NovelToon NovelToon
Memendam Perasaanku Padanya

Memendam Perasaanku Padanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: my queen

Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bang Edward yang baru saja meletakkan stoples keripik pedas di atas meja tiba-tiba memicingkan matanya. Ia menangkap basah gerakan tangan Reyhan yang sengaja bergeser terlalu dekat, bahkan cowok itu tampak membisikkan sesuatu hingga membuat wajah Aurel memerah padam.

Radar protektif sang abang langsung menyala di level tertinggi. Bang Edward melangkah maju dan menepuk meja kaca dengan pelan namun tegas.

"Ehem! Reyhan, tangan lo bisa dikondisikan enggak? Jaraknya dijaga, ya!" tegur Bang Edward dengan volume suara yang sengaja ditinggikan. Ia kemudian beralih menatap Aurel dengan tatapan mengintimidasi khas seorang kakak. "Dan lo, Aurel. Inget ya, lo di sini itu tujuannya buat belajar kelompok. Nggak ada pacar-pacaran dulu selama kuliah. Harus fokus sama nilai! Kalau sampai IPK lo turun gara-gara pacaran, gue coret lo dari daftar dinasti keluarga ini, paham?"

Kalimat tegas dari Bang Edward itu seketika membuat suasana ruang tengah menjadi hening. Aurel tertegun, hanya bisa mengangguk kaku dengan tenggorokan yang mendadak terasa tercekat.

Namun, ketegangan itu tidak bertahan lama. Begitu Bang Edward berbalik badan dan duduk kembali di ujung sofa, sikap tegasnya langsung melebur. Cowok itu dengan santai meraih tangan Kak Anita, menggenggamnya erat, lalu menyandarkan kepalanya di bahu wanita itu sambil membisikkan kalimat manis yang membuat Kak Anita tertawa kecil dan mencubit pipinya dengan manja.

Mereka berdua tampak begitu serasi, tenggelam dalam dunia penuh kasih sayang yang mereka ciptakan sendiri.

Melihat adegan bermesraan yang tersaji tepat di depan matanya, pertahanan hati Aurel runtuh seketika. Rasa cemburu yang teramat besar dan rasa sakit yang menusuk langsung bergejolak di dalam dadanya. Bibirnya kelu, dan matanya mendadak terasa panas.

     Gue nggak boleh pacaran, tapi Bang Edward bisa sebahagia itu sama Kak Anita? batin Aurel dengan pilu.

Rasa sakit karena mencintai dalam diam itu kembali menghantamnya dengan telak. Ia sadar, aturan "harus fokus kuliah dan tidak boleh pacaran" yang diucapkan Bang Edward barusan murni karena cowok itu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dilindungi. Bang Edward tidak pernah tahu, dan mungkin tidak akan pernah peduli, bahwa ada sekeping hati yang hancur berkeping-keping setiap kali melihatnya menggenggam erat tangan wanita lain.

Aurel buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong ke arah layar laptop demi menyembunyikan setitik air mata yang hampir saja jatuh membasahi pipinya.

Di sebelahnya, Reyhan yang sejak tadi diam ternyata tidak melewatkan perubahan drastis pada raut wajah Aurel. Ia menatap sepupu kakaknya yang sedang bermesraan, lalu beralih menatap Aurel dengan pandangan mata yang melunak penuh simpati. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Reyhan diam-diam menggeser kotak tisu ke dekat tangan Aurel, bersiap menjadi pelindung sunyi bagi gadis itu dari rasa sakitnya.

Kak Anita yang sejak tadi menyandarkan kepalanya di bahu Bang Edward perlahan menegakkan punggungnya. Ia melirik ke arah meja kaca, menatap Aurel yang kini menunduk begitu dalam dengan bahu yang tampak sedikit tegang. Sebagai seorang perempuan, Anita bisa merasakan ada kesedihan mendalam yang coba disembunyikan oleh gadis itu.

Anita menoleh ke samping, menatap kekasihnya dengan tatapan tidak setuju. Ia menyenggol pelan pinggang Bang Edward dengan sikunya, lalu berbisik dengan nada yang menuntut penjelasan.

"Edward, kamu apa-apaan, sih?" tegur Kak Anita dengan suara tertahan namun sarat akan penekanan. "Kalimat kamu barusan itu terlalu kasar tahu enggak? Pakai ancam-ancam mau nyoret dari dinasti segala. Kasihan Aurel, dia kan ke sini beneran mau belajar."

Bang Edward agak terkejut mendapat teguran mendadak dari kekasihnya. Ia mengernyitkan dahi, mencoba membela diri. "Lho, Sayang, aku kan cuma mengingatkan. Kamu tahu sendiri si Aurel itu kalau udah main atau ketemu cowok suka heboh, makanya aku benteng porsinya dari sekarang biar dia nggak pacar-pacaran dulu selama awal semester ini. Tugas Pak Baskoro aja udah berat."

"Mengingatkan itu ada caranya, Ward, bukan dengan cara mendikte hidup orang," potong Kak Anita tegas, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu melarang Aurel pacaran dengan alasan fokus kuliah, tapi di depan dia kamu malah bermesraan begini sama aku. Itu nggak adil buat dia. Kamu membuat Aurel kelihatan kayak anak kecil yang dikurung, padahal dia udah mahasiswa, udah punya hak buat menentukan kedekatannya sendiri."

Bang Edward terdiam. Kalimat dari Kak Anita seolah menampar logika protektifnya yang selama ini selalu menganggap Aurel sebagai adik kecil yang belum dewasa. Ia melirik kembali ke arah ruang tengah, menatap Aurel yang masih setia menatap layar laptop tanpa bergerak sedikit pun. Ada secercah rasa bersalah yang mendadak terbit di dada senior itu.

"Aku... aku nggak bermaksud begitu, Sayang. Aku cuma mau jagain dia," gumam Bang Edward lirih, suaranya melunak drastis.

"Aku tahu kamu sayang sama Aurel sebagai adiknya," ucap Kak Anita lembut sembari menggenggam tangan Bang Edward, mencoba meredakan ketegangan di antara mereka. "Tapi tolong, longgarkan sedikit proteksi kamu. Biarkan dia berkembang, dan biarkan dia belajar bersosialisasi dengan caranya sendiri, termasuk sama Reyhan."

Sementara itu di meja kaca, Aurel yang telinganya sempat menangkap samar-samar perdebatan kecil di sofa hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Setiap kata 'sayang sebagai adik' yang meluncur secara tidak langsung dari situasi itu justru semakin mempertegas batas tak kasatmata yang membuatnya semakin tersiksa dalam lingkaran cinta sepihak ini.

Rasa bersalah yang mengusik dada Bang Edward tampaknya sudah tidak bisa ditahan lagi. Setelah terdiam beberapa saat pasca-teguran dari Kak Anita, ia bangkit dari sofa tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah cepat menuju teras depan, lalu terdengar suara deru mesin motornya menjauh dari halaman rumah.

Aurel sama sekali tidak mendongak saat abangnya pergi. Ia masih sibuk menata hatinya yang telanjur retak, ditemani keheningan ruang tengah yang mendadak terasa canggung. Shirin dan Gino pun memilih pura-pura sibuk dengan laptop masing-masing demi memberikan ruang bagi sahabat mereka.

Sekitar lima belas menit berlalu, pintu utama kembali terbuka. Bang Edward melangkah masuk dengan napas yang sedikit memburu. Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik berlogo kedai es krim terkenal di dekat perumahan mereka.

Tanpa memedulikan tatapan heran dari yang lain, Bang Edward langsung berjalan menghampiri meja kaca dan duduk berjongkok di sebelah kursi Aurel. Ia meletakkan satu cup besar es krim rasa cookies and cream—lengkap dengan taburan marshmallow di atasnya—tepat di samping laptop Aurel.

"Nih, es krim kesukaan lo," ucap Bang Edward dengan nada suara yang melunak drastis, jauh dari kesan galak beberapa menit yang lalu.

Aurel tersentak pelan. Ia menoleh ke bawah, menatap cup es krim dingin itu lalu beralih menatap wajah Bang Edward yang kini berada sejajar dengan posisinya.

Bang Edward menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak salah tingkah karena harus meruntuhkan gengsinya di depan para maba. "Sori ya, Rel. Kalimat gue tadi emang agak kelewatan dan kasar. Gue nggak bermaksud mengekang lo sampai segitunya, kok. Gue cuma... ya, lo tahu sendiri kan gue emang gampang panik kalau menyangkut soal lo."

Mendengar kalimat maaf yang tulus dari cowok yang dicintainya itu, pertahanan Aurel kembali goyah. Namun kali ini, rasa sesak di dadanya perlahan berganti dengan keharuan yang getir. Ia menatap lekat-lekat mata Bang Edward. Di sana, murni hanya ada rasa sayang dan perlindungan seorang kakak yang sangat besar untuk adiknya. Tidak ada ruang untuk cinta yang lain.

Aurel mengembuskan napas panjang, lalu mengulas senyum tipis yang dipaksakan agar terlihat normal. "Iya, Bang. Nggak apa-apa, kok. Lagian aturan lo ada benernya juga, tugas Pak Baskoro emang bikin pusing."

"Nah, gitu dong! Jangan ditekuk terus itu muka, entar manisnya hilang," sahut Bang Edward lega, langsung memamerkan cengiran khasnya. Ia berdiri lalu menepuk pucuk kepala Aurel dengan gemas sebelum kembali berjalan menuju sofa di samping Kak Anita yang kini tersenyum penuh arti melihat kedewasaan kekasihnya.

Aurel meraih sendok es krimnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Saat ia hendak menyuap es krim dingin itu, sebuah tangan jangkung tiba-tiba terulur dari sampingnya. Reyhan mengambil selembar tisu baru, lalu meletakkannya di dekat jemari Aurel.

Ketika Aurel menoleh, Reyhan sedang menatapnya dengan binar mata yang begitu dalam dan teduh. "Dimakan, Rel. Katanya kalau lagi patah—eh, maksudnya kalau lagi pusing gara-gara rumus, es krim manis bisa jadi obat paling ampuh," bisik Reyhan pelan dengan penekanan kata yang sengaja disamarkan.

Aurel tertegun menatap Reyhan. Di tengah rasa perih karena harus menerima kenyataan bahwa dirinya selamanya hanya akan menjadi "adik kecil" bagi Bang Edward, kehadiran Reyhan yang selalu pasang badan secara diam-diam mendadak menjadi sebuah pelipur lara yang sangat menenangkan di hatinya.

Aroma manis dari es krim cookies and cream yang baru dibuka Aurel rupanya berhasil mengaktifkan radar penciuman Gino di seberang meja. Cowok itu langsung meletakkan pulpennya, memajukan tubuh, dan menopang dagu sembari menatap cup es krim tersebut dengan pandangan penuh harap.

"Duh, Rel. Sebagai maba yang barusan otaknya diperas sampai kering oleh variabel tugas, gue merasa kadar glukosa di tubuh gue menurun drastis, nih," kode Gino dramatis, matanya berkedip-kedip memberi isyarat. "Boleh kali ya, partner masa depan lo ini mencicipi sesendok es krim perdamaian dari Bang Edward?"

Aurel yang mendengarnya langsung mendengus, namun sudut bibirnya mulai terangkat geli. "Yee, modal dong, Gin! Ini kan es krim sogokan khusus buat gue yang habis kena semprot."

"Pelit amat sih, Rel. Padahal tadi di jalan gue udah mengorbankan nyawa demi jadi GPS tak resmi buat teman lo ini," balas Gino tanpa tahu malu.

Shirin yang duduk di samping Gino tidak tinggal diam. Ia langsung menyambar sendok plastik cadangan dari kantong plastik, lalu menyenggol lengan Gino. "Nggak usah bawa-bawa gue ya, Gino. Rel, gue minta sesendok yang ada marshmallow-nya dong. Capek banget dari tadi dengerin gombalan buaya premium sebelah gue."

"Silakan, Rin! Kalau buat lo mah ambil aja, asal jangan kasih celah buat si Gino," sahut Aurel, sengaja menggeser cup es krimnya menjauh dari jangkauan Gino dan mendekatkannya ke arah Shirin.

"Wah, diskriminasi maba ini namanya!" seru Gino protes, langsung merebut sendok cadangan dari tangan Shirin dengan gerakan secepat kilat. Sebelum Aurel sempat menarik es krimnya kembali, Gino sudah berhasil menyendok bagian pinggir es krim dengan kemenangan mutlak. "Nyam! Mantap, Bang Edward! Rasa es krim gratisan emang selalu mengalahkan rasa keadilan dunia."

Tindakan nekat Gino itu spontan membuat tawa Aurel pecah sepenuhnya, melupakan sejenak rasa getir yang sempat bersarang di dadanya beberapa menit lalu.

"Gino, sumpah ya! Urat malu lo beneran udah putus semenjak matkul Pak Baskoro tadi pagi!" seru Aurel sambil tertawa terbahak-bahak, yang langsung dihadiahi cubitan maut dari Shirin di lengan kiri Gino.

"Aduh! Sakit, Rin! Tapi nggak apa-apa, sebanding sama manisnya es krim dan manisnya senyum lo," ringis Gino, masih sempat-sempatnya mengedipkan sebelah mata ke arah Shirin di tengah ringisannya.

Bang Edward dan Kak Anita yang menonton dari atas sofa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah ajaib junior-junior mereka. Suasana ruang tengah yang tadinya sempat tegang dan melankolis kini benar-benar telah mencair sepenuhnya menjadi riuh dan penuh kehangatan.

Di sebelah Aurel, Reyhan diam-diam ikut tersenyum tipis. Ia tidak ikut berebut es krim, namun tatapan matanya yang teduh tetap terkunci pada Aurel, merasa lega karena tawa lepas gadis itu akhirnya telah kembali.

Lampu gantung di ruang tengah rumah Bang Edward mulai berpijar kuning keemasan, berbaur dengan semburat jingga keunguan yang mengintip dari balik jendela kaca. Langit sore yang perlahan meredup menandakan bahwa waktu sudah merangkak menjelang malam.

"Fiks! Kelar juga akhirnya bab dua kita!" seru Gino memecah keheningan sembari melakukan gerakan peregangan tangan ke atas hingga sendi-sendinya berbunyi. Ia langsung menutup layar laptopnya dengan bunyi klek yang memuaskan.

Shirin yang baru saja menyimpan dokumen terakhirnya di flashdisk ikut mengembuskan napas lega. Ia melirik jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. "Puji Tuhan. Kalau struktur analisisnya udah serapi draf Bang Edward begini, minggu depan kita tinggal presentasi dengan tenang."

"Gimana kelompok sebelah? Udah beres juga?" tanya Bang Edward dari atas sofa, menatap ke arah Aurel dan Reyhan.

Reyhan mengangguk tenang, merapikan letak kabel pengisi daya laptopnya sebelum dimasukkan ke dalam tas denim. "Udah, Bang. Metodologi komparatif kualitatifnya udah gue sinkronin sama data sekunder punya Aurel. Tinggal cetak aja besok Senin."

Aurel menyandarkan punggungnya ke sofa dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Rasa lelah sehabis memeras otak dan riak emosi yang menguras energinya sejak siang tadi seolah menguap begitu melihat hasil kerja keras mereka selesai dengan sempurna.

"Hebat lo semua. Berarti malam ini kalian bisa tidur nyenyak tanpa dihantui muka galak Pak Baskoro," goda Kak Anita sembari membantu merapikan cangkir-cangkir teh dan sisa piring es krim di atas meja.

Mereka berlima pun mulai sibuk berkemas, memasukkan buku, pulpen, dan laptop ke dalam tas masing-masing. Suasana riuh kembali tercipta saat Gino sengaja berlama-lama memasang jaketnya demi bisa mencuri pandang ke arah Shirin yang sedang memakai helm.

"Rin, ini udah malam. Jalanan perumahan sini agak remang-remang, loh. Beneran nggak mau gue kawal di belakang?" tawar Gino, masih konsisten dengan mode siaga asmaranya.

Shirin memutar bola matanya, namun kali ini ada segaris senyum tipis yang tertahan di sudut bibirnya. "Nggak usah, Gino. Gue bareng Aurel kok jalannya, searah."

Aurel yang baru saja menggendong tas ranselnya bersiap melangkah ke teras untuk berpamitan dengan Mama Olivia dan Papa Crish. Namun, saat ia berbalik, Reyhan sudah berdiri tepat di sebelahnya dengan jaket denim yang sudah terpasang rapi.

"Rel," panggil Reyhan dengan suara beratnya yang khas.

Aurel mendongak.  "Ya, Rey?"

"Di luar udah mulai mendung dan anginnya agak kencang," ucap Reyhan, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Aurel dengan binar teduh yang sangat menenangkan. "Gue anterin sampai depan rumah, ya? Gue ikut di belakang motor lo sama Shirin. Biar... ada yang jagain lo di jalan."

Jantung Aurel mendadak berdegup kencang menangkap perhatian halus yang tersirat dari kalimat cowok itu. Di tengah sisa-sisa rasa getir akibat cinta sepihaknya pada Bang Edward, kehadiran Reyhan sore ini perlahan terasa seperti payung yang siap melindunginya dari badai yang baru saja lewat.

Aurel tersenyum tulus, sebuah senyuman yang kali ini benar-benar terbit dari hatinya yang mulai menghangat. "Boleh, Rey. Makasih, ya."

Belum sempat Aurel membalas anggukan tangan Reyhan, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah teras depan. Mama Olivia masuk kembali ke dalam rumah setelah melihat kondisi langit luar, disusul oleh suara gemuruh guntur yang samar-samar mulai terdengar membelah langit sore.

"Eh, eh! Jangan pulang dulu! Nggak boleh!" seru Mama Olivia dengan nada panik khas seorang ibu, langsung mencegat langkah Aurel tepat di depan pintu utama.

Aurel tertegun, menatap mamanya dengan bingung. "Lho, kenapa, Ma? Ini udah malam, Aurel takut kemalaman di jalan."

"Justru karena udah malam dan di luar itu mendungnya tebal banget, Sayang. Anginnya kencang sekali, sebentar lagi pasti turun hujan lebat," sanggah Mama Olivia tegas, langsung menarik pelan tas ransel dari bahu Aurel dan menaruhnya kembali ke atas sofa. "Pokoknya Mama nggak izinkan kamu pulang naik motor malam-malam begini dalam kondisi badai. Malam ini kamu menginap di sini saja!"

"Hah? Menginap, Ma?" Aurel membelalakkan matanya, menatap sekeliling ruangan yang mendadak kembali hening.

"Iya, menginap. Kamar kamu yang di atas kan selalu siap dan bersih. Pakaian ganti juga masih banyak di lemari," putus Mama Olivia tidak mau dibantah. Wanita paruh baya itu kemudian menoleh ke arah Shirin dan Gino. "Nah, buat Shirin sama Gino, karena rumah kalian agak jauh, mendingan tunggu hujannya reda dulu di sini. Jangan nekat menerobos badai."

"Siap, Tante! Kalau disuruh nunggu di dekat Shirin mah saya betah sampai subuh," sahut Gino tanggap tanpa tahu malu, yang langsung dihadiahi injakan sepatu dari Shirin di bawah meja.

Sementara itu, Bang Edward yang mendengar adiknya disuruh menginap langsung mengulas senyum lebar. Ia melangkah menghampiri Aurel, lalu merangkul pundak adik kecilnya itu dengan gemas. "Nah, bener kata Nyokap, Rel. Lagian lo udah lama nggak nginep di sini. Malam ini kita bisa main game bareng kayak dulu, terus besok abang yangantarpulang. Gimana?"

Aurel menatap wajah Bang Edward yang berada sangat dekat dengannya. Tatapan mata kakaknya itu begitu tulus, memancarkan rasa sayang seorang abang yang sangat merindukan momen kebersamaan dengan adiknya. Seketika itu juga, rasa sesak dan cemburu yang sempat menggores hati Aurel sejak siang tadi mendadak menguap, digantikan oleh kehangatan yang familier. Di rumah ini, walau statusnya bukan kekasih, ia tahu dirinya akan selalu memiliki tempat khusus sebagai adik kesayangan.

"Yaudah deh... Aurel menginap malam ini," jawab Aurel akhirnya, mengulas senyum tulus yang membuat Mama Olivia dan Bang Edward ikut tersenyum lega.

Diam-diam dari sudut matanya, Aurel melirik ke arah Reyhan yang masih berdiri tegak di dekat laptopnya. Cowok berjaket denim itu tampak sedang melepaskan kembali kancing jaketnya karena batal pulang. Saat menyadari Aurel sedang menatapnya, Reyhan menoleh, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat teduh.

"Pilihan yang bagus, Rel. Berarti malam ini... jalan buntu lo setidaknya aman dari badai luar," bisik Reyhan sangat pelan saat ia berjalan melewati Aurel untuk menaruh kembali tasnya ke atas meja, meninggalkan debaran baru yang semakin menghangat di dalam dada gadis itu.

Tiba-tiba

1
falea sezi
cewek gatel aurel🤣 kayak gka ada cwek. lain aja
falea sezi
aurel g tau malu🤣 di tolak lu ngarep move on neng maaf g suka cwek menye ngemis ngemis cinta😒
falea sezi
🤣🤣 Reyhan maju reyy q dukung jangan hiraukan Edward di vampir sok ngatur
falea sezi
🤣 Edward saudara bukan kok ngatur uda urus aja pcr tercinta lu ngapain. ngurus aurel😒 biar aurel pergi jauh aja minimal. keluar negri gt cwek. kok menye
falea sezi
kenapa malah bahas figuran peran utama siapa aneh author nya🤣
falea sezi
mending pindah tempat kuliah aja aurel yg jauh 😒 biar gk sakit hati
falea sezi
move on donk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!