Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Fiora meremas kuat jaket taktis Hayden, membenamkan wajahnya di dada pria itu hingga isakannya perlahan berubah menjadi deru napas panjang yang kelelahan. Tangisannya belum sepenuhnya mereda, namun keputusasaan yang melumpuhkan itu perlahan bergeser menjadi ketetapan hati yang dingin.
Dengan bantuan Hayden dan Dr. Helena, Fiora berupaya duduk di tepi meja operasi. Rasa nyeri di perutnya masih menggigit, tetapi pandangan matanya yang semula redup kini kembali memancarkan ketegasan putri seorang ilmuwan besar.
"Helena..." suara Fiora parau, namun lantang. "Vaksin Genesis... bagaimana dengan sampelnya?"
Dr. Helena dengan cepat membuka koper baja yang direbut Hayden dari tangan komandan Aegis. Di dalamnya, beberapa tabung berisi cairan pendar biru bening memantulkan pendar lampu darurat.
"Sampel murni antibodi Leo dan data ekstraksi awal jaringan embrionik kalian yang kita ambil dua minggu lalu... semuanya utuh," jelas Dr. Helena, jemarinya bergerak lincah mengetik perintah penguncian data pada unit portabel. "Meskipun kita kehilangan kesempatan untuk sintesis penuh secara langsung, materi genetik di koper ini sudah cukup untuk menyelesaikan formula dasar Genesis. Kita hanya butuh laboratorium steril pendukung di lokasi yang aman."
"Artinya riset ayah dan kakek tidak mati hari ini," sahut Hayden tegas, berpaling menatap Fiora dan Leo.
"Aegis tidak akan mendapatkan apa pun dari tempat ini," pangkas Fiora seraya menyapu sisa air mata di pipinya. Ia memandang Hayden mantap. "Hancurkan tempat ini, Hayden. Seluruh server Oase, data sisa, dan fasilitas ini. Jangan tinggalkan satu jejak pun untuk mereka."
Hayden mengangguk. Ia mengaktifkan protokol pembersihan darurat di konsol utama. Hitungan mundur peledakan mandiri (*self-destruct*) laboratorium Oase berkedip merah di dinding: **10:00**.
"Kita punya waktu sepuluh menit sebelum seluruh tempat ini ratap dengan tanah," ujar Hayden seraya menyandang senapan serbunya dan memastikan Leo berada dalam jangkauan genggamannya. "Lewat jalur pembuangan barat, ada kendaraan evakuasi medis darurat. Kita keluar dari sini sekarang."
Dr. Helena mengamankan unit data portabel ke dalam tasnya, sementara Hayden merengkuh pinggang Fiora untuk menopang langkahnya yang masih lemah. Mereka berjalan cepat menembus asap dan reruntuhan Oase, meninggalkan duka masa lalu demi menuntaskan satu-satunya misi yang tersisa: menyebarkan vaksin Genesis ke seluruh dunia.
Jalur pembuangan barat berbau lembap dan penuh kepulan asap tipis. Langkah kaki mereka bergema cepat di atas lorong besi. Di tengah suara sirine peledakan mandiri yang kian nyaring meraung, Hayden menuntun Fiora yang memegangi perutnya, sementara Dr. Helena menggandeng erat tangan Leo di belakang mereka.
Dinding terowongan bergetar hebat saat angka hitungan mundur di layar pergelangan tangan Hayden menunjukkan waktu tersisa **03:00**.
"Pintu keluar di depan!" seru Dr. Helena menunjuk gerbang baja tebal di ujung lorong.
Hayden memukul tuas darurat. Pintu baja terangkat melipat ke atas, membuka jalan ke sebuah garasi rahasia di balik lereng bukit luar Oase. Di sana, terparkir sebuah kendaraan taktis medis lapis baja *All-Terrain* yang masih utuh.
"Masuk! Cepat!" perintah Hayden.
Dr. Helena membimbing Leo masuk ke kabin penumpang belakang, disusul Fiora yang menggeram menahan nyeri saat memanjat naik. Hayden melompat ke kursi kemudi, menekan tombol starter mesin, dan menginjak pedal gas dalam-dalam tepat saat raungan ledakan pertama bergema dari dalam bukit.
*BOOOMMM!*
Tanah di sekitar lereng bukit amblas hebat. Kubah putih Fasilitas Oase runtuh sepenuhnya ke dalam tanah, dilalap bola api raksasa dan runtuhan batu ngarai. Seluruh data riset, fasilitas, dan sisa-sisa pasukan Aegis yang terjebak di dalamnya musnah tak berbekas.
Kendaraan lapis baja itu melesat menjauhi abu reruntuhan, menyusuri jalanan tanah berdebu menuju ke luar zona perbatasan Ngarai Kelam.
Melalui kaca spion tengah, Hayden menatap Fiora yang duduk bersandar di kabin belakang. Fiora menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di langit siang. Leo tertidur lelap di pangkuannya karena kelelahan, memeluk erat boneka beruangnya.
"Kita mau ke mana sekarang, Hayden?" tanya Dr. Helena seraya mengamankan koper baja berisi sampel vaksin Genesis di sampingnya.
Hayden menatap lurus ke jalanan membentang di depan mereka—sebuah dataran tandus yang mengarah ke pemukiman sisa penyintas di Sektor Utara.
"Menuju pemancar siaran darurat di Sektor Utara," jawab Hayden tenang dan mantap. "Kita selesaikan apa yang kita mulai. Vaksin ini akan diproduksi dan disebarkan dari sana."
Fiora meraih jemari Hayden dari belakang, menggenggamnya erat. Duka atas kehilangan buah hati mereka tidak akan pernah hilang, namun di atas puing-puing kehancuran Oase, tekad mereka untuk memberikan masa depan bagi Leo dan dunia kini tak tergoyahkan.
Kendaraan lapis baja itu terus menerjang debu tandus Sektor Utara, meninggalkan sisa kepulan asap Oase yang perlahan memudar di horison belakang. Di dalam kabin, deru mesin diesel menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan berat di antara mereka.
Dr. Helena sibuk memeriksa kondisi vital Fiora menggunakan monitor portabel di kabin belakang. Meskipun pendarahan telah sepenuhnya berhenti, wajah Fiora masih tampak pucat dan matanya menatap kosong ke luar jendela.
"Tekanan darahmu perlahan membaik, Fiora," bisik Dr. Helena lembut seraya menyuntikkan vitamin dan pereda nyeri ke jalur infus. "Tapi tubuhmu butuh istirahat total begitu kita sampai di pemukiman Sektor Utara."
Fiora hanya mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari bentang alam yang mati. Leo, yang terbangun oleh guncangan roda saat melintasi bekas jalan tol yang retak, mengusap matanya lalu bergeser mendekati Fiora.
"Tante Fiora... kita sudah aman?" tanya Leo polos.
Fiora menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang dipaksakan seraya mengelap lembut pipi bocah itu. "Iya, Leo. Kita aman sekarang. Hayden menjaga kita."
Dari kursi kemudi, Hayden terus mengawasi layar radar taktis kendaraan. Isyarat frekuensi radio jangka jauh mulai menangkap sinyal-sinyal acak—tanda bahwa mereka mulai mendekati zona pemukiman terisolasi di Sektor Utara yang bebas dari cengkeraman Aegis Corp.
"Pemancar siaran utama Sektor Utara berada di atas benteng stasiun relay tua," kata Hayden, suaranya memutus kesunyian. "Tempat itu dikuasai oleh kelompok milisi penyintas independen. Mereka tidak memihak Aegis maupun faksi penjarah."
"Apakah mereka bisa dipercaya?" tanya Dr. Helena khawatir seraya meremas koper baja di pangkuannya.
"Pemimpin mereka adalah mantan kawan sepasukanku," jawab Hayden tenang. "Selama kita membawa harapan penawar virus, mereka akan memberi kita akses ke pemancar itu."
Hayden melirik ke spion tengah, mengunci tatapannya dengan Fiora. Di balik kepedihan mendalam yang masih tersisa, ia melihat percik tekad yang tak padam di mata istrinya.
Kendaraan taktis itu terus melaju menembus senja yang mulai memerah, membawa sisa-sisa harapan peradaban menuju benteng terakhir di Sektor Utara.