Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Pertama Generasi Baru
Ruang komando rahasia di kediaman Adam malam itu riuh oleh kilatan layar monitor. Rina, yang sengaja terbang dari kantor hukum utamanya, memimpin barisan dokumen finansial di meja mahoni. Di sekelilingnya, Tiga Jenderal bersama Elsa dan Juli memperhatikan pergerakan bursa saham yang terus bergejolak.
"Tanaya Group Holdings menggunakan sepuluh perusahaan cangkang di Singapura dan Hong Kong untuk mencaplok lima belas persen saham minoritas kita," jelas Rina, jemarinya lincah menari di atas keyboard laptop. "Mereka memanfaatkan celah dari pendaftaran paten skenario baru yang diajukan Laskar tadi pagi."
Laskar menunduk dalam-dalam. Rasa bersalah bergelut hebat di dadanya. "Ini semua salahku, Paman. Kalau saja aku tidak sembarangan memakai data anonim itu untuk skenario..."
Sebelum Laskar menyelesaikan kalimatnya, sebuah tangan tegap mendarat di bahunya. Ajo menatap putra sulungnya dengan pandangan teduh, tanpa ada sedikit pun sorot penyalahan.
"Seorang sutradara tidak boleh menundukkan kepala di tengah badai, Laskar," ujar Ajo lembut namun penuh wibawa. "Musuh memang sudah mengintai sejak lama. Skenariomu bukan penyebabnya, melainkan pemantik yang mempercepat musuh menampakkan diri. Sekarang pertanyaannya: bagaimana caramu menyelesaikan babak pertamamu?"
Laskar mendongak. Sorot mata Ajo menyalurkan keberanian murni yang seketika membakar semangat di dadanya.
Kiyara melangkah maju berdiri di samping Laskar, lesung pipitnya mengencang penuh tekad. "Paman Ajo, Papa... biarkan kami yang menangani sisi kreatif dan pergerakan di lapangan. Kalau Tanaya Group ingin memakai skenario Bayang-Bayang Salak untuk menjatuhkan kredibilitas perusahaan, kita balikkan permainan mereka."
Adam mengangkat sebelah alisnya, tertarik. "Bagaimana caranya, Kiyara?"
"Mereka ingin menghentikan produksi film ini karena takut rahasia pencucian uang masa lalu mereka terbongkar lewat alur cerita, kan?" pangkas Kiyara cerdas. "Kalau begitu, kita justru resmikan produksi film ini besok pagi dalam Konferensi Pers besar-besaran! Kita buat seluruh publik dan media memantau proyek ini. Dengan begitu, tiap pergerakan kotor Tanaya Group akan langsung disorot oleh jutaan pasang mata."
Jimi menepuk tangannya keras-keras, tertawa bangga. "Luar biasa! Benar-benar darah daging Adam! Menyerang balik dengan memanfaatkan sorotan media!"
"Tapi ada satu syarat," pangkas Elsa anggun, menatap Laskar dan Kiyara. "Kalian tidak boleh melangkah sendirian. Di balik layar, Tiga Jenderal dan Rina yang akan mengunci pergerakan saham mereka."
Juli tersenyum manis, memeluk Kiyara dan mengelus bahu Laskar. "Dan para ibu yang akan memastikan keselamatan kalian selama proses syuting berlangsung."
Keesokan harinya, Gedung AJA DISPOSA FILM.
Ratusan wartawan dari berbagai media hiburan dan bisnis berkumpul di auditorium utama. Panggung megah dihiasi poster bernuansa gelap dengan judul BAYANG-BAYANG SALAK.
Laskar dan Kiyara berdiri di podium utama dengan pakaian formal yang elegan, didampingi oleh Ajo, Adam, dan Jimi yang berdiri tegap di barisan belakang bagai pelindung abadi.
"Proyek ini bukan sekadar fiksi," tegas Laskar di hadapan puluhan kamera blitz yang menyala tanpa henti. "Ini adalah dedikasi Generasi Baru AJA DISPOSA FILM untuk membongkar kebenaran dan menjaga warisan tanah kelahiran kami di kaki Gunung Salak!"
Tiba-tiba, dari pintu belakang auditorium, seorang pria paruh baya bertubuh tinggi dengan kemeja kustom yang sangat mahal melangkah masuk diiringi empat pengawal bertubuh tegap. Pria itu menyunggingkan senyum dingin yang sangat arogan.
Dia adalah Tio Tanaya—pemimpin tertinggi Tanaya Group Holdings.
Seluruh ruangan mendadak hening mencekam. Wartawan saling berbisik panik saat Tio melangkah menyusuri lorong tengah auditorium, matanya terkunci lurus pada Ajo dan Adam.
"Pernyataan yang sangat berani dari seorang anak muda," ujar Tio dengan suara serak yang menggema. Ia berhenti persis di depan panggung, menatap Ajo dengan senyum penuh ancaman. "Tapi ingat, Ajo... Gunung Salak menyimpan terlalu banyak bangkai. Hati-hati jangan sampai putra mahotamu tertimbun di sana."
Adam melangkah satu langkah ke depan, berdiri membusung di tepi panggung, menatap Tio dengan pandangan meremehkan yang sangat tajam.
"Tio Tanaya..." bisik Adam dengan mikrofon yang masih menyala, suaranya terdengar menggelegar ke seluruh ruangan. "Dua belas tahun lalu kami meremukkan konspirasimu di Jakarta. Kalau kau berani menyentuh anak-anak kami... jangankan sahammu, seluruh kekaisaran bisnismu akan kami ratakan dengan tanah!"
Sorak-sorai dan kilatan kamera mendadak meledak di dalam auditorium! Perang terbuka antara Generasi Baru AJA DISPOSA FILM bersama Tiga Jenderal melawan Keluarga Tanaya resmi meletus di hadapan publik Indonesia.