Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Undangan ke Sarang Serigala
Tiga hari kemudian, langit Jakarta memantulkan warna tembaga di dinding kaca gedung-gedung SCBD.
Di dalam mobil, Sekar membaca kembali kalimat kecil yang tercetak di bagian bawah undangan.
Keluarga Danuwijaya bersedia menghentikan seluruh tuntutan nama baik apabila Sekar memberi klarifikasi terbuka dan menandatangani pernyataan pelepasan hak atas aset keluarga Reksonegoro.
Bahasanya halus. Maksudnya telanjang.
Datang, mengaku bersalah, lalu serahkan milik ibumu.
Ponsel Sekar bergetar. Nama Arka muncul di layar.
"Saya sudah sampai di hotel," kata Sekar setelah menerima panggilan.
Suara Arka terdengar tenang, tetapi lebih berat daripada biasanya. "Bening ada di pintu samping. Jangan keluar dari jalur yang sudah kita sepakati."
"Anda sudah mengulanginya tiga kali."
"Kalau begitu, ingat yang keempat. Jangan memaksakan diri hanya karena tanggal malam ini berarti bagi Anda."
Sekar memandang gelang rajutan dari Bimo di pergelangan tangannya. Biru tua, tidak rapi, dan terasa lebih berharga daripada seluruh perhiasan yang pernah diberikan Danuwijaya kepadanya.
"Saya datang bukan untuk mati demi kenangan Eyang Wiryo," jawabnya. "Saya datang supaya nama beliau tidak dipakai lagi untuk mengurung saya."
Hening sesaat.
"Baik," kata Arka. "Kalau harus keluar, tinggalkan semuanya dan keluar."
"Termasuk bukti?"
"Termasuk bukti. Anda lebih penting."
Sekar menutup mata sepersekian detik. Kalimat itu masuk terlalu dalam, tepat ketika ia perlu menjaga dadanya tetap dingin.
"Saya mengerti."
Panggilan berakhir. Di kursi depan, Bening menoleh.
"Masih bisa batal, Mbak. Pak Djoyo bahkan menyuruh saya membawa Mbak pulang kalau firasat saya jelek."
"Firasatmu bagaimana?"
"Jelek sekali."
Sekar tersenyum tipis. "Berarti kita datang ke tempat yang benar."
Ia memeriksa tas tangannya sekali lagi. Ponsel utama, ponsel cadangan, alat perekam kecil, salinan terautentikasi, dan separuh liontin lama yang dibawanya untuk satu urusan terakhir. Semua berada di tempatnya.
Ratih tidak ikut. Sekar sendiri yang melarang ibunya datang. Pak Djoyo tetap di Vila untuk menjaga dokumen dan jalur komunikasi. Anak-anak berada bersama Eyang Kus, jauh dari pusat keributan.
Malam ini, bila sesuatu runtuh, jangan sampai menimpa mereka.
Sekar turun dari mobil.
Karpet gelap membentang dari pelataran hingga pintu hotel. Di depan dinding berlogo yayasan Danuwijaya, lampu kamera menyala tanpa jeda. Perayaan ulang tahun yayasan yang digabungkan dengan peluncuran proyek baru itu lebih mirip pertunjukan kekuasaan daripada acara amal.
Nama-nama besar berjalan masuk sambil tersenyum. Pengusaha, pejabat, selebritas, dan wartawan infotainment bercampur di antara dekorasi anggrek putih serta panel emas.
Begitu Sekar muncul, kepala-kepala menoleh serempak.
Seorang reporter nyaris berlari menghampiri. "Mbak Sekar, apakah benar malam ini ada perdamaian dengan keluarga suami?"
"Apakah Mbak akan mengakui hubungan dengan pria lain?"
"Bagaimana tanggapan Mbak soal hak keluarga Danuwijaya atas aset Reksonegoro?"
Pertanyaan terakhir membuktikan bahwa bahan pengarahan sudah dibagikan sebelum ia tiba.
Bening bergerak setengah langkah ke depan, tetapi Sekar memberi isyarat kecil agar ia berhenti.
"Saya datang karena diundang," jawab Sekar. "Silakan dengarkan acara sampai selesai."
Ia masuk tanpa mempercepat langkah.
Wida menunggunya di dekat meja registrasi dengan kebaya berwarna gading dan senyum yang terlalu lebar.
"Sekar, akhirnya kamu datang." Tangannya langsung mengait lengan Sekar. "Ibu kira kamu tidak berani."
"Undangannya menyebut ini malam keluarga. Tidak sopan kalau saya mengecewakan Ibu."
Mata Wida menajam, lalu kembali manis ketika kamera mendekat.
"Mari. Wartawan ingin melihat bahwa kita masih bisa berdiri bersama."
Ia sengaja membawa Sekar melewati koridor kamera terpadat. Di sepanjang jalan, Sekar menghitung empat kamera siaran langsung, dua kru infotainment, satu fotografer internal, dan tiga ponsel di atas penyangga dengan logo akun gosip.
Tidak ada satu pun yang ditempatkan secara kebetulan.
Di depan pintu ballroom, Kirana muncul sambil menggendong Sasa. Gaunnya longgar di bagian pinggang, riasannya menutupi wajah yang masih pucat. Seorang perawat berdiri tak jauh darinya dengan tas perlengkapan bayi.
Sekar menahan pandangan pada wajah kecil Sasa. Bayi itu tertidur dalam selimut lembut, tidak tahu bahwa tubuhnya dibawa ke ruangan bising sebagai perisai simpati.
"Mbak Sekar," sapa Kirana lembut, cukup keras untuk tertangkap mikrofon. "Aku senang Mbak datang. Kondisi Mbak baik, kan? Jangan terlalu tertekan. Dokter bilang tekanan batin bisa memengaruhi kesehatan perempuan."
Beberapa kamera segera merapat.
Sekar memandangnya, lalu menurunkan suara. "Kalau kamu sungguh memikirkan kesehatan, bawa bayimu kembali ke kamar yang tenang."
Senyum Kirana membeku.
Sekar lalu berkata lebih jelas, "Selamat atas kelahiran Sasa. Semoga dia tumbuh tanpa harus memikul pilihan orang dewasa."
Ucapan itu terdengar sopan. Hanya Kirana yang memahami peringatannya.
Di dalam ballroom, Rendra berdiri di samping Hartono. Ia mengenakan jas hitam dan ekspresi orang yang tidak tidur selama beberapa malam. Tatapannya mengikuti Sekar, tetapi ia tidak bergerak menyambut.
Eyang Sri duduk di meja utama bersama Om Guntur. Tiga map gelap terletak di kursi sebelahnya. Bambang berada di meja keluarga besar, tepat berhadapan dengan jalur masuk Sekar.
Ayah dan anak itu saling memandang.
Bambang mengalihkan wajah lebih dahulu.
Tidak ada anggukan. Tidak ada sapaan. Seolah Sekar hanyalah tamu yang namanya kebetulan sama dengan mendiang istrinya.
Dulu sikap itu akan melukai Sekar sepanjang malam. Kini ia hanya menyimpannya sebagai satu lagi jawaban.
Wida menuntunnya ke kursi yang telah disediakan. Posisi itu tepat menghadap panggung dan diapit kamera dari dua sisi.
Di atas meja ada sebuah map tipis, pena, dan segelas air mineral yang sudah dibuka.
Sekar tidak menyentuh air itu.
"Minumlah," kata Wida. "Kamu kelihatan pucat."
"Saya lebih suka botol yang masih tersegel."
Wida tertawa kecil. "Kamu sekarang curiga sekali kepada keluarga sendiri."
Pelayan baru datang membawa botol tertutup. Sekar memeriksa segelnya, menuang air, lalu hanya membasahi bibir.
Acara dimulai dengan video kegiatan sosial yayasan. Sesudah itu, Hartono berpidato tentang kehormatan, keluarga, dan pengabdian. Kata-kata mulia berjatuhan dari panggung sementara layar samping menampilkan komentar siaran langsung yang sudah diarahkan.
Sekar melihat beberapa akun menulis kalimat yang sama persis.
Istri durhaka harus tahu diri.
Perempuan tanpa anak malah merebut warisan.
Akui saja perselingkuhannya.
Naskah mereka bahkan tidak kreatif.
Ia meletakkan gelas, berdiri, dan berkata kepada Wida, "Saya perlu memperbaiki riasan."
"Sebentar lagi bagian keluarga."
"Saya tidak akan lama."
Di ruang rias, Sekar mengunci salah satu bilik dan membuka ponsel cadangan. Satu pesan dari Bening sudah masuk.
`Jalur bersih. Tim teknis siap.`
Pesan berikutnya datang dari Ningsih.
`Berkas asli aman. Siaran cadangan aktif.`
Sekar menarik napas, memeriksa mikrofon kecil di balik bros, lalu menyentuh gelang Bimo.
Ketika kembali ke ballroom, susunan acara sudah berubah. Video proyek dihentikan. Cahaya ruangan diredupkan.
Pembawa acara berdiri di tengah panggung dengan senyum kaku.
"Sebelum kita melanjutkan peluncuran, keluarga Danuwijaya ingin memberi ruang bagi penyelesaian sebuah kesalahpahaman yang belakangan menjadi perhatian publik. Kami mengundang Ibu Sekar Reksonegoro untuk naik ke panggung dan memberikan klarifikasi."
Nama Sekar menggema dari pengeras suara.
Sorot lampu putih menyapu ruangan, lalu berhenti tepat di wajahnya.
Semua kamera berputar.
Wida berdiri di sisinya. Ia membuka map tipis di atas meja, mengeluarkan lembar pernyataan pelepasan aset, lalu menyelipkan pena ke tangan Sekar.
"Naiklah," bisiknya. "Baca yang sudah kami siapkan, tanda tangani, lalu semuanya selesai."
Sekar tidak menggenggam pena itu.
Ia mengangkat mata ke arah ruang kendali di belakang ballroom.