NovelToon NovelToon
Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Menjadi Wanita Simpanan Kakak Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:29.2k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.

​Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.

​Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?

​"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Seorang Ibu

Hari berganti pagi. Suasana mansion megah itu terasa tenang dari luar, namun sarat akan ketegangan tak kasat mata di dalamnya.

​Zeffan yang baru saja menuruni anak tangga dengan setelan kemeja kerja yang rapi menghentikan langkahnya saat melihat Marlina berdiri menunggunya di ujung tangga.

​"Zeffan, Mommy ingin berbicara kepadamu," ujar Marlina dengan nada serius namun berusaha tetap tenang.

​Zeffan menatap ibunya dengan raut datar, menyesuaikan jam tangan mewahnya sejenak sebelum mengalihkan perhatian sepenuhnya. "Bicara apa, Mom?"

​Marlina mendekati putranya, menatap lurus ke dalam iris mata Zeffan yang pekat dan selalu dipenuhi tekad dingin.

​"Zeffan, Mommy hanya minta satu saja kepadamu. Jangan pernah merenggut kesucian Syafiya atau membuatnya hamil. Itu saja yang Mommy minta," ucap Marlina penuh penekanan, menahan getar ketakutan di suaranya.

​Zeffan menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat cemoohan. Pria itu menyilangkan tangan di dada, menatap ibunya tanpa sedikit pun rasa gugup.

​"Permintaan yang menarik, Mom," desis Zeffan amat pelan, suaranya teramat tenang namun mengintimidasi. "Kenapa Mommy tiba-tiba meminta hal seperti itu? Apa Syafiya mengadu sesuatu pada Mommy kemarin?"

​Marlina tersentak kecil, namun ia dengan cepat menguasai diri agar tidak membocorkan rasa panik dan protects-nya terhadap Syafiya.

​"Syafiya tidak mengadu apa-apa, Zeffan," bohong Marlina tegas. "Mommy hanya bicara sebagai seorang ibu yang membesarkan kalian berdua. Syafiya itu anak yang Mommy rawat dari kecil. Kalau kamu memang berkeras menguasainya dan menahannya di sini... setidaknya jaga batasan itu. Jangan hancurkan masa depannya lebih jauh."

​"Masa depan Syafiya adalah di sisiku, Mom," pangkas Zeffan dingin, mengikis jarak hingga berdiri tegak di hadapan ibunya. "Semua kebutuhan dan kehidupannya terjamin bersamaku. Apa lagi yang perlu dikhawatirkan?"

​"Kehormatan dan statusnya, Zeffan!" balas Marlina dengan suara tertahan. "Kalau sampai dia hamil anakmu di luar pernikahan yang sah, bagaimana kamu menjelaskan hal itu pada dunia?! Kamu masih suami sah Valerie!"

​"Status dengan Valerie hanya tinggal menunggu waktu sampai tes DNA itu keluar," desis Zeffan, sorot matanya mengeras sekeras batu. "Dan soal Syafiya... aku tahu betul apa yang aku lakukan. Mommy tidak perlu mengajari bagaimana cara aku memperlakukan wanita milikku."

​"Zeffan, Mommy mohon..." panggil Marlina melunak, menahan lengan jas putranya dengan pendar keputusasaan di matanya. "Pegang janji ini demi Mommy. Jangan sentuh dia lebih jauh sampai masalahmu dengan Valerie selesai."

​Zeffan memandangi jemari ibunya di lengannya sejenak, lalu menyunggingkan senyum sinis yang sukar diartikan.

​"Baiklah, Mom," pangkas Zeffan akhirnya, melepaskan pegangan ibunya secara halus namun tegas. "Selama Syafiya penurut dan tidak mencoba melakukan tindakan bodoh untuk lari dariku... aku akan menuruti permintaan Mommy itu."

"Terima kasih, Zeffan," bisik Marlina lega, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya.

"Iya, Mommy. Di mana Syafiya?" tanya Zeffan seraya mengalihkan pandangannya menatap ke arah koridor lantai dua tempat kamar adik angkatnya berada.

"Dia masih tidur bersama Elvano. Mommy sengaja tidak membangunkannya," jawab Marlina pelan, mencoba mengalihkan perhatian Zeffan. "Kasihan dia, tadi malam Elvano rewel dan Syafiya baru bisa tidur menjelang subuh."

Zeffan tidak menjawab. Pria itu justru melangkah berbalik menuju anak tangga, berniat naik kembali ke lantai atas.

"Zeffan, mau ke mana kamu?" tegur Marlina panik, langkahnya tertahan di undakan pertama. "Kamu kan harus berangkat ke kantor pagi ini?"

"Melihatnya sebentar, Mom," pangkas Zeffan dingin tanpa menghentikan langkanya. "Aku cuma mau memastikan dia baik-baik saja."

Zeffan berjalan menyusuri koridor yang hening lalu mendorong pintu kamar Syafiya secara perlahan tanpa menimbulkan suara. Di atas tempat tidur besar itu, Syafiya tampak tertidur lelap melingkarkan tangannya protektif mengitari Elvano yang lelap di sampingnya. Sisa bekas air mata dari malam sebelumnya masih berjejak tipis di pipinya yang pucat.

Zeffan melangkah mendekat, berlutut di samping ranjang. Jemari tangannya yang panjang mengusap lembut anak rambut yang menutupi kening Syafiya, lalu mengecup kening gadis itu lama dan dalam.

"Eungh..." Syafiya lenguh pelan, lengannya bergerak sedikit saat merasakan sentuhan hangat di wajahnya. Perlahan, kelopak matanya terbuka dan seketika membeku melihat Zeffan berada tepat di hadapannya. "K-Kak Zeffan...?"

"Sshh... jangan bising, nanti Elvano bangun," bisik Zeffan tepat di depan bibir Syafiya, membuat napas gadis itu mendadak tertahan.

"Kakak... belum berangkat kantor?" cicit Syafiya terbata-bata, reflek menarik selimut hingga menutupi dadanya saat teringat percakapannya dengan Marlina kemarin.

"Belum. Aku sengaja menunggu kamu bangun," pangkas Zeffan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat dominasi. Ia mengusap bibir Syafiya dengan ibu jarinya. "Nanti siang, datang ke kantorku bersama Elvano. Supir yang akan antar."

"T-tapi Kak, aku harus jaga Elvano di rumah..." bisik Syafiya menolak halus, ketakutan terpancar jelas dari matanya.

"Ini perintah, Syafiya. Bukan penawaran," pangkas Zeffan tegas seraya mendaratkan kecupan singkat di bibir Syafiya sebelum bangkit berdiri. "Jangan buat aku menunggu lama, atau aku sendiri yang akan jemput kamu ke sini."

Syafiya teringat kata-kata Marlina kemarin dan membuatnya sadar. Di rumah ini, menuruti kemauan Zeffan tanpa memicu emosi pria itu adalah satu-satunya cara agar dirinya dan Marlina tetap aman.

"Baiklah, nanti siang aku ke sana," cicit Syafiya pelan, memaksakan diri menatap lurus ke dalam iris mata Zeffan. "Tapi untuk sekarang biarkan aku tidur dulu. Aku benar-benar mengantuk."

Zeffan menyunggingkan senyum tipis—senyum puas yang sarat akan dominasi karena mendengar kepatuhan gadis itu. Jemarinya kembali terulur, mengusap pipi Syafiya dengan kelembutan yang selalu terasa manipulatif.

"Anak pintar," bisik Zeffan seraya merunduk dan mendaratkan kecupan hangat di kening Syafiya. "Tidurlah. Jangan lupa makan setelah bangun nanti."

"Iya, Kak..." balas Syafiya lirih, menarik selimut makin tinggi hingga menutupi lehernya untuk menutupi rasa sesak yang kembali mengental di dada.

Zeffan bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya lalu menatap Syafiya sekali lagi sebelum melangkah menuju pintu. "Jam satu siang supir sudah siap di depan. Jangan terlambat."

"Iya, Kak Zeffan."

Klak.

Pintu kamar akhirnya tertutup rapat. Begitu suara langkah kaki Zeffan menghilang di koridor luar, Syafiya memejamkan matanya erat-erat. Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan menetes membasahi bantal.

Di sampingnya, Elvano menggeliat pelan dalam tidurnya. Syafiya menarik tubuh bayi kecil itu ke dalam dekapannya, membisikkan doa-doa keselamatan di tengah sangkar emas yang kini sepenuhnya mengurung hidupnya.

1
Anisa Dwi riona
zeffran terlalu lamban.cepat nikahin syafiyah nya
Ndaa: gak baca ya di bab sblmnya kalau Syafiya menolak menikah cepat? 😄
total 1 replies
Lilik Juhariah
aku baca sampe mrebes Miki, mungkin kl aku di posisi Fiya , pasti itu yg kulakukan, buat apa marah dendam bikin penyakit baru, lanjutkan Fiya, nanti kl Ka Zeffan marah jelasin pake tampang imut pasti luluh deh
Lilik Juhariah
makasih dah up lagi kak, Fiya kamu sudah menang dari dulu , kak Zeffan begitu mencintaimu , egois kerasnya pasti akan takluk di depan wanita yg dicintainya, Valeri stres kan Krn sikap Zeffan juga
Chenyu Wang
mangkin kesini mangkin suka ceritanya update nya yg byk ya thor🙏🤭
Lilik Juhariah
gitu dong menghadapi laki laki yg jelas inginkan kita itu mudah bangeeet
Lilik Juhariah
syukurlah ada langkah yg lebih maju , Fiya manja manja galak pasti Zeffan akan tertawa , dan bucin
Lilik Juhariah
naaah kan gitu kak , gak usah marah marah, biar Fiya gak takut, Fiya juga gitu tatap lurus kedepan dunia ini Fiya jgn menangis dan menunduk,
Lilik Juhariah
sekali kali.sehari up 2 bab kak🤣
Lilik Juhariah
yuuops gitu kan enak , Valeri kan sudah diceraikan scr agama tinggal scr hukum , Zeffan tarik nafas dan coba duduk , menangislah jika mau menangis Krn penghiatan, Valeri kamu SDH dimaafkan , selesai kan , Krn wanita yg sudah menolak suaminya dua tahun dan hamil anak orang sudah gak pantas dibersamai lagi , aaaah lega , skrng Zeffan dah gak ada alasan marah marah lagi yaaa, Krn cintamu memang untuk Fiya
Lilik Juhariah
kak Zeffan itu baik sebenarnya , cobalah bicara pakai hati Fiya , mungkin dg didikan Zeffan kamu akan menatap dunia dg bahu tegak, lembut sederhana boleh tapi harus tegas , sifat Fiya lembek dan suka nangis
Lilik Juhariah
baguslah punya temen sprt Karin yg mengatakan salah kalau itu salah, kok bisa selevel Zeffan ditolak
Aditya hp/ bunda Lia: bener banget
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
fatal kamu Valerie ... yakin zeffan gak akan maafin kamu dan Karin ayo terus ingetin si Val buat ngaku terus terang ajah ke zeffan
falea sezi
safi yanti kayak pret blooooooooon
Lilik Juhariah
berpikir lah logis , jangan kayak di novel novel DNA palsu , suap , punya orang dalam , Karin haruslah jadi Sahabat yg tidak menjerumuskan , katakan salah dan Buruk sesuai perbuatannya, dah salah kan Valeri , ya udah , lah elvaro itu anak siapa , jebakan atau gimana
Lilik Juhariah
agak gemes juga baca karakter Fiya , kebanyakan tanya , terlalu penakut, terlalu polos ,
Aditya hp/ bunda Lia: bener
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
👍👍👍👍👍
Lilik Juhariah
coba Fiya sekali kali bilang , kenapa sih kak gak bisa nahan emosi , Fiya kl kakak gitu malah takut 🤣🤣jangan diem menyerah , perasaan itu hrs diubgkapin Fiya , Kak Zeffan itu cinta kamu dari dulu
Aditya hp/ bunda Lia: bener tuh
total 1 replies
Lilik Juhariah
banyakin dong kak , jangan sehari satu🤣
Lilik Juhariah
Fiya yg bodoh , kan bawa hp kenapa GK langsung Tlp Zeffan
Dinda Putri
lanjuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!