah saat seorang pria kembali ke dalam hidupnya.
Daniel Mahendra—konglomerat muda yang dijuluki "sang kaisar", pria paling berkuasa sekaligus paling diidamkan di negeri ini. Di mata dunia ia dingin dan tak tersentuh. Namun di hadapan Emira, ia rela menurunkan seluruh takhtanya. Posesif, memuja, dan tak kenal batas: "Cukup minta, dan akan kuberikan segalanya."
Ketika keluarga yang seharusnya melindunginya justru mengkhianatinya, Emira harus memilih—terus menjadi korban, atau bangkit menjadi wanita yang ditakuti dan dicintai. Di balik senyum lembutnya tersimpan dendam yang membara, rahasia keluarga yang berdarah, dan sebuah dunia kekuasaan yang jauh lebih gelap dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naysol C., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
— Emira —
Setelah selesai bicara dengan Daniel, aku pergi mengambil charger-nya untuk kubawa ke ruang tamu. Kamar-kamar di rumah ini sedang riuh oleh para pelayan yang sibuk memindahkan barang-barang kami. Sambil menyusuri lorong, pikiranku melayang pada kejadian kemarin. Rasanya aku terlalu banyak bersandar pada Daniel. Dulu kami hanya berteman selama beberapa bulan, dan siapa yang menyangka kini ia bersedia menjalin hubungan kontrak denganku.
Aku tahu ini gila dan tak masuk akal. Tapi aku harus membuat mereka membayar semua luka yang telah mereka torehkan dalam hidupku. Selama ini aku selalu menuruti apa pun yang mereka katakan, hanya demi memperoleh kasih sayang mereka. Namun yang kudapat sebagai balasannya cuma hinaan, penistaan, dan siksaan. Aku kira jika aku bertahan dan bersikap persis seperti kemauan mereka, suatu hari mereka akan mengakuiku. Aku begitu haus akan cinta mereka sampai buta, sampai menjadi seorang tolol.
Begitu tiba di ruang tamu, aku duduk dan mencolokkan ponsel ke charger. Setelah kunyalakan, kulihat ada sekitar 120 panggilan tak terjawab dan 40 pesan. Panggilan itu dari sahabatku, Regina, sisanya dari Bagus dan David. Sambil menggeser satu per satu notifikasi dengan jariku, aku berhenti saat membaca nama Marko. Ia meneleponku dan mengirim pesan.
Aku terdiam beberapa saat. Untuk apa ia menghubungiku? Tapi aku tak ingin membaca isi pesannya.
Pasti hanya untuk menyuruhku mengambil barang-barangku dari rumah. Saat itu juga ponselku berdering, panggilan dari Regina. Begitu kuangkat, hal pertama yang kudengar darinya:
"Emira, kamu di mana? Kamu baik-baik saja? Kenapa nggak angkat teleponku?" teriaknya marah. "Kamu tahu nggak sih aku sekhawatir apa? Semalam aku sampai nggak bisa tidur sama sekali."
"R-Regina, tenang dulu. Aku baik-baik saja. Aku nggak angkat teleponmu karena baterai ponselku habis."
"Duh," Regina menghela lega. "Kukira kamu bunuh diri. Aku bahkan hampir melaporkanmu sebagai orang hilang."
"Hei, aku nggak akan senekat itu."
"Semalam kamu menginap di mana?"
"Di rumah seorang teman—"
"Teman?" Suaranya penuh curiga. "Sejak kuliah dulu kamu nggak pernah punya teman." Nadanya berubah serius. "Kamu pasti menginap di hotel."
"Aku nggak bohong. Dia tahu keadaanku dan menawariku menginap di rumahnya."
"Emira..." Kini nada Regina cemas. "Kita ketemu di kafe saja, ya. Kita ngobrol."
"Hmm," aku ragu. "Kenapa nggak di rumahmu saja? Ada apa?"
Regina terdengar tak nyaman. "Anu... Marko datang mencarimu hampir tengah malam. Kami sempat bertengkar kecil, dan... aku mengundurkan diri dari pekerjaanku."
"Kamu resign?!" Aku baru sadar suaraku meninggi. Kutengok kanan-kiri, memastikan tak ada yang mendengar, tapi tak ada siapa pun di sekitarku. Kudehem sebentar. "Kita ketemu siang nanti di tempat biasa..." Lalu, teringat Marko yang mendatangi rumah sahabatku, aku berubah pikiran soal lokasi. "Ah, nggak jadi. Kita ketemu di taman dekat kantor J&G saja."
"Baiklah. Sampai nanti."
Setelah menutup telepon, aku merenung betapa aneh sikap Marko. Seumur hidupnya ia tak pernah datang mencariku ke rumah Regina. Padahal dulu sudah berkali-kali aku menginap di rumah Regina, berharap ia akan menjemputku. Tapi selalu aku yang pulang lebih dulu, meminta maaf dan memohon ampun, walau aku tak bersalah. Bisa dibilang itu semacam ngambek untuk menarik perhatiannya.
Setelah beberapa saat sibuk dengan ponsel dan mengirim pesan pada anak-anak itu bahwa aku baik-baik saja dan sedang berada di rumah sahabatku, Regina, padahal jelas-jelas tidak. Aku tak ingin merepotkan Daniel lebih jauh, sebab mereka semua agak overprotektif. Aku masih geli mengingat pertama kali bertemu mereka. Waktu itu mereka sedang dikejar sekawanan anjing liar dalam perjalanan menuju rumah Marko.
Saat itu aku sedikit sedih karena kepergian teman pertamaku, Daniel, dan aku selalu mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering kami datangi. Kebetulan mereka berpapasan denganku, lalu langsung menyeretku ikut lari sambil menarik lenganku. Anjing-anjing beringas itu mengejar kami sepanjang setengah blok, sampai menyudutkan kami ke gang buntu. Tapi begitu kuperhatikan salah satu anjingnya, aku sadar mereka anjing-anjing yang biasa kuberi makan sendiri. Kukeluarkan croquette dari tasku dan kulempar ke samping, sambil melotot dan memarahi mereka.
Kalau dipikir-pikir, berkat Daniel-lah aku bisa berbaur dengan laki-laki, sebab aku selalu menghindari lawan jenis. Sementara Regina, aku mengenalnya di bangku kuliah. Semua kelas kami sama, jadi mau tak mau kami jadi berteman. Atau lebih tepatnya, dialah yang ngotot ingin berteman denganku. Sikapnya yang terus mendekatiku itu berlangsung sekitar dua minggu, sampai akhirnya aku menyerah.
Setelah tenggelam mengenang masa lalu, kulihat Daniel sudah siap berangkat ke kantor. Tapi di sisinya ada seorang pria berambut pirang, berwajah bak model dengan tubuh kekar, sedang menenteng koper-koper berkas. Yah, kalau keduanya dibandingkan, Daniel unggul baik dari segi rupa maupun postur. Daniel menghampiriku dengan kening sedikit berkerut sambil mengamati pria yang menemaninya, lalu memelukku hingga menghalangi pandangan pria itu.
Aku ingin menyingkirkannya karena ia memelukku terlalu erat, tapi sayangnya ada orang lain di sini, jadi aku harus berpura-pura mesra. Kupeluk balik Daniel, lalu berusaha melepaskan diri sambil berkata dengan suara penuh sayang.
"Sayang, lepaskan. Kamu harus berangkat kerja."
Daniel melonggarkan pelukannya sedikit demi sedikit sambil menahan senyum. "Aku nggak mau berangkat... Aku mau di rumah saja sama kamu."
Apa-apaan sih orang ini? Dia tahu nggak betapa susahnya buatku mengucapkan kata-kata manis dan penuh kasih? Sekarang malah dia yang bikin aku merinding dengan gombalan. Tapi aku harus terus berakting dan pura-pura tuli.
"Kamu bisa kena masalah kalau nggak berangkat kerja." Kupegang lengannya, kubuat suaraku selembut mungkin. "Sa-Sayang, kamu bisa kok temani aku makan siang dengan temanku. Tempatnya dekat kantormu."
Aku harus membawanya ikut. Kalau tidak, Regina takkan percaya. Aku penasaran bagaimana reaksinya begitu tahu bahwa idola kesayangannya bertunangan denganku. Siapa yang bisa menyangka pria itu ternyata dia.
"Maaf, Nona," sela pria pirang itu. "Tapi Bapak ada rapat pada jam segitu dan—"
Daniel melotot padanya. "Wisnu." Tatapannya bak hendak membunuh. "Rapat itu dijadwalkan pagi ini."
"Yah, kalau kamu sibuk," ujarku, "nggak apa-apa kok, aku—"
"Tentu saja tidak, sayang." Daniel berbalik dengan tatapan mengancam. "Wisnu, cek lagi jadwalnya baik-baik."
Wisnu berkeringat dingin. "Benar juga. Maaf, Pak, itu kesalahan saya. Nona, Bapak memang benar, jam segitu jadwalnya kosong." Ia gugup dan tergesa-gesa. "Ka-Kalau begitu, permisi, saya undur diri dulu. Saya harus menelepon seseorang."
"Baik, sampai nanti," jawabku.