Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Pintu ruangan itu terbuka.
Viola melangkah masuk bersama Sagara. Dalam sekejap suara percakapan yang sebelumnya memenuhi ruangan mendadak mereda. Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Kilatan kamera menyambar dari berbagai arah, membuat Viola sempat menyipitkan mata.
Di hadapannya, para wartawan telah memenuhi kursi yang disediakan. Beberapa kamera besar berdiri di atas tripod. Mikrofon dengan berbagai logo media terarah ke meja tempat Viola akan memberikan klarifikasi.
Jantung Viola berdetak lebih cepat. Tangannya yang sejak tadi berada di sisi tubuh perlahan mengepal.
Sagara masih berjalan di sampingnya. "Tenanglah. Aku ada di sini."
Viola menatap sekilas. Tatapan Sagara tampak serius, tetapi ada ketegangan yang jelas di sana. Pria itu tahu betul bahwa beberapa menit ke depan bisa mengubah kehidupan Viola.
Mengangguk kecil, Viola menarik napas panjang. Ia tidak boleh ragu. Apa yang akan dilakukannya adalah keputusan yang ia ambil sendiri.
Viola duduk di kursi yang telah disediakan. Sagara mengambil tempat tidak jauh darinya. Beberapa detik kemudian, suara kamera kembali terdengar bertubi-tubi.
Seorang wartawan berdiri. "Apakah Anda datang untuk menjelaskan sesuatu?"
Viola mengangguk. Ia menatap ke arah semua orang yang hadir di sana.
"Saya Viola Shania Jayendra. Saya yakin beberapa dari kalian mungkin mengenal saya sebagai seseorang yang pernah memiliki jabatan penting di Jayendra Group."
Beberapa wartawan senior mengangguk. Mereka memang mengenal Viola sebagai mantan CEO Jayendra Group yang pernah menjabat beberapa tahun sebelumnya.
"Kehadiran saya di sini untuk meluruskan tentang pemberitaan yang sedang ramai beredar."
Suasana ruangan seketika menjadi lebih hening. Semua kamera mengarah padanya.
Viola meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Ada kegugupan yang berusaha ia sembunyikan, ia juga tidak membiarkan rasa takut menguasai dirinya.
"Beberapa hari terakhir, kalian tentu sudah melihat foto-foto Nara dan Tuan Han Seokjin beredar di berbagai media."
Salah seorang wartawan langsung menyela.
"Apakah kehadiran Anda di sini untuk membantah hubungan khusus antara Nona Naraya dan Tuan Han Seokjin?"
Viola mengangkat wajahnya. "Saya ada di sini untuk membantah pemberitaan itu." Jawabannya terdengar jelas, tegas, dan tanpa keraguan.
"Saudari Saya, Naraya dan Tuan Han Seokjin tidak memiliki hubungan khusus seperti yang diberitakan. Hubungan mereka tidak lebih dari hubungan keluarga semata. Mereka adalah saudara sepupu."
Beberapa wartawan mulai saling berbisik. Suara kamera kembali memenuhi ruangan.
"Bagaimana dengan foto mereka yang beredar luas? Keduanya terlihat masuk ke kamar Tuan Han Seokjin saat acara ulang tahun Dhanubrata Group berlangsung."
"Foto itu benar adanya," tukas Viola tanpa ragu.
Ruangan kembali riuh. Semua orang segera mencatat pernyataan Viola tentang kebenaran foto itu.
"Tapi mereka tidak hanya berdua di sana."
Ruangan mendadak kembali hening.
"Saya juga berada di sana. Saya datang beberapa menit setelah Nara dan Tuan Han Seokjin masuk lebih dulu."
Semua orang yang hadir mulai berbisik.
Layar besar di belakang Viola mulai menyala. Foto-foto Viola saat berjalan menyusuri lorong dan saat memasuki kamar Han Seokjin ditampilkan di layar besar itu.
"Kalian bisa perhatikan nomor kamar yang tertera di pintu serta keadaan di sekitarnya. Semuanya sama persis," tambah Viola.
Beberapa wartawan langsung berdiri. Kilatan kamera menyambar tanpa henti.
"Apa semua bukti itu asli?" Pertanyaan itu muncul begitu saja.
"Kalian bisa memastikan sendiri keasliannya," jawab Viola tanpa beban. Semua foto itu memang asli. Sagara mendapatkannya dari CCTV hotel Dhanubrata Group.
"Kalau memang benar Anda juga berada di tempat yang sama. Apa yang sebenarnya kalian lakukan di sana? Bukankah saat itu Dhanubrata Group sedang mengadakan pesta besar?" Salah seorang Wartawan kembali mengajukan pertanyaan.
Viola menarik napas perlahan.
"Ada hal penting yang mendadak harus kami diskusikan. Ballroom sedang ramai, jadi kami membutuhkan tempat yang lebih tenang untuk berdiskusi. Karena itulah kami memutuskan untuk berdiskusi di kamar Tuan Han Seokjin."
Viola berhenti sejenak.
"Saat itu Sagara dan Tuan Dhanubrata sedang sibuk menyambut tamu yang hadir. Karena itu saya dan Nara yang mewakili mereka."
Semua yang hadir saling menatap sebelum kembali menuliskan seluruh penjelasan Viola. Penjelasan itu terdengar cukup masuk akal.
"Apakah Anda bisa memastikan bahwa Nona Naraya dan Tuan Han Seokjin tidak memiliki hubungan apa pun?"
"Tuan Han Seokjin sampai saat ini bahkan tidak pernah terdengar memiliki kekasih."
Pertanyaan lain mulai bermunculan.
Sagara menarik napas panjang. Rahangnya mulai mengeras. Jemarinya mengepal erat. Ia ingin ikut menjelaskan namun Viola tiba-tiba menatap ke arahnya sambil menggeleng pelan.
"Hubungan mereka selayaknya sebagai saudara. Tidak lebih dari itu. Saya bisa memastikan semua itu." Pandangan Viola kembali pada para wartawan.
"Naraya baru saja melahirkan anak kembar. Kehidupan rumah tangga mereka berjalan bahagia. Jangan hanya karena selembar foto kalian langsung menyimpulkan sesuatu yang justru membuat kesalahpahaman."
Kalimat-kalimat itu terdengar mantap.
Ruangan sempat hening. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Seorang wartawan perempuan mengangkat tangannya. "Saya ingin bertanya. Jika hubungan Nona Naraya dan Tuan Han Seokjin memang sebatas saudara, lalu bagaimana dengan Anda?"
Dahi Viola berkerut. "Maksud Anda?"
Wartawan itu menatapnya lekat. "Anda mengatakan bahwa Anda juga berada di kamar Tuan Han Seokjin malam itu. Sebenarnya apa yang sedang kalian bahas? Kenapa Anda bisa ikut berada di sana?"
Beberapa kamera langsung kembali terangkat.
"Saya juga pernah mendengar berita tentang Tuan Han Seokjin yang membeli sebuah bangunan besar di tengah kota. Dan bangunan itu saat ini sedang ditempati oleh Sweet Cake milik Nona Viola." Seorang pria yang sebelumnya hanya sibuk mencatat tiba-tiba berdiri dan mengajukan pertanyaan itu.
Semua mata spontan tertuju pada pria itu lalu kembali pada Viola.
Viola menelan ludah. Pertanyaan itu seperti batu yang dilemparkan tepat ke permukaan air yang sejak tadi berusaha ia tenangkan.
"Apa Anda memiliki hubungan khusus dengan Tuan Han Seokjin?"
"Apa benar, bangunan yang saat ini di tempati Sweet Cake adalah bangunan milik Tuan Han Seokjin?"
Pertanyaan lain menyusul.
"Apakah karena itu Anda berada di kamar itu? Karena Anda-lah yang sebenarnya memiliki hubungan khusus dengan Tuan Han Seokjin."
Suasana ruangan semakin riuh. Beberapa wartawan bahkan mulai berdiri agar dapat mengambil gambar dari sudut yang lebih jelas. Kilatan kamera menyambar bertubi-tubi, membuat Viola harus menyipitkan mata.
Jemari Viola menggenggam ujung pakaian di bawah meja. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa memenuhi telinganya.
Ia datang ke tempat itu dengan persiapan yang matang. Ia sudah memikirkan pertanyaan tentang Nara. Menyiapkan jawaban mengenai foto-foto yang beredar. Ia bahkan sudah memperkirakan kemungkinan wartawan mempertanyakan alasan dirinya berada di kamar Seokjin.
Namun, ia tidak pernah membayangkan pertanyaan tentang hubungannya dengan Seokjin. Apalagi soal bangunan milik Seokjin yang ditempati Sweet Cake. Ia tidak menyangka ada orang lain yang tahu tentang hal itu.
Sagara yang duduk beberapa langkah darinya langsung menegakkan tubuh. Rahangnya mengeras ketika melihat Viola mulai terpojok.
"Cukup!" ucapnya tegas.
Namun Viola segera menggeleng.
Tatapan mereka bertemu, Viola menggeleng sekali lagi, ia tidak ingin Sagara ikut campur. Semua ini adalah keputusannya.
Asalkan semua pemberitaan tidak lagi mengarah pada Nara. Ia akan mencoba bertahan sekuat yang ia bisa.
"Aku akan menjawabnya," ucap Viola.
Sagara terdiam.
Viola menarik napas panjang, lalu kembali menghadap para wartawan. "Saya dan Tuan Han Seokjin ...."
Kalimat itu menggantung. Suaranya seolah tersangkut di tenggorokan.
Apa yang harus ia katakan?
Jika ia mengatakan bahwa dirinya dan Seokjin tidak memiliki hubungan apa pun, bukankah itu justru akan membuat semua penjelasannya tadi kembali diragukan? Media mungkin akan menganggap penjelasannya itu hanya sebuah pembelaan semata. Mereka mungkin akan kembali menyorot Nara.
Namun, bila ia mengatakan memiliki hubungan khusus dengan pria itu, pertanyaan lain pasti akan bermunculan. Dan Han Seokjin.
Viola memejamkan mata sesaat. Pria itu pasti akan sangat marah. Seokjin bahkan akan langsung membantahnya di depan semua orang. Membuat dirinya kehilangan wajah.
"Saya dan Tuan Seokjin. Kami ...."
Suara Viola kembali terdengar, tetapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya.
"Benar."
Satu kata terdengar dari arah pintu.
Viola tersentak.
Suara kamera mendadak berhenti. Semua kepala berbalik hampir bersamaan.
Seokjin berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan setelan formal berwarna gelap. Wajahnya tampak tenang, tetapi tatapan matanya begitu tajam hingga membuat beberapa wartawan yang berdiri spontan kembali mengambil tempat.
Viola menatapnya dengan mata membesar.
Seokjin berjalan masuk. Langkahnya tenang, tidak sedikit pun merasa ragu. Seolah puluhan kamera dan tatapan yang tertuju padanya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
"Tuan Seokjin!"
"Tuan Han!"
"Apakah benar Anda memiliki hubungan dengan Nona Viola?"
Pertanyaan itu langsung menghujani dirinya.
Seokjin mengangkat satu tangan. Keributan perlahan mereda. Ia berhenti di sisi ruangan, kemudian menatap lurus ke arah para wartawan.
"Benar." Suara beratnya terdengar jelas. "Saya memang memiliki hubungan khusus." Ia berhenti sejenak. "Bukan dengan Naraya, tetapi dengan Nona Viola Shania."
**** bersambung.
tpi kasian viola nikah tanpa di cintai.sll jdi lilin menerangi org lain .tpi kena tanga sndri 🙏🙏😭😭