NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Suara roda mobil medis yang berdecit kaku di atas batu alam pelataran menyambut pagi yang muram di mansion Samudra. Langit perbukitan tertutup awan kelabu tebal, seolah meramalkan badai emosi yang siap menghentak rumah berarsitektur kaku tersebut.

Sebuah ambulans swasta berhenti tepat di depan tangga utama. Dua orang perawat berseragam putih melangkah keluar, membantu menurunkan sebuah kursi roda lipat, diikuti oleh Alvan yang berjalan tegap di sampingnya.

Di atas kursi roda itu, duduk Ibu Rosa.

Wajah wanita paruh baya itu pucat, dihiasi lingkaran hitam pekat di bawah matanya yang redup namun memancarkan kilatan benci yang menyala-nyala. Tubuhnya dibalut selendang rajut hitam, tangannya gemetar menahan amarah dan duka yang belum terobati sejak kematian putra bungsunya, Roy.

Di ambang pintu jati yang terbuka lebar, Andira berdiri menanti dengan jemari yang tertaut di depan gaun sederhananya. Ia telah membulatkan tekad sejak bangkit dari tempat tidur pagi ini, apa pun yang akan diterimanya hari ini, ia akan menghadapinya dengan kesabaran yang utuh.

Saat kursi roda Ibu Rosa didorong melintasi foye utama, mata sang ibu mertua seketika mengunci sosok Andira. Wajahnya yang keriput bertambah tegang, bibirnya gemetar hebat karena amarah yang mendadak meluap.

"Kenapa..." suara Ibu Rosa melengking parau, memecah keheningan mansion. "Kenapa pembunuh itu masih berkeliaran di rumahku?!"

Langkah Alvan terhenti di belakang kursi roda ibunya. Ia memegang bahu sang ibu, mencoba menenangkannya. "Ibu, tenang dulu. Dokter bilang tekanan darah Ibu belum stabil."

"Bagaimana aku bisa tenang, Alvan?!" Ibu Rosa menepis pelan tangan Alvan, jarinya yang bergetar menunjuk lurus ke arah wajah Andira. "Setiap kali melihat wanita ini, aku melihat darah Roy! Kenapa kamu menahannya di sini, Alvan? Kenapa dia tidak dituntut di penjara?!"

Andira melangkah maju satu pukulan jantung, menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan dan kerendahan hati. "Selamat datang kembali di rumah, Ibu. Saya sudah menyiapkan..."

"Jangan panggil aku Ibu!" potong Ibu Rosa dengan teriakan yang histeris, membuat para pelayan yang berbaris di koridor menunduk takut. "Mulutmu yang beracun itu tidak pantas menyebut namaku! Jangan sekali-kali menyentuh apa pun yang ada di rumah ini!"

Alvan menatap Andira dengan raut wajah yang kaku dan tajam. "Andira, masuk ke kamarmu."

Andira menatap Alvan sejenak, menangkap tatapan dingin pria itu yang seolah memperingatkannya untuk tidak memperkeruh suasana. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Andira menunduk santun lalu memutar tubuhnya menuju lorong sempit tempat kamarnya berada.

~~

Siang harinya, ketegangan di mansion tidak berkurang sedikit pun. Ibu Rosa memutuskan untuk beristirahat di ruang keluarga lantai bawah, menolak dibawa ke kamar utamanya di lantai atas karena tidak ingin menggunakan lif medis.

Di dapur, Bi Inah sedang menyiapkan baki berisi cangkir-cangkir obat dan air hangat. Wajah pelayan tua itu tampak kebingungan.

"Tuan Alvan baru saja menelepon dari kantor," gumam Bi Inah pada juru masak. "Tuan minta Ibu Rosa dipastikan minum obat penenang dan makan sup nutrisi tepat pukul dua siang. Tapi Ibu Rosa terus mengamuk dan mengusir kami kalau mendekat."

Andira yang baru saja selesai merapikan area cuci baju melangkah mendekati meja konter dapur. Ia melihat baki obat tersebut dan mangkuk sup ayam herbal yang masih mengasap hangat.

"Biar saya yang bawakan, Bi," ujar Andira lembut.

Bi Inah menatap Andira dengan tatapan penuh curiga dan sinis. "Kamu? Kamu mau membuat Ibu Rosa semakin kena serangan jantung? Kalau terjadi apa-apa pada Ibu Rosa, Tuan Alvan pasti akan membunuhmu!"

"Bi Inah," Andira menatap mata pelayan tua itu dengan ketenangan yang menghanyutkan. "Ibu Rosa butuh makan agar obatnya bisa bekerja. Kalau kalian yang membawakannya, beliau mungkin akan melemparkannya pada kalian karena melampiaskan kekesalannya. Biarkan saya yang menerimanya. Saya tidak akan membalas."

Bi Inah tertegun sejenak. Ada ketulusan yang begitu jernih di mata Andira, membuat argumen pedas yang sudah disiapkan di tenggorokannya mendadak tertahan. Dengan enggan, Bi Inah menggeser baki porselen itu ke arah Andira.

"Jangan salahkan saya kalau kamu diusir secara kasar," cetus Bi Inah seraya memalingkan muka.

Andira mengangkat baki porselen tebal itu dengan kedua tangannya. Di atasnya terdapat mangkuk sup herbal yang sangat panas dan secangkir air hangat beserta racikan obat dari dokter.

Dengan langkah perlahan dan tenang, Andira berjalan menyusuri koridor marmer menuju ruang keluarga tempat Ibu Rosa berada.

Ibu Rosa sedang bersandar di kursi rodanya, memandang kosong ke arah taman belakang yang basah oleh sisa gerimis. Saat mendengar hembusan langkah kaki, wanita tua itu menoleh. Begitu mendapati Andira yang berjalan mendekat membawa baki, amarah yang membara di matanya kembali menyala.

"Mau apa kamu ke sini?" desis Ibu Rosa, suaranya sarat akan kebencian murni. "Sudah kukatakan jangan pernah menampakkan mukamu di depanku!"

Andira tidak berhenti. Ia berlutut di samping kursi roda Ibu Rosa, meletakkan baki tersebut dengan sangat hati-hati di atas meja kecil di sebelah kursi.

"Ibu... Dokter bilang Ibu harus makan sedikit sup ini sebelum minum obat," kata Andira pelan, suaranya sehalus hembusan angin sore. "Sup ini dibuat tanpa penyedap buatan, hangat untuk perut Ibu."

Ibu Rosa menatap mangkuk sup panas itu, lalu mengalihkan pandangannya pada wajah Andira yang tampak tenang dan bersahaja.

Pemandangan ketenangan Andira justru membuat rasa benci di dada Ibu Rosa semakin membuncah, wanita ini menganggap Andira sedang bersandiwara menjadi menantu yang berbakti di atas penderitaan keluarganya.

"Kamu pikir dengan berpura-pura menjadi malaikat, dosa pembunuhanmu bisa terhapus?!" bentak Ibu Rosa. "Kamu membunuh Roy-ku! Kamu merenggut putra kesayanganku!"

"Saya tidak membunuh Roy, Ibu..." bisik Andira, menatap lurus mata wanita tua itu dengan duka yang mendalam. "Demi Tuhan, saya sangat menyayangi Roy sebagai seorang adik. Saya tidak akan pernah menyakitinya."

"Dusta!"

Dengan gerakan refleks yang dipenuhi luapan amarah mendalam, Ibu Rosa mengibaskan tangannya dengan kasar ke arah baki porselen di atas meja.

PRAAANG!

Mangkuk porselen tebal itu terlempar dan hancur berkeping-keping di atas lantai marmer. Kuah sup herbal yang masih mendidih panas menyiram hebat ke punggung tangan kanan dan pergelangan tangan Andira yang berada di dekat meja.

"Aah!" Andira meringis tertahan. Rasa panas yang membakar seketika menjalar hebat menembus kulit mulusnya. Punggung tangannya dalam hitungan detik memerah menyala dan melepuh.

Pecahan porselen tajam berhamburan, beberapa diantaranya menggores jemari tangan kiri Andira hingga mengeluarkan darah segar.

Ibu Rosa napasnya memburu, tertegun sejenak melihat reaksi Andira. Namun kebenciannya menutup rasa kemanusiaannya. "Itu belum seberapa dibanding rasa sakit Roy saat kamu meracuninya! Pergi dari sini!"

Rasa sakit yang membakar di tangannya membuat tubuh Andira bergetar hebat. Peluh dingin menetes di pelipisnya. Namun, Andira tidak berteriak, tidak menangis histeris, apalagi membalas bentakan wanita tua di depannya.

Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan napas untuk menetralkan rasa nyeri yang menyengat saraf-saraf tangannya.

"Maafkan saya... jika kehadiran saya membuat Ibu semakin terluka," bisik Andira serak.

Dengan tangan kiri yang tergores dan tangan kanan yang melepuh kemerahan, Andira perlahan berlutut lebih rendah di atas lantai. Tanpa memedulikan rasa sakit yang menyayat, jemarinya yang gemetar mulai memunguti pecahan-pecahan porselen yang tajam satu per satu.

Bi Inah dan dua orang pelayan yang mendengar suara pecahan langsung berlari dari arah dapur. Mereka menghentikan langkah mereka di ambang pintu, membelalakkan mata melihat pemandangan di depan mereka.

Mereka mengira Andira akan mengamuk atau setidaknya menangis dan melaporkan kejadian ini pada Alvan.

Namun, yang mereka saksikan adalah Andira yang dengan penuh kesabaran dan keheningan membersihkan pecahan kaca dan menyapu kuah panas yang menggenang di lantai dengan serbet, meski tangan kanannya sudah memerah parah.

"Bi Inah..." panggil Andira pelan tanpa menoleh, suaranya tetap lembut meski bergetar menahan sakit. "Tolong ambilkan sapu dan kain pel untuk membersihkan sisa kuah ini. Jangan sampai Ibu Rosa terpeleset."

Bi Inah mematung. Matanya menatap luka bakar di tangan Andira yang mulai membengkak. Rasa bersalah yang asing mendadak merayapi dada pelayan tua itu.

Setelah memastikan semua pecahan porselen berbahaya sudah disingkirkan dari sekitar kursi roda Ibu Rosa, Andira berdiri perlahan. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap memancarkan kehangatan yang tak tergoyahkan.

"Saya akan buatkan teh herbal penenang yang baru untuk Ibu," ujar Andira pada Ibu Rosa yang kini terdiam kaku menatapnya dengan pandangan campur aduk. "Setelah itu, saya akan minta Bi Inah membantu Ibu minum obat."

Andira menunduk santun, lalu melangkah pergi menuju dapur dengan tangan kanan yang terus mengepal menahan nyeri yang luar biasa.

~

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam ketika Alvan kembali ke mansion setelah menyelesaikan rapat darurat di kantor pusat Samudra Group.

Keadaan rumah tampak sepi dan tenang. Alvan langsung melangkah ke ruang keluarga untuk memeriksa kondisi ibunya. Bi Inah mengabarkan bahwa Ibu Rosa sudah makan malam dan sedang tertidur pulas setelah meminum obat herbal penenang.

"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Alvan datar saat menaiki tangga.

"Nyonya... maksud saya, Andira ada di kamarnya sejak sore, Tuan," jawab Bi Inah ragu-ragu. Pelayan tua itu sempat ingin menceritakan insiden sup panas tadi siang, namun urung karena takut memperkeruh suasana.

Alvan melangkah menyusuri koridor lantai dua. Langkah kakinya membawanya menuju ujung lorong gelap, tempat kamar sempit tempat Andira dikurung. Pintu kamar itu sedikit terbuka, membiarkan seberkas cahaya lampu redup menerobos keluar.

Alvan menghentikan langkahnya di ambang pintu.

Di dalam kamar sempit itu, Andira sedang duduk di tepi tempat tidur tunggal. Wanita itu membelakangi pintu, tampak kesulitan merapikan pakaian-pakaian lipatannya ke dalam lemari kayu kecil.

Andira mengenakan pakaian lengan pendek sederhana. Dari posisinya berdiri, mata Alvan yang tajam seketika mengunci pemandangan di lengan kanan Andira.

Kulit mulus di punggung tangan hingga pertengahan lengan kanan Andira tampak memerah menyala, melepuh lebar dengan melepuhan-melepuhan kecil yang tampak sangat menyakitkan. Tangan itu gemetar hebat setiap kali Andira mencoba mengangkat selembar baju.

Dada Alvan seketika berdesir aneh, sebuah sentakan rasa terkejut dan empati yang tak terduga menghantam jantungnya.

"Luka bakar? Dari mana dia mendapatkan luka separah itu ?" batin Alvan bergolak.

Alvan mengingat laporan Bi Inah bahwa ibunya menolak makan siang. Dalam hitungan detik, Alvan langsung bisa menyambungkan benang merahnya, ibunya pasti telah menyiramkan makanan panas pada Andira.

Namun yang membuat Alvan terpaku adalah fakta bahwa tidak ada satu pun keluhan dari Andira. Wanita itu tidak berlari padanya untuk mengadu, tidak menangis menuntut keadilan, dan tidak membalas dendam pada ibunya yang lemah. Ia menanggung rasa sakit yang luar biasa itu dalam keheningan yang bermartabat.

Alvan memegang gagang pintu kayu, berniat mendorongnya lebih lebar dan masuk untuk menegur wanita itu, entah untuk memberikan salep medis atau mempertanyakan ketololannya yang tidak mengobati luka separah itu.

"Andira..." kata Alvan, suaranya terangkat di udara.

Andira terkejut dan memutar tubuhnya dengan cepat. Ia reflek menyembunyikan tangan kanannya ke belakang punggung, menatap Alvan dengan mata bulatnya yang polos. "Pak... Pak Alvan? Ada apa?"

Alvan baru saja akan melangkah maju dan menarik tangan wanita itu secara paksa untuk memastikannya, ketika tiba-tiba suara hentakan sepatu hak tinggi yang nyaring bergema tergesa-gesa di koridor luar.

"Mas Alvan!"

Suara Elena melengking panik dari arah tangga. Wanita itu berlari mendekat dengan gaun hitam elegannya yang sedikit berantakan, memegang sebuah map dokumen berwarna kuning tebal di dadanya. Wajahnya mengondisikan cemas dan ketakutan yang sangat sempurna.

Alvan memutar tubuhnya, alisnya bertaut tajam melihat kedatangan adik ipar tirinya yang mendadak di jam malam seperti ini. "Elena? Ada apa datang malam-malam begini?"

Elena tidak menjawab Alvan terlebih dahulu. Matanya melirik tajam ke dalam kamar Andira, menatap Andira dengan tatapan benci yang disamarkan oleh raut teraniaya.

"Mas Alvan... kita dalam bahaya!" ujar Elena dengan suara gemetar yang dibuat-buat, menyodorkan map dokumen kuning itu ke dada Alvan. "Aku baru saja mendapatkan dokumen ini dari tim investigator independen yang kusewa untuk mengusut tuntas kematian Mas Roy!"

Alvan menyambar map tersebut, mem bukanya di bawah sorotan lampu koridor. "Dokumen apa ini?"

"Itu adalah bukti riwayat transaksi rekening rahasia atas nama Andira dan ayahnya!" seru Elena keras-keras, memastikan suaranya terdengar hingga ke dalam kamar Andira dan merayap ke seluruh lantai dua.

Andira melangkah perlahan ke ambang pintu, dadanya berdebar kencang saat mendengar namanya disebut dalam tuduhan baru.

Elena menunjuk lembaran kertas berstempel di dalam map itu dengan jari gemetar. "Lihat tanggalnya, Mas! Tepat tiga hari sebelum Mas Roy meninggal, ada transferan uang dalam jumlah sangat besar dari rekening perusahaan asing ke rekening pribadi ayah Andira! Dan hari ini... investigator menemukan bahwa Andira mencoba mencairkan dana tersebut secara sembunyi-sembunyi melalui pengacaranya!"

Darah Andira seketika mendidih. "Itu bohong! Ayah saya tidak pernah punya rekening asing, dan saya tidak pernah mencairkan uang apa pun!"

"Tutup mulutmu, Mbak!" bentak Elena dengan mata membelalak penuh sandiwara. "Mas Alvan... dia bukan cuma meracuni Mas Roy karena motif emosional, tapi dia memang sudah dibayar oleh saingan bisnis Samudra Group untuk menghancurkan keluarga kita dari dalam! Dia memanfaatkan pernikahan ini untuk menguras harta Mas Alvan!"

Alvan membalik lembaran-lembaran kertas di tangannya. Di sana tertera tanda tangan yang sangat mirip dengan tanda tangan ayah Andira dan stempel bank internasional. Matanya yang tadinya mulai melunak saat melihat luka bakar Andira, kini perlahan kembali membeku menjadi es yang sangat mematikan.

Alvan mengangkat pandangannya, menatap Andira dengan kilatan emosi yang kembali terbakar oleh dendam.

Keraguan yang baru saja bertunas di dalam dada Alvan seketika tergilas oleh manipulasi baru yang disusun begitu rapi oleh Elena.

"Penjelasan apa lagi yang mau kamu berikan, Andira?" suara Alvan mengalun sangat dingin, bagaikan kepalan es yang siap meremukkan harapan Andira.

Andira berdiri mematung di ambang pintu. Ia menatap Alvan yang kembali diselimuti kebencian, lalu melirik Elena yang tersenyum sangat tipis di balik bayangan bahu Alvan, sebuah senyuman iblis yang siap mengunci sangkar penjara Andira untuk selamanya.

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!