NovelToon NovelToon
Tahanan Sang Konglomerat

Tahanan Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Obsesi
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Buana

Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Aturan di Istana Raja

Albert mengambil walkie-talkie itu dari tangan Momo sebelum ia sempat menekan tombol apa pun.

Gerakannya cepat, tetapi tidak kasar. Justru karena tidak kasar, Momo merasa lebih terhina. Seolah ia bukan ancaman. Seolah rasa ingin tahunya pun sudah dihitung dan dianggap tidak berbahaya.

"Itu bukan milik Nona," kata Albert.

Momo berdiri. "Siapa pria tadi?"

"Petugas keamanan."

"Suara itu tidak seperti pengawal."

"Banyak petugas keamanan tidak terlihat seperti pengawal."

"Dia menyebutku target."

Albert memasukkan walkie-talkie ke saku jasnya. "Istilah operasional."

"Aku manusia."

Untuk sesaat, mata Albert bergerak ke Gelang Sakura di pergelangan Momo. Bukan mengejek. Bukan kasihan. Hanya melihat fakta yang sama-sama mereka pahami.

"Saya tahu, Nona."

Momo hampir tertawa. "Kalau kamu tahu, kenapa tetap berdiri di pihak orang yang mengurungku?"

Albert diam beberapa detik. Angin pantai mengangkat ujung jasnya, tetapi wajahnya tetap sekeras batu.

"Karena saya berdiri di pihak Tuan."

Jawaban itu sederhana. Dan tidak bisa digeser.

Malamnya, Renard menetapkan aturan.

Ia tidak memanggilnya ke ruang kerja atau ruang sidang seperti yang Momo bayangkan. Ia hanya duduk di kursi ujung meja makan, dengan secangkir kopi hitam di dekat tangan, seolah sedang membicarakan jadwal biasa. Momo duduk di seberangnya, masih mengenakan gaun sederhana yang disediakan pelayan. Baju itu lebih tertutup daripada gaun tidur putih, tetapi tetap bukan miliknya.

"Mulai besok," kata Renard, "kau makan tiga kali sehari di sini."

"Aku bukan anak kecil yang harus diawasi makan."

"Tubuhmu tidak setuju."

Momo mengepalkan tangan di bawah meja. "Itu urusanku."

"Di pulau ini, tubuhmu juga urusanku."

Panas naik ke wajah Momo. "Kamu dengar sendiri betapa gilanya kalimat itu?"

Renard menatapnya tanpa berkedip. "Aku dengar. Aku tetap mengatakannya."

Ia menggeser sebuah tablet kecil ke tengah meja. Di layar, ada peta sederhana Pulau Raja. Beberapa area diberi tanda merah.

"Dermaga. Helipad. Tebing utara. Ruang mesin. Ruang bawah tanah sebelah barat. Semua terlarang."

"Kalau aku melanggar?"

"Kau akan dikembalikan ke kamar."

"Itu saja?"

"Tergantung berapa jauh kau melanggar."

Momo menatap tanda merah di peta. "Kamu takut aku kabur."

"Aku tidak takut."

"Lalu kenapa semua pintu dikunci?"

"Karena kau ingin kabur."

Jawaban itu terlalu lurus sampai membuatnya kehabisan kata. Renard mengambil cangkir kopinya. Cincin ular di jarinya menyentuh porselen dengan bunyi kecil.

"Kamar tidurmu tetap di lantai tiga," lanjutnya. "Pintu penghubung ke kamarku akan dibuka mulai malam ini."

Momo langsung menegakkan punggung. "Tidak."

"Itu bukan permintaan."

"Aku tidak mau tidur di sebelah kamu."

"Kau tidak tidur di sebelahku. Kau tidur di kamar yang terhubung dengan kamarku."

"Itu sama saja!"

"Tidak. Kalau sama, kau sudah ada di ranjangku."

Momo berdiri begitu cepat sampai kursinya berderit keras. Dua pengawal di dekat pintu langsung menoleh, tetapi Renard tidak bergerak sedikit pun.

"Kamu menjijikkan."

Mata amber itu menggelap. Bukan karena tersinggung, lebih seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang disentuh terlalu dekat.

"Duduk."

"Tidak."

Renard berdiri.

Hanya itu. Satu gerakan. Tetapi ruang makan langsung berubah sempit. Momo mundur setengah langkah tanpa sadar, lalu marah pada tubuhnya sendiri karena mundur. Renard tidak menyentuhnya. Ia hanya berhenti di sisi meja, cukup dekat untuk membuat Momo mencium aroma hujan dan kayu mahal yang mulai ia kenali.

"Kau takut aku masuk lewat pintu itu?" tanyanya.

"Aku takut pada semua hal yang kamu anggap hakmu."

Tatapan Renard turun ke bibirnya yang bergetar, lalu kembali ke matanya. "Bagus. Berarti kau mulai mengerti."

Renard meletakkan cangkir. "Gadis kecil, kau boleh membenciku. Kau boleh memanggilku iblis. Tapi jangan salah paham. Jika aku ingin mengambil sesuatu darimu, aku tidak perlu membuat pintu penghubung."

Momo merasa napasnya tertahan.

Kalimat itu mengerikan. Namun di balik kengeriannya, ada batas yang tidak ia duga. Batas yang tetap tidak membuatnya aman, tetapi membuat rasa takutnya berubah bentuk. Ia tidak merasa bebas. Ia justru merasa lebih terikat, karena pria ini tidak perlu menyentuh untuk membuat kulitnya sadar bahwa ia bisa saja disentuh.

Ia duduk kembali perlahan.

Renard berdiri. "Aturan selesai."

Tiga hari berikutnya berjalan seperti kain yang ditarik terlalu kencang.

Momo makan di ruang makan, selalu di bawah tatapan Renard atau Albert. Ia diizinkan berjalan di taman, tetapi tidak pernah tanpa pengawal. Ia melihat dermaga dari jauh, menghitung jadwal pergantian penjaga, lalu menyadari Albert benar. Jumlahnya berubah. Kadang dua. Kadang empat. Kadang tidak ada seorang pun terlihat, tetapi kamera bergerak mengikuti langkahnya.

Ia mulai mengenal istana ini sebagai peta perang.

Koridor barat menuju ruang musik.

Tangga kecil di belakang dapur menuju lantai servis.

Pintu kaca dekat taman terkunci dengan kode enam angka.

Perpustakaan di lantai dua menjadi satu-satunya ruangan yang tidak membuatnya merasa diawasi setiap detik.

Di sana, rak-rak tinggi dipenuhi buku berbahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Momo tidak bisa membaca Mandarin, tetapi ia menyentuh punggung buku-buku itu dengan rasa aneh. Di rumah Ama, buku paling mahal adalah buku resep lama yang halamannya menguning. Di sini, buku-buku berjajar seperti hiasan kekuasaan.

Pada hari kelima, ia menemukan buku catatan tua di rak paling bawah.

Sampulnya kulit cokelat gelap, pinggirnya lecet, ukurannya lebih kecil dari buku lain. Di bagian depan, ada tulisan tangan yang miring dan kekanak-kanakan.

King's Castle.

Momo menahan napas.

Ia membuka halaman pertama. Ada sketsa kasar sebuah pulau. Garis pantai, bangunan utama, pohon-pohon, dan di sudut kanan bawah, gambar kecil seorang anak laki-laki berdiri di samping perempuan berambut panjang. Tulisan di bawahnya tidak rapi.

Hari ini Ibu bilang kastelku bagus.

Momo membalik halaman berikutnya, tetapi langkah di luar perpustakaan membuatnya cepat-cepat menutup buku. Ia memasukkannya ke balik lipatan kardigan yang dikenakannya.

Albert muncul di pintu.

"Nona sudah selesai?"

"Belum."

Mata Albert turun sebentar ke kardigan Momo. Momo menahan napas. Tetapi pria itu hanya berkata, "Makan malam sepuluh menit lagi."

Ia tidak tahu apakah Albert tidak melihat atau pura-pura tidak melihat.

Malam itu, Momo menyembunyikan buku catatan tersebut di bawah kasur.

Pintu penghubung ke kamar Renard benar-benar dibuka. Bukan terbuka lebar, tetapi tidak terkunci. Di antara dua kamar hanya ada lorong pendek dengan pintu ganda. Momo menggeser meja kecil ke depan pintunya sendiri, meski ia tahu penghalang itu tidak berarti apa-apa.

Sepanjang malam, keberadaan pintu itu terasa seperti napas orang lain di tengkuknya. Momo mengganti baju dengan punggung menempel ke lemari, mata terus mengawasi celah kayu. Tidak ada yang masuk. Tidak ada langkah. Justru ketiadaan itu membuat imajinasinya lebih kejam. Ia membayangkan Renard di sisi lain, terlalu dekat, terlalu tenang, mengetahui bahwa ketakutannya sedang bekerja untuknya.

Sekitar tengah malam, suara pecahan kaca membelah keheningan.

Prang!

Momo terbangun dengan jantung berlari. Untuk beberapa detik, ia tidak tahu di mana dirinya. Lalu laut, kamar putih, Gelang Sakura, semuanya kembali.

Suara itu datang dari kamar Renard.

Prang!

Kali ini lebih keras, diikuti napas berat yang tertahan.

Momo seharusnya tetap diam. Itu bukan urusannya. Pria itu menculiknya. Pria itu membeli hidupnya dari Gunawan. Jika ia menderita, bagian paling marah dari diri Momo ingin berkata, bagus.

Namun tubuhnya bergerak sebelum pikirannya selesai.

Ia turun dari ranjang tanpa suara, mendekati pintu penghubung, lalu mengintip dari celah kecil di antara dua panel kayu.

Kamar Renard gelap, hanya diterangi lampu meja yang jatuh miring. Pecahan gelas berserakan di lantai. Di tengah kekacauan itu, Renard duduk di lantai dengan punggung menempel ke ranjang. Kemeja hitamnya terbuka di bagian leher. Satu tangannya berdarah tipis, mungkin tersayat kaca.

Kepalanya tertunduk di antara kedua tangan.

Tubuhnya gemetar.

Momo membeku.

Ini bukan Renard yang duduk di ruang makan seperti raja. Bukan Renard yang memberi perintah dengan mata dingin. Pria di lantai itu tampak seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu dari dalam tubuhnya sendiri. Napasnya pendek. Bahunya tegang. Bibirnya bergerak, tetapi Momo tidak mendengar jelas.

Kemejanya terbuka lebih rendah dari yang pantas dilihat Momo. Di antara bayangan dan cahaya lampu miring, ia melihat garis tulang selangka, dada yang naik turun terlalu cepat, dan urat di leher yang menegang seolah pria itu sedang melawan dorongan untuk menghancurkan sesuatu. Momo ingin mundur, tetapi matanya terlambat patuh.

"Diam," bisiknya akhirnya.

Entah kepada siapa.

Momo merasakan tenggorokannya mengering.

Takut masih ada. Benci masih ada. Tetapi di antara keduanya, muncul sesuatu yang tidak ia inginkan. Rasa kasihan yang kecil, tajam, dan menyebalkan.

Ia mundur pelan, hendak menutup celah pintu.

Gerakannya hampir tidak berbunyi.

Namun Renard berhenti gemetar.

Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat wajah.

Mata amber itu menatap tepat ke celah pintu.

Momo lupa bernapas.

Ia tahu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!