Xiao Lin seorang pemuda murid pelayan di sebuah sekte di bagian timur kekaisaran Angin Surgawi. terkenal sebagai sampah dan selalu di bully oleh murid lain.
Hingga suatu hari saat ia melihat teman nya hampir terbunuh. tiba tiba ia kalap mata dan membunuh murid luar tersebut. namun ia tak menyadari hal apa yang sudah terjadi.
nasib apakah yang di tanggung Xiao Lin di sekte setelah pembunuhan terjadi? mampu kah ia keluar dari masalah itu?
saksikan perjalan hidup Xiao Lin untuk menjadi kuat. membantai setiap musuh yang menghalangi jalan kultivasi nya. hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Dominasi Mutlak
SRAAAK! SRAAAK! SRAAAK!
Tiga suara sayatan yang sangat rapi terdengar membelah keheningan gua. Riak ruang tak kasatmata yang dilepaskan oleh Pedang Angin Dingin milik Xiao Lin memotong pertahanan Qi petir tiga murid tingkat 5 tersebut seperti pisau panas membelah mentega.
"Aaaakh!"
Jeritan kesakitan meledak serentak. Senjata di genggaman mereka terpotong menjadi dua bagian dengan presisi yang mengerikan, sementara sayatan diagonal yang cukup dalam terbentuk di dada mereka masing-masing. Darah segar menyembur keluar, membasahi lantai batu gua.
Ketiga murid tingkat 5 Kuil Guntur itu terkapar lemas di tanah, memegang dada mereka yang terluka dengan wajah pucat pasi akibat syok dan ketakutan ekstrem.
Hanya dalam satu detik, tanpa sempat menyentuh seujung rambut pun, tiga kultivator yang ranahnya berada di atas Xiao Lin telah dilumpuhkan secara mutlak!
Di sisi lain kubah gua, benturan pamungkas antara Jian Chen dan Lei Hu baru saja mereda. Sabit petir raksasa milik Lei Hu berhasil ditangkis oleh pedang es Jian Chen, menyisakan asap tebal dan percikan listrik yang perlahan memudar di udara.
Namun, perhatian kedua genius tingkat 6 puncak itu seketika teralihkan sepenuhnya oleh jeritan tiga murid tadi.
Saat mereka menoleh, pemandangan yang tersaji membuat rahang Lei Hu hampir jatuh ke tanah. Tiga pengikutnya yang paling kuat kini sudah terkapar tak berdaya, sementara Xiao Lin berdiri dengan tenang di belakang mereka, memegang pedang besi yang tidak meneteskan darah sedikit pun karena kecepatan tebasannya yang terlampau tinggi.
"Bagaimana... Bagaimana mungkin?!" Lei Hu berteriak histeris, sepasang matanya melotot hampir keluar. "Dia hanya tingkat 4 awal! Bagaimana dia bisa berpindah tempat tanpa fluktuasi Qi dan mengalahkan tiga orang tingkat 5 sekaligus dalam satu kedipan mata?!"
Bahkan Jian Chen, yang biasanya selalu bersikap tenang dan anggun, kini menatap Xiao Lin dengan tatapan seolah-olah dia sedang melihat hantu di siang bolong.
"Teknik gerakan spasial instan..." gumam Jian Chen dengan tenggorokan kering. "Dan tebasan pembelah ruang itu... Anak ini... dia benar-benar seorang monster!"
Xiao Lin perlahan menyarungkan kembali Pedang Angin Dingin ke pinggangnya. Dia mengembuskan napas panjang, merasakan sisa-sisa energi angin murni di kakinya yang kini terasa sangat stabil dan menyatu sempurna dengan tubuhnya.
"Senior Jian Chen," Xiao Lin menoleh ke arah Jian Chen dengan senyum polosnya yang khas. "Apakah Anda membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan ini?"
Mendengar tawaran dari seorang adik seperguruan tingkat 4, Jian Chen tersenyum kecut di dalam hatinya. Namun, harga dirinya sebagai murid nomor lima tidak membiarkannya menerima bantuan begitu saja dalam duel satu lawan satu.
"Tidak perlu, Junior Xiao Lin," Jian Chen menegakkan tubuhnya, mengacungkan kembali pedang tipis peraknya ke arah Lei Hu yang kini mulai tampak panik dan terdesak secara mental. "Bocah jambul merah ini sudah kehabisan energi petirnya. Biar aku yang mengakhiri kegilaannya."
Lei Hu mundur selangkah, napasnya memburu. Melihat tiga anak buahnya lumpuh dan kini harus menghadapi Jian Chen serta Xiao Lin yang misterius secara bersamaan, nyalinya yang tadinya sebesar gunung seketika menciut habis.
"S-Sialan! Pedang Benua... kalian tunggu saja pembalasan dari Kakak Seperguruan Lei Dong!" raung Lei Hu dengan wajah memerah menahan malu.
Tanpa membuang waktu lagi, Lei Hu melemparkan sebuah bom asap petir ke tanah.
BLAAM!
Ledakan asap ungu tebal langsung menyelimuti area tersebut. Saat asap perlahan menipis tertiup angin gua, Lei Hu sudah melesat melarikan diri ke dalam kegelapan lorong terdalam, meninggalkan tiga pengikutnya yang terluka parah begitu saja di lantai gua.
"Tsk, pengecut," desis Jian Chen, memilih untuk tidak mengejar karena staminanya sendiri juga sudah hampir terkuras habis.
Dia mengalihkan pandangannya kembali kepada Xiao Lin, melangkah mendekat dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa hormat yang mendalam, tidak lagi memandangnya sebagai seorang junior biasa.
"Xiao Lin... kau benar-benar luar biasa," ucap Jian Chen tulus. "Kuil Guntur Surgawi pasti akan sangat menyesal karena telah meremehkanmu."
Lei Hu telah melarikan diri dengan kekalahan memalukan! Namun, nama Xiao Lin dipastikan akan segera menjadi target utama bagi para genius Kuil Guntur Surgawi, terutama sang nomor satu, Lei Dong.
bossss
🐉🐉🐉🐉💪💪💪💪
wuss
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
👻👻👻👻👻👻
jedug
🐉🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉
fgjkitrcv
🐉
🐉🐉
🐉🐉🐉
uh
kejam
kejam
7
🐉🐉🐉
pitu
bantai
🐉🐉🐉🐉
🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉🐉
wolu
🐉👻🐉👻🐉
10
🐉
11
hukum Konoha
👻👻🐉🐉
9
🐉👻
8
🐉
12
🐉