NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Pasrah

Semalaman Ayuna tak bisa tidur. Dia terus menerus kepikiran dengan celetukan Erlangga yang memintanya untuk segera memberikan penjelasan terkait dirinya yang tak lain adalah Ayah dari kedua anaknya. Ia masih bingung harus memulainya dari mana untuk bisa memberikan penjelasan itu.

Pagi-pagi sekali Ayuna pergi ke dapur untuk melakukan rutinitas paginya membuat sarapan buat kedua anaknya. Dibantu oleh asisten rumah tangga dia mulai menyiapkan makanan untuk sarapan bersama.

"Nyonya kenapa sudah bangun?" tanya Halimah yang sudah beberapa tahun mengabdi pada keluarga Kusuma, dan kini ditempatkan di rumah pribadi Erlangga.

"Em..., saya nggak bisa tidur bi," jawab Ayuna.

Wanita paruh baya itu tersenyum. Dia memakluminya, Ayuna baru tinggal di rumah itu, tentu saja belum cukup nyaman.

"Nyonya tenang saja, nanti juga terbiasa kok. Sekarang kan masih baru tinggal di sini, jadi kurang nyaman dan pastinya mengganggu istirahat anda."

Ayuna hanya membalasnya dengan senyuman.

"Sebaiknya nyonya istirahat saja, biar bibi yang menyiapkan makanan. Ini kan pekerjaan bibi."

"Enggak apa-apa bi, saya sudah terbiasa seperti ini," bantah  Ayuna dengan mengambil bahan makanan dari lemari pendingin. "Anak-anak agak rewel, mereka sudah terbiasa makan makanan yang saya olah sendiri. Takutnya nanti mereka nggak mau makan karena bukan mamanya sendiri yang masak."

"Oh..., seperti itu," cicit bibi. "Ya sudah, kalau begitu terserah nyonya saja. Tapi bibi berharap Den Kenzo dan Den Kenzie mau makan masakan bibi. Saya kan nggak enak sama Tuan kalau nyonya ikut aktivitas di dapur."

Ayuna terkekeh. "Jangan merasa nggak enak begitu bi. Justru kami lah yang nggak enak karena sudah menyusahkan orang lain."

"Siapa yang kamu maksud orang lain?"

Bariton dingin itu tiba-tiba memasuki dapur. Refleks Ayuna dan Halimah menoleh ke arah pintu. Didapatinya Erlangga dengan muka bantalnya menuju dapur untuk mengambil air minum.

"T—tuan kok ke sini?" tanya Halimah. Tidak biasanya Erlangga masuk ke dapur di pagi hari. Entah kenapa pria itu tiba-tiba memasuki dapur dengan kondisinya yang masih acak-acakan khas bangun tidur.

"Lagi haus. Tak ada minuman sedikitpun yang disiapkan untukku," jawab Erlangga.

Dengan wajah tanpa ekspresi pria itu membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air minum.

"Lain kali jangan lupa sediakan air minum untukku."

"B—baik Tuan. Saya minta maaf sudah lalai menyiapkannya."

Sekilas dia melayangkan tatapannya pada Ayuna sebelum memutuskan untuk meninggalkan dapur.

"Temui aku di kamar. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu."

Tak membantah, Ayuna hanya  mengangguk pelan.

Terpaksa Ayuna meninggalkan dapur sebelum selesai menyiapkan sarapan. Pikirannya sungguh kacau, entah hal apa lagi yang hendak dibahas oleh pria itu.

"Tutup pintunya."

Ayuna menarik napas dan menutup pintunya. Dia berusaha untuk tidak menunjukkan kekhawatirannya.

"Kemarilah."

Ayuna mengangguk dan melangkah menuju sofa di mana Erlangga sudah duduk di sana.

"Duduklah di sini."

Ayuna patuh. Dia mengambil posisi duduk di sebelahnya, seperti yang dianjurkan pria itu.

"Apakah kamu sudah memiliki jawabannya?"

Deg,, kekhawatiran Ayuna ternyata benar, pria itu kembali membahas mengenai pernikahan.

"Aku sudah memberimu waktu semalam buat berpikir. Tentu kau sudah mendapatkan jawabannya." Tatapan intens pria itu membuatnya tak berkutik, seperti kehilangan separuh nyawanya. "Bagaimana? Kau lebih setuju jika kita menikah hari ini atau besok. Aku hanya punya waktu luang dua hari saja."

Ayuna meremas kemejanya gelisah. Ia pikir masih ada waktu luang untuk mengambil keputusan, tapi pria itu tak memberinya kesempatan untuk bebas bernapas.

"M—maaf Pak, saya belum bicara sama anak-anak. Mereka berhak tahu apa yang kita lakukan."

Erlangga terkekeh. "Kau ini takut sekali sama bocah kecil. Tanpa izin mereka pun tak akan jadi masalah."

"Mereka bukan hanya sekedar anak kecil pak. Mereka pintar," bantah Ayuna.

Sejak kecil salah satu dari anaknya memiliki IQ yang tinggi. Cara bicaranya bahkan sudah seperti orang dewasa. Mana mungkin ia bisa meremehkannya.

"Iya, aku tahu mereka pintar," sahut Erlangga. "Siapa dulu ayahnya." Dengan sombongnya pria itu membanggakan diri dengan apa yang diperbuatnya.

Ayuna memutar bola matanya. Dalam hatinya ia menggerutu. 'dasar manusia nggak tahu diri. Bangga banget jadi Bapak tak beradab.'

"Tapi saya belum yakin mereka bakalan nyaman tinggal di sini. Mereka sudah terbiasa hidup susah."

"Justru kalau kita segera menikah yang ada mereka akan senang," sungutnya. "Memangnya kamu senang menjadi bahan tertawaan orang karena menganggapmu begitu rendah. Mungkin sekarang anak-anak masih kecil, kebutuhan hidupnya tak seberapa besar. Tapi kalau mereka sudah beranjak besar, sekiranya kamu mampu menafkahi mereka sendirian?"

Ayuna diam dengan menundukkan wajahnya. Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Erlangga, tapi ia masih ragu pria itu bakalan baik terhadapnya.

"Kalau kamu setuju menikah denganku, aku jamin tidak akan ada orang yang berani mengusikmu, dan anak-anak juga aman."

Dengan menarik nafasnya, Ayuna akhirnya memberikan jawabannya. "Terserah Bapak saja. Saya nurut."

"Maksudnya?"

"Ya, saya patuh."

Akhirnya Erlangga bernafas lega. Usahanya membujuk tak sia-sia meskipun harus banyak-banyak menahan emosinya.

"Baiklah. Kalau memang kamu sudah bersedia, nanti jam sembilan kita pergi ke kantor sipil."

"Baik pak, tapi saya harus ke kantor dulu. Ada pekerjaan yang tertunda. Saya tidak ingin Bu Soraya marah karena ketidakhadiran saya."

Erlangga manggut-manggut. " Oke, tidak masalah. Nanti kita berangkat bareng," cicit Erlangga.

"Em..., tidak perlu pak. Saya bisa berangkat sendiri. Jangan sampai ada orang yang tahu saya memiliki hubungan dengan anda. Saya tidak ingin ada rumor yang beredar di kantor."

"Kamu takut?"

Ayuna mengangguk. "Ya, bisa dibilang begitu. Saya masih belum lama bekerja dengan anda. Jika kita selalu berangkat bareng pasti anggapan orang-orang di kantor bakalan buruk. Apalagi saya hanya wanita miskin, tentu akan menjadi berita panas di kantor."

Hahahaha...., pria dingin itu melepas tawanya. Selama ini ia jarang terlihat santai, tapi entah kenapa bersama dengan Ayuna membuatnya lebih rileks. Semenjak kepergian Luna Wijaya ia menutup diri untuk tidak berbaur dengan wanita manapun, meskipun tidak sedikit wanita yang mendekatinya ia hampir tidak pernah menanggapinya.

"Jika kau memiliki status sebagai nyonya Kusuma,kau tidak perlu takut pada mereka," cicit Erlangga. "Kau bahkan bisa memecat siapapun yang mengganggumu."

Ayuna masih bingung dengan pemikiran Erlangga. Dia begitu banyak menjanjikan hal-hal  yang menarik, namun dihatinya masih terikat dengan kekasih di masa lalunya. Bagaimana ia bisa bahagia di atas penderitaan orang lain?

"Pak, jangan berlebihan," cicit Ayuna. "Sekalipun saya sudah menikah dengan anda, saya tidak ingin memanfaatkan posisi saya sebagai nyonya Kusuma. Saya tetaplah Ayuna seperti yang orang kenal. Saya tidak ~~

Ayuna mengatupkan bibirnya ketika telunjuk Erlangga tiba-tiba mendarat di bibirnya.

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!