NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bawah Tanah

Silvia mengikuti Fray menyusuri lorong di lantai dua.

Di sepanjang dinding tergantung beberapa lukisan yang pernah ia buat saat mengisi waktu luang.

Klik.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Di samping tempat tidur berdiri seekor boneka beruang raksasa.

Silvia meletakkan ponselnya di atas meja belajar.

Tatapannya kemudian jatuh pada sebuah bingkai foto di sampingnya.

Ia terdiam.

Di dalam foto itu...

Chris mengangkat kamera tinggi-tinggi sambil tersenyum cerah, penuh semangat khas seorang remaja.

Tatapannya lurus menghadap lensa.

Sementara Silvia yang dipeluk di sampingnya tetap memasang wajah datar.

Meski begitu...

Siapa pun bisa melihat bahwa ia sama sekali tidak menolak pelukan Chris.

Silvia mengangkat bingkai foto itu dengan kedua tangan.

Lalu duduk perlahan di tepi ranjang.

Seluruh ruangan ini...

Masih dipenuhi dengan jejak Chris.

Di tempat tidur.

Pada boneka beruang.

Di atas meja.

Bahkan setiap sudut kamar masih menyimpan aroma yang begitu dikenalnya.

Silvia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.

Ia memeluk erat boneka beruang itu.

Menguburkan seluruh tubuhnya ke dalam pelukan boneka tersebut.

Seolah...

Chris masih berada di sisinya.

Sebuah suara yang sangat dikenalnya seakan kembali terdengar di telinganya.

“Hei, Si Bodoh.”

“Ganti baju dulu sebelum naik ke tempat tidur.”

“Nanti ranjangnya kotor.”

Tok...

Tok...

Suara ketukan pelan membuyarkan lamunannya.

Silvia tidak berniat menjawab.

Dari balik pintu terdengar suara Fray.

“Nyonya Muda.”

Robot itu membawa sebuah kotak penyimpanan berwarna hitam.

“Sebelum Tuan Muda berangkat...”

“Beliau telah memasukkan perintah khusus ke dalam sistem saya.”

“Jika suatu hari Nuonya Muda kembali ke rumah ini...”

“Saya harus segera menyerahkan kotak ini kepada Anda.”

Silvia perlahan bangkit dari tempat tidur.

Ia membuka pintu dan menerima kotak itu.

“Terima kasih.”

Layar wajah Fray langsung berubah menjadi ekspresi tersenyum.

“Sama-sama, Nyonya Muda.”

Robot itu pun pergi.

Kotak tersebut terasa sangat ringan.

Saat digoyangkan pelan, terdengar bunyi benda-benda kecil yang saling berbenturan di dalamnya.

Silvia membawanya ke meja belajar.

Ia membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat setumpuk tiket bioskop.

Sebuah kunci kecil.

Dan sebuah album foto yang sangat tebal.

Silvia membukanya.

Halaman pertama.

Foto taman kanak-kanak.

Seorang gadis kecil duduk sendirian di sudut ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di sampingnya...

Seorang anak laki-laki tersenyum lebar sambil mengacungkan tanda damai ke arah kamera.

Di bawah foto itu tertulis sebuah kalimat.

“Dia lucu sekali. Pendiam dan sedikit linglung. Mulai sekarang aku akan memanggilnya Si Bodoh.”

Halaman kedua.

Sekolah dasar.

“Hari ini akhirnya dia berbicara padaku lebih dulu.”

Halaman ktiga.

 Sekolag menengah pertama.

“Hari ini dia memanggil namaku untuk pertama kalinya.”

Halaman keempat.

Sekolah menengah atas.

“Akhirnya dia mau menggandeng tanganku.”

...

Silvia terus membalik halaman demi halaman.

Hingga...

Sampailah pada halaman terakhir.

Kosong.

Hanya ada satu kalimat.

“Nanti kita isi bersama.”

Ujung jari Silvia berhenti di atas tulisan itu.

Lama...

Sangat lama.

Perlahan ia menutup tulisan tersebut dengan telapak tangannya.

Air mata akhirnya jatuh.

“Pembohong...”

Tatapannya kembali beralih ke dalam kotak.

Kali ini ia mengambil kunci kecil itu.

Di gantungan kuncinya tertulis tulisan mungil.

“Brankas.”

“Nyonya Muda...”

Suara seorang wanita tua terdengar dari depan pintu.

Silvia segera memasukkan kembali semua barang ke dalam kotak.

Kecuali kunci itu.

Ia menyimpannya di dalam saku.

Saat membuka pintu...

Bibi Clara sudah berdiri di luar sambil menggenggam kedua tangannya.

Sorot matanya tampak muram.

“Nyonya Muda..”

“Saya turut berduka cita.”

Silvia hanya tersenyum tipis.

Kemudian mengikuti Bibi Clara menuju ruang makan.

Di atas meha telah tersaji berbagai hidangan.

Semuanya...

Adalah makanan yang dulu dipilih sendiri oleh Silvia sebagai menu tetap rumah ini.

Fray segera menarik kursi untuk Silvia.

“Nyonya Muda.”

“Tuan Muda belum pulang?”

Belum sempat Silvia menjawab...

Gumpalan tisu yang diremas Adrian langsung melayang mengenai kepala Fray.

“Berisik.”

“Pergi sana.”

Layar wajah Fray seketika berubah menjadi ekspresi menangis.

Robot itu berjalan pelan ke sudut ruangan.

Lalu diam di sana sambil mengisi daya.

Ruang makan kembali sunyi.

Tak ada lagi tawa seperti dulu.

Yang tersisa hanyalah suara sendok dan sumpit yang sesekali menyentuh piring.

Adrian mengangkat kepalanya.

Ia memandang Silvia dan Nelia yang sudah selesai makan.

“Sudah kenyang?”

Nelia mengangguk sambil mengusap perutnya.

“Sudah.”

Adrian meletakkan cangkir tehnya.

Tatapannya jatuh ke arah saku Silvia.

“Jadi...”

“Dia benar-benar menyerahkan benda itu kepadamu.”

Tubuh Silvia sedikit menegang.

Ia tetap diam.

Namun Adrian sudah mendapatkan jawabannya.

“Kalau begitu...”

“Ikut denganku.”

Ia berdiri lalu berjalan menuju sebuah patung putih di sudut ruang tamu.

Silvia dan Nelia saling berpandangan.

Nelia mengernyit.

“Chris sebenarnya memberimu imbalan apa?”

“Kau bahkan rela meninggalkan jabatan CEO hanya untuk menjaga rumah ini.”

Adrian hanya meliriknya sekilas.

Kemudian menatap ke Silvia.

“Nona Silvia.”

“Tolong letakkan telapak tangan Anda di telapak patung itu.”

Nelia langsung berdiri di depan Silvia.

“Nona Silvia.”

“Tolong letakkan telapak tangan Anda di telapak patung itu.”

Nelia langsung berdiri di depan Silvia.

“Mau apa sebenarnya?”

Pria itu terlalu sulit ditebak.

Wajahnya hampir tidak pernah memperlihatkan emosi.

“Nelia.”

“Tak apa.”

Silvia menyentuh bahu sahabatnya.

Lalu melangkah maju.

Perlahan ia meletakkan telapak tangannya di atas telapak patung tersebut.

Seketika...

Garis cahaya biru muda menyala di permukaan patung.

Bip—

Identitas terverifikasi.

Detik berikutnya...

Seluruh rumah besar itu bergetar pelan.

Dari tengah ruang tamu terdengar suara roda gigi yang mulai berputar.

Krak...

Krak...

Lantai marmer perlahan terbelah.

Sebuah lempengan batu persegi raksasa turun ke bawah.

Tak lama kemudian...

Tangga logam yang mengarah ke ruang bawah tanah perlahan muncul dari balik lantai.

Hembusan udara dingin langsung menyambut mereka.

Adrian menyalakan senter.

Lalu menjadi orang pertama yang menuruni tangga.

“Ikuti aku.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!