NovelToon NovelToon
Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Pergi Dari Rumah Mengungkap Segalanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: fianaqila

Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 Pelukan yang Terlambat Bertahun-Tahun

Tatapan Arkan berubah dingin sesaat setelah membaca pesan di ponselnya. Alkina yang duduk di sampingnya langsung menyadari perubahan kecil itu.

“Abang …”

Arkan segera mematikan layar ponselnya lalu menoleh kembali dengan wajah yang jauh lebih lembut.

“Ya kenapa dek?”

“Abang kenapa?”

Pria itu tersenyum kecil.

“Abang tidak apa-apa.”

Namun Alkina tahu itu bohong karena mata Arkan tiba-tiba kembali menjadi mata dingin yang tadi sempat menghilang. Mata seseorang yang terbiasa menghadapi bahaya.

Tanpa sadar Alkina menggenggam tangan abang nya lebih erat.

“Jangan tingalin aku lagi…” Suara gadis itu sangat pelan.

Dan kalimat sederhana itu langsung membuat hati Arkan terasa sesak.

Pria itu memandang Alkina lama sekali sebelum akhirnya mengusap kepala adiknya lembut.

“Abang tidak akan ningalin kamu lagi.” Kali ini ia benar-benar berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan meninggalkan adiknya lagi.

Malam semakin larut Mira akhirnya meminta Alkina istirahat karena gadis itu terlihat kelelahan setelah terlalu banyak menangis.

Namun bahkan saat berjalan menuju kamar Alkina masih beberapa kali menoleh ke arah Arkan.

Seolah takut pria itu menghilang saat ia tidur dan setiap kali mata mereka bertemu Arkan selalu tersenyum kecil untuk menenangkan adiknya sampai akhirnya pintu kamar tertutup pelan.

Sunyi.

Suasana rumah mendadak berubah lebih serius. Tatapan hangat Arkan perlahan hilang setelah adiknya pergi dari ruangan itu

“Tunjukkan.” Perintah Arkan

Salah satu anak buahnya langsung menyerahkan tablet berisi laporan terbaru.

“Hendro mencoba menghubungi beberapa orang luar negeri.” Ucapnya menyampaikan informasi kepada bosnya.

“Tujuannya?”

“Mereka kemungkinan ingin kabur keluar negeri dan memastikan mereka punya tempat aman dan jaminan perlindungan.”

Tatapan Arkan berubah semakin dingin.

“Tidak akan semudah itu kabur dariku.”

Mira memperhatikan Arkan diam-diam.

“Kamu masih mau terus balas dendam?” tanya Mira penasaran.

Arkan tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju ke arah tangga tempat Alkina tadi menghilang.

“Aku cuma mau memastikan... tidak ada lagi yang bisa menyakiti adik aku...”

“Membuat mereka hancur tidak akan menghapus luka Alkina... tapi setidaknya sekarang aku harus memastikan mereka tidak membuat luka baru untuk adikku.”

“Nenek paham.”

Suara Arkan rendah. “Tapi aku juga nggak bisa membiarkan mereka hidup tenang setelah semua yang mereka lakukan.”

Sunyi sesaat.

Mira menghela napas panjang karena sebenarnya ia memahami kemarahan Arkan.

Terlalu memahami. Karena ia juga melihat bagaimana penderitaan Arkan, apalagi saat ia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa duduk di kursi roda dulu.

Di kamar Alkina ternyata belum tidur. Ia duduk memeluk lutut sambil tersenyum kecil sendiri.

Matanya masih sembab namun kali ini bukan karena sedih. Tangannya perlahan menyentuh gelang biru di pergelangan tangan.

“Akhirnya abang pulang…” Air matanya jatuh lagi.

Namun sekarang air mata itu terasa hangat. Selama bertahun-tahun Alkina selalu merasa sendirian menghadapi dunia. Tapi malam ini berbeda karena sekarang ia tahu ada seseorang yang akan berdiri di depannya saat bahaya datang.

Dan seseorang itu adalah abangnya sendiri.

******

Sementara itu di apartemen sempit mereka, Hendro mulai panik setelah semua akses keuangannya mendadak diblokir.

“Apa maksudnya semua rekening dibekukan?” Pria itu membanting meja dengan wajah merah penuh amarah. Harapannya untuk menjadi orang paling kaya sekarang hancur.

Jika sebelumnya mereka masih memiliki kemampuan untuk mendapatkan apa yang mereka mau, sekarang mereka sudah tidak punya apa-apa lagi, mereka sudah jatuh miskin. Karena jalan mereka untuk mendapatkan jalan instan untuk mendapatkan uang usdah tertutup.

Livia juga mulai histeris.

“Kita benar-benar habis sekarang!”

Sisil duduk diam dengan wajah pucat dan ini pertama kalinya ia mulai benar-benar menyesal karena semua yang dulu terlihat mudah sekarang berubah menjadi mimpi buruk.

Tok.

Pintu apartemen diketuk pelan Hendro mengernyit lalu membuka pintu kasar namun tubuhnya langsung membeku.

Beberapa pria berpakaian hitam berdiri di luar dan di belakang mereka Arkan muncul perlahan dengan tatapan dingin.

Wajah Hendro langsung pucat.

“Ka, kamu…”

Arkan melangkah masuk tanpa izin. Aura dinginnya langsung membuat suasana apartemen terasa mencekam.

Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Sisil yang langsung gemetar hebat.

“Akhirnya kita bertemu lagi.” Suara Arkan rendah, tenang, namun jauh lebih menakutkan daripada bentakan.

Livia mundur perlahan.

“A, apa yang kamu mau…” tanya Hendro.

Tatapan Arkan perlahan berubah tajam.

“Aku cuma datang buat kasih peringatan terakhir.” Ia berjalan mendekat pada Hendro.

“Kalau kalian masih mencoba mendekati Alkina…” Tangannya mencengkeram kerah baju Hendro kuat-kuat. “…aku pastikan kalian berharap lebih baik mati malam kecelakaan itu.”

Tubuh Hendro langsung gemetar ketakutan ia benar-benar percaya bahwa Arkan mampu menghancurkan mereka sepenuhnya.

Apartemen kecil itu terasa begitu sempit bukan karena ukuran ruangan melainkan karena kehadiran Arkan.

Pria itu berdiri tegak di depan Hendro dengan tatapan yang membuat udara seolah membeku.

Tidak ada teriakan, tidak ada ancaman berlebihan namun justru ketenangan Arkan jauh lebih menakutkan.

Tangannya masih mencengkeram kerah Hendra sementara Hendro sendiri sudah kehilangan seluruh keberanian yang selama ini ia banggakan.

"Kamu pikir..." suara Hendr a bergetar, "...kamu bisa melakukan apa saja hanya karena punya uang?"

Arkan tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya.

"Aku datang bukan karena uang." Tatapannya perlahan beralih kepada Livia lalu kepada Sisil.

"Aku datang karena kalian menyakiti keluarga yang seharusnya aku lindungi."

Sunyi tidak ada seorang pun yang berani menjawab karena mereka tahu semua yang dikatakan Arkan adalah kebenaran.

Selama bertahun-tahun Alkina menjadi sasaran bukan karena kesalahan gadis itu, bukan karena ia jahat, bukan karena ia tidak layak dicintai melainkan karena keberadaannya menghalangi ambisi mereka dan demi ambisi itu mereka menghancurkan masa kecil seorang anak.

"Aku sudah menyelidiki semuanya." Suara Arkan kembali terdengar kali ini lebih dingin.

"Setiap kebohongan, setiap manipulasi, setiap luka yang kalian berikan..."

Wajah Livia langsung memucat karena ia tahu apa artinya Arkan mengetahui semuanya, bukan sebagian tapi semuanya.

"Termasuk kecelakaan itu." Jantung Livina tiba-tiba berdetak kencang.

Sementara tubuh Hendro langsung membeku, Sisil mengangkat kepala dengan wajah pucat. Sementara Livia terlihat seperti baru saja kehilangan kemampuan bernapas.

"A-apa maksud kamu?"

Tatapan Arkan berubah tajam.

"Mau aku ulang hah?" Tidak ada yang menjawab.

"Kecelakaan yang hampir membunuh aku... Kecelakaan yang membuat keluargaku kehilangan segalanya... Kecelakaan yang ternyata bukan kecelakaan biasa."

Livia langsung terduduk lemas. Air mata mulai mengalir di wajahnya karena rahasia yang mereka sembunyikan selama bertahun-tahun akhirnya terbongkar.

"Kami nggak bermaksud..."

"Diam!" Satu kata itu langsung membuat seluruh ruangan sunyi.

Arkan melangkah perlahan tatapannya tidak pernah lepas dari mereka.

"Kalian tahu apa yang paling lucu?" Tidak ada yang menjawab.

"Kalian mengira berhasil." Senyumnya muncul lagi, senyum dingin yang membuat bulu kuduk meremang.

1
Adinda
kenapa gk lapor polisi
Adinda
balikkin aja anak angkat kamu udah sifatnya kurang ajar sok berkuasa juga
Ds Phone
kau yang tak nak jumpa dia pergi lah
Ds Phone
yang keras hati tu kenapa
Ds Phone
dia tahu itu anak nya
Ds Phone
meraka dah siap sedia
Ds Phone
kau sebok nak hancur kan orang siapa suruh
Ds Phone
abang nya pantau dia
Ds Phone
itu nenek nya juga patut lah begitu sayang
Ds Phone
mintak mintak dia aman
Ds Phone
ya kak kamu tengah beruasa
Ds Phone
semua orang lindung dia
Ds Phone
dia dah mula tenang sikat
Ds Phone
nak bunuh anak orang kah tu
Ds Phone
nak hidup senang aja tahu dia
Ds Phone
tak sedar diri nak harta orang tapi bunuh anak orang
Ds Phone
dia nak balas cara perlahan lahan
Ds Phone
baru kau tahu langit tinggi rendah nya
Ds Phone
mesti budak tak guna tu punya kerja
Ds Phone
kenapa di tutup mesti budak tak guna tu sorok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!