Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Nana tidak melawan tarikan itu dengan menarik balik.
Di jalanan, kalau orang yang lebih kuat menarikmu, jangan rebut tenaga di tempat yang ia pilih. Ubah arah.
Ia membiarkan tubuhnya ikut tertarik setengah langkah, lalu memutar bahu ke dalam. Jaket gelap yang diberikan Irwan longgar. Ujungnya terlepas dari satu sisi tubuh Nana. Pria itu mendapat jaket, bukan orangnya.
Nana merunduk.
Tangannya menyambar kardus kosong di sisi kiri dan mendorongnya ke kaki pria itu. Kardus jatuh, isi kain perca berhamburan. Pria itu tersandung, mengumpat, tapi tangannya masih berhasil meraih rambut Nana.
Sakitnya membuat mata Nana panas.
"Tasnya di sana!" teriaknya, menunjuk arah tas yang ia lempar tadi.
Pria itu ragu sepersekian detik.
Cukup.
Pintu belakang toko terbuka keras.
Albert muncul lebih dulu.
"Lepaskan dia."
Suara Albert tidak tinggi, tidak garang, tetapi jelas. Ia berdiri tanpa tas di tangan, wajahnya pucat, namun matanya tidak mundur. Di belakangnya, penjaga toko tua gemetar memegang senter.
Nana terkejut. "Paman, jangan keluar!"
Pria itu langsung melihat Albert. Matanya berubah. Ia tahu wajah itu. Semua ancaman malam ini memang untuk wajah itu.
"Pak Albert," katanya pelan, hampir puas.
Nana merasakan bahaya berpindah arah.
Ia tidak berpikir lagi. Ia menginjak kaki pria itu sekuat mungkin. Saat cengkeraman pada rambutnya mengendur, ia menabrakkan bahunya ke dada pria itu. Tubuhnya kecil, benturannya tidak cukup menjatuhkan, tapi cukup membuat pria itu mundur.
Pada saat yang sama, suara rem terdengar dari ujung gang.
Irwan muncul dari sisi kiri bersama dua orang Tim Lilin. Steven datang dari sisi kanan, lebih cepat, tanpa suara sampai ia sudah berada di dekat Nana.
"Mundur," kata Steven.
Nana mundur.
Kali ini ia tidak membantah.
Pria itu mencoba lari ke pagar besi, tapi Irwan menutup jalan. Salah satu orang Tim Lilin menendang tas cadangan yang tergeletak di dekat dinding, membuat pria itu kehilangan fokus lagi. Steven bergerak singkat, menahan tangan pria itu ke belakang punggungnya dan mendorongnya ke dinding.
Tidak ada pukulan berlebihan. Tidak ada teriakan.
Justru karena rapi, adegan itu terasa lebih menakutkan.
"Siapa yang kirim?" tanya Irwan.
Pria itu diam.
Steven menekan sedikit lebih kuat. "Kau punya dua pilihan. Jawab di sini, atau jawab setelah orang yang menyewamu tahu kau gagal."
Wajah pria itu mengeras.
Nana menggigil, bukan karena dingin.
Salah satu orang Tim Lilin menggeledah jaket pria itu. Dari saku dalam, ia mengeluarkan ponsel kecil, kartu parkir tanpa nama, dan foto ruko kain yang dicetak dari kamera jalan. Di belakang foto itu ada coretan kasar tentang "tas hitam" dan "pintu belakang".
"Mereka tahu titik tukar," kata Irwan.
Steven menatap toko kain. "Bukan semua titik. Kalau tahu semua, mereka tidak akan tertipu tas cadangan."
Nana baru sadar lututnya bergetar. Bukan karena hampir tertangkap saja, tapi karena seseorang di luar sana tahu cukup banyak untuk menunggu di pintu yang seharusnya aman.
Albert melangkah ke arahnya. "Kau terluka?"
"Tidak parah."
"Rambutmu."
Baru saat itu Nana sadar beberapa helai rambutnya tertinggal di tangan pria tadi. Kulit kepalanya berdenyut.
Albert mengangkat tangan, ingin menyentuh kepalanya, lalu berhenti di tengah jalan. Ia tidak memaksa. Hanya menurunkan tangan dan berkata, "Maaf."
"Kenapa Paman minta maaf?"
"Karena kau seharusnya tidak perlu berdiri di antara orang seusiaku dan bahaya yang mengejarku."
Kalimat itu menekan dada Nana lebih kuat daripada tarikan pria tadi.
Steven menoleh. "Cukup. Pak Albert harus pergi sekarang."
"Nana ikut mobil mana?" tanya Albert.
"Mobil kedua," jawab Irwan.
"Kalau begitu aku tunggu sampai dia naik."
"Tidak bisa," kata Steven.
Albert menatap Steven. "Bisa. Aku orang yang diancam. Aku juga orang yang memutuskan apakah rasa takut membuatku kehilangan sopan santun."
Irwan melihat Steven.
Steven tidak suka, terlihat jelas. Tapi ia tidak membantah.
Nana menggenggam ujung seragamnya. Di tengah gang sempit, dengan satu penyerang ditahan dan lampu ruko yang masih berkedip kacau, Albert tetap memikirkan apakah ia meninggalkan Nana begitu saja.
Rasa hormat itu tumbuh lagi, lebih kuat, lebih hangat, lebih berbahaya.
Mobil kedua masuk dari ujung gang. Sopir membuka pintu. Steven menarik jaket cadangan dari kursi belakang dan melemparkannya kepada Nana.
"Pakai."
"Jaketku tadi..."
"Dipegang orang yang mencoba menangkapmu. Pakai."
Nana menurut. Tangannya gemetar sedikit ketika memasukkan lengan. Steven melihat, tapi tidak mengatakan apa pun.
Albert baru masuk mobil pertama setelah Nana duduk di mobil kedua.
Sebelum pintu ditutup, ia menoleh padanya.
"Terima kasih, Nana."
Nana tidak tahu harus menjawab apa.
Mobil bergerak.
Rute berikutnya berbeda dari peta. Irwan duduk di depan mobil Nana, memberi instruksi pendek melalui ponsel. Mereka tidak menuju jalan besar utama, melainkan memotong gang belakang, melewati gudang kosong, lalu keluar ke jalan yang lebih lengang.
Di kaca spion, Nana melihat mobil Albert berbelok ke arah berbeda.
"Paman Albert tidak satu jalan?"
"Tidak setelah titik ini," jawab Irwan. "Kalau ada yang masih mengikuti kita, mereka tidak dapat dua target sekaligus."
"Dia aman?"
Irwan menjawab tanpa menoleh, "Lebih aman daripada tadi."
Itu bukan jawaban yang menenangkan, tapi cukup jujur.
Mereka baru berhenti hampir satu jam kemudian di sebuah rumah kecil berpagar tinggi di pinggir kota. Lampunya redup. Tidak ada papan nama. Dua orang Tim Lilin berjaga di depan.
Mobil Albert sudah ada di halaman.
Nana baru benar-benar bernapas saat melihat Albert turun dari mobil pertama.
Ia masih membawa tas hitam.
Tas asli.
Berarti berhasil.
Stella menelepon begitu Nana masuk ruang tamu rumah aman. Suaranya pecah.
"Kau hidup?"
Nana hampir tertawa karena pertanyaan itu terlalu langsung. "Iya."
"Jangan cuma iya. Kau terluka?"
"Sedikit."
"Sedikit itu apa?"
Nana menatap Steven yang berdiri dekat pintu, lalu sengaja berkata, "Koko Steven lebih cerewet daripada lukanya."
Stella terdiam dua detik.
Lalu terdengar isak tertahan. "Bagus. Kalau dia cerewet berarti dia melihatmu."
Nana tidak tahu kenapa kalimat itu membuat tenggorokannya ikut sempit.
Setelah telepon ditutup, Irwan memeriksa tas asli bersama Albert dan Steven. Di dalamnya ada dokumen asli, beberapa flashdisk, dan map ancaman yang tadi dilipat Albert.
Seorang staf Tim Lilin perempuan membawa kotak P3K dan meminta Nana duduk. Ia membersihkan kulit kepala Nana dengan kapas dingin. Perihnya membuat Nana menggigit bagian dalam pipi, tapi ia tidak mengeluh.
"Tidak sobek," kata staf itu. "Tapi besok akan nyeri."
Steven yang berdiri dekat pintu berkata, "Dia tahu. Dia tetap akan bilang tidak apa-apa."
Nana ingin membalas, tetapi kapas dingin menekan bagian yang sakit dan membuat matanya berair.
"Ancaman ini harus masuk laporan resmi," kata Albert.
Steven menatapnya. "Untuk apa?"
"Agar audit mencatat bahwa tekanan terhadap saksi dan penasihat keluarga sudah terjadi. Kalau nanti ada orang mencoba memutar cerita, setidaknya ada jejak bahwa aku bukan pihak yang diuntungkan dari kekacauan ini."
Kalimat itu sangat masuk akal.
Terlalu masuk akal untuk dibantah.
Irwan mengangguk. "Saya masukkan ke arsip Tim Lilin dan salinan legal."
Nana mendengar kata saksi, penasihat, jejak. Di kepalanya, semuanya terdengar seperti bahasa orang dewasa. Yang ia pahami hanya satu: ancaman itu nyata, pengejar tadi nyata, dan Albert benar-benar hampir terluka.
Kalau laporan resmi bisa melindunginya, kenapa tidak?
Steven tidak langsung setuju. Matanya tertahan pada Albert sedikit lebih lama.
Albert balas menatap dengan tenang. "Kau curiga bahkan kepada orang yang baru saja dikejar?"
"Aku curiga kepada semua orang."
"Bagus." Albert tersenyum lelah. "Itu sebabnya kau masih hidup."
Nana melihat Steven diam.
Beberapa jam kemudian, saat keadaan dinyatakan cukup aman, William mengirim pesan bahwa Albert akan tetap di rumah aman beberapa hari. Tamara mengurus legal. Lusia, menurut Stella lewat pesan, menangis marah di rumah besar dan menyalahkan semua orang.
Nana duduk di teras belakang rumah aman, memegang secangkir teh hangat. Kulit kepalanya masih perih. Bahunya pegal. Tapi dadanya terasa ringan dengan cara yang aneh.
Albert duduk tidak jauh darinya.
"Kau menyesal ikut?" tanyanya.
Nana memikirkan gang gelap, tangan di rambutnya, napas yang tersangkut di dada. Lalu ia memikirkan Albert yang keluar dari toko dan berkata lepaskan dia.
"Tidak."
"Padahal aku membuatmu hampir celaka."
"Paman juga hampir celaka."
Albert menatap teh di tangannya. "Aku sudah tua. Orang tua sering mengira hidupnya lebih murah daripada hidup anak muda. Itu kesombongan juga, rupanya."
"Paman tidak terlihat sombong."
"Yang paling berbahaya dari kesombongan adalah ketika ia memakai baju rendah hati."
Nana tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia menyukai cara Albert tidak pernah membuat dirinya tampak suci.
Ia berbeda dari Daniel yang terang-terangan mengaku bukan orang baik. Berbeda dari Steven yang menyembunyikan semua hal di balik wajah dingin. Albert seperti orang yang tahu dunia kotor, tapi tetap memilih melipat ancaman dengan rapi dan berbicara pelan.
Orang seperti itu, pikir Nana, pantas diselamatkan.
Saat fajar hampir menyentuh langit, Irwan mengantar Nana kembali ke Rumah Besar Sie. Sebelum masuk mobil, Albert berdiri di teras.
"Nana."
Ia menoleh.
"Malam ini kau bukan menyelamatkan dokumen. Kau menyelamatkan kepercayaan orang-orang yang masih ingin percaya bahwa rumah ini bisa bertahan."
Nana menggenggam tali tas kosong di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak menjadi bagian dari Rumah Besar Sie, ia merasa bukan sekadar anak yang dipungut dari jalan.
Ia merasa berguna.
Ia merasa, dengan seluruh tubuhnya yang sakit dan mata yang kurang tidur, bahwa malam itu ia telah menyelamatkan seorang baik.