Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033: Jangan Sentuh Kepalanya
Mi tomat buatan Arman pagi itu lebih baik daripada latihan malam sebelumnya.
Tidak enak sekali, tetapi bisa dimakan.
Sari mencicipi satu sendok, diam sebentar, lalu berkata, "Garamnya sudah tidak menyerang."
Arman menatapnya. "Itu pujian?"
"Untuk pemula, iya."
Rini menunduk di dapur, bahunya bergerak menahan tawa.
Sarapan tidak lagi disajikan di meja panjang. Sari meminta mangkuk kecil diletakkan di meja rendah ruang keluarga. Arman duduk di lantai agak jauh. Sari duduk di sofa samping, mengupas lengkeng. Dini tidak dipanggil untuk mendampingi.
"Mbak Dini di mana?" tanya Sari.
Arman menjawab, "Saya minta dia mengurus inventaris kamar staf pagi ini."
"Bagus."
Tidak lama kemudian, Lintang turun dari tangga. Rambutnya kusut, boneka kelinci di tangan. Ia berhenti saat melihat Arman duduk di lantai.
Arman berkata kaku, "Saya masak."
Sari menambahkan, "Kalau rasanya aneh, salahkan Pak Arman. Bu Sari hanya saksi."
Arman menoleh. "Saksi?"
"Saksi kegagalan juga penting."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Lintang bergerak sangat kecil. Mungkin belum bisa disebut senyum. Tapi cukup membuat Arman langsung menunduk agar tidak terlihat terlalu bahagia.
Lintang duduk di lantai, mengambil sendok, dan makan satu suap.
Ia berhenti.
Arman menahan napas.
Sari menendang kaki meja pelan, memberi isyarat jangan memandangi anak seperti menunggu vonis.
Arman segera mengambil mangkuknya sendiri dan makan. Wajahnya sempat berubah karena rasa mi buatannya sendiri, tetapi ia tetap mengunyah.
Lintang makan suap kedua.
Lalu ketiga.
Sari mencatat dalam hati, bukan di depan anak. Makan tanpa Dini. Makan di ruang terbuka. Tidak muntah. Tidak panik.
Setelah setengah mangkuk habis, rambut Lintang jatuh menutupi mata. Sari bergerak tanpa berpikir, hendak merapikannya.
Belum sempat menyentuh, Lintang tersentak mundur.
Mangkuk bergeser. Sendok jatuh. Kedua tangannya langsung naik melindungi kepala.
Arman berdiri terlalu cepat.
Sari mengangkat tangan. "Jangan."
Arman berhenti di tempat.
Lintang menunduk, bahunya bergetar. Tidak ada suara. Justru tidak ada suara itu membuat dada Sari lebih berat.
Sari menurunkan tangannya sendiri perlahan.
"Maaf," katanya lembut. "Bu Sari lupa minta izin. Bu Sari tidak akan sentuh kepala Lintang."
Lintang masih menutup kepala.
Arman tampak hancur. "Lintang..."
"Pak Arman," kata Sari tanpa menoleh, "jangan panggil dengan suara panik."
Arman menelan kata-katanya.
Sari mengambil boneka kelinci yang jatuh dan meletakkannya di meja, tidak langsung ke tangan Lintang.
"Kelinci ada di sini. Kalau Lintang mau ambil, boleh."
Butuh hampir satu menit sampai tangan kecil itu turun. Lintang mengambil boneka cepat-cepat, memeluknya, lalu mundur ke dekat sofa.
Dini muncul dari arah lorong, wajahnya dibuat cemas. "Ada apa? Saya dengar suara."
Sari berdiri. "Lintang takut saat saya hampir menyentuh rambutnya."
Dini menghela napas. "Dia memang begitu, Bu. Sensitif. Kadang disentuh sedikit saja seperti drama."
Arman menatap Dini. "Sejak kapan?"
Dini tampak tidak siap. "Sejak... sejak lama, Pak. Mungkin karena trauma ibunya meninggal."
"Kenapa saya tidak pernah diberi tahu separah ini?"
"Saya pikir Pak tahu."
Sari menatap Arman. "Pak Arman, anak yang melindungi kepala seperti itu bukan sekadar tidak suka disentuh. Tubuhnya mengingat sesuatu."
Dini langsung berkata, "Ibu jangan menuduh."
"Saya belum menyebut nama."
"Tapi arah bicara Ibu jelas."
"Kalau kamu merasa dituju, tanyakan pada dirimu sendiri kenapa."
Wajah Dini memerah.
Arman mengeluarkan ponsel. "Dokter Rafi dan Bu Hana datang jam sebelas. Saya majukan."
Dini tersentak. "Hari ini?"
"Ada masalah?"
"Tidak, Pak. Saya hanya... Lintang biasanya tidak suka dokter."
Sari menatap Lintang yang masih memeluk boneka. "Mungkin bukan dokternya yang dia takutkan."
Ruang keluarga hening.
Dokter anak dan psikolog datang satu setengah jam kemudian. Sari sengaja tidak berada terlalu dekat saat mereka masuk. Ia duduk di sudut ruangan, cukup terlihat oleh Lintang, tetapi tidak mengambil alih.
Dr. Rafi tidak memakai jas putih. Bu Hana membawa kotak krayon.
"Lintang, saya duduk di sini, ya," kata dr. Rafi sambil menunjuk karpet yang berjarak cukup jauh.
Lintang tidak menjawab.
"Kalau belum mau diperiksa, tidak apa. Saya lihat dari jauh dulu."
Dini berdiri di pintu, siap menjawab semua pertanyaan.
Bu Hana menoleh lembut. "Untuk sesi awal, saya minta hanya orang yang dibutuhkan berada di ruangan."
Dini tersenyum. "Saya pengasuhnya."
Bu Hana melihat Lintang. "Lintang mau Mbak Dini di sini?"
Tubuh Lintang kaku.
Jawaban tidak perlu suara.
Arman berdiri di lorong, melihat semuanya. "Mbak Dini, tunggu di bawah."
"Pak..."
"Sekarang."
Dini pergi dengan wajah pucat.
Begitu langkahnya menjauh, bahu Lintang turun sedikit. Dr. Rafi dan Bu Hana saling pandang. Sari melihat catatan pertama terbentuk tanpa kata.
Pemeriksaan berlangsung pelan. Tidak ada yang menyentuh kepala Lintang. Dr. Rafi memeriksa tangan, siku, lutut, dan leher setelah meminta izin. Ada memar lama yang mulai menguning di lengan bagian atas. Ada bekas garukan kecil. Ada tanda kurang tidur di bawah mata.
"Saya perlu pemeriksaan lanjutan," kata dr. Rafi kepada Arman setelah sesi selesai. "Secara fisik, ada beberapa tanda yang perlu dicatat. Belum bisa disimpulkan, tetapi tidak boleh diabaikan."
Bu Hana menambahkan, "Respons takut terhadap sentuhan kepala dan kehadiran pengasuh sangat kuat. Saya juga melihat kemungkinan selective mutism. Jangan paksa bicara."
Arman menutup mata sebentar. "Apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Buat lingkungan dapat diprediksi," kata Bu Hana. "Makan, tidur, orang yang mendampingi, semua jelas. Jangan terlalu banyak orang baru. Dan untuk sementara, jangan biarkan Mbak Dini berdua dengan Lintang."
Dini yang mendengar dari tangga langsung berseru, "Saya tidak pernah menyakiti dia!"
Semua orang menoleh.
Sari menatapnya. "Tidak ada yang bertanya, tapi kamu menjawab."
Dini terdiam.
Arman berkata kepada kepala keamanan yang baru datang, "Mulai hari ini semua akses kamar Lintang dicatat. CCTV area umum aktif penuh. Tidak ada kamera dimatikan tanpa izin saya."
Wajah Dini berubah sangat cepat, tetapi cukup untuk Sari lihat.
Malam itu, Lintang tidak makan banyak. Namun ia turun ke ruang keluarga tanpa dipanggil. Ia duduk di dekat meja rendah, menggambar dengan krayon kuning yang dibawa Bu Hana.
Sari tidak bertanya gambarnya apa.
Arman duduk jauh, membaca laporan dokter berulang-ulang. Wajahnya seperti orang yang baru sadar rumahnya sendiri punya ruang gelap.
Sari duduk di dekat jendela, menulis catatan untuk Bu Hana: takut disentuh kepala, makan lebih baik tanpa Dini, memar lengan, Dini reaktif saat dokter disebut.
Di tengah catatan, ia berhenti.
Dari lantai dua, suara pintu kamar staf tertutup agak keras.
Dini belum kalah.
Ia baru tahu mulai diawasi.
Sebelum pulang, Bu Hana sempat bicara berdua dengan Sari di teras belakang.
"Bu Sari bukan keluarga resmi, jadi saya hati-hati bertanya. Tapi Lintang jelas mencari Ibu sebagai titik aman."
Sari menatap taman yang terlalu rapi. "Saya tidak bisa menjadi pengasuhnya."
"Saya tidak meminta itu. Justru jangan sampai satu orang menjadi satu-satunya sumber aman. Pak Arman harus belajar hadir."
"Dia mau belajar."
"Mau belajar bagus. Tapi rasa bersalah bisa membuat orang dewasa terburu-buru. Tolong ingatkan dia agar tidak memaksa Lintang cepat membaik."
Sari mengangguk. "Anak tidak seperti tanaman yang bisa dipaksa berbuah dengan pupuk mahal."
Bu Hana tersenyum. "Perumpamaan kebun?"
"Kebiasaan."
Di dalam rumah, Arman berbicara dengan dr. Rafi soal pemeriksaan darah dasar dan kemungkinan obat yang diberikan tanpa resep. Belum ada bukti, tetapi pertanyaan itu membuat Dini berdiri terlalu lama di ujung koridor.
Sari melihatnya.
Dini sadar sedang diperhatikan, lalu tersenyum. "Bu Sari senang sekali ya, rumah ini jadi ramai dokter karena Ibu."
"Saya lebih senang kalau anak tidak takut di rumah sendiri."
Senyum Dini hilang.
Malam itu, Sari meminta Rini tidak membuang sisa makanan, gelas, atau bungkus apa pun dari kamar Lintang tanpa dicatat. Rini pucat, tetapi mengangguk.
"Kalau Mbak Dini tanya?"
"Bilang saya yang minta."
"Bu, saya takut."
"Saya juga," kata Sari. "Tapi takut bukan alasan membiarkan anak sendirian."
Rini menunduk. "Baik, Bu."
Di rumah besar itu, untuk pertama kalinya, orang-orang kecil mulai berani melihat.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??