Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Pohon Delima
"Kalau pohon ini berbuah, rumah kita pasti ramai."
Rendra mengucapkannya pada musim hujan pertama setelah akad nikah mereka. Celana bahan yang biasa dipakainya ke kantor sudah digulung sampai betis. Kedua lengannya penuh tanah, sedangkan pohon delima muda di depannya berdiri miring.
Sekar menahan tawa. "Pohonnya hampir tumbang."
"Karena kamu hanya menonton."
"Katanya ini kejutan untukku."
"Kejutannya butuh bantuan. Pegang batangnya sebentar."
Sekar berjongkok di sisi lubang. Ia menahan pohon itu sementara Rendra menambahkan tanah dan memadatkannya di sekeliling akar.
Udara Menteng masih berbau tanah basah. Dari dapur paviliun terdengar radio dan bunyi piring beradu. Tidak ada pelayan di taman. Untuk beberapa menit, mereka dapat mengotori tangan tanpa mendengar nasihat tentang cara bersikap sebagai pasangan dari keluarga terpandang.
"Kenapa memilih delima?" tanya Sekar.
"Banyak bijinya. Kata Eyang, banyak anak, banyak rezeki."
Pipi Sekar memanas. "Kita baru menikah tiga bulan."
"Tidak ada salahnya membuat rencana."
"Pohonnya berdiri tegak dulu, baru bicara soal anak."
Rendra tertawa. Ia menekan tanah sekali lagi, lalu duduk di atas tumitnya untuk memeriksa hasil kerja mereka.
"Nah, sekarang sudah tegak."
Sekar melihat garis lumpur di atas alis suaminya. "Mas Rendra, diam."
Ia mengeluarkan saputangan dan membersihkan wajah Rendra. Lelaki itu menurut, tetapi tatapannya membuat tangan Sekar melambat.
"Kenapa melihatku begitu?"
"Aku sedang memikirkan nama anak-anak kita."
"Pohonnya baru ditanam."
"Kita tetap harus bersiap."
"Kamu mau berapa anak?"
"Lima."
Sekar memukul lengannya dengan saputangan. "Lima? Kamu yang bangun setiap malam, ya."
"Baik."
"Mudah sekali menjawabnya."
"Aku bisa menyetujui apa pun selama kamu yang menjadi ibunya."
Sekar memutar mata, tetapi tidak dapat menahan senyum.
Rendra sudah membuatnya mudah percaya sejak mereka masih kecil. Mereka bertemu di Yogyakarta setiap kali keluarga besar berkumpul. Rendra sering kabur dari pengawasan pengasuh untuk mencari Sekar di gang belakang rumah Eyang Wiryo. Kadang ia bersiul pelan menirukan lagu Cublak-Cublak Suweng agar Sekar tahu ia sudah datang.
Saat berusia dua belas tahun, Sekar pernah mengaku memecahkan sebuah vas meskipun Rendra yang menyenggol meja. Setelah dimarahi, mereka bersembunyi di bawah tangga sambil membagi kue apem.
"Kenapa kamu mengaku?" tanya Rendra kecil.
"Karena Eyang tidak akan memarahiku selama memarahimu."
"Kalau begitu, saat besar nanti aku yang melindungimu."
Janji itu diucapkannya lagi pada hari akad, setelah mereka sah menjadi suami istri.
"Mulai sekarang, aku yang melindungimu."
Sekar mempercayainya. Ia bahkan berani menolak rencana Bambang yang ingin menjodohkannya dengan putra rekan bisnis karena yakin Rendra tidak akan membiarkannya menghadapi kedua keluarga seorang diri.
"Sudah selesai," kata Rendra.
Ia bangkit dan mengulurkan tangan. Sekar menyambutnya, tetapi Rendra tidak langsung melepaskan genggaman mereka.
"Masih ada satu kejutan. Tutup mata."
"Kamu belum lelah membuat kejutan?"
"Tutup dulu."
Sekar menurut. Ia mendengar Rendra membuka sesuatu, lalu merasakan rantai dingin menyentuh lehernya.
Sebuah liontin kecil tergantung di sana. Bentuknya terdiri dari dua keping logam yang dapat dipisahkan dan disatukan menjadi bunga.
Rendra melepas salah satu keping, lalu menunjukkannya di telapak tangan. "Yang ini kusimpan. Yang satu untukmu."
"Kekanak-kanakan."
"Kamu suka?"
Sekar menyentuh liontin di lehernya. "Suka."
"Kalau kita sedang berjauhan, ingat bahwa pasangannya ada padaku."
"Bagaimana kalau kamu menghilangkannya?"
"Aku akan membelikan yang baru."
"Berarti tidak ada gunanya."
"Kalau begitu, aku tidak akan menghilangkannya."
Pintu kaca paviliun terbuka. Ratih datang membawa kotak makanan, sedangkan sopirnya menunggu di luar taman.
"Mama datang pada waktu yang salah?" godanya.
Sekar hendak menarik tangan, tetapi Rendra justru menggenggamnya lebih erat.
"Waktu yang tepat, Ma," jawab Rendra. "Sekar belum makan sejak siang."
Ratih menyerahkan kotak tersebut. "Mama bawa kue lumpur kesukaanmu. Ada sambal juga, tapi jangan terlalu banyak. Perutmu sering bermasalah."
Rendra membuka kotak dan mengambil satu potong sebelum Sekar sempat mencegahnya.
"Itu untuk Sekar," tegur Ratih.
Rendra menggigit setengah, lalu menyodorkan sisanya kepada istrinya. "Kami berbagi."
"Dia selalu bilang begitu kalau mengambil makananku," kata Sekar.
Ratih tertawa. Sebelum pulang, ia menyentuh satu daun pohon delima dan mendoakan agar rumah tangga mereka selalu rukun. Rendra menjawab amin tanpa ragu.
Malamnya, Sekar dan Rendra makan di teras. Pohon muda itu sudah diikat pada penyangga agar tidak roboh diterpa angin. Rendra memisahkan potongan cabai dari nasi goreng Sekar, tetapi menyisakan sedikit sambal untuk aromanya. Ia juga memberikan bagian tepi telur yang garing kepada istrinya.
Sekar memperhatikannya sebelum berkata, "Keluargamu sering membicarakan keturunan."
Rendra meletakkan sendok. "Biarkan mereka bicara. Kita punya waktu."
"Kalau suatu hari mereka memintamu menikah lagi?"
Rendra langsung menggenggam tangannya. "Aku bukan Ayah. Aku tidak akan membawa perempuan lain ke rumah ini."
"Janji?"
"Janji." Ia menunjuk pohon delima di taman. "Kalau perlu, pohon itu menjadi saksi."
Saat itu Sekar percaya tidak ada alasan untuk meragukannya.
Enam tahun kemudian, pohon delima tersebut tumbuh lebih tinggi daripada atap teras. Batangnya kuat dan cabangnya dipenuhi bunga merah.
Rendra jarang duduk di bawahnya bersama Sekar.
Ia sering pulang setelah tengah malam. Pesan Sekar dibaca tanpa dibalas, sedangkan teleponnya ditolak dengan alasan rapat. Ketika kerabat mereka menyindir Sekar di grup keluarga, Rendra hanya menyuruhnya bersabar.
Suatu sore, satu bunga delima jatuh di atas hasil pemeriksaan dari RS Medika Prima.
Sekar mengambil bunga itu. Kelopaknya meninggalkan noda merah pada kertas yang menyatakan tidak ada gangguan berarti pada tubuhnya.
Di bawah pohon yang pernah menjadi saksi janji Rendra, Sekar mulai bertanya apakah suaminya masih mengingat janji tersebut.