Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 BEFORE THE STORM
Fajar menyingsing di langit Cikampek. Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah awan perlahan menggantikan kegelapan malam yang sarat akan pertumpahan darah.
Setelah pertempuran sengit yang terhenti oleh alarm pergantian waktu kota, Elisa akhirnya dievakuasi dan dibawa ke rumah Ryuka. Tubuh cewek itu sangat lemas, badannya gemetar akibat trauma dan rasa sakit luar biasa atas pengkhianatan Gilang. Di rumah Ryuka, Sebas yang sigap langsung mengobati luka-luka di tangan Elisa, sementara Denza berdiri menjaga area depan rumah untuk memastikan tidak ada penyusup dari Dewan Intelligent atau anak-anak Cijalu yang membuntut.
"Tuan Muda, Anda harus segera bersiap untuk pergi ke sekolah," kata Sebas tegas seraya membalut pergelangan tangan Elisa dengan perban kasa. "Urusan di rumah biar saya dan Denza yang menangani. Nona Elisa akan aman berada di bawah pengawasan kami."
Ryuka menghembuskan napas panjang, merapikan kerah seragam SMK PGRI Cikampek yang sedikit kusut, lalu melangkah keluar rumah tanpa banyak bicara. Pikirannya masih sangat kacau, berkecamuk memikirkan kata-kata Gilang tadi malam tentang masa lalunya.
Suasana sekolah SMK PGRI Cikampek pagi itu terasa berbeda. Berita mengenai beradunya aliansi Slonong Boys, Cijalu Bersatu, dan Liberian Gang pada dini hari tadi telah menyebar luas bagaikan angin puting beliung. Murid-murid berbisik-bisik di lorong, memperbincangkan perang besar yang diprediksi akan meletus nanti malam.
Saat Ryuka melangkah menelusuri lorong lantai dua, dia melihat sosok Zela yang sedang berdiri menyandar di samping jendela koridor, menatap ke arah lapangan dengan pandangan dinginnya yang khas.
Ryuka menghentikan langkahnya tepat di samping Zela. Dia menoleh, menggaruk belakang kepalanya canggung, lalu berbisik pelan.
"Zel... Soal kejadian tadi subuh... Gua mau bilang terima kasih. Lu udah mau turun tangan ngebantu nemenin Denza sama Sebas buat lindungin Elisa."
Zela tidak memalingkan wajahnya dari jendela. Dia menghembuskan napas pelan melalui hidungnya. "Lu gak perlu berterima kasih, Ka. Gua lakukan itu bukan buat lu."
"Terus?" Ryuka mengernyitkan dahi.
"Gua cuma gak tega aja liat ada cewek yang diperlakukan kayak gitu... disiksa, ditahan, dan ditangisi di depan mata gua sendiri," jawab Zela datar tanpa nada emosi. "Itu murni naluri gua. Bukan berarti gua sengaja datang buat menolong dia atau ngebantu urusan lu."
Mendengar nada bicara Zela yang sengaja dipasang kaku, Ryuka mendadak menyunggingkan senyum miringnya. Rasa gundah di pikirannya sedikit terobati oleh reaksi teman sekelasnya ini. Ryuka mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Zela.
"Halah... Bilang aja lu emang peduli," goda Ryuka sambil tertawa kecil. "Ternyata di balik muka judes lu itu, lu punya hati yang baik juga ya, Zel?"
Seketika, rona merah tipis muncul di kedua pipi Zela. Matanya melotot kaget, dan dia langsung menepis bahu Ryuka secara refleks!
"G-Gua gak baik, Sialan!" sembur Zela dengan gagap, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. "Gua udah bilang itu cuma keinginan gua sendiri! Jangan geer lu, Bangsat! Bukan berarti gua ada niat buat jadi pahlawan!"
"WKWKWK! Muka lu merah banget, Zel!" tawa Ryuka pecah melihat reaksi Zela yang salah tingkah.
Namun, momen ejekan konyol itu tidak berlangsung lama.
BRAKK!!
Pintu kelas di samping mereka dihantam keras hingga terbuka lebar! Hawa membunuh yang sangat pekat dan mencekam seketika merebak di sepanjang koridor lantai dua.
Friza—sang pemimpin Cikampek Boys Celebrity (CBC)—melangkah keluar dari dalam kelas dengan langkah lebar dan tajam. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol keras, memancarkan amarah mendidih yang siap meledak.
SRET! PAK!
Tanpa basa-basi atau kata pengantar, Friza melesat maju dan langsung mencengkeram keras kerah seragam Ryuka dan Zela sekaligus menggunakan kedua tangannya yang kuat! Ryuka dan Zela terdorong menabrak tembok koridor hingga beton berbunyi benturan keras!
"SIALAN LU BERDUA!!" bentak Friza dengan suara berat bergema yang membuat murid-murid di lorong seketika lari ketakutan. "Jadi kalian berdua yang ada di sana tadi malam?! Kalian yang udah ngebikin Fatah koma di rumah sakit, HAH?!"
Zela yang kerah bajunya dicekik keras oleh Friza memicingkan mata dingin. Dia mengingat nama yang diucapkan Friza. Fatah... wakil CBC yang kemarin bertarung di perbatasan.
"Fatah?" gumam Zela tenang meski lehernya tertekan. "Ah... Orang itu. Tapi lu salah sasaran, Za. Bukan gua atau Ryuka yang bikin wakil lu terkapar."
Friza menghentikan tekanannya seketika. Matanya membelalak tipis, menatap tajam ke dalam manik mata Zela dan Ryuka secara bergantian. "Apa maksud lu?"
"Yang ngeroyok dan bikin wakil lu kritis itu bukan kita," sambung Ryuka dengan suara rendah. Tangannya memegang pergelangan tangan Friza, melepaskan cengkeraman itu perlahan. "Dalang di balik penyerangan wakil lu... dan orang yang nyeret kita ke dalam semua masalah ini adalah orang yang sama."
"Siapa nama bajingan itu?!" desak Friza murka.
"Gilang," jawab Ryuka singkat namun tegas. "Dia anak buah suruhan Dewan Intelligent yang sekarang udah gabung dan ngumpet di balik ketiak anak-anak Cijalu Bersatu."
Friza melepaskan cengkeramannya sepenuhnya. Dia menghembuskan asap rokoknya keras-keras ke udara lorong, merapikan jas luarnya. Matanya menatap Ryuka dan Zela dengan pandangan memperingatkan yang sangat dingin.
"Gua gak peduli apa masalah pribadi kalian sama Gilang itu," desis Friza tajam. "Tapi nanti malam... aliansi Slonong Boys bakal ngeratahin seluruh wilayah Cijalu. Gua saranin lu berdua sebaiknya gak usah ikut campur dalam perang gua lawan mereka. Kalau kalian berani mengganggu jalur penyerbuan CBC... gua gak bakal segan-segan ngeratain kalian berdua sekalian."
Friza berbalik badan, berjalan pergi meninggalkan koridor dengan jubahnya yang mengibarkan hawa perang.
Ryuka hanya terdiam berdiri mematung di tempatnya. Kata-kata Friza seolah berlalu begitu saja di telinganya. Pikiran Ryuka kembali terlempar pada tuduhan kejam Gilang tadi malam: 'Saat kita kecil dulu... lu yang ngebunuh abang gua! Dan lu hampir ngebunuh gua juga!'
Apakah benar dirinya dulu adalah seorang monster yang tidak memiliki belas kasih? Mengapa ingatan tentang masa kecil itu hilang sama sekali dari memorinya?
Jam pelajaran sekolah berlalu bagaikan bayangan melintas. Suasana kelas yang sunyi tak mampu mengusik lamunan panjang Ryuka.
Ketika bel tanda pulang sekolah berbunyi keras di seluruh penjuru gedung, murid-murid berhamburan keluar. Ryuka melangkah lambat menuju gerbang depan sekolah. Namun, di bawah naungan pohon rindang di samping gerbang utama, Zela telah berdiri menunggunya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, matanya menatap Ryuka yang berjalan mendekat.
Ryuka menghentikan langkahnya dua tapak di depan Zela. "Zel... lu belum pulang?"
Ryuka hendak melanjutkan bicaranya. "Zel, soal nanti malam—"
"Gua bakal bantuin lu, Ka," potong Zela secara mendadak. Suaranya memotong ucapan Ryuka dengan sangat mantap, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Ryuka terpaku kaget. "Hah?"
Zela menatap lurus ke dalam mata Ryuka. "Lu pasti pengen menyelesaikan masalah lu sama Gilang secara langsung, kan? Lu butuh menuntaskan perhitungan sama bajingan itu. Gua bakal berdiri di samping lu nanti malam."
Ryuka menatap Zela selama beberapa detik. Perlahan, senyuman miring khas Ryuka kembali terukir di wajahnya. Rasa gundah dan beban di dadanya seketika menyusut drastis mendengarkan dukungan dari petarung terbaik kelas dua itu.
"Emm... Oke," terkekeh Ryuka pelan, mengepalkan tangannya ke depan. "Makasih banyak, Zel. Gua bener-bener hargain niat baik dan kepedulian lu ini."
Zela memalingkan wajahnya tipis ke samping, menghindari tatapan Ryuka. "Gua cuma gak mau liat lu mati konyol sebelum sempat adu jotos ulang sama gua. Udah, itu aja."
"Haha, terserah lu deh!" tawa Ryuka gembira. "Nanti malam... kita selesaikan semuanya."
Malam hari pun tiba menutupi Cikampek dengan selimut kegelapan yang tebal. Jarum jam dinding di rumah Ryuka menunjukkan pukul 10:30 malam.
Di dalam rumah, Sebas sedang sibuk memotong beberapa bahan makanan di dapur untuk menyiapkan sup hangat, sementara Denza tertidur pulas di sofa ruang tamu karena kelelahan setelah berjaga seharian penuh.
Menggunakan kelengahan Sebas dan Denza, Ryuka berjinjit secara perlahan menelusuri lorong kamar, hendak menyelinap keluar melalui jendela samping rumah.
Namun, saat Ryuka baru saja membuka daun jendela...
"Mau ke mana lu, Ka?"
Suara halus namun penuh ketegangan menegurnya dari balik bayangan lorong kamar. Ryuka menoleh kaget dan mendapati Elisa sedang berdiri menyandar di pintu kamar, memegang bahunya yang masih terbalut perban.
Ryuka meringis pelan, menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssstt! Pelan-pelan suara lu, Elisa! Nanti Sebas sama Denza denger!"
Elisa melangkah mendekat dengan raut wajah sangat serius. "Jawab gua, Ryuka. Lu mau ke mana malam-malam begini?"
Ryuka menghembuskan napas panjang, memutuskan untuk jujur pada cewek itu. "Gua mau ke Cijalu. Gua mau nemuin Gilang dan nyelesaiin semua kekacauan ini secara permanen."
Mendengar nama Gilang dan Cijalu, mata Elisa membelalak tajam. Kebencian mendalam kembali membakar dadanya. "Gua ikut!" tegas Elisa ngotot.
"Gak bisa!" potong Ryuka melarang keras dengan suara setengah berbisik. "Lu liat kondisi badan lu sekarang! Lu masih terluka parah gara-gara insiden tadi subuh. Tempat itu bakal jadi arena pertempuran berdarah malam ini, Elisa! Gua gak bakal membiarkan lu kena masalah lagi!"
"Gua gak peduli!" seru Elisa dengan mata berkaca-kaca menahan amarah. "Gilang itu mantan sahabat gua! Uang haram dan pengkhianatan dia bikin hidup gua hancur! Gua harus ada di sana buat liat penyesalan di muka bajingan itu!"
"Elisa, dengerin gua—"
TAP.
Tiba-tiba, sesosok bayangan melompati pagar samping rumah dan mendarat sangat halus di dekat jendela tempat mereka berdua berdebat.
Itu adalah Zela. Dia mengenakan jaket bertudung hitam, menyandarkan badannya ke dinding luar jendela sambil bersedekap dada.
Ryuka menoleh ke arah jendela, menyunggingkan senyum lega. "Akhirnya lu datang juga, Zel."
Zela melirik ke dalam jendela, menatap Ryuka dan Elisa bergantian. "Gua udah nunggu di lorong depan dari tadi. Kenapa lama banget?"
Elisa menatap Zela yang berdiri di luar jendela, lalu beralih menatap Ryuka dengan tatapan yang sangat memohon dan penuh tekad bulat. "Ryuka... plis. Bawa gua... Gua gak bakal bisa tenang di rumah ini kalau cuma diam nunggu kabar."
Zela menghembuskan napas pelan dari balik tudungnya, lalu menoleh ke Ryuka. "Biarin dia ikut aja, Ka. Kalau dia ditinggal di sini sendirian dalam kondisi gelisah kayak gini, malah makin membahayakan pikiran dia. Gua yang bakal pastikan dia tetap berada di garis aman selama kita di Cijalu."
Ryuka menatap Zela, lalu beralih menatap Elisa yang memohon padanya. Ryuka mengusap belakang kepalanya, mengalah.
"Hahh... Yaudah, yaudah! Tapi lu harus turutin semua omongan gua sama Zela di sana nanti! Gak boleh bertindak nekat sendirian!" tegur Ryuka tegas.
Elisa mengangguk mantap. "Gua janji."
Tanpa membuang waktu lagi sebelum Sebas atau Denza menyadari kepergian mereka, Ryuka, Zela, dan Elisa melompati pagar samping rumah, menghilang di balik kegelapan malam Sukaseri.
Dengan langkah yang mantap dan tekad yang sudah membatu, bertiga mereka meluncur menuju teritori musuh—sarang utama Cijalu Bersatu—di mana dendam, masa lalu, dan pertumpahan darah raksasa telah menanti di ujung malam!