Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Interogasi Kania
Sesampainya di rumah, Mellisa bahkan belum sempat mengganti pakaian ketika Kania sudah menghadangnya di ruang keluarga. Tatapan putrinya tampak penuh rasa ingin tahu, membuat Mellisa langsung curiga.
"Kenapa lihat Bunda begitu?"
Kania menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Om Randy cakep ya, Bun?"
Mellisa mengangkat alis. "Cakep lah. Namanya juga laki-laki, masa cantik?"
"Bukan gitu maksudku, Bun."
"Lantas?"
Kania mendekat, lalu duduk di samping ibunya dengan wajah penuh arti. "Cocok jadi ayah sambungku."
Mellisa spontan menatap putrinya. "Ah, kamu ada-ada saja."
Kania malah terkekeh. "Serius, Bun. Om Randy tuh kelihatannya baik, terus ngobrolnya juga nyambung sama Bunda."
"Kamu baru ketemu sekali sudah bisa menilai begitu?"
"Ya bisa dong. Aku kan anak Bunda. Aku tahu kalau Bunda nyaman sama seseorang."
Mellisa terdiam sesaat. Kalimat sederhana itu justru membuatnya sedikit salah tingkah.
"Kania..."
"Apa?"
"Jangan macam-macam."
"Aku nggak macam-macam. Aku cuma penasaran."
Kania kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa, tetapi sorot matanya tetap tertuju kepada sang ibu. "Ceritalah. Gimana Bunda akhirnya bisa ketemu lagi sama Om Randy?"
Mellisa menghela napas. "Ketemu lagi itu sebenarnya nggak direncanakan."
"Terus?"
"Tadi Bunda makan siang di restoran."
"Sama Om Randy?"
Mellisa terdiam sebentar. Kania langsung menyipitkan mata.
"Berarti benar sama Om Randy?"
"Bukan begitu. Bunda kebetulan ketemu dia di sana."
"Jadi sebelumnya Bunda sudah tahu kalau dia ada di situ?"
"Nggak."
"Terus kok bisa makan bareng?"
Mellisa mulai merasa seperti sedang menjalani pemeriksaan polisi. "Ya karena dia datang menghampiri Bunda. Kami ngobrol. Terus kebetulan makan siangnya belum selesai." Mellisa sedikit berbohong.
Kania mengangguk-angguk, seolah sedang menyusun potongan-potongan informasi penting.
"Terus Om Randy masih manggil Bunda, Amel?"
Mellisa kembali terdiam. "Iya."
Kania langsung tersenyum lebar. "Berarti memang panggilan sayang dong?"
"Kania!"
"Iya, iya, aku diam."
Kania tertawa kecil, lalu menyenggol pelan lengan ibunya.
"Tapi Bunda kelihatan senang."
Mellisa menatap putrinya. Senyum di wajah Kania perlahan membuat pertahanannya melunak.
"Memangnya salah kalau Bunda senang bertemu teman lama?"
"Nggak salah."
Kania mengangguk mantap."Tapi kalau teman lama itu ternyata masih bikin Bunda senyum seperti tadi, aku jadi penasaran."
Mellisa menghela napas panjang. "Sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir!"
"Justru Bunda yang jangan terlalu banyak menghindar!"
Kania tersenyum jahil. "Jadi... Bunda masih punya perasaan sama Om Randy?"
Pertanyaan itu membuat Mellisa terdiam cukup lama. Ia menatap putrinya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. "Entahlah, Nak."
Jawaban itu justru membuat Kania semakin penasaran. "Wah..."
Kania tersenyum penuh kemenangan. "Kalau jawabannya 'entahlah', berarti ada sesuatu, dong."
Mellisa hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis. "Dasar anak Bunda."
"Ya kan aku cuma mau Bunda bahagia."
Kali ini senyum Mellisa menghilang perlahan. Entah mengapa ucapan sederhana Kania justru membuat hatinya bergetar.
Bahagia.
Satu kata yang belakangan ini terasa begitu dekat, tetapi juga begitu rumit untuk diraih.
Bisa. Saya buat Kania semakin kepo, tetapi Mellisa tetap berusaha menyembunyikan soal Handoko sehingga pembaca bisa merasakan ada rahasia yang belum siap ia ceritakan.
Kania masih belum puas. Melihat ibunya mulai diam, justru membuat rasa penasarannya semakin besar.
"Berarti dulu Bunda sama Om Randy dekat banget?"
Mellisa menghela napas. "Ya, namanya juga teman sekolah."
"Teman sekolah kok sampai punya panggilan khusus?"
Mellisa menatap putrinya. "Amel itu memang panggilan dia ke Bunda sejak dulu. Karena di kelas dulu ada juga nama Melli."
"Terus kenapa Om Randy masih memanggil Bunda begitu?"
"Karena mungkin dia masih ingat."
Kania mengangguk-angguk, kemudian tersenyum kecil. "Kalau begitu, berarti Om Randy nggak pernah benar-benar lupa sama Bunda."
Mellisa terdiam. Entah kenapa kalimat itu membuat pikirannya justru melayang kepada seseorang yang lain.
Seseorang yang juga tidak pernah benar-benar melupakannya. Seseorang yang hari ini kembali menggenggam tangannya setelah puluhan tahun berlalu.
"Eh, kok malah bengong?" Kania menepuk lengan ibunya.
"Nggak."
"Bunda ingat masa lalu?"
Mellisa tersenyum tipis. "Sedikit."
"Indah?"
Pertanyaan itu membuat Mellisa kembali menatap Kania. "Kadang indah. Kadang juga menyakitkan."
Kania tidak lagi tertawa. Wajahnya berubah lebih lembut. "Berarti Om Randy pernah bikin Bunda sakit hati?"
Mellisa menggeleng pelan. "Bukan begitu."
"Lalu?"
Mellisa menarik napas panjang. "Dulu kami masih muda. Banyak hal yang tidak bisa kami mengerti. Ada keadaan yang membuat kami harus berjalan ke arah masing-masing."
Kania terdiam mendengarkan. "Dan setelah itu Bunda menikah dengan ayah?"
Mellisa mengangguk. "Iya."
"Terus Om Randy?"
"Nggak tahu."
"Nggak pernah berhubungan lagi?"
"Setelah sekian lama, baru sekarang kami bertemu lagi."
Kania kembali mengangguk. "Berarti memang seperti sinetron."
Mellisa tertawa kecil. "Jangan mulai!"
"Tapi serius, Bun. Kadang orang dari masa lalu memang bisa kembali."
Senyum Mellisa perlahan memudar. Kania tidak menyadari bahwa kata-katanya tepat mengenai sesuatu yang sedang berusaha keras disembunyikan ibunya.
"Bunda percaya begitu?"
Mellisa menatap kosong ke depan. "Entahlah."
"Kalau seseorang dari masa lalu datang lagi, terus ternyata perasaan itu masih ada... Bunda bakal gimana?"
Mellisa tidak langsung menjawab. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia teringat tatapan Handoko.
Genggaman tangannya. Kecemburuannya ketika Randy mendekat. Dan kalimat yang tadi diucapkan laki-laki itu dengan begitu mantap.
*Kamu milikku. Nggak ada seorang pun yang dapat mengambilnya dariku.*
Mellisa segera menggeleng kecil, seolah ingin menyingkirkan semua bayangan itu dari kepalanya.
"Kamu ini kenapa jadi bertanya yang aneh-aneh?"
Kania tersenyum. "Karena aku penasaran."
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan!"
"Berarti ada seseorang, ya?"
Mellisa langsung menoleh. "Seseorang siapa?"
"Nah, kalau memang nggak ada, kenapa Bunda langsung tegang?"
Mellisa terkekeh gugup. "Kamu itu benar-benar anak Bunda."
Kania tersenyum puas. "Jadi benar?"
"Nggak ada yang perlu kamu pikirkan!"
"Berarti belum boleh tahu?"
Mellisa hanya tersenyum. "Belum."
Kania mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Oke. Aku tunggu sampai Bunda sendiri yang cerita."
Ia kemudian bangkit dari sofa, tetapi sebelum pergi, Kania menoleh kembali. "Tapi satu hal, Bun."
"Apa?"
"Siapa pun orangnya, kalau dia bisa bikin Bunda bahagia, aku pasti dukung."
Kania tersenyum sebelum berjalan meninggalkan ruang keluarga. Mellisa hanya terdiam. Ucapan putrinya kembali menggema di kepalanya.
*Siapa pun orangnya, kalau dia bisa bikin Bunda bahagia, aku pasti dukung.*
Mellisa menundukkan wajah.
Kini, ia bertanya kepada dirinya sendiri... Benarkah ia masih bisa memilih kebahagiaannya sendiri? Atau justru ada hati lain yang selama ini terikat padanya, meski hubungan mereka sudah tidak lagi seperti dahulu?
Dia tak terlalu memikirkannya, yang justru dia pikirkan adalah keinginan Handoko yang berencana menikahinya. Bisakah dia mengiyakan ajakannya, karena dia pun masih begitu mencintainya. Atau dia bertahan dalam kesendiriannya karena ada hati yang harus dijaga, Pratiwi calon besannya.
Hrsnya gak begini
Lawan dong...tolong
Masa...waktu.. sdh berganti
Pikirkan anak² kalian
Alihkan rasa cinta menjadi persaudaraan
Bisa...bisa kok
Asal kalian lakukan dg sadar...ikhlas
smoga kalian psangan yg tak tau diri... mnyesal krna tak dpt brfikir jernih... lbh mnfedepsmkam nafsu... shingga tak memikirkn ank" kalian yg skn mnikah....
sebaiknya secptnya trbongkar.... ank" tak jdi.mnikah akn lbh baik... biar ank" mmbenci kelakuan tak patut kalian... handoko dan melisa🙄🙄🙄🙄
prtemuanmu dgn melisa bukanlah cinta tpi hnya rasa penasaranmu krna km tk mnikah dgnnya saat dulu....
tpi kelak... saat km merealisasikn mnikahi melisa.... km akn tau rsanya mnyesali tindakn bodohmu...