Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan di Balik Fajar dan Manisnya Sisa Badai
Cahaya fajar menyingsing perlahan di balik gugusan perbukitan hijau, mengusir sisa-sisa kegelapan malam yang sempat mencekam istana. Udara pagi terasa begitu sejuk, membawa aroma dedaunan basah yang tersapu embun. Di dalam kamar utama istana yang kini telah kembali rapi dari segala kekacauan malam sebelumnya, suasana terasa jauh berbeda penuh dengan ketenangan, kehangatan, dan debar cinta yang kian menghanyutkan.
Di atas ranjang king-size, Kenzie Al-Ghazali membuka matanya perlahan. Tidak ada lagi kilat kemarahan atau ketegangan yang mendominasi pikirannya. Yang pertama kali tertangkap oleh netra gelapnya adalah pemandangan paling indah di dunia: Aisyah Humaira, sang istri tercinta, tengah tertidur pulas dalam dekapannya.
Wajah damai Aisyah tampak begitu tenang. Helai rambut hitam legamnya tergerai cantik di atas bantal putih, kontras dengan kulit putih bersih alaminya. Kenzie tersenyum tulus—senyuman lembut yang tidak pernah ditunjukkannya kepada siapa pun di luar sana selain kepada wanita di dalam dekapannya ini.
Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan lelap sang istri, Kenzie mengangkat tangannya yang kekar untuk merapikan beberapa helai rambut hitam legam yang menutupi dahi Aisyah. Ia kemudian mendaratkan sebuah kecupan yang amat lembut dan penuh penghayatan di kening istrinya.
Merasa terusik dengan sentuhan hangat di keningnya, bulu mata lentik Aisyah perlahan bergetar. Ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya sepasang mata biru jernihnya terbuka sepenuhnya.
Begitu kesadarannya pulih, hal pertama yang dilihat Aisyah adalah wajah sang suami yang tengah menatapnya lekat-lekat dengan senyuman termanis di bibirnya. Pipi Aisyah seketika merona merah jambu, menjalar hingga ke lehernya. Ia buru-buru menarik selimut tipis untuk menutupi sebagian tubuhnya yang masih bersandar di dada bidang Kenzie.
"Pagi, ratuku..." bisik Kenzie dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar begitu seksi dan menghanyutkan.
Aisyah menundukkan pandangannya, merona malu luar biasa. "P-pagi juga, Mas..." lirihnya malu-malu, mencengkeram erat selimut di dadanya.
Kenzie terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dadanya yang bidang. Pria itu justru semakin mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Aisyah, membuat jarak di antara mereka sama sekali tak bersisa. "Tidur nyenyak, hm? Malam tadi pasti melelahkan sekali, ya?" tanyanya menggoda, merujuk pada ketegangan yang sempat terjadi.
Aisyah spontan mencubit pelan lengan kekar Kenzie, membuat sang suami kembali tertawa kecil. "Mas Kenzie... jangan diingatkan lagi, bikin malu saja," protes Aisyah dengan nada manja yang jarang sekali ia keluarkan.
Mendengar nada bicara istrinya yang terdengar manja, jantung Kenzie berdegup semakin kencang. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Baiklah, tidak dibahas lagi. Tapi sebagai hukuman karena sudah mencubit suamimu ini, kamu harus memberikan senyuman terbaikmu untukku pagi ini."
Aisyah tersenyum malu di balik dekapannya. Tanpa ragu, ia mendongakkan wajahnya sedikit, membalas tatapan penuh cinta dari sang suami. "Apapun untuk suamiku..." bisiknya pelan.
Beberapa jam kemudian, suasana hangat itu berpindah ke area dapur pribadi lantai bawah.
Meskipun Kenzie sempat melarang Aisyah untuk lelah pasca kejadian malam tadi, wanita salihah itu tetap bersikeras ingin melayani suaminya dengan tangannya sendiri. Mengenakan abaya rumah berwarna soft lavender dengan khimar panjang yang menutup dada—sementara cadarnya dibiarkan terbuka karena hanya ada Kenzie di sana—Aisyah tampak sibuk mengaduk secangkir kopi hitam hangat untuk sang suami di dekat meja dapur marmer.
Kenzie, yang mengenakan kemeja santai abu-abu dengan lengan digulung hingga siku, melangkah pelan dari arah ruang kerja. Alih-alih duduk di kursi meja makan, pria itu berjalan tanpa suara mendekati Aisyah dari belakang.
Sebelum Aisyah sempat berbalik, dua tangan kekar Kenzie sudah melingkar erat memeluk pinggang rampingnya, sementara dagu sang suami mendarat pas di atas bahu kanan Aisyah.
Aisyah sedikit terperanjat kecil, napasnya tercekat sesaat. "E-eh, Mas! Kopi nya nanti tumpah..." protesnya gugup, merasakan hembusan napas hangat Kenzie di dekat lehernya.
"Biar tumpah," bisik Kenzie lembut tepat di dekat telinga Aisyah, suaranya terdengar begitu mesra. "Yang penting pelukannya tidak boleh lepas."
Aisyah memejamkan matanya sejenak, meresapi kehangatan luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Hilang sudah bayang-bayang ketakutan dan teror sindikat malam tadi. Yang tersisa di dalam hatinya hanyalah rasa syukur yang tak terhingga karena telah dipertemukan dengan pria sehebat Kenzie—yang di balik ketegasannya sebagai mantan penguasa dunia hitam, ternyata menyimpan sisi romantis dan bucin yang luar biasa besar kepada istrinya.
"Mas ini ada-ada saja... Malu kalau dilihat pelayan nanti," bisik Aisyah malu-malu, pipinya kembali merona merah hingga telinganya memanas.
Kenzie terkekeh pelan, mengecup sekilas pipi istrinya yang mulus tanpa segan. "Biarkan saja. Rumah ini milik kita berdua, dan tidak ada yang berani mengganggu ratu di istana ini sekarang."
Kenzie memutar pelan tubuh Aisyah agar menghadap ke arahnya. Ia mengambil cangkir kopi dari tangan istrinya, meletakkannya di atas meja, lalu menggenggam kedua tangan Aisyah dengan lembut di dalam genggamannya yang hangat.
"Aisyah..." panggil Kenzie dengan nada suara yang tiba-tiba berubah serius namun tetap sarat akan kelembutan.
"Ya, Mas?" jawab Aisyah mendongak, menatap manik mata hitam suaminya.
"Terima kasih," ucap Kenzie tulus, ibu jarinya mengelus punggung tangan Aisyah perlahan. "Terima kasih karena tidak pernah lelah mendoakanku, karena sudah bertahan di sisiku melewati badai kemarin, dan karena telah mengajariku arti cinta yang sebenarnya. Aku berjanji, dunia boleh runtuh di luar sana, tapi kebahagiaanmu di sini adalah tanggung jawab mutlakku sampai akhir hayatku."
Air mata kebahagiaan menetes perlahan di sudut mata Aisyah. Ia tersenyum manis, lalu merapatkan tubuhnya, membalas pelukan suaminya dengan erat.
"Aku juga berjanji akan selalu ada di sisimu, Mas... dalam suka maupun duka, sebagai istri yang akan selalu mencintaimu karena Allah," balas Aisyah lirih.
Di bawah temaram cahaya pagi yang menembus jendela kaca besar istana, dua insan yang sempat terpisah oleh dunia yang berbeda itu saling mengeratkan dekapannya merayakan kemenangan cinta, kesucian, dan lembaran baru lemari rumah tangga yang kini dipenuhi oleh kebahagiaan sejati.