NovelToon NovelToon
Kejar Daku Kau Kujerat

Kejar Daku Kau Kujerat

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

PLAK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.

“Ima, maafin aku.. aku..”

“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”

“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”

“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”

Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merantau ke Jakarta

Alden membuka pintu lemari, lalu memilih dan mengeluarkan beberapa pakaian dari dalamnya. Saat tengah melakukan itu, pintu kamarnya terketuk. Dari arah luar, masuk Alisha. Mata Alisha langsung tertuju pada pakaian sang anak yang ada di atas kasur. Di sebelahnya terdapat koper yang masih kosong dan dibiarkan terbuka.

“Belum selesai, Al?”

“Baru juga mulai beres-beres ma, hehehe..”

“Sini mama bantu.”

Alisha membantu melipat pakaian dan memasukkannya ke dalam koper. Alden baru saja menyelesaikan kuliahnya dan menyandang gelar Sarjana Hukum. Dia langsung mengikuti seleksi sebagai CPNS di Kejaksaan RI dengan formasi sebagai jaksa. Berkat otak encernya, dia berhasil diterima dan sekarang harus mengikuti pendidikan Jaksa Penuntut Umum di Jakarta. Pria itu akan berada di sana, antara delapan bulan sampai satu tahun. Alden yang sejak duduk di bangku SMA bercita-cita sebagai Jaksa, perlahan mulai mencapai impiannya.

Viren sudah menyiapkan satu unit apartemen untuk anaknya tinggal selama di Jakarta. Juna juga sudah menyiapkan satu buah mobil untuk aktivitas cucunya. Sepenuh hati Juna mendukung keinginan cucunya yang ingin bercita-cita menjadi abdi negara, seperti Azzam. Kevin yang awalnya tidak setuju, akhirnya merelakan cucunya menjalani pilihannya.

“Kalau libur, jangan lupa pulang.”

“Iya, ma. Kan Bandung – Jakarta ngga jauh.”

“Pokoknya harus sering-sering kasih kabar.”

“Iya, mamaku sayang.”

Alden menghentikan apa yang dilakukannya, kemudian memeluk wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya. Wajar saja kalau Alisha terus mengingatkan anaknya untuk memberi kabar atau pulang di saat libur, wanita itu belum pernah berpisah lama dari anak bungsunya ini.

Selesai membantu Alden mengurus barang bawaannya, Alisha mengajak anaknya keluar kamar. Dia juga sudah menyiapkan makanan yang bisa dibawa Alden ke Jakarta nanti. Vanila juga menyempatkan diri membuatkan makanan untuk adiknya. Alden menuju ruang tengah. Di sana, Juna dan Nadia tengah duduk sambil menonton televisi. Pria itu duduk di antara kakek dan neneknya.

“Persiapanmu sudah selesai?” tanya Juna.

“Sudah, grandpa.”

“Baik-baik ya, selama di Jakarta. Jaga pergaulan, jangan sampai terbawa pergaulan yang tidak baik.”

“Iya, grandma sayang.”

“Teman satu kampusmu, siapa saja yang ikut ke Jakarta?”

“Cuma Yonas aja.”

“Dia tinggal di mana selama di Jakarta?”

“Belum tahu.”

“Kalau dia belum punya tempat tinggal, ajak saja tinggal bersamamu.”

“Iya, grandpa.”

Alden memang berencana mengajak Yonas tinggal bersamanya. Uang untuk biaya sewa selama tinggal di Jakarta bisa digunakan untuk keperluan lain.

“Jangan lupa, pulang dari Jakarta, bawa calon istri,” sambar Vanila yang baru saja datang. Wanita itu mencium punggung tangan Juna dan Nadia bergantian kemudian mendudukkan diri di samping Nadia.

“Ck.. gue ke Jakarta buat belajar ya, bukan cari jodoh.”

“Ya sambil menyelam nangkep ikan, emangnya ngga bisa? Atau jangan-jangan lo ngga laku ya.”

“Sembarangan. Kaga lihat muka gue ganteng?’

“Ya ganteng lah, lo kan laki. Kalau cantik berarti perempuan.”

Alden hanya berdecak saja. Kakak satu-satunya ini tidak pernah mau mengakui kegantengannya. Walau sampai sekarang dia masih berstatus jomblo, tapi bukan berarti tidak ada perempuan yang mau padanya. Hanya saja pria itu sekarang tengah berkonsentrasi meraih cita-citanya.

“Tenang aja, kalau pulang dari Jakarta dia masih jomblo, grandpa dan kakek Abi siap mencarikan jodoh buat dia.”

“Oh iya, sampai lupa. Grandpa sama kakek Abi kan udah buka biro jodoh, hihihi..”

Vanila terkikik sendiri mendengar ucapannya. Sejak pensiun, aktivitas pandawa lima berubah haluan. Dari yang semula adalah pengusaha, menjadi pak comblang. Sudah banyak pasangan yang berhasil disatukan oleh mereka. Tapi tentu saja, klien mereka adalah cucu sendiri.

🍄🍄🍄

Keesokan paginya, Alden sudah bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Barang-barang pria itu sudah semuanya masuk ke dalam bagasi, termasuk bekal makanan yang sudah disiapkan oleh Alisha juga sudah masuk. Alden hanya tinggal menunggu Yonas yang masih dalam perjalanan. Rencananya pria itu akan pergi bersama dengan Yonas.

Tak butuh waktu lama, orang yang ditunggu muncul juga. Yonas turun dari taksi online yang ditumpanginya. Dia membawa sebuah koper berisi pakaian, tas ransel berisi keperluannya yang lain dan juga tas berisi laptop. Alden segera membukakan bagasi untuk barang-barang temannya itu.

“Sudah siap semua? Tidak ada yang ketinggalan?” tanya Alisha.

“Ngga ada, ma.”

“Hati-hati di sana, Al. Belajar yang benar. Pilih teman yang bisa membawamu pada kebaikan.”

“Siap, pa.”

Satu per satu Alden menyalami Alisha, Viren, Juna dan Nadia. Yonas pun ikut menyalami keluarga dari temannya itu. Dia beruntung Alden menawarkan tempat tinggal selama di Jakarta. Dengan begitu dia bisa mengirit pengeluaran. Alden mendekati Vanila yang sengaja datang untuk melepaskan kepergiannya.

“Kak, gue pergi dulu, ya.”

“Hati-hati, Al. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan.”

“Iya, kakak juga. Jangan terlalu capek.”

Alden memeluk Vanila. Hubungan keduanya memang dekat. Walau kadang keduanya sering terlibat perdebatan, namun nyatanya keduanya saling menyayangi. Alden melepaskan pelukannya, kemudian menghampiri Rakan yang juga ikut mengantarnya pergi. Rakan memeluk adik iparnya itu seraya menepuk pelan punggungnya.

“Sukses buat karirmu. Kalau abang ke Jakarta, abang sempatkan untuk menengokmu.”

“Iya, bang. Makasih. Aku titip kak Ila.”

“Iya, tenang aja.”

Dari arah rumah Abi, nampak Gilang datang mendekat dengan keranjang yang sudah dibungkus kertas kado transparan. Sambil melemparkan cengiran khasnya, pria itu mendekati Alden yang sudah bersiap untuk pergi.

“Bang.. udah mau pergi?” tanya Gilang.

“Iya.”

“Weh ada studio foto,” Gilang melihat pada Yonas yang nampak mengernyitkan keningnya.

“Studio foto?” tanya Yonas.

“Yoi.. nama abang kan sama kaya nama studio foto di jalan Banda, hahaha..”

“Asem.”

Gilang tertawa puas melihat kekekian di wajah Yonas. Kemudian pria itu menyerahkan bingkisan yang sedari tadi berada di tangannya pada Alden.

“Apaan ini?”

“Bekal dari gue, bang.”

Alden memandangi keranjang buah yang isinya hanya jagung rebus sebanyak lima buah.

“Lo kaga niat banget ngasih gue beginian.”

“Eh jangan salah. Itu jagung rebus bisa buat ganjel perut. Bisa digerogotin sambil nyetir. Udah gitu ini makanan ngetop, sampe ada lagunya.”

“Oh yang liriknya bikin salfok,” ceplos Yonas.

“Ketika dibuka bajunya, kelihatan bulunya. Idiih.. idiih.. terlihat pula bijinya. Bentuknya ada yang panjang, juga ada yang pendek. Idiih.. idiih… tapi banyak yang suka.”

Gilang menaruh kepalan tangan di depan mulutnya. Dia menyanyikan lagu jagung rebus yang liriknya sukses membuat orang yang mendengarnya traveling otak. Alden hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah saudara sepupunya yang gilanya tidak ada obatnya.

“Ma, pa, grandpa, grandma, kak Ila, bang Rakan aku pergi dulu. Assalamu’alaikum.”

“Waalaikumsalam. Hati-hati sayang,” seru Alisha.

“Sama gue kaga pamit, bang?” protes Gilang.

“Males.”

Alden segera masuk ke dalam mobil bersama dengan Yonas. Pria itu menurunkan kaca jendela setelah menyalakan mesin mobil. Sambil melambaikan tangannya pria itu menjalankan kendaraan roda empatnya. Dia sudah siap merantau ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan sebagai langkah awal untuk mencapai cita-citanya sebagai Jaksa.

🍄🍄🍄

Haiii.. Cerita baru sudah hadir. Kisah sepupu Azzam yang masih menjomblo pada jamannya. Jangan lupa like, komen dan rate bintang 5 ya.

Karena masih bingung dengan sistem retensi NT. Berdasarkan pengalaman Azzam, aku akan libur per 4 hari ya. Ini salah satu cara yg aku pakai biar retensi nya sampai target. Terima kasih🤗

1
Lina Suwanti
berharap Izabel selamat, mendapatkan kesempatan ke2 tuk menjadi orang yang lebih baik
Lina Suwanti
Abi pasti senang lah n bisa berbangga diri di depan Pandawa 4 klo cucunya bisa cari jodoh sendiri😄
Sopi Yani
sangat luar biasa
zen
⭐⭐⭐⭐⭐
Dicky Sugandi
keren
duoNaNa
disebelah apa sih mak???? sebelah kan banyak
P_nR
keren 👍🏻 pake banget😘
tini_evel
thor anaknya deski bukannya namanya shakira ya 🙄
Kas Mi
thor ank.y fahrul yg g d publish
loura cahya
sangat bagus tdk monoton keren pokoknya😍😍😍
ida wati
seruuu, ngocok perut bikin melek, karya2 mak author emang bukan kaleng2, keep going mak, suksess 😚🤗
ida wati
kejadian jugaa 🤣🤣🤣🤣 tapioka sekalian🤣
ida wati
dapeeett ajeee mak 🤣🤣🤣
ida wati
ajibbb Fabian dapet duo combo rese sekaligus, mantaff 🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
sekalian aja lahh wkwkwkwk aturan pake helm biar ga malu2 amat 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
sekalian ajah jabanin 🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
eleuhhhh 🤣🤣🤣🤣
ida wati
parah ih penghulunya udh bukan absurd lagi tapi omes 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!