Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Wajah Baru
Kabar tentang anak SD yang hilang semalam menyebar cepat di sekolah, meski detailnya berubah-ubah tergantung siapa yang menceritakan. Ada yang bilang anak itu ditemukan menangis, ada yang bilang ia ditemukan tertidur pulas seolah baru saja bangun dari tidur siang, dan ada pula yang bersikeras anak itu sempat berkata pada ibunya bahwa ia "ditemani seseorang" selama semalaman.
Josh mendengar semua versi itu dengan perasaan yang semakin tidak nyaman, tapi memilih diam saja setiap kali topik itu dibicarakan di dekatnya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah pagi itu, ia tidak bisa berhenti memikirkan kalimat yang tertulis di buku hariannya semalam. Setiap kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanya lelucon dari dirinya sendiri yang lupa, bagian lain dari pikirannya terus mengingatkan bahwa tulisan tangan itu terlalu presisi, terlalu mirip dengan caranya sendiri menulis huruf J, untuk bisa dianggap sekadar kebetulan.
Ia baru saja duduk di bangkunya ketika wali kelas masuk lagi, kali ini membawa seorang murid baru di sampingnya.
"Anak-anak, kita kedatangan teman baru,"
kata wali kelas, menepuk pundak gadis itu pelan.
"Namanya Naya, pindahan dari Jakarta. Tolong dibantu ya kalau ada yang masih bingung."
Naya berdiri di depan kelas dengan sikap yang tenang, hampir terlalu tenang untuk seorang murid baru yang seharusnya gugup menghadapi puluhan pasang mata asing. Rambutnya sebahu, dikuncir sederhana, dan matanya menyapu seisi kelas dengan cara yang membuat Josh merasa seperti sedang dinilai, bukan sekadar disambut.
"Halo, salam kenal,"
katanya singkat, lalu duduk di bangku kosong yang kebetulan berada tepat di belakang Veron.
Selama pelajaran berlangsung, Josh beberapa kali menoleh diam-diam, memperhatikan bagaimana Naya mencatat dengan cepat dan rapi, sesekali melirik ke arah jendela yang menghadap halaman belakang sekolah arah yang sama dengan gudang tua itu berada.
...----------------...
Saat istirahat, Gibran seperti biasa jadi orang pertama yang mendekati murid baru itu dengan gaya khasnya yang santai dan penuh percaya diri.
"Eh, Naya kan? Gue Gibran,"
katanya sambil menyodorkan tangan.
"Lo dari SMA mana sebelumnya?"
Naya menjabat tangannya sekilas.
"SMA swasta di Jakarta. Nggak penting juga sih namanya."
"Kok pindah ke sini? Biasanya kan orang pindah dari daerah ke kota, bukan sebaliknya."
Naya tersenyum tipis, jawabannya terdengar sudah dilatih.
"Ikut orang tua kerja. Standar aja."
Josh, yang duduk tidak jauh dari mereka sambil membuka bekal, memperhatikan bagaimana jawaban Naya terdengar terlalu rapi, seperti kalimat yang sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk ditanyakan siapa pun yang penasaran. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa, tapi insting yang sama yang dulu selalu memperingatkannya tentang bayangan hitam di ujung penglihatannya kini terasa aktif lagi, meski kali ini terarah pada seseorang yang sangat nyata duduk di hadapannya.
Veron tampaknya merasakan hal serupa.
"Lo pernah denger soal kejadian di sekolah ini?"
tanyanya tiba-tiba, memotong obrolan ringan Gibran dan Naya. Untuk sepersekian detik, wajah Naya berubah hanya sekilas, tapi cukup jelas bagi Veron yang memang terbiasa memperhatikan detail semacam itu.
"Kejadian apa?"
Naya balik bertanya, terlalu cepat, terlalu defensif untuk pertanyaan sesantai itu.
"Anak SD yang hilang semalam,"
jawab Veron, matanya tidak lepas dari wajah Naya.
"Oh. Itu."
Naya mengangguk pelan, mengatur ekspresinya kembali netral.
"Iya, denger-denger tadi pagi. Katanya ditemuin deket gudang belakang, kan? Serem juga ya, di sekolah baru gue malah ada kejadian kayak gitu."
Jawabannya terdengar wajar di telinga siapa pun yang tidak memperhatikan tapi bagi Veron, ada satu detail yang mengganjal: Naya menyebut lokasi gudang belakang tanpa perlu ditunjukkan arahnya sama sekali, padahal ini baru hari pertamanya di sekolah itu.
...----------------...
Sepulang sekolah, Josh, Veron, dan Brandon berjalan bersama menuju gerbang seperti biasa, sementara Gibran tertinggal beberapa langkah di belakang, sibuk dengan ponselnya.
"Lo berdua ngerasa nggak sih, ada yang aneh sama anak baru itu?"
tanya Veron pelan begitu mereka cukup jauh dari kerumunan murid lain.
"Gue juga mikir gitu,"
sahut Brandon, menurunkan suaranya.
"Tapi mungkin dia emang cuma pengamat yang tajem. Nggak semua orang aneh itu berarti berbahaya."
"Nggak bilang dia berbahaya,"
Veron buru-buru menambahkan.
"Cuma... dia tahu sesuatu yang seharusnya nggak dia tahu. Dan itu bikin gue penasaran, bukan takut."
Josh mengangguk pelan, meski pikirannya sebenarnya masih tertahan pada dua hal lain: catatan aneh di buku hariannya semalam, dan bisikan pelan yang sempat ia dengar tepat sebelum tertidur. Ia belum siap membicarakan itu pada siapa pun, bahkan pada Veron dan Brandon yang paling ia percaya.
"Gibran, lama amat sih,"
panggil Brandon, menoleh ke belakang. Gibran mendongak dari ponselnya, terkejut sesaat sebelum buru-buru memasukkannya ke saku.
"Eh, iya, iya. Bentar."
"Lo ngobrol sama siapa dari tadi?"
tanya Josh iseng.
"Konter hp langganan gue,"
jawab Gibran cepat, nyaris terlalu cepat, sambil mempercepat langkah menyusul mereka.
"Layar hp gue kena gores dikit, mau diservis besok." Josh tidak curiga sedikit pun.
Kenapa harus curiga? Gibran adalah sahabatnya sejak SMP, orang yang selalu ada di setiap momen penting hidupnya termasuk malam paling menakutkan dalam hidupnya tiga bulan lalu, Gibran-lah yang berteriak dari pinggir ruangan meyakinkan mereka bahwa ilusi-ilusi mengerikan itu tidak nyata.
"Btw,"
sambung Gibran, mengubah topik dengan cepat,
"gimana anak baru itu? Naya? Kayaknya seru juga ya orangnya, kalem gitu."
"Lo ada rasa ya sama dia?" goda Brandon, menyenggol lengan Gibran.
"Bukan gitu,"
Gibran tertawa, meski Josh memperhatikan tawa itu terdengar sedikit lebih dipaksakan dari biasanya.
"Cuma penasaran aja, orang baru kan emang biasanya bikin penasaran."
Veron melirik sekilas ke arah Gibran, menyimpan pengamatan kecil itu dalam pikirannya tanpa berkomentar apa pun. Mereka berempat melanjutkan langkah menuju gerbang sekolah, tertawa membicarakan hal-hal ringan seperti biasa, sementara di kejauhan, dari balik jendela ruang guru yang gelap, sepasang mata mengamati mereka berjalan pergi mata yang bukan milik siapa pun yang bisa mereka lihat, hanya bayangan tipis yang muncul sekilas sebelum kembali menyatu dengan kegelapan ruangan kosong itu.
Tidak ada satu pun dari mereka yang menoleh ke arah jendela itu. Sepanjang sisa hari itu, Josh mencoba memperhatikan Naya lebih jauh tanpa terlihat terlalu mencolok caranya berjalan, caranya menghindari topik tertentu, caranya sesekali menatap ke arah jendela kelas dengan pandangan kosong seolah pikirannya sedang berada di tempat lain sepenuhnya. Ia tidak tahu apakah kecurigaannya beralasan atau hanya efek dari kewaspadaan berlebihan yang tumbuh sejak kejadian tiga bulan lalu.
Saat pelajaran terakhir usai, Josh sempat berpapasan dengan Naya di lorong menuju gerbang. Gadis itu berhenti sejenak, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Kamu Josh, kan?" tanyanya tiba-tiba.
"Yang waktu itu... ada kejadian di sekolah ini beberapa bulan lalu?"
Josh tersentak.
"Lo tau soal itu?"
"Cuma denger sedikit,"
jawab Naya cepat, seolah menyesali pertanyaannya sendiri.
"Anggep aja gue nggak nanya apa-apa."
Ia berlalu sebelum Josh sempat bertanya lebih jauh, meninggalkan Josh berdiri sendirian di lorong dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Malam harinya, sebelum tidur, Josh membuka lagi buku hariannya, memeriksa halaman terakhir dengan waswas memastikan tidak ada tulisan baru yang muncul tanpa ia sadari.
Halamannya kosong, persis seperti terakhir kali ia tinggalkan. Ia menghela napas lega, menutup buku itu, dan mematikan lampu.
Ia berbaring cukup lama menatap langit-langit kamarnya yang gelap, mengingat kembali percakapan singkat antara Veron dan Naya tadi siang, mengingat cara Naya menyebut lokasi gudang belakang sekolah tanpa perlu diberi tahu arahnya. Semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan yang muncul tanpa jawaban pasti. Tapi saat ia hampir tertidur, ponselnya bergetar sekali di meja satu pesan masuk tanpa nama pengirim, hanya berisi satu baris pendek yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Dia udah mulai kenal sama yang baru."
...****************...