Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
“Di Suap!” kata Nina saat mereka sedang dalam perjalanan menuju Bogor. Setelah itu, dia buru-buru menjelaskan pemikirannya sendiri. “Bisa jadi ada seseorang yang menyuap gadis jenius itu. Dia dikasih uang dalam jumlah besar supaya mundur dari kompetisi! Dengan tidak adanya pesaing sekuat dia, orang yang membayarnya bisa dengan mudah mendapatkan posisi juara!”
“Menarik juga!” Revan berkata sambil tetap fokus menyetir. “Atau mungkin ada seseorang yang gagal masuk final dan cuma berada di posisi kesebelas. Jadi, dia menyuap Indah supaya mundur, lalu dia sendiri bisa masuk final menggantikan posisinya! Kalau begitu, wanita hamil itu berada di posisi kesepuluh. Jangan-jangan dia...”
“Bukan!” Nina langsung memotong. “Urutan seseorang masuk final nggak menentukan hasil akhir kompetisi. Peserta yang lolos ke final dari posisi kesepuluh secara teori tetap bisa menjadi juara!”
“Oh, begitu.” Revan mengangguk. “Berarti kita harus mencari tahu siapa orang yang beruntung karena bisa masuk final dari posisi kesebelas setelah ada satu orang yang mundur?”
“Bukan begitu, Kak. Bisa jadi kita salah!” Nina buru-buru membantah teorinya sendiri. “Itu bukan soal suap! Coba pikir lagi. Gadis jenius itu sudah berhasil masuk tiga besar. Nasibnya cuma bisa berubah kalau dia benar-benar masuk tiga besar, dan nggak mungkin ada uang sebanyak apa pun yang bisa membuat keluarganya rela kehilangan kesempatan itu! Kalau aku jadi orang tuanya, aku juga nggak akan pernah membiarkan orang lain menang, berapa pun uang yang ditawarkan. Bagaimanapun, itu kesempatan yang mungkin cuma datang sekali seumur hidup!”
“Benar juga.” Revan mengangguk pelan. “Kalau begitu...jangan-jangan karena ancaman?”
Revan mengepalkan tangannya di atas kemudi.
“Ada seseorang yang mengancam gadis jenius itu supaya mundur dari kompetisi. Kalau dia menolak, seluruh keluarganya akan dibunuh!”
“Hah?” Nina langsung cemberut. “Kok kamu bikin mereka kayak gangster kelas kakap begitu? Anak-anak yang belajar piano zaman itu, memangnya bisa sejahat itu?”
“Pokoknya, pasti ada sesuatu yang terjadi selama kompetisi piano itu!” kata Revan serius. “Kalau nggak ada apa-apa, nggak mungkin semua korban yang sekarang muncul ternyata pernah masuk dalam daftar peserta kompetisi terakhir!”
Revan menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil melaju kencang karena dia sudah nggak sabar ingin membongkar semuanya sampai ke akar-akarnya.
Namun, apa yang terjadi setelah mereka tiba justru kembali membuat Revan frustrasi.
Sepanjang pagi, dia dan Nina berkeliling Bogor, tetapi mereka hanya berhasil menemukan sedikit sekali petunjuk. Berdasarkan keterangan sekretaris desa dan beberapa tetangga lama, keluarga Indah sudah menjual rumah peninggalan keluarga mereka lebih dari dua puluh tahun lalu dan meninggalkan Bogor.
Mereka memang masih memiliki beberapa kerabat di desa tersebut, tetapi hubungan mereka sangat renggang. Setelah kompetisi piano itu, keluarga Indah bahkan tidak pernah terlihat lagi.
Nggak ada seorang pun yang tahu ke mana seluruh keluarga itu pergi.
Sebelumnya, Nina juga sudah mengecek data keluarga tersebut di kantor polisi, tetapi hasilnya tetap nihil.
Awalnya, dia mengira datang langsung ke desa akan memberikan petunjuk baru. Sayangnya, hasilnya justru sangat mengecewakan.
Keluarga gadis jenius bernama Indah itu seolah-olah menghilang begitu saja dari muka bumi.
Revan dan Nina bahkan mulai curiga bahwa keluarga tersebut mungkin sudah mengalami sesuatu yang buruk.
Jangan-jangan, sebelum Kasus Tangan Hilang berhasil dipecahkan, mereka justru akan menemukan kasus pembunuhan lain?
Karena nggak berhasil menemukan keluarga Indah, petunjuk yang mereka miliki kembali terputus!
Hal itu membuat Revan semakin tertekan.
Rasanya seperti sebuah pegas yang terus-menerus ditarik sampai batas maksimal. Tinggal sedikit lagi sebelum akhirnya putus.
“Anjir! Kenapa sih?!” Revan menggerutu frustrasi. “Kenapa kasus ini susah banget diselidiki?”
Setiap kali mereka bersusah payah menemukan sebuah petunjuk kecil, pada akhirnya jalan mereka selalu buntu dan mereka terpaksa berhenti di tengah jalan!
Revan menghantam setir dengan kesal.
Nina yang duduk di sampingnya hanya bisa berusaha menenangkan.
Mereka nggak boleh membuang waktu lagi.
Mereka harus segera kembali untuk melindungi Hana!
Hari ini tanggal 26!
Mereka nggak boleh membiarkan pelaku mendapatkan kesempatan untuk memotong tangan Hana!
“Tapi kita juga nggak bisa cuma mengandalkan satu petunjuk ini!” Setelah beberapa saat merasa putus asa, Revan akhirnya kembali mendapatkan semangat. “Kalau memang nggak ada jalan lain, gue akan menemui ketiga korban itu secara langsung.”
“Mereka sendiri nggak tahu kalau semua ini berkaitan dengan piano. Kalau gue minta mereka mengingat-ingat masa lalu, mungkin saja ada sesuatu yang tiba-tiba mereka ingat!”
“Itu juga bisa dicoba!”
Nina tampaknya tiba-tiba teringat sesuatu.
“Kita bagi tugas saja.”
“Eh, tunggu!” Nina mendadak berseru. “Aku baru ingat sesuatu! Kita masih bisa terus mencari Indah. Mungkin kita bisa minta bantuan ‘orang itu’!”
“Orang yang mana?” Revan mengerutkan kening.
“Kamu tahu, kan? Di kantor polisi kita ada seorang ahli yang jago banget mencari orang?”
“Kalau dia bersedia membantu, mungkin kita bisa menemukan sesuatu!”
“Memangnya ada orang seperti itu?” Revan terkejut. “Kenapa dari tadi kamu nggak bilang?”
“Hah? Orang ini memang payah kalau soal menyelidiki kasus, tapi kalau urusan mencari orang, dia jagonya bukan main.” Nina menghela napas. “Aku pernah dengar dia punya cara khusus buat menemukan orang. Bahkan orang yang sudah hilang bertahun-tahun pun katanya bisa dia lacak dengan cepat!”
“Oh?” Revan menggaruk kepalanya. “Ada orang sehebat itu di kantor polisi?”
“Sudahlah, jangan pura-pura nggak tahu!” Nina langsung menyahut. “Itu Abi! Orang yang duduk di sebelahmu di kantor!”
“Apa?!”
Revan langsung bengong.
“Mana mungkin dia?”
“Bukannya dia...”
“Ya!” Nina langsung menyela. “Dia memang yang ada di Tim Investigasi Kasus bareng Budi. Tim aneh yang isinya orang-orang aneh semua itu!”
Nina kemudian menjelaskan lebih lanjut.
“Abi sebenarnya punya reputasi buruk waktu masih di Unit Orang Hilang. Setiap kali ada rekan kerja yang minta bantuannya mencari seseorang, dia selalu meminta sesuatu sebagai imbalan.”
“Kalau nggak ada yang bisa dikasih, dia bakal cari alasan dan nggak mengerjakan tugasnya dengan serius.”
“Makanya dia sampai dijuluki Buntal!”
“Rekan-rekannya di Unit Orang Hilang akhirnya nggak tahan lagi dan melaporkannya. Karena itu, para atasan memindahkannya ke Tim Investigasi Kasus!”
“Walaupun sekarang dia masih berada di bawah Tim A, kalau kamu mau meminta bantuannya, kamu harus siap mengeluarkan uang!”
“Menarik juga!” Revan sama sekali nggak menyangka kalau Abi ternyata orang seperti itu.
Selama ini, dia mengira pria itu cuma pemalas yang nggak punya ambisi.
Dia benar-benar nggak pernah menyangka kalau ternyata Abi memiliki kemampuan khusus seperti itu.
Revan langsung menelepon Abi sebelum mereka kembali ke kantor polisi.
Setelah menjelaskan situasinya, Revan nggak menyangka Abi ternyata langsung menyetujuinya tanpa banyak bertanya.
Bahkan pria itu dengan santai meminta Revan segera mengirimkan semua informasi yang mereka punya.
Dia akan membantu mengeceknya dari kantor.
Setelah telepon ditutup, Revan menoleh ke arah Nina sambil mengangkat bahu.
“Gimana? Kamu tadi bilang dia bakal banyak alasan, kan? Bukannya dia langsung setuju membantu?”
“Nah!” Nina mendengus sambil menghela napas. “Itu memang trik andalannya.”
“Dia akan pura-pura setuju membantu di awal, tapi sebenarnya nggak akan melakukan apa-apa sampai kamu benar-benar terdesak.”
“Begitu kamu sudah nggak punya pilihan lain, baru dia akan mengajukan syarat. Kalau kamu nggak mau memenuhi syaratnya, dia nggak akan pernah benar-benar membantu!”
“Serius?”
Revan masih agak sulit percaya.
Kenapa ada polisi yang kelakuannya seperti penipu begini?
Bukannya berbeda dengan preman yang cuma bisa dipercaya kalau sudah diberi uang?
Saat mereka akhirnya kembali ke kantor polisi, Abi ternyata belum terlihat.
Revan langsung meneleponnya.
Dari seberang telepon, Abi mengatakan bahwa dia sedang diare.
Dia bilang mungkin akan datang sedikit terlambat dan meminta Revan menunggunya di kantor.
Revan mendesaknya.
Dia menjelaskan bahwa masalah ini sangat penting.
Petunjuk dari Abi bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan kasus tersebut, jadi dia harus benar-benar serius membantu.
Sekali lagi, Abi dengan santainya menyanggupi.
Dia bahkan berjanji akan segera menyelesaikannya.
Namun, dua puluh menit berlalu dan batang hidungnya masih belum kelihatan.
Revan menelepon lagi.
Kali ini, teleponnya bahkan nggak diangkat!
“Gimana?” Nina tersenyum puas. “Aku bilang juga apa. Aku paling sebel sama orang kayak begitu. Kalau kamu nggak memberinya keuntungan apa-apa, dia nggak akan pernah benar-benar mau membantu mencari informasi!”
“Hahaha...”
Bukannya marah, Revan justru tertawa.
Dia menepuk bahu Nina dengan percaya diri.
“Waktu pertama kali gue terjun ke dunia kerja, salah satu keahlian gue adalah menghadapi orang-orang licik seperti ini!”
“Tunggu saja.”
“Gue nggak akan keluar uang sepeser pun.”
“Tapi dia pasti bakal nurut dan membantu gue mencari orang itu!”